Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 298 Rencana sudah di mulai


__ADS_3

Sampai di mana Rudi menemukan seseorang itu, dia terlihat polos, seorang wanita yang kemungkinan warga di daerah sini.


Rudi mendekat pada wanita itu.


“Permisi, Mbak,” ucap Rudi pada wanita bermata bulat berhidung mancung itu.


Wanita itu langsung menampilkan senyumannya yang ramah dan bertanya kepada Rudi,” Iya, mas. Ada apa, ya?”


Rudi langsung menjelaskan semuanya dengan detail, membuat wanita itu sangatlah tertarik. Apalagi Rudi berjanji akan memberikan imbalan, saat rencananya telah dilakukan.


“Bagaimana, Mbak?” tanya Rudi menunggu jawaban dari wanita itu.


Tak butuh beberapa lama, wanita itu langsung menyetujui apa yang direncanakan Rudi.


“Baiklah, Mas!” jawab wanita itu, membuat Rudi sanggatlah senang.


Saat itulah Rudi langsung merogoh saku celananya, ia mengambil dompet pada celananya, mengambil uang pecahan merah beberapa lembar, untuk Ia berikan kepada wanita itu sebagai imbalan.


“Aku beri kamu 500 ribu dulu, jika rencanamu berhasil. Aku akan tambah lebih dari itu,” ucap Rudi. Membuat kedua mata wanita itu membulat senang melihat uang yang disodorkan Rudi untuknya.


Rencana dimulai.


Dimana wanita itu berjalan, mengetuk pintu rumah kumuh Si Mbok.


Tok .... Tok ....


Si Mbok yang berada di dalam rumah sangatlah kewalahan, mengurus Sarah yang benar-benar kesakitan.


“Mbok sakit, aku enggak kuat,” teriak Sarah memegang perutnya.


Si Mbok yang tak tahu apa-apa hanya bisa membersihkan semua darah yang ke luar dari kewanitaan Sarah.


“Si Mbok bingung, non. Apa yang harus si Mbok lakukan,” ucap Si Mbok kepada Sarah.


Sarah menyadari apa yang dikatakan Si Mbok, karena jika Si Mbok membawa Sarah ke rumah sakit. Otomatis polisi akan menemukan keberadaan Sarah saat itu juga.


Maka dari itu si Mbok sedikit bingung, ia hanya bisa menemani Sarah dalam rasa sakit yang tak tertahan dan membantu sebisa yang ia bisa.


Sarah mengalami ke guguran, ia benar-benar meringis kesakitan. Padahal selama ini dia selalu menjaga kandungannya dengan baik, tak pernah meminum obat atau minuman yang membahayakan janinnya.


Pak Tio yang melihat pemandangan itu, hanya menelan ludah. Ia tahu apa kesalahannya saat ini, kesalahan yang begitu fatal membuat kandungan Sarah dalam bahaya.

__ADS_1


Si Mbok hanya menatap sekilas kearah wajah suaminya yang terlihat begitu cemas, ingin sekali Mulutnya mencaci-maki suaminya di depan Sarah. Agar Sarah mengetahui apa yang sudah dilakukan Pak Tio kepada dirinya.


“Mbok, sakit sekali.” Teriakan Sarah, membuat Si Mbok meneteskan air mata tak tega dengan apa yang di rasakan majikannya saat ini.


Rasa kesal yang dirasakan wanita tua itu, membuat ia meninggalkan Sarah sendirian di dalam kamar.


“Mbok, mau ke mana?” tanya Sarah.


“Non, tunggu dulu di sini ya. Mbok mau mengambilkan handuk untuk mengelap darah yang berceceran!” jawab Si Mbok.


“ Jangan lama-lama mbok, aku takut sendirian di sini,” keluh Sarah.


Wanita tua itu hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Sarah,” baik. Non.”


Rasa kesal itu kini menjalar pada hati wanita tua itu, ia mulai menghampiri suaminya yang duduk di ruangan dapur.


“Pak, lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Sarah. Seharusnya kamu ini sadar akan perbuatanmu.” Bentak Si Mbok. Yang tak tahan dengan kelakuan suaminya, yang terus mengauli Sarah dengan cara memberi obat terlarang.


