Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 135


__ADS_3

Doni berjalan bersama sang nenek, pergi menuju ruangan Ami.


Namun langkah kakinya terhenti, Dodi membalikkan badan ke arah belakang, menatap Pak Gunandi yang masih menatap dirinya. Ia melambaikan tangan dengan senyuman kebahagiaan.


Bu Sumyati yang baru menyadari, menarik lengan tangan cucuknya dengan lembut.


"Ayo Dodi, Papah kamu pasti menunggu," ucap sang nenek.


Dodi menganggukan kepalanya pelan seraya berkata," ya nek!"


Dari kejauhan Pak Gunandi, menatap punggung Dodi yang semakin jauh hingga tak terlihat lagi, dengan kedua matanya. Lambaian tangan Dodi tadi membuat hati Pak Gunandi merasa senang, di masa tuanya dia hidup sendirian tanpa seorang anak cucu ataupun istri.


Saat mereka berjalan menuju ruangan Ami, Dodi menatap pada raut wajah sang nenek dan berkata," nenek. sama pak dokter kayanya cocok deh."


Sang nenek terseyum, kedua pipinya memerah. Ia malu dengan perkataan cucuknya.


"Kamu ngomong apa coba, Dodi."


Dodi malah menampilkan senyumannya dengan tampilan gigi putihnya yang rapi," nenek malu ya."


"Siapa coba yang malu?" tanya sang nenek. Mereka terus berjalan tanpa sadar sudah sampai di ruangan Ami, kedua mata Dodi melihat ke arah ruangan sang mama. Kedua kakinya seakan berat untuk melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kenapa Dodi berhenti, ayo masuk. Nak?" tanya sang nenek kepada Dodi.


Raut wajah Dodi terlihat sayu, ia takut dengan kejadian waktu tadi.


"Dodi ayo kamu harus berani, kita temui mama kamu," ucap sang nenek.


"Dodi takut nek," jawab anak tampan itu. Ia takut jika menemui sang mama, kejadian itu terulang lagi.


"Kamu masa lupa dengan pesan Pak Dokter," ucap sang nenek.


Perkataan sang dokter tiba-tiba terlintas dari kepala Dodi, ia mengingat nasehat dokter tua itu.

__ADS_1


"Ayo kita temui Mama kamu." Ajak sang nenek, dengan menarik napas pelan. Dodi mulai mengikuti arahan sang nenek ya berjalan membuka pintu kamar Ami. Di mana Rudi Tengah menemani sang istri.


Kedua mata Rudi tampak memerah, ia menatap anaknya dengan rasa kesedihan yang mendera pada hati dan pikirannya. Di saat itu," Dodi sini nak." panggil sang papa kepada anaknya. Perlahan Dodi melangkah menghampiri Rudi membuat anak itu menangis tersedu-sedu.


Rudi memeluk sang anak dan berkata," kamu harus kuat ya, Nak. Kamu harus kuat. Kenapa mama kamu seperti ini, karena kalian mempunyai ikatan batin."


Sang nenek memegang kepala cucunya dan meneruskan perkataan Rudi," benar Dodi. kamu harus tahu, bahwa seorang ibu tidak akan pernah lupa pada anaknya. Walau ingatan mama kamu sekarang seperti ini, tapi perlahan mama kamu akan ingat pada kamu lagi Dodi. Karena ikatan anak dan seorang ibu sangatlah kuat."


Hati Dodi mulai reda, saat nasehat dan kata-kata semangat terlontar pada orang-orang yang sayang pada anak tampan itu.


Seyuman kini kembali terukur dari bibir mungil Dodi, sang papa yang sudah basah oleh air mata kita memaksakan diri untuk terseyum bahagia.


"Dodi sayang papa sama mama."


Raut wajah Dodi menatap ke arah Ami yang masih terbaring lemah. Seraya berkata," Terima kasih mama selalu bertahan demi aku anakmu ini."


Pak Gunandi mengintip pada jendela luar ruangan Ami, Dokter tua itu ternyata mengikuti langkah kaki Dodi. Ia melihat pemandangan yang sangat membuat hatinya perih, dimana Pak Gunandi juga pernah merasakan kehangat seorang keluarga yang berkumpul seperti itu.


