Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 170 season 3 obrolan Alan dan Rudi.


__ADS_3

Jam sudah menujukan pukul, sembilan malam. Dimana Dodi sudah tertidur pulas dekat Alan.


Lelaki berbadan kekar itu mengambil ponsel, melihat pada layar nomor telepom Rudi.


Pada saat itulah Alan meninggalkan kamar, hanya untuk menelpon Rudi. Memberi tahu bahwa Dodi sudah mau di ajak pulang oleh ya.


Dengan hati yang masih ragu, Alan dengan beraninya langsung memencet nomor Rudi. Bersikap tenang agar tidak terpancing emosi seperti tadi siang.


Menarik napas pelan, panggilan pun terhubung. Alan kini mendengar suara Rudi.


"Halo, Alan."


Sebisa mungkin Alan menahan emosi dan menjawab," bagaimana keadaan Ami sekarang?"


"Ya begitulah, Ami masih terbaring lemah di atas kasur, ada apa?"


"Besok aku akan berangkat ke sana mengantarkan Dodi."


"Jadi Dodi sudah ingin pulang?"


"Iya."


Betapa senangnya Rudi, saat mendengar jika Dodi akan segera pulang menemui Ami.


"kamu tidak sedang bercandakan Alan?"


"Tidak Rudi, aku serius. Dodi sudah sadar, ia ingin segera pulang menemui mu dan Ami."


"Akhirnya Dodi ingin pulang, aku tak menyangka jika anak itu akan cepat berubah pikiran."


"Rudi, maafkan aku yang sudah egois. Ternyata Delia selama ini sudah mencuci otak anakmu sampai anakmu membencimu."


"Lupakan saja, Alan. Aku juga salah, sebagai seorang ayah, harusnya aku lebih sabar terhadap Dodi."


Ada rasa sakit pada hati Alan, saat mengatakan jika Dodi akan kembali kepangkuan Rudi dan Ami. Alan seakan tak ingin jauh dari Dodi.


Namun, harus bagaimana lagi. Dodi bukan hak miliknya.


"Oh, ya. Bagaimana dengan ke adaan Delia, apa dia sekarang baik-baik saja."


Alan tersenyum pahit, dikala Rudi bertanya tentang Delia.


"Keadaan Delia masih seperti sebelumnya, Delia harus melewati masa-masa depresi di rumah sakit untuk waktu yang sangat lama."


Ada rasa kasian menyelimuti hati Rudi saat itu, ia juga tak tega mendengar Delia depresi berat karna beberapa kali kehilangan anaknya.


"Kamu harus kuat, Alan."


Ucapan semangat dari Rudi, tak mampu membuat Alan bangkit dari keterpurukan. Karna selama Delia sakit. Ia tak bisa melihat keadaan istrinya.


Tiba-tiba ponsel Rudi, direbut paksa oleh Bu Sumyati.

__ADS_1


"Bu," Ucap Rudi pada Bu Sumyati.


Wanita tua itu merebut ponsel anaknya begitu saja. Ia bertanya pada Alan dalam sambungan telepon.


"Halo, Alan. Dimana Dodi?"


Rudi mulai berusaha mengambil ponsel dari tangan ibunya.


"Bu, Rudi mohon jangan begini," ucap Rudi. Memohon pada sang ibu untuk mengembalikan ponselnya.


"Rudi, ibu ingin berbicara dengan Alan," balas Bu Sumyati.


Rudi dengan terpaksa mengiyakan keinginan ibunya yang ingin mengobrol dengan Alan.


Sebenarnya hatinya merasa ragu, takut ibu mengatakan hal-hal yang bisa menyakiti hati Alan.


"Mudah-mudahan, ibu tidak berbicara yang tidak-tidak pada Alan." Gumam hati Rudi.


Rudi mengira ia akan mendengarkan percakapan Bu Sumyati dan Alan, tapi ternyata Bu Sumyati malah membawa ke luar ponsel anaknya.


"Bu, kenapa tidak di sini saja, biar Rudi ikut mendengar," ucap Rudi pada Bu Sumyati, dengan harapan wanita tua itu menuruti apa perkataan anaknya.


Namun ternyata Bu Sumyati malah acuh, ia pergi mengabaikan ucapan Rudi.


Rudi menatap ke arah Pak Gunandi, berharap lelaki tua itu mengerti apa yang di isaratkan Rudi.


