
Setelah kepergian Delia dan Alan. tiba-tiba saja Putra menarik tangan Ane, untuk masuk ke dalam rumah.
"Ane, kenapa kamu malah tidak jujur pada Delia. Apa kamu tidak takut dengan ancaman Delia?" tanya Putra. berusaha menyadarkan sang istri.
Ane tetap saja diam, ia seakan tak peduli dengan nasehat yang terlontar dari mulut suaminya. Pembantu Ane datang membawa bayi Delia, memberikan pada Ane.
"Non, dari tadi bayinya nangis terus. Jadi saya bawa aja ke luar."
Putra menatap ke arah pembantunya. Pantas saja tadi Delia tidak menemukan bayinya di dalam kamar, ternyata pembantunya itu sudah membawa bayi Delia ke luar kamar.
"Ya sudah, sini mbok. Biar saya gendong," ucap Ane. Mengambil bayi Delia perlahan, mengayun bayi itu hingga tertidur.
Putra mengusap kasar wajahnya, entah apa yang di pikirkan istrinya. Tega tak berkata jujur pada Delia dan Alan yang tak lain orang tua dari anak itu.
Ane yang mulai pergi meninggalkan Putra, membuat Putra murka dan mengikuti langkah kakinya.
"Ane, aku mohon. Kamu berikan saja bayi itu pada ibunya, aku tak mau jika kamu nanti masuk ke dalam penjara," ucap Putra.
Ane malah menempelkan jari tanganya pada bibirnya sendiri, membuat Putra berhenti berkata.
"Ane."
@@@@
Di luar, Delia dan Alan belum juga menaiki mobil mereka. Karna Delia yang masih merasa anaknya ada di rumah Ane.
"Ayo Delia, kenapa kamu malah diam di luar. Ayo masuk."
Delia memegang pintu mobil, ragu untuk menaiki mobil.
"Ayo sayang. Kenapa?" tanya Alan yang sudah duduk di dalam mobil.
Delia menatap sekilas ke arah rumah Ane, ia ingin sekali kembali ke rumah Ane. untuk memastikan bahwa anaknya tidak ada di sana.
"Maafkan aku."
Delia terpaksa menutup kembali pintu mobil suaminya, ia berjalan lagi ke rumah Ane. Tapi dengan sigap Alan membuka pintu mobil, mengejar Delia.
Delia mulai mengintip pada jendela rumah Ane. Ia memastikan kembali jika Ane tak menyembunyikan bayinya.
"Aku harus memastikan bayiku tak di sembunyikan Ane." Gumam hati Delia.
Alan yang menyusul Delia, langsung menarik tangan Delia.
"Ayo kita pergi dari sini."
"Aku tidak mau Alan, aku merasa hatiku berat meninggalkan rumah ini."
"Tapi, Delia. Kita sudah melihat ke dalam. Jika Ane tak menemukan bayi kita."
Mau tidak mau Alan terpaksa mengendong Delia, membawanya kembali ke dalam mobil." Alan lepaskan aku."
__ADS_1
"Sudah, ayo cepat kita pergi dari sini."
Ane yang berada di dalam rumah mendengar suara teriakan, yang di mana ia melihat ke arah jendela dan benar saja. Delia tengah di bopong masuk ke dalam rumah.
"Untung saja Delia tak melihatku menggendong bayi."
Ane mengusap pelan dadanya, merasa tenang jika Delia tak bisa bertemu dengan anaknya dulu.
"Maafkan tante ya, bayi mungil dengan terpaksa tante tak memberikan kamu pada ibumu, karna tante takut kamu dalam bahaya."
Delia menangis di dalam mobil. hatinya benar-benar rapuh tak bisa bertemu dengan bayi yang baru saja ia lahirkan. Alan sang suami hanya bisa mengelus punggung sang istri dan berkata," sabar ya. Kita pasti bisa menemukan bayi kita."
"Tapi kapan."
"Sabar, aku pasti akan berusaha menemukan bayi kita. Delia."
@@@@@
Di tengah keresahan Delia mencari bayinya.
Kini Rudi bingung untuk menyelamatkan Tama dan juga Sarah.
