Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 325 Perkataan Deni


__ADS_3

Alan yang masuk ke dalam ruangan sang istri, kini menampilkan wajah kesalnya tanpa Alan sadari. Delia yang merasa heran kini mengerutkan lahirnya dan bertanya," kamu kenapa, sayang?"


wanita yang tengah menyusui sang Buah Hati yang tak lain ialah Delia, membuat Alan menatap ke arahnya.


seharusnya ia tak menampilkan wajah kesalnya di hadapan Delia, Iya tak ingin melihat Delia syok ataupun sedih akan kehadiran Deni.


Alan mulai menarik napasnya pelan mengeluarkan segala keresahan dan juga kekesalannya dalam hati. tersenyum dihadapan Delia, mengusap pelan rambutnya yang hampir saja menutupi sebelah mata kanannya.


"Aku tak kenapa kenapa, kok. Cuman perasaan kamu saja." jawab Alan.


Delia mulai menetap pada wajah suaminya dengan begitu dekat dan berkata," bohong. Kelihatan sekali wajah kamu tengah kesal seperti itu."


tiba-tiba saja Alan langsung mencium bibir Delia, membuat Delia membulatkan kedua matanya." percaya tidak."


tangan kanan Delia mulai memegang kedua bibir, mencubit pundak sang suami." ih jail."


Alan tersenyum kecil, dan berkata," tapi. Suka kan?"


kedua pipi Delia memerah, menahan malu karena rayuan sang suami. beruntung sekali Delia memiliki Alan lelaki yang sangat baik hati. Menerima dirinya apa adanya.


"Idih, pipinya merah," ucap Alan. Membuat Delia menundukkan pandangan, menghindari wajah Alan yang terus menggodanya.


"Apa sih, aku hanya ...."


belum perkataan Delia terlontar semuanya, Alan langsung mencubit kedua pipi Delia. Membuat Delia meringis kesakitan.


"Aw, sakit. Alan."


Pukulan kini di layangkan pada pundak Alan dari tangan Delia. Membuat Alan berpura pura merasa kesakitan.


"Aw." Teriak Alan membuat Delia tertawa.


"Lebai." Cetus Delia.


Alan mencium kening Delia, tanpa Delia sadari." Alan."


tiba-tiba saja bayi mungil itu menangis mendengar suara tawa kedua orang tuanya.


"Ya, bangun kan." Ucap Delia.


Alan mulai mencoba menggendong bayi mungil yang berada di tangan Delia.


"Sini sayang sama papah gendong." Ucap Alan.


menggendong bayi mungil itu dan mengayun ngayun nya pada dekapan tubuhnya. terlihat sekali Alan begitu menyayangi bayi yang dilahirkan Delia. walau bayi itu bukanlah darah daging Alan melainkan darah daging orang lain yang tak lain ialah Deni.


"Dia tidur lagi sayang," ucap Alan. menidurkan bayi mungil itu di samping kiri Delia.

__ADS_1


"Kamu hebat, sayang." balas Delia.


Alan menampilkan wajah bangganya dan menjawab," iya donk. papah baik."


Delia mengerutkan kedua bibirnya dan berkata," sombong."


Alan tertawa dengan bahagianya.


@@@@@


di tengah kebahagiaan itu, Deni ternyata tengah mengintip di balik jendela luar ruangan Delia. terlihat sekali wajah Deni yang begitu kesal melihat pemandangan yang begitu bahagia dari ke dua insan itu.


"Ternyata lelaki itu masih mau menerima istrinya, walau anak yang di lahirkan Delia bukan anaknya sendiri." Gerutu hati Deni.


Seakan tak suka dengan pemandangan yang terlihat di depan mata, hatinya merasa panas seakan terbakar api cemburu. Padahal Deni bukan siapa- siapa Delia. Tapi hatinya kini merasakan rasa cemburu.


"Sial, ada apa dengan hatiku. Harusnya aku biasa saja melihat pemandangan mereka berdua. Semua tak penting bagiku," gerutu Deni.


Ane mulai mencari keberadaan Deni, Ane takut jika Deni membuat kekacauan di rumah sakit. apalagi dengan Delia yang baru saja melahirkan.


"Ke mana perginya, Deni."


Ane tak putus asa terus mencari keberadaan Deni. Hingga di mana ia melihat Deni tengah mengintip di balik jendela luar.


