Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 16


__ADS_3

Pov ibu mertua Ami 


"Bu, tunggu." ucap seseorang memanggil namaku dan berlari tergesa-gesa.


"Loh, ada apa Sisi panggil ibu?" Tanyaku pada gadis bermuka cambi itu.


"Ibu, marah sama Mas Rudi, maafin Mas Rudi yah bu, emang dia mah gitu ketus." ucap Sisi  sembari memegang kedua tangganku dan meminta maaf.


"Sisi, sudah biasa ibu di gini-in sama anak ibu, semenjak dia menikah dengan cewek kumel itu." ucapku terseyum bahagia melihat wanita sebaik dia.


"Jadi, ibu tidak menyukai Ami?" Tanya Sisi membuat aku jijik dikala membahas menantu kumel itu.


"Ibu gak suka sama dia sejak dulu sampai sekarang, ibu lebih suka kalau Rudi bersama kamu Sisi kamu cantik, baik, anggun lagi!" jawabku membuat gadis itu terseyum.


"Ou, ibu bisa ajah, sebenarnya aku sudah lama suka sama Mas Rudi, tapi Mas Rudi ketus baget bu sama aku, padahal kalau aku jadi istri keduanya juga gak papa." 


Kesempatan bagus untuk menjauhkan Ami dari kehidupan Rudi, dan Sisi bisa bersama Rudi.


"Ibu ada ide!" 


Aku mebisikan ketelinga Sisi yang sebentar lagi akan menjadi calon istri anakku Rudi.


"Apa kah akan berhasil bu, aku gak yakin bu." ucap Sisi sedikit ragu, aku terus menyakinkan janda ditingal mati suaminya itu.


"Yakin Si, tenang ajah."


"Baiklah, bu."


"Bagus."


"Ya sudah ibu pamit pulang, semoga berhasil, ibu akan selalu dukung kamu Sisi."


"Oke, bu, hati-hati di jalan."


Ternyata Sisi, mau menjalankan ideku, tak susah aku harus menyingkirkan Ami dan Rudi saat ini juga.


Ami, maafkan ibu, bukan ibu tak bisa menerimamu, karna ibu tak suka mempunyai menantu miskin  seperti kamu.


Sesaat tiba di rumah.


Aku melihat poto suamiku yang terpapang di dingding.


Akang, akang taukan sekarang istrinya si Rudi akan mati, dan sebentar lagi Rudi akan menjadi duda, Amih sudah jodohkan Rudi dengan wanita cantik dan kaya raya, semua cita-cita Akang terlaksana, melihat Anak kita kaya raya.


Coba Akang masih hidup, kita akan melihat Rudi bahagia dengan menjadi orang kaya dan tidak menderita.


Tak terasa bulir bening berjatuhan di kala melihat poto sang suami yang sudah ada di liang lahan, ayah Rudi sudah meninggal di kala Rudi masih kecil.


Ayahnya bercita-cita ingin melihat Rudi menjadi orang sukses dan kaya raya. Itulah perkataan dari sang ayah untuk anaknya Rudi.


Dari sini lah aku harus cepat-cepat menyingkirkan, menantu sialan itu.


Kalau aku tak menyingkirkannya, Rudi akan di bebankan oleh wanita tak tau diri itu.


Andai saja kamu tau Ami, kalau dulu kamu mendengar perkataan aku, mungkin kamu tak akan di buat menderita olehku.


Jam sudah menunjukan pukul 10:00 malam.


Tok ... Tok ...


Siapa itu ... Sudah malam ada yang bertamu ke sini.


"Loh, Rudi kamu kapan datang nak?" ucap ku sesudah membukakan pintu.


"Bu, aku mau tanya sama ibu?" Rudi langsung masuk dan memarahiku.


"Maksud kamu apa, Rud? Ibu gak ngerti".


Aku meraih tangan anakku agar duduk dan menenangkan diri.


"Alah, ibu, jangan sok perhatian sama Rudi, apa benar selama ini ibu sering meminta uang pada Ami?" Tanya Rudi seketika membuat bibirku keluh.