Pak Gunandi yang menjadi bapak tiri Rudi, kini menempuk pelan punggung Rudi dan berkata," kamu jangan kuatir ibumu tak akan berkata macam-macam."


Pak Gunandi mulai mendengar ucapan demi ucapan yang di lontarkan Bu Sumyati pada Alan.


@@@@


"Halo, Alan."


"Halo, Bu. Apa kabar?" tanya Alan saat Bu Sumyati memanggil namanya.


"Sudah jangan banyak basa basi, ke mana kamu selama ini, kenapa nomor kamu tidak pernah aktif, kamu sengaja ya. Menjauhkan ibu dengan cucu ibu sendiri!" gerutu Bu Sumyati.


Wanita tua itu mengeluarkan segala keresahan pada hatinya, dengan sedikit memarahi Alan.


"Bu, sebelumnya Alan minta maaf. Alan tidak ada maksud menjauhi Dodi dengan ibu. Sebenarnya," belum ucapan Alan terlontar semuanya. Bu Sumyati langsung mengoceh tiada henti.


Alan tanpak sok ketika ocehan Bu Sumyati tak masuk pada dirinya. Ia sudah menyadari apa yang akan terjadi jika mengobrol dengan wanita tua.


Hanya kata maaf yang terus terlontar dari mulut Alan, walau kata maaf itu entah terdengar oleh Bu Sumyati atau tidak. Karna Bu Sumyati seakan tiada henti terus mengoceh, seakan mulutnya tidak di sediakan rem dadakan.


"Alan, kamu dengar enggak apa yang ibu katakan."


Alan hanya bisa berucap pasrah." Iya bu."


"Ibu tanya kapan kamu akan mengantarkan cucuku pulang?" tanya Bu Sumyati pada Alan. Wanita tua itu tak sabar ingin memeluk cucu satu-satunya

__ADS_1


"Besok, Alan akan membawa Dodi menemui Ami dan Rudi!" balas Alan . Menahan kesabaran karna hatinya yang tiba-tiba kesal, karna ocehan Bu Sumyati yang tak ada habisnya.


"Ibu, berharap omongan kamu ini dapat di percaya," ucap Bu Sumyati. Membuat Alan tersenyum kecut.


"Ibu tenang saja, Alan pasti akan mengantarkan Dodi sampai pada ibu di sana," balas Alan.


"Awas saja kalau kamu berbohong pada ibu, nanti tahu akibatnya." ucap Bu Sumyati. Mengancam Alan.


"Iya, Bu."


Pada saat itu Bu Sumyati langsung mematikan ponsel Rudi. Mengembalikan pada anaknya.


"Ini, ponselmu."


Wanita tua itu berjalan menghampiri sang suami.


"Papah tadi nguping, ya."


"Mamah ge'er, siapa yang nguping."


"Alah, takut ya. mamah marahin orang."


Rudi mendekat ke arah sang ibu yang tengah berdebat masalah sepele.


"Tadi ibu enggak ngomong yang tidak-tidak kan terhadap Alan?"


Tanya Rudi, sedikit penasaran dengan apa yang di katakan sang ibu kepada Alan.


"Aduhhh, kalian ini. Memangnya wajah ibu segarang itu, sampai kalian menyalahkan ibu karna mengobrol dengan Alan!"


Jawaban Bu Sumyati membuat kedua lelaki dihadapnya saling memandang satu sama lain, dengan kompak mereka menjawab.


"Ya."


Bu Sumyati merapatkan kedua bibirnya tersenyum kecil.


"Sudahlah kalian tenang saja, ibu tidak berbicara yang tidak-tidak pada Alan. Hanya sedikit memarahinya saja," ucap Bu Sumyati.


Rudi menepuk keningnya seraya berkata," kenapa ibu marahi Alan."


"Ya, jelas dong ibu marahi dia. Habisnya dia tidak ada kabar jelas, apalagi Dodi kan berada di sisinya. pasti ibu memarahinya," balas sang ibu. yang tak mau kalah.


Pak Gunandi menepuk bahu Rudi, mengisaratkan kedua mata agar tidak melawan sang ibunda.


karna percuma melawan. Lelaki di mata wanita selalu kalah. Dan jika wanita kalah tetap yang di salahkan lelaki.


"Sabar. Ibumu wanita." Ucap Pak Gunandi.


Saat itu Rudi mengusap pelan dadanya menenangkan segala emosi yang bergejolak pada hatinya.


"Sabar Rudi. Dia ibumu," gumam hati Rudi.

__ADS_1


"


__ADS_2