
@@@ siap-siap baca sampai 4 bab hari ini @@@
@@@
Ane mulai keluar dari ruangan Delia, ia melangkah lebih cepat dari biasanya. Bibirnya bergetar menahan keinginan untuk berkata jujur pada Delia.
Dengan hati yang tak kuat, ia berusaha berlari sekencang mungkin menuju ruangannya sendiri.
Dan Bruakk ....
Ane menabrak seseorang yang ternyata itu adalah Deni. Lelaki yang dianggap Ane berengsek, menampilkan diri di depan dirinya lagi.
"Ane, kamu kenapa?" tanya Deni memegang kedua lengan Ane. Menampilkan rasa kuatir.
"Lepaskan tanganku!" jawab Ane. Cetus.
Saat itu Deni mulai melepasakan tangan Ane, ia melangkah kan kaki ke arah belakang.
"Oke, aku tidak akan pegang kamu lagi. Hanya saja aku kuatir dengan kamu yang berlari sembari menangis, sebenarnya ada apa denganmu, Ane?"
Ane seakan tak suka dengan pertanyaan dari mulut Deni, ia segera mungkin melewati Deni dengan mendorong tubuhnya secara sengaja.
Deni seakan tak tahan dengan perlakuan Ane, amarahnya mulai memuncak, hatinya resah. Ia mulai mencari cara untuk menjebak Ane. Agar jatuh ke pelukannya.
Deni mulai berjalan, menghampiri ruangan yang selalu di hampiri Ane. Ia penasaran dengan pasien yang begitu selalu di perhatikan Ane setiap saat.
Melihat ke jendela, dengan begitu jeli, Deni mulai berucap pada hatinya," ternyata pasien Ane. Seorang wanita, hem."
Delia yang terus memaksakan diri, mencoba melepaskan ikatan yang melingkar pada tangan dan kakinya. Wajah yang menunduk kini menganggkat membuat Deni yang melihat wajah Delia. Tampak kaget.
"Wanita itu, sepertinya aku pernah melihat wanita itu. Di mana, ya."
Deni mulai mengigat-ngigat wajah Delia, ia berpikir keras bahwa dirinya pernah bertemu dengan Delia sebelumnya.
Karna rasa penasarannya terus mengebu, ia mulai menghampiri Delia. Berjalan mendekat ke arah Delia.
Deni tersenyum kecut seraya berkata dengan mengusap dagunya sendiri," wanita cantik ini, boleh juga aku cicipi."
Akal tak warah Deni mulai bangkit seketika, membuat Delia membulatkan kedua matanya menatap tajam ke arah Deni.
"Siapa kamu?"
Deni tertawa saat Delia bertanya seperti itu, Deni mencoba memegang rambut panjang Delia yang terikat, membelainya pelan.
"Pasien Ane dan Adly ternyata cantik juga, tak payah aku datang mengantikan Adly untuk mengobatimu. Cantik."
"Singkirkan tangan kotormu itu."
__ADS_1
Bentak Delia. Mencoba melawan mengerak-gerakan tangannya.
"Husst, kamu tenang saja cantik. Aku tidak akan apa-apakan kamu, saat ini. Tapi nanti," ucap lembut Deni.
"Jangan macam-macam kamu, atau aku akan berteriak," balas Delia.
Deni mulai menempelkan jarinya pada bibirnya Delia dan berkata," tenang sayang. Baru bertemu sudah berteriak. Apalagi jika sudah aku sentuh."
Delia dengan rasa kesal pada hatinya, kini mengigit jari Deni, dokter kurang ajar itu. Meringis kesakitan.
Ia menatap jarinya terlihat bekas gigitan Delia.
"Jangan kurang ajar kamu, dasar tidak tahu diri," pekik Delia.
Deni seakan tak suka dengan perkataan Delia, ia mulai meraba tubuh Delia membuka kancing bajunya.
Delia yang berusaha melawan mencari ide, membuat Deni tak lagi mendekatinya.
"Sabar sedikit sayang, kamu pasti tak kuatkan."
Saat Deni mulai melakukan aksi bejadnya, Delia mengerakan tumit dan memukulkannya pada perut Deni.
"Ahk,"
Deni mulai kesakitan, ternyata tumit kaki Delia mengenai keperjakaan Deni.
"Jangan macam-macam kamu di sini, lihat ruangan ini banyak cctv. Bisa-bisa aku laporkan kamu pada dokter dan perawat di sini." Ancam Delia.
