
"Gimana Ainun kamu mau kan?" tanya Arsyla. Menunggu jawaban Ainun yang akan mengatakan perkataan iya.
Gigi Arsyla mengigit bibir bawahnya menunggu jawaban sang sahabat.
"Ainun, loh ko diem. Ayo gimana kamu mau gak?" tanya Arsyla dengan sedikit membentak Ainun.
Saat itu Ainun benar-benar di buat bingung oleh sahabatnya, bagaimana pun tidak baik jika seorang wanita menganggu rumah tangga orang lain. Itulah yang terpikirkan Ainun saat ini. Mana mungkin Ainun harus melerakan harga dirinya, merebut suami orang hanya untuk membantu temannya.
"Maaf, Arsyla. Aku enggak bisa, bagaimana pun Arpan itu orang baik, dia juga baru kehilangan adiknya. Mana mungkin aku tega menghancurkan kebahagiannya, aku juga ingin bahagia kelak. Tanpa di ganggu oleh orang lain atau pihak ketiga," ucap Ainun. Membuat Arsyla sektika naik darah. Tanpa sadar ia membentak sahabatnya begitu kasar.
Karna amarah Arsyla yang menggebu saat itu Ainun menutup telepon Arsyla, yang terus memaki-maki Ainun.
Ahk, sial kenapa Ainun tidak mau di ajak kerja sama sih, gerutu wanita berhidung mancung itu di dalam hati.
Ia merai album poto saat bersama sahabatnya Ainun, menbantingnya dengan keras. Kesal yang ada dalam hatinya saat ini, benar-benar pikirnya kacau balau.
Ia berusaha untuk tenang, menarik nafas secara perlahan lalu mengeluarkannya perlahan. Tapi tetap saja dadanya seakan sesak.
Arsyla berusaha membujuk Ainun lagi, ia menelpon sahabatnya itu.
Namun, Ainun tidak mengangkat panggilan telepon Arsyla. Hilang kesabaran Arsyla saat itu mengengam erat ponselnya, hampir saja wanita berhidung mancung itu membantingkan ponselnya.
Ia berusaha dengan keras mengirim pesan wahtasaap.
[ Ayolah, bantu aku. Nanti aku bayar deh.] Pesan pun terkirim, tapi belum di buka.
[ Ainun, apa kamu tega membuat sahabatmu ini menderita.] Ainun tetap saja tidak membalas pesan Arsyla.
Tanpa pantang menyerah Arsyla terus berusaha dengan menenangkan diri dan hatinya.
[ Oke, sekarang kamu mau apa. Aku pasti turutin Ainun.]
Hilang kesabaran Arsyla saat itu, ia geram pesan wahats aap yan tidak di balas juga. Hatinya benar-benar panas seakan terbakar api.
Saat itu suara ponsel Arsyla berdering balasan dari Ainun. [ Maaf aku enggak bisa.]
Wanita berhidung mancung itu langsung menelpon nomor Ainun.
Saat itulah nomor Arsyla di belokir.
"Ahk, Ainun."
Mengacak-ngacak tempat tidurnya, amarahnya kian mengebu, kesal sekali yang Arsyla kian rasakan saat ini. Sahabatnya tidak bisa membantu sama sekali.
"Nak, ini ibu. Buka nak. Kamu kenapa marah-marah terus sayang?" teriak wanita tua yang tak lain ibu kandung Arsyla saat itu. Mengedor-gedor pintu kamar anaknya, khuatir karna Arsyla yang terdengar marah-marah.
__ADS_1
"Apa lagi sih bu," bentak Arsyla. Matanya membulat, geram dengan panggilan ibunya.
"Ibu mau bicara sama kamu Nak, tolong buka pintunya," ucap wanita tua itu.
Arsyla seakan kesal dengan suara ibunya, ia segera menghampiri wanita tua itu, membuka pintu kamarnya.
"Ada apa bu?" tanya Arsyla melipatkan kedua tangannya, ia seakan enggan menatap raut wajah ibunya.
"Kamu belum makan nak, gimana kalau kita makan dulu saja. Sambil ibu mau membicarakan hal penting sama kamu," ucap sang ibu. Mengajak anaknya untuk makan.
"Arsyla enggak nafsu bu," cetus Arsyla.
"Tapi Nak."
"Sudah lah bu, kalau ibu mau bicara, ya bicara di sini saja."