Si Mbok, yang tak tahan dengan kelakuan suaminya. Dan juga akal bejatnya. Membuat wanita paruh baya itu langsung mengambil pisau, dimana Pak Tio Tengah menundukkan pandangan menahan amarah, karna ocehan istrinya yang terhenti membuat kedua telinganya terasa sakit.


“Ahkkk.” Teriak Pak Tio.


Saat Pak Tio bangkit dari tempat duduknya.


Suara ketukan pintu terdengar kembali.


Tok .... Tok .... Tok ....


Membuat Si Mbok mengurungkan niatnya, untuk membunuh Suaminya itu. Saat itulah Pak Tio mulai menyuruh sang istri untuk mengecek siapa yang datang di tengah hari begini.


“Coba kamu cek ke depan,” ucap Pak Tio.


Si Mbok membuka pintu depan rumah, yang ternyata itu adalah Murni, wanita yang menjadi tetangganya itu


“Murni, ada apa? Tumben datang ke sini?” tanya Si Mbok, dengan wajah gusar takut jika Murni mendengar teriakan Sarah yang meringis kesakitan.


“Eh, anu Mbok. Murni butuh Pak Tio buat bersihin depan rumah, rumputnya sudah menjulang tinggi!” jawab Murni tersenyum dengan mata menatap ke sana ke mari. Apakah ia menemukan hal yang mencurigakan.


Sedangkan Si Mbok tak mengizinkan Murni masuk sama sekali, ia membiarkan Murni berdiri di ambang pintu.


“Ahkkk.”

__ADS_1


Sebuah teriakan membuat Murni kaget, ia langsung bertanya pada Si Mbok.


“Siapa itu Mbok, kok Saya dengar suara teriakan?” tanya Murni penasaran. Dia ingin sekali masuk mengecek orang yang berteriak itu siapa?


“Eh, itu hanya anak Si Mbok yang pulang dari luar kota!” jawab Si Mbok berbohong.


“ Oh boleh aku mau nengok anak Si Mbok,” ucap Murni jberalasan.


“Eh, enggak usah. Anak saya lagi nggak enak badan jadi dia selalu berteriak-teriak seperti itu,” balas Si Mbok yang menahan lengan tangan Murni.


.


“Ahhhk.” teriakan itu kembali terdengar, membuat murni langsung mendorong tubuh Si Mbok.


Murni begitu penasaran dengan suara teriakan itu, teriakan itu semakin lama semakin terdengar. Membuat dia dengan beraninya masuk ke dalam rumah Si Mbok.


Si Mbok yang ketakutan akan Murni yang mengetahui keberadaan Sarah, membuat wanita tua itu dengan berani. Memukul punggung murni hingga wanita itu terjatuh dan pingsan.


Pak Tio yang mendengar suara wanita di pukul dengan begitu keras, membuat Ia berlari menuju depan pintu.


“Apa-apaan kamu, kenapa kamu pukul dia?” tanya Pak Tio kaget bukan main.


Si Mbok menempelkan jari tangannya pada bibir, agar suaminya itu berhenti mengoceh.


Rudi yang melihat pemandangan itu langsung merekam aksi Si Mbok saat memukul wanita suruhannya.


Dengan tergesa-gesa Si Mbok langsung menutup pintu depan rumahnya, ia takut jika orang-orang mengetahui apa yang ia lakukan pada tetangganya sendiri.


Pada saat itulah Si Mbok mengamankan murni di gudang miliknya sendiri. Dengan menyuruh Pak Tio membawanya.


“Pak, cepat bawa orang ini ke dalam gudang.” Perintah Si Mbok.


Pak Tio yang mendengar ocehan sang istri langsung berlalu pergi membawa murni ke dalam gudang.


Gorden terlihat terbuka. Membuat kesempatan untuk dirinya mengintip di balik jendela.


Namun, benar dugaan Rudi. Ia kaget bukan main, melihat Sarah mengesod dengan wajah pucat. Mendekat ke arah Si Mbok memberi tahu bahwa dia sudah tak tahan lagi.


“Mbok, aku enggak kuat.”


Si Mbok langsung membantu Sarah berdiri, meletakan kembali Sarah. Menyuruhnya untuk meminum obat pereda nyeri.

__ADS_1


__ADS_2