Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 225 Jebakan Sarah.


__ADS_3

Lelaki berotot itu menggosokkan kedua tangannya dia tersenyum, penuh dengan nafsu. Tak sabar seorang wanita datang menghampirinya, Ia tak peduli jika wanita yang ia temui seorang pemulung. Yang terpenting nafsunya terpenuhi.


Sedangkan di luar, Rudi bolak-balik ke sana ke mari menunggu Sisi keluar dari gedung kumuh itu. Yang sangat menghawatirkan Sisi, takut jika terjadi apa-apa dengannya.


Lelaki berotot itu seakan mabuk berat, mereka tertawa tanpa kendali. Seakan halusinasi membuat pikiran mereka ke mana- mana.


Ya Tuhan kenapa Sisi lama sekali, apa yang terjadi dengannya, gumam hati Rudi.


“He, pemulung sini kau,” ucap salah satu lelaki berotot yang tengah tertawa riang.


Saat itu Rudi mulai menghampiri lelaki-lelaki berotot itu,” ada apa tuan?” tanya Rudi dengan betingkah sopan.


“Kamu mau uang tidak!” jawab lelaki berotot itu dengan sombongnya.


Rudi yang berusaha bersikap polos, menganggukkan kepala,” iya. Saya mau tuan.”


“Kamu pungut, roti di bawah tanah itu,” perintah lelaki berotot itu menunjuk roti yang sudah di gerumuti semut di atas tanah.


Rudi tak tahu jika permintaan lelaki berotot itu sungguh konyol dan keterlaluan. Membuat Rudi berpura-pura jatuh pada badan lelaki berotot itu.


Lelaki berotot itu langsung berdiri mendorong tubuh Rudi hingga tersungkur jatuh ke atas, Iya kesal jika tubuhnya tertumpuk oleh Rudi yang bau dan juga kumel.


“Keterlaluan kamu.” Bentak lelaki berotot itu, memukul meja.


Salah satu temannya mulai menenangkan lelaki berotot itu,” sabar lah brow. Dia bukan tandingan kita.”


Laki-laki berotot itu langsung duduk, dia mulai meminum alkohol yang berada di atas meja dengan satu tegukkan.


Sedangkan Rudi tersenyum kecil, Ya sudah menuangkan obat tidur pada minuman laki-laki berotot itu. Mereka dengan tertawa senang yang meminum setiap tegukan demi tegukan, hingga di mana rasa pusing mulai terasa pada kepala mereka.


Pada saat itulah, mereka berjalan sempoyongan. Hingga beberapa menit kemudian mereka jatuh pingsan ke atas tanah.


Rencana berhasil, Rudi mulai menghampiri Sisi yang berada di dalam gedung kumuh itu.


Hening, dan gelap.


Sampai di mana suara teriakan terdengar keras.


Ahkkk


Teriakan yang membuat Rudi berlari, karena gedung yang sangat gelap pada saat itulah Rudi mulai meraba-raba dinding gedung.


Saat itulah ia menemukan satu tombol yang ternyata, ialah tombol yang menyalakan lampu gedung itu.


Betapa kagetnya Rudi saat lampu gedung menyala, di dalam gedung itu begitu mewah membuat Rudi sedikit kaget.


Ahkkk


Teriakan itu kini terdengar lagi Rudi langsung menghampiri setiap ruangan, yang ternyata itu adalah Sisi dan lelaki berotot itu.

__ADS_1


Sisi sudah menusuk perut lelaki itu, hingga lelaki itu tersungkur jatuh dengan berlumuran darah.


Sisi kini mulai melepaskan beling yang berlumuran darah, ia begitu tak percaya akan dirinya yang berani menusuk orang.


“Sisi.”


Panggilan Rudi membuat Sisi membalikan kepala ke arah pintu, pada saat itulah Sisi mulai membuang pecahan beling itu pada tangannya.


Ia menghampiri Rudi.


“Kamu tidak kenapa-napa?” tanya Rudi memegang kedua bahu Sisi, merasakan rasa kuatir.


“Aku tidak kenapa- napa. Sebaiknya kita cari Arpan di gedung ini!” jawab Sisi pada Rudi.


“Baik.”


Rudi dan Sisi kini mulai melanjutkan perjalanan untuk mencari keberadaan Arpan di gedung itu, gedung itu cukup luas membuat mereka kebingungan mencari keberadaan Arpan.


Mereka takut jika lelaki berotot itu bangun secara tiba-tiba, apalagi menemukan sahabatnya Tengah terluka.


