Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 299 Rencana yang mulus


__ADS_3

“ Dugaanku benar itu Sarah, kenapa dengan dia?” tanya Rudi mengintip di balik gorden, melihat Sarah berlumuran darah.


 Dengan sigap Rudi pergi dari rumah si Mbok untuk segera menelpon suruhannya dan menyusun rencana kembali.


"Ini kesempatan ku, rencana awal memang gagal saat aku menyuruh wanita yang tidak aku kenal. Tapi sekarang semua harus berhasil." gumam hati Rudi.


Si Mbok tak tahan lagi, mau tidak mau dia harus membawa Sarah ke rumah sakit. Karna pendarahan yang terus ke  luar tiada henti.


 


“Kita ke rumah sakit, ya. Non,” ucap Si Mbok mengajak Sarah pada saat itu.


 


Sarah menggelengkan kepala ia seakan tak mau dibawa ke rumah sakit,” aku takut jika polisi menemukan ku.”


 


“Si Mbok ada cara lain, kamu tenang saja, ya,” ucap Si Mbok meyakini Sarah agar tetap ikut dengan apa yang ia perintahkan.


 


Lelaki tua yang tak lain ialah Pak Tio hanya menatap biasa saja ke arah Sarah, seakan tak ada rasa bersalah sedikit pun pada hatinya.


 


“Bapak, bantu ibu dong, jangan diem aja di situ,” cetus Si Mbok memanggil suaminya.


 


Pak Tio kini berleha-leha. Membantu Si Mbok dengan membopong tubuh Sarah, sedangkan Si Mbok dengan susah payah ke luar sebentar mencari angkutan.


 


Dengan berlari tergesa-gesa suasana tampak sepi, kini Rudi mulai beraksi dengan memakai topi dan  menyewa taksi yang tak jauh dari hadapannya.


 


“Bu, ada apa?” tanya Rudi sedikit mengubah suaranya menjadi serak agar Si Mbok tak mencurigainya.


 


Si Mbok yang tak sadar akan panik dengan Sarah dalam keadaan darurat, mau tidak mau. Menjawab pertanyaan sopir taksi itu.


 


“Nak, kamu bisa bantu ibu tidak?” Tanya Si Mbok masih dalam kepanikan.


 


“ Tentu, Bu. Saya bisa bantu ibu!” jawab Rudi dalam mobil.


 


Si Mbok langsung membisikan sebuah ucapan pada Rudi, yang di mana si mbok. Mengatakan bahwa dia mau menolong orang yang menjadi incaran polisi, Rudi yang tersenyum kecil mengetahui apa yang dikatakan simbok membuat dirinya langsung berucap,” ibu tenang saja. Saya akan membantu ibu, asalkan bayarannya.”


 


Rudi berusaha berdrama menjadi orang lain di hadapan Si Mbok, ia berpura- pura akan dirinya yang bisa membantu Sarah asal mendapatkan bayaran yang besar.


 


“Oke, saya akan bayar kamu berapa saja. Asal kamu mau membantu saya,” ucap Si Mbok yang gelisah dan panik.


 


“Baik lah, bu.” Ucap Rudi yang menyamar.


 


Tak payah Rudi sudah menyiapkan semua rencana dengan begitu cepat, Iya bisa menyamar jadi orang lain dengan apa yang ia dapatkan dalam waktu begitu cepat, hanya memanggil suruhannya dan juga orang-orang yang dekat dengannya.


 


Rudi begitu pintar dalam menyusun rencana. Saat itulah si mbok mulai naik kedalam taksi Rudi, dia menunjuk  ke arah rumahnya yang di mana Rudi berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


 


Sampai dimana rumah simbok yang kumuh terlihat, kini wanita tua itu langsung turun dari mobil. Ia membuka pintu rumahnya, terlihat Pak Tio membopong tubuh Sarah. Baju lelaki tua itu sudah penuh dengan lumuran darah yang terus keluar dari Sarah.


 


Rudi langsung membantu membopong Sarah untuk masuk ke dalam mobil taksi, Sarah yang meringis kesakitan menatap wajah Rudi yang menunduk memakai topi.


 


Mengerutkan dahi Seraya berkata,” kamu.”