__ADS_1


"Kamu, fitnah ibu, kata siapa? Apa gadis itu yang bilang, kurang ajar emang keterlaluan gadis penyakitan itu." 


Aku sungguh marah dibuat anakku malam ini.


"Ami tidak pernah mengadu dan bilang bahwa ibu suka meminta uang jatah Ami yang aku berikan." teriak anakku yang sudah menahan emosi yang menggebu.


"Terus apa kamu punya bukti Rudi." aku menjawab dengan nafas tersegal menahan gemuruh di dada yang kian kesal.


"Ini coba ibu dengar dan lihat."


Anakku menyodorkan rekaman percakapan dan vidio cctv.


Sejak kapan di rumah Rudi ada hal-hal semacam ini.


"Kenapa, kenapa ibu diam, sekarang bukti sudah terlihat, ibu kaget siapa yang melakukan ini, ibu mau tau."


Rudi menatap raut wajah ibunya ini dengan berkata," Aku yang melakukan semua ini, jadi kalau istriku kenapa-napa ibu yang bertanggung jawab."


Kurang Ajar, Rudi mengancam aku, ibunya. Keterlaluan.


"Rudi, pamit pergi, Rudi harap ibu merenungi keslahan ibu sendiri."


"Nak tunggu ibu, jelaskan dulu."


"Tidak ada yang harus ibu jelaskan, semua sudah terbukti."


Anakku Rudi berlalu pergi meninggalkan aku yang di rendungi kesedihan.


Semua gara-gara menantu sialan itu.


Awas kou yah Ami, kamu akan mati di tangganku.


Hati seorang ibu  mana yang tak akan sakit hati, melihat anaknya memarahi ibunya sendiri, selama ini baru pertama kali Rudi seperti itu kepadaku, karna menantu penyakitan itu, wanita sialan yang membuat aku jadi menderita.


Ami akan ku buat kamu seperti apa yang telah Rudi perbuat pada ibunya ini.


Segera ku susun sebuah rencana, pertama   menghubungi wanita bernama Sisi, utung saja wanita itu memberikan kertas berisikan no telepon.


Tut ...


Nada telepon tersambung.


"Halo, siapa ini?" 


"Ini ibu, Si!"


"Owalah, ibu, ada apa?"


"Ada yang ibu ingin bicarakan."


"Emang bicara apa bu."


"Ibu ingin kamu bantu ibu, besok."


"Untuk apa?"


Biar nanti ibu ceritakan.


"Oke."


Teleponpun terputus.


Pagi hari.


Pertemuanku dengan wanita yang baru aku kenal ketika hendak menenggok Ami  di rumah sakit, membuat rencanaku semakin menarik.


Saat itu, ku tunggu ke datangan wanita itu di depan Mall, belum selang beberapa menit menunggu, ternyata wanita itu sudah datang memakai baju berwarna biru muda bercorak bunga, membuat mata ini semakin mengagumi, kecantikannya.


Sudah aku duga dia datang membawa mobilnya sendiri, mobil berwarna putih yang terkesan terlihat mewah.


Ku lihat dia melambaikan tangan dari kejauhan, berjalan layaknya seorang putri, aku senang ketika melihat penampilan dia.

__ADS_1


"Hai, bu."


Sapa wanita berpipi cambi itu, mencium punggung tangganku, layaknya seorang anak dan ibu.


"Ibu sudah lama nunggu, maaf yah, tadi di jalan macet." Dia meminta maaf memperlihatkan raut wajah bersalah kepadaku.


Tidak seperti menantuku yang sekarang terbujur lemah di rumah sakit, Oops mungkin bentar lagi dia akan pergi dari bumi ini.


"Gapapa ko, baru sebentar ibu nunggu di sini." jawabku 


"Ya sudah, gimana kalau kita ke dalam Mall ajah, ngombrolnya sambil belanja, nanti Sisi yang bayarin belanjaan ibu deh." ajakannya membuat hati gembira, apa tidak salah dengar kupingku ini baru pertama kali bertemu sudah royal begini sama calon mertua.


