
Deni yang sudah memuaskan asratnya, ia mendekat ke arah Ane. Menghentikan langkah sang dokter. Dengan bertanya," Apa kamu melupakan janji kita semalam?"
Ane mendorong tubuh Deni, membuat Deni memegang legan tangannya dengan erat." lepaskan tanganku, Deni." Cetus Ane.
" Sudah berani melawan kamu ternyata, Ane," ucap Deni tersenyum penuh kelicikan."
" Aku bukan melawan, hanya saja aku menjauhi orang sebusuk kamu," balas Ane. Menunjuk dada bidang Deni.
Deni seakan senang dengan Ane yang seperti itu, membuat Deni semakin terpesona akan tingkahnya.
" Aku ingatkan lagi kepadamu Deni, mulai sekarang aku tidak akan takut terhadapmu lagi. karena, aku akan memberitahu semua yang terjadi pada Alan kepada Delia, jadi kamu tidak akan bisa mengancam ku lagi seperti kemarin." Tegas Ane.
Deni hanya mengusap pelan dagunya dengan kedua jari tangan, mendengarkan apa yang Ane untuk dirinya.
Deni tersenyum kecut, tak peduli Jika Anda berkata seperti itu. Karena dia sudah membuat hidup Delia hancur seketika.
" Apa kamu tidak akan menyesal dengan ucapanmu sendiri, Ane?"
Perkataan Deni seperti sebuah isyarat, di mana Deni tak segan-segan menghancurkan Ane.
" sudah cukup Deni, aku katakan lagi pada kamu. bahwa aku tidak akan takut dengan ancaman. Apapun yang kamu berikan kepadaku." Ucap Ane sedikit bernada tinggi.
"Oke, jika itu yang kamu inginkan. Tapi, setelah ini kamu jangan menyesal ya. Dengan apa yang akan aku perbuat." Ancam Deni.
Deni menujuk wajah Ane, dengan berjalan melangkah mundur tersenyum penuh dengan kebencian.
setelah kepergian Deni Ane mulai masuk ke dalam ruangannya.
" Ini tidak bisa aku biarkan begitu saja, aku harus mengeluarkan Deni dari sini. Jika tidak dihuni akan melakukan kejahatan."
Anda memegang kepalanya, ada rasa pusing menjalar pada otaknya. membuat Ia berpikir bagaimana cara mengeluarkan Dodi dari rumah sakit ini.
"Aku harus mengeluarkan dia sekarang juga."
Namun sekilas terbayang ucapan Dodi kepada Ane, dimana Dodi mengancam Ane. Jika Dodi keluar tanpa melakukan kesalahan di rumah sakitnya, Jabatan Ane akan turun. Seketika, karna Deni yang melaporkan apa yang sudah Ane lakukan pada dirinya. Kepada kedua orang tua Ane.
Drettt ....
suara ponsel tiba-tiba bergetar menandakan panggilan telepon dari seseorang yang belum Ane lihat.
"Siapa yang menelpon, pagi-pagi begini?"
Ane mulai meraih ponselnya yang berada di atas meja, Iya melihat nama dari ponsel itu yang bertuliskan Iyalah Alan.
"Alan, ini tidak mungkin."
Anita percaya dengan apa yang ia lihat, nama dari ponsel itu ialah Alan. mengusap-ngusap kedua matanya, panggilan itu tetap berjalan di mana nama Alan terpampang nyata pada ponselnya.
Dengan rasa senang bercampur haru, tangan Ane yang tiba-tiba bergetar kini mulai mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo .... Halo .... Alan. Ini kamu."
Ane terus berucap memanggil-manggil nama Alan, tapi tidak ada jawaban dari telepon itu.
__ADS_1
"Halo, Alan. kamu di mana sekarang?"
panggilan terhubung namun tidak ada suara terdengar menjawab ucapan Ane.
Ini sungguh Aneh. Gumam hati Ane.
Tuttttt ....
panggilan telepon pun mendadak mati seketika, membuat anu langsung menelpon balik nomor Alan pada saat itu.
Namun sungguh disayangkan tiba-tiba ponsel Alan tidak aktif,"Ada apa ini?"
setelah melihat panggilan telepon pada ponselnya, Ane merasa jika Alan masih hidup.
Ane mulai berpikir, Bagaimana caranya ia mencari keberadaan Alan, sedangkan berita belum menyiarkan tentang pesawat yang sudah ditemukan.