 


Rudi tersenyum kecil, wanita paruh baya itu tak memperdulikan wajah Rudi, sedangkan Sarah benar-benar sok berat karena ia mengenal wajah Rudi begitu jelas walaupun penampilannya berbeda.


 


“Ahhk, si Mbok aku ....”


 


Bibir Sarah begitu keluh, ia  seakan susah mengatakan apa yang ia ingin katakan.


 


“Tenang, non semua aman.” Ucap Si Mbok.


 


Sarah berusaha memberitahu lelaki yang menyamar itu adalah Rudi, tapi simbok yang benar-benar gelisah. Membuat ia tak bisa mendengarkan ucapan Sarah.


 


 


“Bagaimana bu, sudah beres.”


 


 


Rudi kini mulai menjalankan mobilnya, dengan cepat dan sigap. Ia mulai membawa Sarah masuk ke dalam rumah sakit yang di mana rumah sakit yang biasa Sarah masuki. Saat dirinya di dalam penjara.


 


“Sial, kenapa aku di bawa ke sini lagi. SI Mbok tak menyadari semuanya.” Gumam hati Sarah.


 


Rencana Rudi sudah berjalan lancar, Sarah tak melihat Si Mbok yang berada di sana.


 


“Si Mbok ke mana?” tanya Sarah. Kepada lelaki tua yang berada di sampingnya.


 


Pak Tio hanya menjawab cetus.


 


Para perawat mulai membawa Sarah ke ruangan UGD. Yang di mana Sarah akan langsung di tangani, sedangkan Si Mbok yang tak mengetahui  rumah sakit itu hanya duduk santai menunggu ke sembuhan Sarah.


 


Padahal mereka kini terancam, akan Rudi yang berdiri menunggu ke datangan polisi. Melipatkan kedua tangan tersenyum kecut, Rudi sengaja membiarkan mereka duduk bersantai terlebih dahulu. Saat waktunya tiba, mereka tidak terlalu Syok berat.


 Setengah jam berlalu, di mana saat itu. Datanglah beberapa polisi menghampiri Pak Tio dan juga si mbok yang duduk menunggu keadaan Sarah.


 


Mereka yang duduk bersantai dengan tubuh yang lesu dan lelah, merasakan rasa gelisah karena melihat Sarah yang seakan di Abang kematian. Dimana darah tak henti bercucuran.


 

__ADS_1


Kedua Insan itu langsung berdiri menatap kearah polisi, ada rasa ketakutan pada diri mereka.


 


“Polisi.”


 


“Siang bu, pak. Apa kalian yang menyembunyikan tahanan bernama Sarah?” Tanya para polisi itu.


 


Si Mbok, menatap ke arah Pak Tio yang gugup. Mencubit perlahan bahu pak Tio karna sang suami yang hanya diam tak menjawab perkataannya.


 


“Ehhh.”


 


Pak Tio dan Si Mbok benar- benar ketakutan, sampai di mana Rudi, membuka topi dan rambut palsunya.


 


“Wah .... Wah, kenapa Si Mbok kok diam begitu?” tanya Rudi.


 


Wanita tua itu begitu kaget melihat Rudi yang membuka topi dan juga rambut palsunya di hadapan dirinya, ia tak menyangka jika sopir taksi itu adalah Rudi.


 


“Kamu.”


 


Rudi tersenyum menatap kearah wanita tua itu. Melambaikan tangan dan berkata,” masa lupa sama aku, Rudi.”


 


Si Mbok sanggatlah kesal, Iya langsung menghampiri Rudi memukul-mukul dada bidang Rudi tanpa Rudi melawan sedikitpun.


 


“Kurang ajar kamu.”


 


“Kenapa si Mbok marah.”


 


Pak Polisi langsung menahan Si Mbok agar tak melukai Rudi saat itu.


 


“Bu, sebaiknya ibu ikut kami ke kantor polisi. Ya."


 


Lelaki tua itu, berusaha kabur di mana para polisi mulai menangkap Si mbok yang memberontak. Dan tak mau di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


" saat mereka lengah aku harus kabur dari sini." Gumam hati Pak Tio. berusaha melangkahkan kaki untuk segera pergi dari rumah sakit itu.


Di mana para polisi sangatlah sibuk mengurus Si mbok yang menangis, menyalahkan Rudi.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2