Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 324 Debatnya Deni dan Ane.


__ADS_3

Delia yang pernah merasakan kebahagiaan, karena hadirnya seorang bayi kecil yang mungil. kini tertidur terlelap di pangkuannya. Disaat itu pula Alan mendengar suara yang tak asing pada kedua telinganya, suara perdebatan yang membuat dirinya penasaran ingin melihat keluar ruangan.


saat Kaki melangkah keluar ruangan, betapa kagetnya Alan pada saat itu. Suara perdebatan yang ia dengar begitu jelas dan tak asing berasal dari Ane dan Deni. Di mana mereka tak henti saling menyalahkan satu sama lain, membuat Alan menghampiri mereka berdua.


"Deni, Ane. Kalian?"


Perdebatan itu kini terhenti saat Alan memanggil nama mereka berdua, Kini Deni dan Ane mulai menatap ke arah mereka berdua.


"Alan." Ucap Ane mendekat ke arah Alan, sedangkan Deni yang duduk di kursi roda hanya terdiam dalam senyuman kesalnya.


Ane berusaha bersikap ramah saat mendekati Alan, mencoba bertanya dengan rasa kuatir yang di rasakan Ane untuk Delia." Alan, bagaimana ke adaan Delia, sekarang?"


Bukan balasan yang menyenangkan terlontar dari mulut Alan pada saat itu, Ane malah menerima ucapan yang di mana Alan berucap," untuk apa kalian datang ke sini?"


Alan mencoba bersikap tegas, dirinya tak ingin melihat ke hadiran Deni dan juga Ane, yang sudah membuat hidup istrinya menderita selama Alan tak ada di samping Delia.


Deni mencoba menggerakkan kursi rodanya ke arah Alan, " Hai, Alan. Apa kabar?" tanya Deni, Alan hanya diam tak menjawab perkataan Deni. Ia malah memalingkan wajah tak ingin melihat lelaki yang sudah membuat istrinya depresi berat.


"Bisa tidak kalian pergi dari hadapanku, sekarang." Tegas Alan. mencoba mengusir mereka berdua. Alan tak ingin Delia tahu akan kehadiran Deni dan juga Ane.


karena jika Delia bertemu kedua orang itu, kemungkinan ingatan yang menyakitkan akan teringat kembali. Apalagi saat Deni hadir begitu saja.


"Hey, Alan kamu tenang dulu donk. Kenapa harus dengan cara marah seperti itu, aku datang ke sini dengan niat baik," ucap Deni. Mencoba menjawab dengan santainya.


"Sudah cukup, cepat kalian pergi dari hadapanku, atau ...."


"Atau apa, Alan? Kamu mau mendatangkan sekuriti di rumah sakit ini untuk mengusir kami berdua," hardik Deni.


Ane langsung menarik kursi roda Deni, untuk pergi menjauh dari Alan.


Membuat amarah Alan seketika memudar. Karna Deni yang di bawa pergi mendadak oleh Ane.


Di saat Ane mendorong kursi roda Deni.


Deni mengerutu kesal pada Ane.


"Apa apaan kamu ini, Ane. Kenapa kamu malah menarik kursi rodaku tiba tiba. Aku belum selesai berbicara dengan Suami Delia."


"Sebaiknya kamu diam saja, Deni." cetus Ane. terus mendorong kursi roda Deni. Hingga menjauh dari Alan yang terus menatap ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Ane, cepat lepaskan tanganmu dari kursi rodaku," gerutu Deni. Mencoba menahan kursi rodanya dengan kedua tangan. Tapi Ane dengan sekuat tenaga membawa Deni hingga ke luar rumah sakit.


"Sebaiknya kamu diam saja, Deni. Aku akan membawamu kembali ke dalam penjara," ucap Ane.


membuat sebuah ancaman murahan untuk Deni.


yang di mana Deni hanya tertawa terbahak-bahak, mendengar Ane berkata seperti itu.


"Apa kamu yakin dengan acaman murahanmu itu," ucap Deni.


"Aku yakin," balas Ane.


"Percuma, Ane sayang. kamu akan sia- sia." ucap Deni.


Ane semakin kesal di buat perkataan Deni. di mana Deni langsung berucap." Sudahlah Ane sayang. Bawa saja aku ke hotel, biar kita bisa bersenang senang di sana."