"Deni, sedang apa dia di sana?" tanya Ane.


"Kamu lihat, mereka begitu mesra. Jadi untuk apa kamu mengusik lagi kehidupan Delia."


Mendengar suara itu, Deni langsung membalikan kursi rodanya. menatap ke arah Ane.


"Kamu lagi, aku kira kamu sudah pergi. Ane." Cetus Deni.


Ane melipatkan kedua tangannya dan berucap." aku ke sini untuk membawamu pulang. Deni."


"Pulang, Sudahlah sebaiknya kamu yang pulang sendiri. sekarang aku akan menemui anakku," ucap Deni. Memajukan kursi rodanya.


Ane mulai menahan kembali kursi roda Deni, tapi Deni kini bertindak tegas, mendorong tubuh Ane. Hingga tersungkur jatuh.


"Rasakan kamu Ane, aku bilang apa. Jangan halangi aku," hardik Deni.


"Deni tunggu." teriak Ane. Berusaha bangkit dari atas lantai.


Deni tak mempedulikan Ane yang berusaha berdiri, ia kini membuka ruangan Delia. Hingga di mana Delia dan Alan yang tengah merasakan bahagia, terkejut dengan kedatangan Deni.


kedua mata Delia membulat, saat Deni muncul dihadapannya." Deni."


Deni tersenyum Seraya berkata," hai Delia. Apa kabar?"

__ADS_1


"Kamu lagi." Alan yang melihat kedatangan Deni langsung bergegas menghampiri Deni.


Namun dengan Sigap nya, Delia menahan tangan sang suami agar tidak menghampiri lelaki yang datang secara tiba-tiba.


"Kenapa, Delia?" tanya Alan menatap ke arah sang istri.


Sedangkan Deni begitu santainya, diam menatap ke dua insan itu saling bertatapan.


"Sudah, jangan usir dia. Kita tanya apa kemauan dia," ucap Delia pada Deni.


Alan hanya bisa menuruti Apa perkataan Delia, yang di mana Iya berdiri di samping Delia menjaga Delia dan juga anaknya yang tertidur pulas.


Deni kini mulai mendekat ke arah Delia.


Membuat Delia berucap." jangan mendekat."


Deni menghetikan kursi rodanya, dan berkata," kenapa?"


"Aku tidak mau melihat kamu mendekati anakku!" jawab Delia.


"Kenapa, apa karna aku cacat sekarang?" tanya Deni. Membuat Delia menelan ludah.


"Sudahlah, Deni untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Alan yang begitu kesal.


"Hey, Alan. Kamu ini bagaimana. Aku datang ke sini untuk menemui anakku sendiri. kenapa kamu malah bertanya dan pura-pura tak tahu!" jawab Deni. Membuat Alan murka.


Alan mendengus kesal," Deni. dia anak Alan. Jadi pergi menjauh dari kehidupanku." Ucap tegas Delia.


Deni tertawa terbahak-bahak saat mendengar Delia marah seperti itu kepadanya, membuat ia semakin mendekat kearah Delia dan berkata." apa kamu lupa, saat kita bercinta di ranjang rumah sakit berdua. tanpa orang tahu."


Alan mengepalkan kedua tangannya, menggeram erat gigi dan berkata." jaga ucapanmu, Deni."


Deni malah semakin menjadi jadi dengan ucapanya, ia berkata." apa kamu bilang aku harus menjaga ucapanku. hey Alan. Aku dan Delia ...."


"CUKUP." Teriak Delia menghentikan perkataan Deni.


Delia seakan tak kuat dengan ucapan Deni, yang selalu membahas tentang rasa traumanya dan kelakuannya yang bejad.


"Kenapa Delia?" tanya Deni. semakin mendekat.


Alan yang tak tahan, kini melayangkan sebuah pukulan ke arah wajah Deni. membuat kursi roda yang ditumpangi Deni tersungkur jatuh ke atas lantai.


"Ahhk."


Deni tertawa dalam kepuasanya," kamu berani denganku, Alan."


"Walau pun keadaan tubuhmu seperti itu. Aku tidak akan merasakan rasa kasihan pada dirimu Deni." Ucap Alan. Penuh dengan amarah.

__ADS_1


__ADS_2