Wanita tua itu berbisik dalam hati, Biasanya Arsyla selalu menyebut panggilan ibu itu Bunda sekarang hanya sebatas ibu. Apa semarah itukah anakku padaku.
"Ibu kenapa enggak ngomong."
"Nak, biasanya kamu panggil ibu Bunda kenapa sekarang hanya ibu saja."
"Malas sebut wanita tua ini, bunda."
"Nak, ko kamu gitu."
Membantingkan dengan keras, pintu kamarnya. Wanita tua yang menjadi ibu kandung Arsyla nampak kaget sekali.
"Arsyla kamu benar-benar berubah nak," ucap Ibu tua itu pelan.
Arsyla memikir kan cara untuk membuat Arpan hancur, tapi Arsyla selalu gagal. Apalagi setiap Arsyla menyuruh temannya mereka selalu menolak dengan alasan, Arpan itu anak baik, itulah yang selalu di dengar oleh telinga Arsyla.
Arpan baik, kenapa? orang-orang selalu bilang Arpan baik. Ahk basi rasanya. Gerutu Arsyla.
**************
Arpan benar-benar bahagia saat itu, menerima tiket geratis dari Delia. Padahal stok tiket sangat terbatas, kadang Arpan tidak selalu kebagian tiket. Sampai akhirnya hanya bulan madu di rumah. Dengan seribu gangguan tetangga rese.
"Gimana enggak ada yang menggangu kita kan?" tanya Arpan pada sang istri.
"Ya, kita hanya berdua di sini!" jawab Sisi wajahnya terpancar kebahagiaan.
Arpan sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada orang yang akan menganggu bulan madunya.
Selama sehari Arpan bulan madu.
__ADS_1
***********
Arsyla, merebahkan tubuhnya. Ia menutup kedua matanya agar pikiran dan hatinya tenang.
Baru saja matanya mulai menutup satu gedoran pintu terdengar dari luar.
"Apalagi sih," gerutu Arsyla.
Terdengar perdebatan ibunya dengan orang di luar sana. Arsyla langsung menghampiri sang ibu.
Setelah sampai di pintu depan, ibunya Arsyla tengah di marahi oleh beberapa orang.
Saat itulah Arsyla menghampiri siapa orang yang tengah memarahi ibunya saat itu.
"Saya mohon, beri saya waktu lagi pak," ucap wanita tua mengemis memohon kepada lelaki bebadan kekar itu.
"Ini sudah jatuh tempo bu, kalau ibu enggak bayar sekarang ibu harus ke luar dari rumah ini secepatnya," hardik kedua lelaki bertubuh kekar itu.
"Kalau rumah ini di sita, saya akan tinggal dimana?"
Kedua lelaki berbadan kekar itu kesal, ia mendorong tubuh wanita tua itu, hingga tersungkur jatuh ke hadapan Arsyla.
Saat itulah Arsyla membangunkan ibunya dan bertanya," siapa kalian. Kenapa kalian mendorong ibu saya."
Wanita tua yang tak lain ibu Arsyla terus saja menangis terisak-isak.
"Ibu siapa mereka?" tanya Arsyla.
"Kami dari pihak bank ingin menyita rumah dan mobil ibu anda. Karna hutang yang ibu anda pinjam tidak di bayar-bayar."
Kedua mata Arsyla membulat, tak percaya dengan perkataan kedua lelaki itu.
"Mana mungkin," teriak Arsyla seakan tak percaya dengan perkataan kedua lelaki itu.
Sang ibu langsung menujukan lembaran berkas kepada anaknya.
"Jadi rumah ini di sita."
"Iya nak. Maafkan ibu nak, ibu berusaha untuk bisa membuat purasahaan ayah kamu tidak bangkrut. Dengan meminjam uang pada bank. Tapi ternyata itu sia-sia malah perusahaan kita mengalami penurunan yang sangat derastis."
"Kenapa ibu tidak bilang pada Arsyla?"
"Ibu sudah berusaha ingin memberi tahu kamu, tapi kamu selalu memarahi ibu dan tidak mau mendengar perkataan ibu."
"Ahk, ibu benar-benar ya."
__ADS_1
"Sudah jangan berderama terus tinggal kan rumah ini, karna rumah ini sudah atas nama pihak bank."
"Bagaimana ini kita akan tinggal dimana?"