Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 193 Ane mengatakan kejujuran.


__ADS_3

Ane yang sudah lama berdiam diri di dalam ruangannya, kini memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Delia. Dirinya sudah yakin akan mengatakan apa yang terjadi dengan Alan.


Walau mungkin akan terasa berat bagi Delia yang menerima semua kenyataan, jika Alan dan Dodi mengalami musibah yang begitu mengejutkan Ane sendiri.


Dengan berjalan penuh keraguan Ane membuka pintu kamar ruangan Delia, terlihat Delia tengah terduduk sembari menikmati makanan yang sudah dihidangkan oleh suster.


Tidak ada ikatan tali yang mengikat tangan dan juga kaki Delia pada saat itu, keadaan Delia kini terlihat membaik. Semenjak Deni berada di rumah sakit, itulah pikiran Ane.


Sang Suster yang tengah menemani Delia pada saat itu, membuat Ane menyuruh sang suster untuk pergi dari ruangan Delia.


Kini Delia mulai menatap wajah Ane, terlihat tatapan Delia dipenuhi dengan rasa kebencian pada Ane.


" Apa kabar Delia? Bagaimana ke adaanmu sekarang?"


Pertanyaan Ane, sama sekali tak di jawab oleh Delia. Membuat Ane menghebuskan napas berat, ada rasa kesal menjalar pada hati Ane. Karna sifat acuh Delia tak hilang-hilang dari dirinya.


Delia begitu cuek ketika Ane bertanya keadaannya.


"Delia, apa kamu masih marah kepadaku?"


Delia masih fokus mengunyah setiap makanan yang ia suapkan pada mulutnya sendiri. Ane yang berusaha sabar kini duduk di kursi dekat dengan ranjang Delia, mengucapkan satu patah kata pada wanita yang mejadi istri Alan," kenapa kamu selalu bersikap acuh, padaku?"


Delia menatap ke arah Ane, tersenyum kecut Seraya menjawab," karena kamu sudah membuat hidupku hancur."


Ane begitu kaget saat mendengar jawaban Delia yang membuat dirinya sedikit kesal," Maksud kamu?"


Delia langsung menghentikan makanan yang akan masuk ke mulutnya, ia menaruh makanan itu di atas meja di samping tempat tidurnya,


Tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan Ane yang belum paham dengan ucapan Delia, langsung memegang tangan Delia dan berkata," kenapa kamu malah tertawa."


Delia yang kesal, melepaskan tangan Ane yang memegang tangannya. Menujuk ke arah wajah Ane.


"Kamu masih bertanya apa maksud yang aku ucapakan, hey Ane. Apa kamu tidak merasa bersalah akan perbuatanmu?"


Tanya Delia dengan lancangnya, menampar pipi Ane.


"Delia, apa kamu gila!" Teriak Ane tanpa sadar.


"Gila, memang aku gila. Karna kamu yang sudah membawa aku ke sini. Menjauhi aku dengan anakku dan juga suamiku," pekik Delia.


"Aku kira kamu akan berubah, tapi nyatanya kamu malah semakin menjadi-jadi. Delia aku membawa kamu ke sini untuk ....,"


Belum perkataan Ane terlontar semuanya, Delia menyetopkan ucapan Ane. Dengan menekan bibir Ane dengan jari tangannya.

__ADS_1


"Sudah, tak usah membela diri, harusnya kamu sadar diri Dokter Ane. kamu sudah merusak kebahagiaan yang aku bangun bersama Alan dan juga anakku Dodi," ucap Delia. Sembari Tertawa terbahak- bahak.


Ane langsung menyingkirkan jari tangan Delia yang menempel pada bibirnya dan berucap," aku tak mengerti dengan jalan pikiranan kamu. Kebahagiaan apa, Delia Dodi itu bukan anakmu," teriak Ane.


"Diam."


Saat itulah Delia mengamuk, mendorong tubuh Ane. Membuat Ane tersungkur jatuh. Ane mengira Delia sudah membaik, tapi nyatanya masih sama seperti kemarin-kemarin.


