Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 25


__ADS_3

Ami melihat lelaki di sebelahnya tertidur pulas, melihat, ya. Ami sebenarnya bisa melihat. Itulah trik yang ia gunakan untuk mengetahui segala hal. Tentang apa yang terjadi di hapannya saat ini.


Minta maaf seorang ibu mertua, apa benar dia meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Bodoh! Ami menepuk jidadnya memperlihatkan kesedihanya yang mendalam.


Dalam begitu sakit setelah tahu mertuanya itu bersekongkol dengan sahabatnya bernama Sisi menghancurkan hidup Ami dari segala cara. "Mendekati suamiku, lalu merampas harta yang aku miliki." ucap pelan wanita berwajah tirus itu.


Sisi, awalanya aku ingin sekali menjadikan kamu istri kedua dari suamiku. Karna aku takut, nyawaku tak lama lagi.


Namun, bukanya membuat aku bahagia. Tapi malah membuat aku sengsara. Kalau saja Om Hendra tak memberitahu tentang kebusukanmu, mungkin aku akan menjadi wanita bodoh selamanya. Hati Ami terus saja berucap.


Seketika Ami melirik wajah sang suami.


"Maafkan aku mas, sekarang aku membohongimu untuk sementara, agar tahu bagaimana rencana sahabatku itu dan ibu mertuaku.


*********


Pagi hari Ami melihat sang ibu tengah membereskan semua rumah. Dengan Ami memakai tongkat meraba-raba seperti orang buta pada umumnya. Itulah cara Ami agar meyakinkan Ibu mertua.


"Sayang, sudah bangun. Ibu sudah siapkan semuanya, ayo dimakan," ucap ibu menyodorkan minuman tak lain air keruh yang sengaja ia sodorkan kepada Ami.


Ami tertohok kaget.


Hati Ami berkata." Mau bermain dengan wanita selemahku yah ibu mertua."


Ketika mertua Ami menyodorkan Air minum Ami berpura-pura menjatuhkan gelas. Hingga gelas itu pecah.


Aw ...


"Ibu kenapa, maafin Ami yah bu." Deraian air mata kepalsuan Ami jatuh. Seakan Ami yang bersalah atas semuannya.


"Gak papa sayang," ucap ibu mertua dengan mencibik bibirnya kesal. Menahan amarah.


"Mas Rudi kemana bu?"tanya Ami.


"Rudi udah berangkat kerja."


"Oh, ya sudah. Mau telepon Om Hendra saja. Biar ngaterin Ami ke Dokter."


Sesaat ibu mertua membereskan pecahan beling, begitu pun dengan Ami yang berjalan pelan melewati pecahan gelas itu.


Ami melihat sang ibu mertua menyodorkan pecahan beling itu pada kakinya


Dengan sigap Ami melewati pecahan beling itu.


Melihat ibu mertua yang begitu geram, karna Ami begitu lihay dalam berjalan.


Sampai pecahan beling pun, mampu ia lewati.


Ami berlalu pergi sembari terseyum kecil, melihat tingkah sang ibu mertua.


********


Pak Hendra sudah datang ...


Setelah di dalam mobil, menuju perjalanan rumah sakit .


Wanita berwajah tirus itu melepaskan kaca mata hitam yang melekat pada matanya.


"Gimana Om,"


Pak Hendra tertawa layaknya kemenangan ada di tangan mereka.

__ADS_1


"Om salut dengan suamimu Am, dia setia. Namun kesetianya selalu di ganggu oleh Sisi," ucap Pak Hendra dikala menyetir mobil.


"Hem, yah Om. Aku terlalu bodoh mempercayai wanita bernama Sisi itu. Semenjak melihat vidio dan poto yang dia tampilkan Sisi membuat aku geram." Mata Ami membungkuk, ada rasa sedih dan kecewa, tapi Ami yakin Rudi tak serendah itu. Dia pasti di jebak oleh Sisi.


"Apa om, sudah menemukan dia."


Pak Hendra mengeleng-geleng kepala, entah di mana wanita bernama Sisi itu.


"Aku takut tante marah pada om, karna om sudah bermain sejauh ini."


"Om, memang sudah tertarik pada Sisi dari dulu. Tapi semenjak dia menghina kamu, om tak terima."


"Apa Alan tau tentang rencana kita."