Deni mulai melihat ke sekeliling ruangan, ternyata ia ceroboh. Banyak sekali cctv yang mengawasi ruangan Delia.
"Hah, sekarang kamu bisa selamat. Tapi nanti, awas saja."
"Deni, sedang apa kamu di sini?" tanya Ane, yang tiba-tiba saja sudah berada di abang pintu.
"Ane!" jawab Deni, wajahnya terlihat gugup sekali. Deni seakan ketakutan jika Ane melihat kelakuannya.
Ane mendekat ke arah Delia dan Deni.
" Ane, singkirkan orang ini dari hadapanku. Dia mulai berani melecehkanku," teriak Delia.
Deni tampak kesal dengan ucapan Delia, ia mulai berdalil." hah, untuk apa aku melecehkan orang gila seperti kamu. Mendingan aku bersama kamu Ane."
"Deni, jaga ucapanmu. Delia apa benar yang kamu katakan itu?" tanya Ane. Menatap ke arah Delia.
"Untuk apa aku bohong. Lelaki ini sudah membuka kancing bajuku!" jawab Delia.
Ane mulai menatap ke arah kancing baju Delia yang memang benar kancing itu terbuka beberapa kancing.
__ADS_1
Deni terdiam, setelah mendengar Delia berkata jujur.
Saat itulah Ane mulai menarik tangan Deni untuk segera ke kuar bersamanya.
"Deni. Aku tak habis pikir dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadap pasienku, sebaiknya kamu cepat pergi dari rumah sakit ini," usir Ane. Pada Deni.
Deni melipatkan kedua tangannya, mengerutkan dahi mejawab," hey. Kamu tidak bisa mengusirku seenaknya. Aku sedang bertugas di rumah sakit ini."
"Tugas, aku sudah tidak butuh kamu lagi, ingat itu," balas Ane.
"Tidak butuh, hahaha. Kamu tahu, aku mengantikan Adly di sini karna ....,"
Belum ucapan Deni terlontar semuanya, Ane langsung membentak Deni." kenapa dengan Adly?"
"Kamu sebagai sahabat Adly tak tahu keadaannya," ucap Deni. Tertawa begitu renyah.
"Sudahlah Deni, tak usah basa basi. Aku tidak mau berlama-lama mengobrol dengan lelaki tidak tahu diri seperti kamu," balas Ane.
"Ane sayangku, sudah tak usah galak-galak begitu. Wajahmu itu menjadi semakin imut, jika kamu marah," rayu Deni. Membuat Ane semakin jijik padanya.
"Hentikan, rayuanmu itu, harusnya kamu sadar diri sebagai lelaki. Apalagi kamu juga sebagai seorang dokter," ucap Ane.
"Ya terus enggak ada salahnya kan aku mengombali kamu. Bukanya pekerjaanku sudah aku atasi ....,"
Perkataan Deni membuat Ane seketika murka.
"Cukup .... Hentikan ucapanmu itu, sekarang kenapa Adly tidak bertugas?" tanya Ane. Berharap Deni tidak banyak basa basi lagi.
"Ya sudah jika kamu ingin tahu ke adaan Aldy aku akan beritahu!" jawab Deni. Ia mendekat ke arah Ane dan membisikan sesuatu pada telinga Ane.
Seketika wajah Ane tampak tak percaya, ia berucap," ini tidak mungkin."
Deni hanya tersenyum kecil, saat melihat ekpresi Ane. Yang begitu syok setelah mendengar ucapan dari Deni.
Ane menujuk wajah Deni dan berkata," apa benar yang kamu ucapkan itu, Deni?"
Deni mencium jari tangan yang menujuk ke arah wajahnya. Membuat Ane, seketika kesal wajahnya memerah.
"Bisa tidak kamu itu lebih sopan, Deni."
"Cup ..., cup ..... Sayang. Jangan marah-marah begitu, kenapa sih setiap aku menyentuhmu kamu selalu sensitif begitu."
Deni mulai membalikan badan menjauh dari hadapan Ane.
"Aku pergi dulu, ya. Sayang, oh ya. Jika kamu tak percaya padaku. Silahkan kamu cek saja ke rumah sakit Anugrah indrah, ruangan nomor delapan."
Deni melambaikan tangan, ke arah Ane. Tersenyum penuh dengan nafsu.
__ADS_1