"Ane, kamu mau bicara apa pun. Aku tidak akan percaya, karna kamu adalah orang jahat yang sudah merusak kebahagiaanku."


Suster yang melihat Ane duduk di atas lantai, langsung menolong sang dokter dengan sigap.


"Dokter tidak kenapa-napa?"


"Tidak sus, terima kasih bantuannya!"


Ane berdiri mendekati Delia pada saat itu, tidak ada rasa kapok pada diri Ane. Di mana dia sudah di tampar dan di dorong begitu saja oleh Delia.


sang suster mulai memegang tangan Dokter Ane, berharap agar sang dokter tidak bertanya lagi pada Delia.


"Dok, sebaiknya dokter jangan bertanya lagi. Pasien Delia di takutkan akan mengamuk dan melukai dokter."


Ane yang mendengar ucapan sang suster, langsung menjawab dengan tegas," saya di sini dokter. Kamu paham?"


sang suster langsung menundukkan pandangan, tak berani berucap lagi kepada Dokter Ane.


"Pergi kamu dari sini."


Teriak Delia.


Ane yang tak bisa melawan kini berusaha pergi dari ruangan itu, ia takut jika keadaan Delia makin memburuk karna keberadaannya yang tak diinginkan.


Beberapa suster datang, menenangkan Delia, menyuntikan obat bius pada Delia.


@@@@


"Hey, Ane. Apa yang sudah kamu lakukan pada pasienku hari ini?"


Tiba-tiba penampakan Deni datang begitu saja, membuat Ane begitu jengkel melihat wajahnya.


Dia lagi, gumam hati Ane.


Ane tak ingin berdebat atau pun mengobrol dengan Deni, ia bergegas pergi. Melewati Deni begitu saja.


Namun, Deni yang tak suka dengan tingkah Ane yang main pergi begitu saja, langsung menarik tangan Ane dan membawa dia masuk ke dalam gudang rumah sakit.

__ADS_1


"Lepaskan aku Deni." Teriak Ane.


Suster yang melihat Deni dan Ane. Membuat mereka seketika saling bertanya satu sama lain.


"Ih, lihat tuh. Bikin malu rumah sakit saja."


Ucap sang suster yang saling melemparkan ucapan jelek untuk Deni dan Ane. sedangkan suster Ita yang pernah merekam kelakuan busuk Deni, langsung membubarkan suster yang menjelekkan kelakuan Deni dan juga Ane.


"Sudah bubar, pasien banyak. Jangan bergosip yang tidak-tidak."


'Huh, kenapa sih si Ita ini."


Ita sudah membuat kedua suster yang bergosip itu pergi, saat itulah Ita langsung bergegas mengikuti kepergian mereka ke mana.


Perasaan Ita seakan tak karuan, Iya takut jika Dokter Ane. Mengalami nasib yang sama seperti Delia.


dengan keberanian yang Ita punya, saat itulah kita mulai melangkah maju mencari keberadaan Ane dan juga Deni.


"Ke mana mereka?"


Sedangkan Ane yang di tarik paksa oleh Deni menuju gudang, membuat Ane. Menendang betis Deni, membuat Deni kesal seketika.


"Mulai berani kamu, Ane."


"Apa kamu gila Deni, ini rumah sakit."


Deni tertawa dengan ucapan yang dilontarkan Ane, membuat ia mengusap kedua pipi wanita yang berada di hadapannya.


"Ane, kamu malu ya."


Plak .....


satu tamparan anu layangkan kepada Deni, membuat Deni menarik pinggang sampai kedua Insan itu berpelukan.


"Lepaskan aku, Deni."


"Sudah, nikmati saja. Suster-suster di rumah sakit ini tidak akan curiga kok."


"Kurang ajar kamu, Deni."


Satu tendangan di layangkan Ane pada Deni. Membuat Deni sedikit meronta kesakitan.


Ita yang baru menyadari keberadaan Ane dan Deni, langsung mencari cara untuk membuat Deni jera.


Ita mencari ide sebisa yang ia bisa, saat itulah, ia mulai berteriak. Mengagetkan Deni yang mencoba melumpuhkah Ane agar masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tolonggg ....."


__ADS_2