Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 132


__ADS_3

Rudi mulai membalikkan badan ke arah anaknya, mendudukan kedua lutut, memegang pundak Dodi dan berkata," apa kamu bisa tidak menceritakan semua ingatan mamamu Dodi?"


Setelah mendengar perkataan sang papah, Dodi terdiam, mulutnya benar-benar keluh. Air mata mengalir menuju pipi chubbynya, belayan tangan kekar itu mulai mengusap pelan air mata yang jatuh pada pipi Dodi.


"Jangan menangis, kamu harus kuat. Dodi!"


Dodi mulai memegang lengan tangan sang papah, mencium punggung tangannya dan berkata." Dodi akan berusaha kuat, demi Mamah. Pah."


Rudi langsung memeluk Dodi begitu erat, menangis tersedu-sedu. Menenangkan semua kesedihan yang mendera pada hatinya sendiri.


Dodi meminta izin pada sang Papa untuk mencium kening sang mamah," apa boleh Dodi mencium kening mama, satu kali ini saja. Sebelum mama membuka kedua matanya."


Rudi menganggukkan kepalanya pelan, ia menggandeng Dodi untuk mendekat ke sisi ranjang Ami.


Ciuman mendarat dari bibir mungil Dodi, pada sang mama."Dodi tahu,. Mama pasti menderita saat mengingat-ingat tentang Dodi. Dodi, berharap setelah pulang bersama nenek tanpa tinggal bersama mama.


Mama tidak merasakan rasa sakit lagi."


"Pah, Dodi mau tinggal sama nenek. Selama mama masih hilang ingatan," ucap Dodi. Terseyum dengan seyuman palsu.


"Apa kamu yakin, Dodi?" tanya sang papa. Memegang bahu anaknya.


Dodi menganggukan kepala, menahan air mata.


Sampai dimana Ami bangun.


"Dimana aku?"


Rudi berdiri, melihat keadaan sang istri bertanya," kamu ada di rumah sakit sayang! Kamu tenang ya!"


Ami hanya mengigat dirinya, menjadi seorang kekasih Rudi. Hanya kenangan indah yang ia ingat, tidak ada kenangan buruk dalam otaknya.


Jika ia mengigat tentang dirinya yang dulu, mungkin saja kepalanya akan merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Dimana kenangan awal menikah adalah kenangan yang membuat Ami tersiksa, hingga penyakit itu datang dengan sendirinya.

__ADS_1


"Sayang, itu anak siapa? Dan ibu tua itu siapa?"


Ami terus bertanya, membuat Dodi menundukan pandangan tak kuasa ingin menangis.


"Mereka adalah keluarga kita, sayang!" jawab Rudi.


Ami yang mendengar jawaban Rudi mengerutkan dahi seraya berkata," jadi kamu punya keluarga lagi selain Ibu Sarah ya. Sayang."


Ami masih mengingat mertuanya yang sudah meninggal, membuat Rudi harus membuat drama.


"Sayang, kenapa kamu enggak jawab pertanyaanku?"


"Sekarang kamu jangan mikir apa-apa lagi. Pikirkan kesehatanmu!" Jawab Dodi mengalihkan pertanyaan dari Ami.


Ami terseyum dan berkata." Jadikan nanti kita menikah."


Rudi menganggukan kepala seraya berkata," jadi sayang."


Mau tidak mau, Rudi harus menuruti keinginan istrinya. kalau dia memberitahu yang sebenarnya, mungkin Rudi akan menyaksikan Ami menderita. Karena menahan rasa sakit mengingat semua yang tidak di ingat Ami.


Setelah menyuruh Ami untuk segera tidur, Rudi dan sang ibu bergegas ke luar dari ruangan. Tidak dengan Dodi, anak tampan itu terus menunggu sang mama yang tengah terlelap tidur.


" Rudi, Ibu tidak menyangka kalau Ami akan kehilangan ingatannya, Sampai separah itu dan lagi Yang dia ingat. Di mana kalian masih pacaran," ucap sang ibu. Rudi hanya terseyum dan seraya menjawab," Rudi juga bingung bu, Rudi tak tega melihat Dodi yang tak di ingat oleh Ami."


