
"Dodi ... dimana kamu, nak."
Teriakan demi teriakan dilayangkan oleh Alan, lelaki berbadan kekar itu, berusaha mencari keberadaan keponakannya.
Puing-puing pesawat begitu berhamburan, banyak korban jiwa yang tergeletak. Untung saja pesawat tidak meledak, hanya hilang kendali dan mendarat di suatu tempat terpencil. Yang terlihat oleh Alan hanya pepohonan dan juga tanah kering.
"Dimana ini?"
Alan berjalan sempoyongan, mencari keberadaan Dodi. Ia terus menyingkirkan puing-puing pesawat yang menghantam tubuh orang.
Tangan Alan berdarah begitu pun dengan kaki, Alan memaksakan diri untuk berjalan, ke sana ke mari mencari keberadaan Dodi.
"Ke mana anak itu, apadahal di pesawat aku masih memegang tangannya."
Air mata tak henti berjatuhan, membuat Alan tak sadarkan diri. Walau dalam keadaan luka, ia terus memaksakan diri, mencari keberadaan Dodi.
"Om, Alan."
Teriakan itu terdengar jelas, membuat Alan berteriak menjawab teriakan itu.
"Dodi kamu di mana."
"Om, Alan."
Suara Dodi kini terdengar jelas pada telinga Alan.
Saat itulah Alan mulai menghampiri Dodi.
Ternyata Dodi tengah berdiri melambaikan tangan ke arahnya. tersenyum menatap sayu dengan tatapan kosong.
"Dodi kamu masih hidup, nak tunggu om, om akan ke sana sekarang juga."
Alan mulai berlari dengan sekuat tenanga yang ia punya. air mata jatuh tak tertahan kan, ia langsung memeluk Dodi, namun ternyata saat Alan memeluk Dodi,
Wujud Dodi hilang seketika seperti kabut.
"Dodi kamu dimana, nak."
Air mata menetes perlahan membuat badan Alan seketika lemas. Ia mulai duduk di dekat pohon, pikiranya seakan tak tentu arah. Banyak pepohonan yang melingkari dirinya.
"Sebenarnya aku ada di mana?" tanya Alan pada dirinya sendiri.
Alan seakan hilang arah, dia tak bisa berjalan melewati hutan lebat ini. Tampa membawa Dodi.
Rasa haus kini menyelimuti tenggorokan Alan, ia tak tahu harus minum apa. Barang- barang yang berada di dalam pesawat sudah menjadi rebutan orang-orang yang ingin bertahan hidup.
"Dodi, om rindu dengan kamu. Kamu kemana, nak?"
Alan terus memotongi dedauanan, sampai ia menyadari bau dari dedaunan itu.
"Ini seperti bau obat."
__ADS_1
Alan langsung memetik daun itu, ia mulai menghancurkan dedaunan yang ia baru petik. Dengan rasa percaya diri Alan mengobati lukanya dengan daun itu.
" Hah, aku lupa. Aku harus mencari air untuk membersihkan luka ini, takut jika tak di bersihkan akan infeksi."
Baru ingin berdiri, saat itu. Seseorang menyodorkan air minum pada Alan.
Membuat Alan tertohok kaget.
Siapakah itu?
@@@@@
Sementara itu di rumah sakit Ane.
Deni mulai menjalani tugasnya sebagai dokter yang di inginkan Ane. Perlahan Deni mulai mendekati Delia.
Namun, Delia seakan diam mengabaikan kedatangan Deni. Ane yang ingin tahu apa yang akan di lakukan Deni pada Delia hanya menatap pada jendela saja.
Deni mulai meminta Delia untuk menyebutkan, apa yang membuat ia sakit hati dan senang.
Dengan perlahan dan jiwa pisikolognya, Deni mulai membuat Delia membuka mulut dan berucap.
"Keluar kamu dari ruangan ini."
Deni mengira jika Delia akan menurut padanya, tapi tenyata tidak, Delia seakan menaruh kebencian pada Deni. Karna ditelah membuat Delia kesal.
"Hey, Delia. Jika kamu tidak menjawab pertanyaanku, mungkin kamu tidak akan bertemu lagi dengan suami dan anakmu."
Ucapan Deni seperti sebuah ancaman untuk Delia.