"Sejauh ini, dia tak tau. Hanya kemarin om sempat ketahuan bersama Sisi di apartemen. Alan dan Rudi melihat semuanya."


"Apa, Alan memberitahu tante."


"Tidak, tidak semudah itu Ami, tantemu tidak akan mempercayai apa yang dikatakan Alan. Tanpa bukti."


"Baguslah."


************


Setelah sampai di rumah sakit Ami bertemu dengan Alan.


"Hai mbaku." Sapa sosok lelaki yang bernama Alan. Menatap seyum pada wajah manis itu.


"Alan." ucap Ami.


"Kamu, datang ke sini sama papah?" tanya Alan sedikit kesal.


Ada rasa kesal Alan terhadap papahnya, Namun. Pak Hendra menepis dan menghiroukan kekesalan itu.


*********


"Am, penglihatanmu sudah membaik. Dan kenapa kamu berpura-pura buta."


"Aku punya rencana yang harus aku selesaikan."


"Yah, aku percaya padamu."


"Alan, jangan pernah membenci papah mu yah."


Mulut lelaki yang berhadapan dengan Ami hanya terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa.


"Aku akan usahain Am."


*******


Setelah pengecekan, Ami hanya di antarkan Pak Hendra di depan rumah saja.


Seketika melangkah. Semua isi rumah berantakan.


"Apa yang terjadi."


Ami melihat wanita tua itu hanya duduk santai tanpa memperdulikan rumah yang berantakan.


"Apa dia sengaja?"


Ami segera memanggil-manggil Bi Lastri pembantu barunya itu, tapi tak ada sahutan. Biasanya dia selalu datang ketika Ami memanggilnya.

__ADS_1


"Bu, kemana Bi Lastri?" tanya Ami menghampiri. Dengan berpura-pura buta memakai kacamata berwarna hitam.


"Bi Lasmi, di pecat. Karna dia gak berguna. Ami."


Benar saja sifat ibu mertua tak berubah. Dia malah semakin, menjadi-jadi.


"Kenapa ibu pecat Bi Lasmi."


"Udah ada ibu ini, kamu tenang saja Am."


Druh mobil Mas Rudi, dia ternyata sudah pulang.


"Mas, sudah pulang."


Ami melihat Rudi seakan syok ketika melihat rumah berantakan.


"Kemana Bi Lasmi."


"Anu Mas ..."


"Bi Lasmi di pecat sama Ami." timpal ibu menghentikan perkataan Ami.


Ami mencibik kesal bibirnya seraya berkata dalam hati."Oh dia, mau main-main sama Ami."


"Kenapa? kamu pecat Bi Lasmi,"nada bicara Mas Rudi meninggi.


"Sudah, jangan marah. Ada ibu ini, yuk kita makan Rudi."


Ami melihat semuanya, ibu mertua memanfaatkan kebutaan Ami. Untuk di jadikan kesenangannya.


Wanita berwajah tirus itu pergi, berjalan kekamar dan mengunci kamarnya.


Menelpon Bi Lasmi.


Tu .. tut pagilan terhubung.


"Bi, kenapa Bibi ke luar?" tanya Ami pada Bi Lasmi.


"Anu, Non. Maaf, Ibu Non, ngancam saya. Saya jadi takut."


"Bi Lasmi jangan takut besok ke sini lagi ajah."


"Tapi Non."


"Sudah nanti biar saya yang urus."


Setelah menelepon Bi Lasmi, Ami bergegas pergi ke meja makan.


Ami melihat ibu metua yang terseyum seakan ia memenangkan hati Mas Rudi.


"Mah, kenapa kamu harus pecat Bi Lasmi. Kasian ibu kalau harus ngurus kamu dan pekerjaan rumah," ucap Rudi.


"Maaf mas."


"Sudah, biarkan saja. Gak papa, mungkin Ami gak enak sama Bi Lasmi. Masih enakan sama ibu. Benerkan Am." timpal ibu mertua dengan sedikit menyungingkan bibinya.


Ami menunduk wajahnya, seakan mengalah demi ke baikan.


"Untung ibu baik, tau sendiri ibu kan sudah tua."


Perkataan Mas Rudi membuat Ami risih. Semenjak ibu mertua ada di sini.

__ADS_1


Banyak sekali dia berpura-pura baik, hanya untuk mengambil simpati anaknya ini.


Tunggu Besok ibu mertuaku ...?


__ADS_2