Setiap tangisan yang keluar dari pelipih kedua matanya keluar, Pak Gunandi mengigat akan kecelakaan yang menimpa semua keluarganya.


Membuat mereka telah tiada, dan menyisakan kesedihan yang mendera pada lubuk hati Pak Gunandi.


Dodi seakan menyadari, Pak Gunandi berada di balik jendela luar. Dodi langsung berlari ke luar ruangan, dan benar saja, Pak Gunandi tengah mengintip di balik jendela.


Anak tampan itu berlari memeluk sang dokter dan berkata," kenapa bapak ada di luar. Ayo masuk, mamah dan papah pasti menunggu."


Seyuman terlukis dari wajah manis Dodi, melepaskan pelukan dan menarik lengan sang dokter. Pak Gunandi malah terdiam kakinya seakan berat.


Dodi menarik paksa dokter tua itu agar ikut berasamnya, sampai dimana ia membalikan badan dan berkata." kenapa dokter enggak mau melihat mamah dan papah Dodi."


Kedua mata sang dokter tampak berkaca-kaca, bibirnya keluh, ia ingin sekali ikut. Namun hatinya begitu rapuh. Sakit yang kian ia rasakan, membuat kedua lututnya seakan berat tak dapat berjalan.


Dodi mulai menatap tajam sang dokter dan berkata," dokter harus kuat, apakah itu yang di katakan pak dokter."

__ADS_1


Deg ....


Ucapan Dodi seakan membalikan hati dan pikiran Pak Gunandi yang tengah rapuh, kata-kata dari Dodi adalah nasehat yang selalu terucap dari mulut Pak Gunandi sendiri.


Nasehat yang berbalik pada diri sendiri, dimana kita bisa menasehati orang lain tapi diri kita sendiri tak mampu. Pentingnya hidup saling menasehati bukan saling menghina atau merendahkan.


"Pak Dokter." Panggil Dodi. Wajah muram Pak Gunandi kini menatap ke arah wajah Dodi yang manis.


"Kenapa pak dokter diam saja?" tanya Dodi.


"Dokter sibuk. Sebaiknya nanti saja ya!" jawab Pak Gunandi. Menempelkan telapak tangan pada kedua pipi Dodi.


Dodi langsung memegang tangan sang dokter dan berkata," pak dokter pasti sedihkan. Dodi tahu ko. Karna kedua mata pak dokter terlihat sayu."


Pak Gunandi terseyum dan berkata," sok tahu kamu."


Bu Sumyati yang baru menyadari Dodi pergi, ia langsung menyusul cucunya. Takut Dodi hilang tiba-tiba.


Saat Bu Sumyati hendak keluar dari ruangan Ami, ia melihat Pak gunandi dan juga Dodi. Tengah mengobrol.


Hingga saatnya Bu Sumyati berjalan menghampiri mereka berdua," Dodi sedang apa kamu di sini?"


Pak Gunandi yang mendengar suara Bu Sumyati, Berdiri melihat kearah wanita tua itu, begitupun dengan Dodi.


" Nenek. Ini pak Pak Dokter, katanya mau masuk. Melihat mamah dan papah." Ucap Dodi pada sang nenek.


Mendengar perkataan Dodi, Pak Dokter begitu kaget. Membuat Bu Sumiati langsung membalas perkataan Dodi," Benaran itu pak?"


Menatap kearah Pak Gunandi, yang tiba-tiba kaku, Bu Sumyati berucap lagi," ya sudah. Kenapa masih berdiri di sini. Ayo Pak Dokter kita masuk, ke ruangan anak saya."


Pak Gunandi benar-benar merasa bingung dan salah tingkah," ah a-nu sa-ya mau ..., Dodi tersenyum tipis bepuk perkataan lelaki tua itu terlontar semua, Dodi langsung menarik lengan tangan Pak Gunandi. Untuk masuk ke ruangan sang mama.


" Sudahlah Pak, ayo, katanyakan pak dokter mau ketemu dengan mama dan papa saya!"

__ADS_1


__ADS_2