Dengan berlari kesana kesini, Sisi dan Rudi mulai berpencar mencari keberadaan Arpan.


“Sebaiknya kita berpencar,” ucap Rudi.


“Baik,” balas Sisi yang sangat setuju. Karna jika mencari bersama akan memakan waktu yang lama, apalagi gedung ini begitu luas.


Hingga di mana Sisi melihat seorang lelaki yang terikat dengan tali, begitupun dengan wajah yang tertutup kain hitam.


“Arpan, apa itu kamu?”


Sisi memanggil lelaki itu, berharap jika dia adalah suami.


Lelaki itu kini menjawab dengan nada pelan.


“Iya Ini aku, Si!”


Sisi mulai menghampiri lelaki yang terikat itu, awalnya ia ingin membuka ikatan tali pada tangan dan juga kaki lelaki itu.


Namun, ia mengurungkan niatnya. Membuka wajah lelaki itu terlebih dahulu.


“Jangan buka wajahku, kamu akan kaget nanti,” ucap lelaki itu.


“Tapi kenapa, aku kan istrimu?” tanya Sisi.


“Menurutlah padaku!” jawab lelaki itu.


Pada saat itulah Sisi mulai menurut pada lelaki itu, hatinya sedikit ragu namun ia tak peduli. Saat itulah Sisi mulai membuka tali yang mengikat tangan dan juga kaki lelaki yang dianggap Sisi itu adalah suaminya.


@@@@

__ADS_1


Sedangkan Rudi yang sudah berpencar dengan Sisi tak menemukan Arpan juga, saat itulah ia mulai kembali menemui Sisi.


Ya takut jika semua ini adalah jebakan dari Sarah, untuk mengelabui dirinya dan juga Sisi.


Baru beberapa langkah berjalan untuk mencari keberadaan Sisi, pada saat itulah Rudi mendengar satu teriakan yang tak lain ialah Sisi.


“Sisi.”


Dengan tergesa-gesa Rudi langsung berlari mencari keberadaan Sisi, dan benar saja. Sisi tengah di tahan oleh lelaki yang seakan ia kenal.


Rudi mulai berusaha tidak menghampiri Sisi, ia mencoba untuk tetap tenang sebentar. Tapi jika waktunya sudah tepat ia akan membuat lelaki itu melepaskan Sisi.


Rudi mulai mendengar percakapan mereka.


“Sisi, apa kabar?” tanya lelaki itu menyodorkan pistol pada wajah Sisi.


“Sial, ternyata kamu bukan suamiku. Kamu kemanakan Suamiku. Tama?” jawab Sisi mencoba memberontak dari cekikan lengan lelaki itu.


“Huh, kamu mencari suamimu di tempat salah. Harusnya kamu tanya pada sahabatmu dulu,” balas lelaki yang bernama Tama itu.


“Aku tidak sudi, kalian licik,” cetus Sisi. Memberontak terus menerus.


“Diam, kalau kamu terus memberontak. Kubunuh kamu di tempat ini,” ancam Tama pada Sisi.


Rudi yang mendengar percakapan mereka, saat membahas nama Tama. Ia langsung masuk dan berucap.


“Tama, lepaskan Sisi dari tangan kotormu itu,” ucap Rudi.


“Waw, ada pangeran datang. Hahha, jika Sarah tahu pasti dia akan memanjakanmu Rudi,” balas Tama.


Lelaki masa dulu yang culun dan cupu, ialah sahabat Sarah yang berada di kantor. Di mana Tama sangat menyukai Sarah pada saat itu.


“Bodoh, cepat lepaskan Sisi.”


“Tidak akan, aku akan membunuh wanita ular ini. Dia sudah membuat Sarah tergila-gila padamu dan gila karnamu Rudi.”


“ Sudahlah Tama itu hanya masa lalu.”


“Semudah itu kamu berkata itu hanya masa lalu, aku yang mencintai Sarah. Harus melihat Sarah menderita dengan pergi menyimpan penuh luka.”


“Kenapa dulu kamu tidak membuat Sarah mencintaimu kalau memang kamu mencintainya.”


“Pers**tan semua karna ulahmu.”


“Apa maksud kamu, Tama.”


“Sudah lah Rudi, jangan jadi lelaki bereng*sek.”


Pistol yang di pegang Tama hampir saja, mengenai otak Sisi.

__ADS_1


Dorrr


“Tama.”


__ADS_2