Dengan perasaan cemas, Ane mulai berjalan kesana kemari. hatinya benar-benar gundah sekali.
Beberapa menit kemudia.
Ponsel Ane berdering kembali, di mana ponsel itu mencantumkan nama Alan.
"Alan menelpon lagi."
Dengan sigap, Ane mulai mengangkat panggilan bertuliskan nama Alan.
"Halo."
Tiba-tiba Ane mendengar suara yang sangat berisik, membuat ia terus memanggil nama Alan.
Suara berisik itu semakin terdengar keras, membuat telinga Ane merasa sedikit sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"
"Halo, Alan."
Ane sedikit kesal, tak ada tanda-tanda Alan menjawab pertanyaannya.
"Halo, Alan kamu bisa bicara tidak?"
"Hahhahahha."
Deg ....
Tiba-tiba saja di dalam ponsel terdengar suara orang tertawa sangat menyeramkan. membuat Ane sedikit ketakutan
"Alan. Apa kah itu kamu?"
"Ha ...."
suara nafas begitu terdengar jelas, membuat jantung Ane seketika berdetak tak karuan.
suara nafas itu begitu menyeramkan, membuat Ane melepaskan ponselnya, membuat ponsel itu jatuh ke atas lantai.
__ADS_1
keringat dingin mulai membasahi tubuh Ane.
"Ya Tuhan. Suara apa tadi?"
Ane mulai memberanikan diri memungut ponselnya di atas lantai, dengan tangan yang bergetar. Ane mulai merasakan Hawa tak karuan pada tubuhnya. bulu Kuduk Ane seketika merinding.
Saat dirinya mulai mengambil ponsel.
Tok ..., tok ....
Ane.
Deg ....
......
"Permisi dokter. Saya hanya ingin memberikan surat yang harus anda tanda tangani." Ucap seorang suster yang datang tiba-tiba menganggetkan jantung Ane seketika.
Ane mulai mengambil ponselnya, berdiri seperti biasa. Walau sebenarnya ia masih bingung dengan suara yang menyeramkan, terdengar pada ponsel yang bertuliskan nama Alan.
Ane berdiri mematung, memikirkan panggilan telepon dari Alan. Membuat sang suster yang berada di hadapnya mengerutkan jidat. Memanggil-manggil Ane beberapa kali.
"Dokter Ane."
"Dokter."
Dengan panggilan tak menbuahkan hasil, Ane tetap melamun sembari memegang ponselnya, pada saat itulah sang suster mulai mengagetkannya dengan memegang bahu Ane.
Lamunan Ane kini membuyar. Membuat Ane bertanya kembali pada sang suster.
"Iya ada apa?"
Dengan terpaksa sang suster mengulangi ucapannya kembali sembari menyodorkan berkas yang harus ditandatangani Dokter Ane.
"Maaf dokter, ada berkas yang harus ditandatangani dokter sekarang juga."
"Oh."
Ane langsung mengambil berkas itu, Iya berjalan kearah meja mengambil pulpen dan menandatangani berkas yang diberikan oleh sang suster.
setelah mendata tangani berkas itu, sang suster berpamitan kepada Ane. Haning, ruangan begitu sepi kembali. Ane memijat kepalanya dengan kedua tangannya. Ia membalikkan ponselnya melihat panggilan masuk baru saja.
Melihat panggilan masuk, tidak ada nama Alan di sana, hanya nama Putra sang suami yang tertera di panggilan masuk pada ponsel Ane.
"Ini aneh, jelas-jelas tadi ...., ahk."
Ane benar-benar dibuat bingung dengan kejadian tadi, entah iya melamun atau bermimpi. tapi jika ia bermimpi mungkin ia akan bangun dari tidur.
"Ahk, apa karna ini lamunanku. Terlalu memikirkan keadaan Alan, berharap jika Alan masih hidup, sampai aku berhalusinasi jika Alan menelponku."
Namun, kejadian tadi seperti bukan halusinasi, seakan kenyaatan yang terjadi pada Ane.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Alan. Apakah dia masih hidup. Atau ...."
__ADS_1
Gara-gara panggilan telepon yang bertuliskan nama Alan, sedikit membuat Ane berpikir yang tidak-tidak.
"Ini karna aku kelelahan. Jadi sering berhalusinasi."