Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 246Aksi kejar- kejaran.


__ADS_3

Sarah yang terus berjalan, kini di hadapkan dengan ruangan mayat. Ia mengingat betul apa yang di katakan perawat lelaki tadi padanya, tapi kenapa saat ia berjalan dan sampai hanya ruangan mayat yang berada di depan matanya.


Apa ini sebuah tipuan?


“ Nona sepertinya ditipu oleh perawat itu,” ucap salah satu suruhan Sarah yang berada di belakang punggungnya.


“Maksud kamu?” tanya Sarah yang tak mengerti.


“ Bisa saja perawat yang tadi itu adalah orang yang menyamar!” jawab suruhan Sarah.


“Benar juga perkataan kamu,” ucap Sarah.


Kini Sarah mulai kembali mencari ruangan Arpan, iya mulai berjalan bertanya kepada para suster yang melewati dirinya.


Sampai di mana Alan yang tengah mendorong kursi roda Arpan, ia menyadari kehadiran Sarah di rumah sakit itu.


“Sarah, dia ada di sini?”


Sedangkan Arpan yang duduk di kursi roda dengan tubuh lemas nya, bertanya kenapa tiba-tiba Alan berhenti di tengah jalan.


“Kenapa berhenti, ruanganku masih jauh.”


“Ini gawat Arpan, Sarah ada di sini.”


Saat itulah Alan mulai mendorong kursi roda Arpan, untuk cepat bersembunyi agar Sarah tak menemukan keberadaan mereka.


Alan takut jika nanti Sarah beralas dengan kuat, dan menyiksa Arpan kembali.


“ Kita harus pergi dari sini.”


Saat Alan tergesa-gesa mendorong kursi roda Arpan, saat itulah Alan menyenggol Seorang perawat. Membuat perawat laki-laki itu terjatuh ke atas lantai.


“Maafkan saya, saya buru-buru,” ucap Alan.


Namun saat itu tangan perawat itu mulai memegang kursi roda Arpan, membuat kursi roda itu tak bisa digerakkan.


“Kenapa anda menahan kursi roda sahabat saya?”


Saat Alan bertanya kepada perawat itu, pada saat itulah perawat itu langsung membuka maskernya. Memperlihatkan wajahnya kepada Alan.


“Rudi?”


Ternyata perawat laki-laki itu adalah Rudi yang menyamar, betapa senangnya Alan pada saat itu bertemu dengan Rudi.


“Ayo kita pergi dari sini, sebelum Sarah menemukan keberadaan kita.”


Rudi kini mulai membantu mendorong kursi roda Arpan menuju ke mobilnya, suster yang menangani Arpan kini memberhentikan mereka.

__ADS_1


“ Kalian mau ke mana?”


“Maafkan kamu sus, kami terburu-buru!”


Alan mengabaikan pertanyaan sang suster, mereka langsung terburu-buru keluar dari rumah sakit. Sedangkan sang suster yang mengurus Arpan, berlari mengejar mereka.


“Tunggu kalian mau ke mana?” Teriakan suster itu membuat orang-orang yang tengah di rawat di sana saling menatap.


“Ini gawat, suster itu malah mengejar kita. Aku takut jika Sarah mendengar teriak suster itu,” ucap Rudi saat mendorong kursi roda Arpan.


“Terus apa yang harus kita lakukan?” tanya Alan dalam kepanikan yang ia rasakan.


“Sebaiknya kamu bawa pergi Arpan, menuju mobil yang terparkir di ujung sana!” jawab Rudi.


“Terus, lu Rud, gimana?” tanya Alan.


“Gue, itu gampang. Sekarang lu ikuti apa perkataan gue!” Jawab Rudi.


Saat itulah Rudi berhenti berlari, sedangkan Arpan dan juga Alan terus berjalan menuju mobil yang ditunjukkan Rudi.


Sang suster kini berhenti mengejar mereka, karena Rudi yang berdiri menunggu kedatangan Suster itu.


“ pasienku. Kenapa kamu biarkan mereka pergi?” ucap sang suster sedikit bernada tinggi.


Saat itulah Rudi mulai menarik tangan sang suster, membawa suster cantik itu masuk ke dalam ruangan. Yang di mana di dalam ruangan itu tak ada satu orang pun.