"Apa maksud kamu?" tanya Delia.
"Aku tidak ada maksud apa-apa padamu, hanya saja aku ingin menyembuhkanmu kembali!" jawaban Deni membuat Delia membuang luda ke sisi kanan, tempat duduk Deni.
"Kamu ingin menyembuhkanku dengan cara melakukan hal yang tak wajar," pekik Delia. Hatinya masih kesal pada Deni karna ulahnya tadi pagi.
"Sudah jangan takut, aku hanya mengetes kamu agar kamu itu sembuh," ucap pelan Deni.
Delia tertawa seraya berkata," manusia seperti kamu tak pantas berada di dunia ini, harusnya kamu mati saja."
Kata sumpah serapah itu terdengar begitu jelas dari telinga Deni.
"Berani kamu mengatakan hal seperti itu padaku," ucap Deni. Seakan tak terima dengan ucapan Delia.
Bibir Deni seakan gatal, ia ingin mengatakan kejujuran pada Delia akan suaminya yang mengalami kecelakaan pesawat dan belum di temukan
Namun Deni tahan, Deni mencoba tetap tenang, agar Delia mau menurut padanya.
"Cepat ke luar," usir Delia.
Ane yang melihat pemandangan itu, sunggu tak menyangka, jika Delia malah mengusir Deni. Delia seakan tak mau mendengarkan Deni.
__ADS_1
Deni tak pernah putus asa ia mencoba berbagai cara agar, Delia bisa takluk padannya.
"Kenapa kamu masih duduk di sana. Cepat ke luar," teriak Delia membuat beberapa pasien di rumah sakit itu terganggu.
"Sial, kenapa bisa wanita ini begitu susah untuk aku taklukan."
Ane mulai ragu dengan kemampuan Deni, karna melihat Delia yang mengusir terang-terangan padanya.
Deni mulai membisikan sesuatu, membuat Delia membulatkan kedua matanya. Delia seakan kaget dengan ucapan Deni.
Pada saat itu Delia, tiba-tiba menurut tidak seperti biasanya.
Delia yang seperti itu seakan terkena hipnotis oleh Deni. Ia langsung duduk dengan tegap dan menurut.
"Delia apa kamu mau menurut padaku dan sembuh."
Delia langsung menganggukan kepala, seakan ia menurut apa yang di katakan Deni.
"Bagus, aku akan memberikan sebuah pertanyaan."
Delia menjawab pertanyaan Deni dengan lancar, tak ada hambatan satu pun. Membuat Ane tak percaya.
Ane sedikit curiga dengan apa yang di bisikan Deni pada Delia. Seakan sesuatu yang begitu berharga sampai Delia langsung menurut.
"Delia, kamu langsung menurut?"
Ane tak menyangka lelaki seberengsek Deni, mampu membuat hati seseorang luluh.
Ane melihat cara kerja Deni, sungguh luar biasa, Delia meluapkan kekesalannya dan juga amarahnya kenapa dia menjadi seperti sekarang.
Beban hidup yang di tanggung Delia, sangat lah berat, di mana ia ingin sekali memeliki seorang anak dari Alan.
Beberapa kali mencoba mempertahankan jabang bayi, selalu gagal.
Deni mulai menenangkan Delia, melupakan segala kereshan jiwanya.
Deni mencoba menyakini Delia, suatu saat dia akan memiliki anak dari Alan.
Kedua mata Delia tanpak berkaca-kaca, hatinya seakan tenang di saat luapan kekesalan ia keluarkan.
"Apa kamu sudah mulai tenang, Delia sekarang?" tanya Deni tersenyum penuh kehangatan.
Delia benar-benar menurut pada Deni, seakan Deni mempunyai sebuah kekuatan yang tak di miliki orang lain
Delia menganggukan kepala, Deni mulai menyuruh Delia untuk beristirahat, dan menjaga pola makan di rumah sakit.
Saat Deni keluar, Ane menarik tangan Deni dan bertanya," bagaimana?"
"Ya elah, sabar dikit sayang, semua sudah aku tangani dengan beres. Kamu tahu Delia akan sembuh pada waktu yang sudah dekat!"
Jawaban Deni, sedikit membuat Ane ragu.
__ADS_1
"Apa kah benar itu?"