"Aduh ibu gak enak, kasian kamu, nanti uangnya habis, kan sayang." jawabku berlaga menolak padahal dalam hati ingin sekali ku jawab langsung, kata iya, aku berusaha untuk tidak menampilkan sifat asliku yang boros ini.


"Alah, bu, tenang ko uangku banyak, maklum baru gajihan, apalagi peninggalan suamiku banyak," ucapnya membuat aku semakin yakin dia wanita janda kaya raya yang di tinggal mati suaminya.


Tak salah aku memilih calon wanita secantik dan semanis Sisi, baik, ramah, sopan.


Berbelanja membuat hati bahagia, sudah lama semenjak Ami sakit aku tidak bisa shoping ke Mall, uang yang sering aku ambil dari Ami tak cukup, untuk kehidupanku selama sebulan.


Sisi terus saja terseyum menawarkan barang-barang berkualitas mahal yang jarang sekali aku beli.


Semua yang aku beli sekitar 7 juta, hanya berbelajakan tas, sepatu, dan baju.


Setelah puas belanja kesana kemari, Sisi membawaku kesebuah cafe, dimana di cafe itu banyak sekali pengunjung anak muda yang tengah asik bersantai, bergurou, bercanda ria.


Biarlah ibu-ibu sepertiku merasakan tongkrongan anak muda, toh umurku tak tua-tua amet, masih terlihat segar.


Kami memilih kursi yang bertempat di ujug dekat jendela, suasana serasa menyenangkan, baru pertama kali aku merasakan sensasi cafe anak muda, berasa umurku menjadi muda lagi.


"Emh, ibu mau bikin rencana apa?" Tanya Sisi saat wajahku menghadap ke sisi jendala.


Aku terseyum ketir, membalikan wajah ke arah wanita yang ada dihadapanku, yang sesekali menyeruput kopi panas 


"Sebenarnya, ibu ingin sekali melenyapkan Ami, tapi kalau ibu melenyapkan dia, ibu yang akan rugi."


Wanita dihadapanku meletakan gelas yang baru saja ia minum, dan berucap." ja-di, apa yang sekarang akan ibu perbuat."


Aku mendekati wajah bulat yang ada dihadapanku, sambil berbisik.


"Jadikan Rudi terpikat olehmu."


"Maksud ibu, rasanya susah membuat anakmu terpikat olehku." ucapnya sedikit menyenderkan punggung ke kursi.


"Itu urusan gampang, kapan Rudi anakku, balik dari rumah sakit?" Tanyaku membuat Sisi bangkit dari sandaran kursinya.


"Malam ini." jawabnya sembari mengerutkan dahi, seakan binggung dengan rencanaku.


"Bagus, waktunya kamu beraksi, simpan ini, ingat jangan sampai ketahuan." ucapku sembari menyodorkan bungkusan kecil berwarnakan putih.


Sisi terseyum tanda mengerti akan perkataanku.


Setelah, kami asik berbincang tanpa sadar seorang pria menghampiri kami.


"Heh, loe, Sisi." tanya pria bertubuh gendut itu kepada Sisi.


Aku melihat mereka seperti saling kenal.


"Luky, ngapain loe disini."


Ku lihat Sisi begitu kaget melihat kedatangan pria bertubuh gendut itu.


"Siapa ini, Si?" Tanyaku  pada Sisi dengan menunjuk pria itu.


"Oh anu, bu, dia Luky teman kerja Sisi." jawab Sisi.


Aku hanya mengangguk.


Saat itu Sisi langsung membawa temannya dengan mengajak paksa, entah apa yang akan mereka bicarakan.


Beberapa menit menunggu, akhirnya mereka datang, dari obrolan yang tidak aku ketahui.

__ADS_1


Jangan lupa like yah dan komen. ikuti terus ceritanya.


__ADS_2