Sang ibu memegang pundak anaknya dan berkata," kamu yang sabar ya. Suatu saat Ami akan mengigat semua ingatnya dengan sendirinya, tanpa kita paksakan."


"Rudi juga berharap seperti itu, bu. Tapi dengan Dodi apa dia akan kuat." Keluh Rudi pada wanita parah baya di sampingnya.


"Rudi, tidak ada yang tidak mungkin. Apa lagi, dengan Ami yang tak bisa mengigat semuanya. Karna berjalannya waktu, Ami pasti akan mengigat anaknya sendiri. Karna ikatan batin seorang ibu tidak akan lepas dari anaknya." Nasehat sang ibu terus terlontar menyemangati hati dan pikiran Rudi.


Mereka duduk di luar ruangan, dengan kegundahan pada hati dan pikiran merka masing-masing.


Bu Sumyati mulai mengajak Dodi untuk pulang ke rumahnya, membuat cucunya sedikit lebih tenang dengan beristirahat di rumah sang nenek.


Wanita tua itu berdiri, berjalan ke arah pintu ruangan Ami, di mana terlihat Dodi. Tengah mengusap-usap kening sang ibu, yang tengah tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit.

__ADS_1


" Dodi, ayo kita pulang," panggil sang nenek. Membuat Dodi melirik sekilas ke arah raut wajah sang nenek.


Anak tampan itu menjawab panggilan sang nenek dengan berkata," tunggu, nek. Dodi belum mau pulang, Dodi masih kangen sama mama."


Bu Sumyati mendekat ke arah cucunya dan berkata," kamu harus istirahat, sayang. Biar papamu di sini yang jaga mama."


"Tapi, nek."


"Sudah ayo."


Sang nenek menarik lengan tangan cucunya, untuk segera pergi ke luar ruangan mengajak Dodi pulang ke rumah. Karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Ami yang tertidur, ternyata membuka matanya. Ia mendengar suara Dodi dan Bu Sumyati. Yang terdengar berisik, membuat tangan Ami dengan sepontan meraih lengan tangan Dodi.


semua yang melihat keanehan itu tertohok kaget.


Ami tersenyum, menarik dan menyuruh Dodi mendekat ke arahnya, Arumi berkata dengan lembut kepada anaknya sendiri," Hei siapa namamu?" tanya Arumi, Dodi membalas seyuman pada wanita yang menjadi ibunya itu.


" Namaku, Dodi tante!" jawab Dodi, hatinya Kian rapuh. Anak sekecil Dodi harus berpura-pura menjadi orang lain, hanya karena sang mama yang tidak bisa. Mengingat anaknya sediri.


Ami mulai bertanya, dengan mengelus pipi Dodi." kenapa kamu tidak mau pulang sayang?"


Kedua mata Dodi, terlihat berbinar. Menampilkan senyuman yang biasa Dodi lihat, senyuman kasih sayang seorang ibu yang tak pernah lepas dari pandangan Dodi setiap saat.


"Dodi pengen sama tante di sini," jawab Dodi kedua matanya mulai berkaca-kaca ia menahan setiap rasa rindu pada mamanya. Yang selalu berkata, mama kangen Dodi.


Namun semua itu hanyalah khayalan semata yang ada dipikiran Dodi saat itu.


"Mending kamu pulang dulu, biar nanti ke sini lagi. Main sama tante? Gimana."


Tawaran Ami membuat Dodi menganggukkan kepala dan berkata," Apa Tante mau menjadi ibu Dodi saat ini?"


Ami mengangkat kedua alisnya, tak percaya dengan ucapan Dodi kepada dirinya. Ami masih menganggap dirinya, seorang gadis yang belum pernah merasakan mempunyai anak dan juga seorang suami.


" Kenapa kamu mau menjadi anak tante? Memangnya kemana ibu dan bapak kamu?"

__ADS_1


kalau Dodi bisa berkata jujur kepada wanita dihadapannya, mungkin Dodi sudah menunjuk Ami saat itu. Dan berkata bahwa dirinyalah, ibu kandung Dodi sendiri. Tapi apa daya Dodi tak boleh membuat mamanya mengigat tentang ingatan yang sudah hilang.


__ADS_2