.


Ane langsung menghentikan kursi roda deni, Melepaskan tangannya begitu saja. Untung saja kursi roda itu langsung mengerem sendiri.


"Deni aku tak menyangka dengan dirimu sendiri. disaat keadaanmu seperti ini. Dirimu tetap saja tak menyadari kesalahan yang sudah kamu perbuat."


"Menurut kamu," balas Deni. membuat Ane langsung membalikkan kursi roda Deni secara tiba-tiba.


Deni benar-benar tak mempedulikan perkataan Ane pada saat itu, Iya lebih senang dengan dirinya sendiri dan dengan apa yang ia lakukan sekarang.


"Sudahlah Ane, Tak usah kamu ikut campur akan urusanku yang sekarang," ucap Deni.


"Ikut campur maksud kamu? Kamu benar benar gila Deni, harusnya ...."


Belum perkataannya Ane terucap semuanya Deni langsung Memotong pembicaraan Ane begitu saja.


"Harusnya apa, Ane? Urusan keluaga kamu sendiri juga belum kelar. Sekarang sok menasehatiku dan ikut campur urusanku."


Ane mengapalkan kedua tangannya, rasanya ia ingin memukul wajah Deni saat ini juga, tapi ia tahan. Mana mungkin dirinya memukul Deni di rumah sakit. Yang ada orang orang di sana akan menuduh Ane sudah menganiaya orang yang sakit.


"Deni, asal kamu tahu semua ulahmu. Delia tidak akan menderita jika kamu tidak menghamilinya," ucap Ane.


"Hey, bukanya Delia menikmati semua itu," balas Deni.

__ADS_1


Tangan Ane mulai mengangkat, ia mulai menampar Deni. Tapi Ane berusaha menahan.


"Kenapa, kenapa tanganmu tak kamu teruskan untuk menamparku," ucap Deni.


Ane menurunkan kembali tangannya, ia kepalkan. sembari menahan kekesalan.


"Hebat kamu Ane, saat kamu kesal, semua kesalahan kamu luapkan kepadaku." ucap Deni sembari menunjuk nunjuk jari tangannya ke arah Ane


Sedangkan Ane memalingkan wajahnya, tak ingin bertatapan dengan Deni.


"Ane, jika dari dulu kamu tak mengabaikan cintaku. mungkin semua ini tak akan terjadi. jadi kamu harus terima semuanya." Ucap Deni.


menekan Ane, bahwa semua berawal dari kesalahan Ane sendiri.


"Diam, Deni." Teriak Ane.


Membuat para perawat saling menatap ke arah Ane, yang tiba tiba berteriak tanpa sebab. Saat itulah Ane menutup mulutnya menahan malu. Tak bisa mengontrol amarahnya sendiri di depan umum.


Kedua mata Deni membulat, ia membalikkan kursi rodanya dan pergi begitu saja. sedangkan Ane terdiam dan mematung saat Deni pergi dari hadapannya.


@@@@@


Deni terus saja menjalankan kursi rodanya sendiri, menggerutu pada hatinya sendiri." Ane, lihat saja. Setelah ini. kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan untukmu."


Kini Deni berniat untuk menemui Delia, kembali. Ia tak sabar ingin melihat anak yang di lahirkan Delia.


"Delia aku datang. Tunggu aku sayang, kamu pasti senang dengan kebebasanku saat ini. Tak payah aku mengadu domba ayah Ane dan anaknya sendiri." Ungkap Deni.


@@@@@


Ane yang masih mematung, hampir tak menyadari akan suara ponselnya yang terus berdering.


Drett .... Drett.


Suster yang berjalan mulai menepuk bahu Ane, membuat lamunan Ane seketika membuyar. Tangan kanan Ane mulia membersihkan air mata yang mengalir hampir mengenai pipinya sendiri.


"Suster, ada apa ya?" tanya Ane.


Sang suster tersenyum dengan ramah dan berkata," maaf mba, mba dari tadi menghalangi jalan orang yang mau lewat."

__ADS_1


"Oh, maaf."


Ane mulia pergi dari tempat itu, mencari keberadaan Deni. Agar tidak menganggu Delia dan Alan.


__ADS_2