Yang di mana Tama masih di kurung oleh Pak Andre di dalam ruangan gelap gulita,
Begitu pun dengan Sarah. Setiap hari mereka masih merasakan setiap siksaan yang di layangkan lelaki tua itu.
"Syakira, sampai kapan kita akan terus berada di sini?" tanya Sarah. Berlinangan air mata. Tak sanggup bila harus tersiksa terus menerus.
Ceklek ....
Suara pintu di buka, yang di mana Pak Andre datang lago. Tanpa seorang pengawal, Syakira dan Sarah merasa ketakutan.
"Hai sayang sayangku. Kenapa dengan kalian, takutnya akan kedatanganku."
Syakira dan Sarah saling berpelukan. Pada saat itulah, Pak Andre manarik tubuh Sarah, menidurkan Sarah pada ranjang tempat tidur.
"Percuma aku hanya mengurung kalian berdua, jika aku tidak menikmati semua keindahan tubuh kamu Sarah," ucap Lelaki tua itu, mulai membuka kancing baju.
"Lepaskan aku tua bangka, apa yang akan kamu lakukan," balas Sarah.
Syakira, berusaha mencari sebuah besi untuk memukul kepala pak Andre.
Agar dia tak macam macam terhadap Sarah.
"Sial, aku harus memukul tua bangka itu."
Syakira akhirnya menemukan sesuatu barang, yang di mana barang itu bisa memukul kepala lelaki tua itu.
Saat barang itu mulai dipukulkan ke kepala Pak Andre, tiba-tiba salah satu penjaga datang mengambil barang yang tengah dipegang oleh Syakira.
Pak Andre yang sudah membuka bajunya kini menatap ke arah Syakira." kamu mulai berani."
__ADS_1
Plakk ....
Tamparan dari tangan Pak Andre di layangkan pada pipi Syakira . Membuat Syakira tersungkur jatuh.
"Cepat ikat kaki dan tangan wanita itu." Printah Pak Andre pada suruhannya.
"Jangan." Teriak Syakira.
"Syakira." Ucap Sarah dalam hati. Ia tak mau jika dirinya di permainkan oleh lelaki tua itu.
Sebisa mungkin kakinya mulai menendang perut Pak Andre.
"Ahkkk."
Pak Andre menjerit dan berucap." Berani kamu."
Pak Andre dengan kejinya memukul pipi Sarah.
Plakk ....
Plakk ....
"Berani kamu."
Sarah menangis kesakitan, ia tak tahan dengan pukulan yang di layangkan Pak Andre.
"Dasar keji." Teriak Sarah.
"Kamu diam, jangan banyak tingkah. Kamu mau sahabat lelakimu itu aku jadikan mayat."
Deg ....
Hati Sarah seakan ketakutan, saat ancaman terlontar dari mulut Pak Andre.
" Mau aku jadikan mayat sahabatmu itu, atau kamu diam dan melayaniku."
"Jangan mau Sarah, kamu harus melawan." Teriak Syakira.
Air mata Sarah menetes, mengenai pipi. Ia hanya diam dan bisa menerima perlakuan tua bangka itu. walau hatinya sakit, dan merasa jijik.
"Ayolah Sarah. Kita mulai sekarang." Ucap Tua bangka itu. Sarah hanya bisa pasrah.
Sedangkan Syakira menatap dengan hati tak tega, melihat Sarah di perlakukan dengan keji oleh Pak Andre. Menangis, dirinya ingin menolong tapi itu tak bisa. Karna kaki dan tangannya di ikat begitu keras.
Teriakan demi teriakan di layangkan Sarah, dirinya benar benar kesakitan. dengan perlakuan tua bangka itu. Pak Andre yang menikmati hanya bisa tersenyum dalam penderitaan Sarah.
"Sampai kapan penderitaanku berakhir." Gumam hati Sarah.
Tama yang terikat dengan tali tambang di gantung. Mendengar suara jeritan kesakitan Sarah. Membuat dirinya menangis.
"Sarah, kamu kenapa." Teriak Tama. Tak tega mendengar suara Sarah yang terus berteriak teriak.
__ADS_1
"Ahkk, tua bangka itu benar benar ketelaluan. Pasti dia memperlakukan Sarah dengan sangat keji." Gerutu Tama.