“Perawat sialan itu.” Gerutu Sarah.


Sarah melihat perawat itu menarik tangan sang suster hingga masuk ke dalam ruangan. Membuat Sarah curiga, dan mengikuti mereka hingga sampai.


Apa yang akan mereka lakukan?


@@@@@


Kini Alan mulai mengetuk-ngetuk pintu mobil, yang di mana di dalamnya ada Sisi yang pingsan dan kedua bocah begitupun dengan Pak Tejo.


Dodi mengintip sebentar ke arah kaca mobil, ternyata itu adalah sang om. Betapa senangnya Dodi saat itu, Iya langsung membukakan pintu mobil.


Membantu sama Om mengangkat tubuh Arpan masuk ke dalam mobil.


“Dodi, kalian di sini?” tanya Alan.


“Iya om, ke mana papah!?” jawab Dodi dengan bertanya ke mana sang papah, kenapa tak ikut kembali.


“Kamu tenang, dulu. Papah kamu aman, dia lagi mengurusi suster di sana!” jawab Alan.


Dodi sedikit sedih, karena sang Papah yang masih berada di sana. Ya takut terjadi apa-apa dengan papanya,” Kamu jangan sedih Dodi, papah kamu pasti baik- baik saja.”

__ADS_1


“Terima kasih.”


Setelah Arpan masuk ke dalam mobil, pada saat itulah Sisi terbangun dari pingsannya. Yang melihat ke arah samping kirinya, kepalanya berada di lahunan sang suami.


Mengusap-ngusap kedua mata seakan tak percaya, dengan apa yang ia lihat. Dia terbangun menatap kearah wajah Arpan.


Arpan tersenyum melihat sang istri yang masih kaget.


“Kenapa?” tanya Arpan.


Sisi tiba-tiba menangis memeluk sang suami, ya tak percaya kini dirinya bisa bertemu lagi dengan Arpan.


“Akhirnya kamu kembali lagi, aku rindu.”


Kemesraan itu kini terlihat oleh kedua anak-anak yang berada di dalam mobil, sang kakek yang tak lain ialah Pak Tejo. Hanya mengusap dadanya berharap hatinya Tetap tenang melihat kemesraan dua insan yang baru bertemu lagi.


“Ahk, inilah nasib duda di tinggal mati. Genes.” Gumam hati Pak Tejo.


Kedua cucunya mulai mengusap-usap punggung sang kakek, menenangkan rasa sedih yang dirasakan sang kakek. Mereka berucap bersamaan,” SABAR.”


Alan tertawa kecil, Ia juga merasa sedih. Dirinya merindukan sekali Delia. Sudah berbulan-bulan lamanya ia tak pernah melihat wajah sang istri, begitu Rindu dirinya akan kehadiran Delia.


Apa kabar dengan Delia?


Apa dia baik-baik saja?


Pertanyaan itulah yang selalu terlintas dari pikiran Alan, ingin sekali ia menghubungi Delia pada saat itu. Namun situasi yang masih belum memungkinkan, karena Rudi yang belum kembali dari rumah sakit.


Apakah Rudi akan ketahuan oleh Sarah?


Sisi yang kini menyadari bahwa Rudi tidak ada di dalam mobil, yakini bertanya kepada Alan. "Kemanakah Rudi?"


saat itulah Alan mulai menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Rudi, membuat Sisi sedikit kuatir jika Rudi sampai ketahuan oleh Sarah.


Dreeet .....


satu pesan datang pada ponsel Sisi, dengan sigap Sisi mulai membuka isi pesan dari ponselnya sendiri.


(Kalian pergi saja dulu, aku akan menagani Sarah.)


Ternyata Pesan itu dari Rudi, yang di mana Rudi menyuruh untuk segera pergi dari lingkungan rumah sakit itu.


"Rudi mengirim pesan, kita harus pergi dari rumah sakit ini," ucap Sisi.


"Terus dengan dirinya sendiri?" tanya Alan.


Sisi nampak bingung, tapi Alan punya ide agar Rudi selamat. Saat itulah Alan mencoba meminjam ponsel Sisi untuk membalas pesan Rudi.

__ADS_1


__ADS_2