Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 88 Kedatangan Sisi dan Arpan.


__ADS_3

Saat itu Arpan dan Sisi pulang dengan penuh kebahagian, mereka seakan senang dengan bulan madu yang mereka jalani.


Setelah sampai di rumah, Arpan di kagetkan dengan Bu Ira, yang tak lain adalah Tantenya.


"Tante Ira, kenapa bisa ada di sini?" tanya Arpan. Matanya membulat kaget dengan sosok wanita tua yang sudah lama tak bertemu.


"Arpan," ucap Bu Ira. Menagis di hadapan Arpan, meminta maaf akan segala kesalahan yang telah ia perbuat.


"Tunggu, jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Ami. Kepada Arpan dan juga Bu Ira.


"Iya, Arpan ini adalah keponakan ibu, yang sudah lama tak pernah ibu temui. Semenjak kepergian suami ibu," ucap Bu Ira menagis terisak-isak.


"Arsyla kemana bu?" tanya Arpan.


Bu Ira seakan bingung harus menjawab apa, karna anaknya seakan tak perduli dengan dirinya. Arsyla mencampakan ibunya.


"Entahlah ibu tidak tahu sekarang dia ada dimana? Semenjak Neng Ami membawa ibu ke sini. Arsyla seakan tak perduli," ucap Bu Ira. Membuat tangan Arpan mengepal, kesal dengan perlakuan Arsyla yang selalu seperti itu.


"Ya sudah tante tinggal aja dulu di sini. Arpan akan mengurus tante," ucap Arpan. Membuat Bu Ira seakan tidak mau merepotkan keponakannya, Bu Ira merasa malu karna dirinya dulu pernah membiarkan Arpan dan Dipa terlantar.


"Tante tidak mau, tante mau ikut saja dengan Neng Ami berkerja di sana!" jawab Bu Ira. Menundukan pandangan, Arpan yang melihatnya seakan tak tega. Mengelus pundak sang tante dan membuat tantenya mengerti.


"Tante kita itu keluarga jadi tante jangan malu jika tinggal di sini. Arpan mohon tante harus menerima tawaran Arpan," ucap Arpan.


Ami menghampiri Bu Ira menjelaskan secara perlahan," ada baiknya ibu tinggal saja sama Arpan. Ami enggak enak mempekerjakan ibu, kalau ternyata ibu adalah saudara Arpan."


"Iya tante. Lebih baik tante tinggal saja di sini," ucap Arpan. Matanya begitu sayu, memberi harapan pada Tantenya.


"Apa kamu tidak keberatan Arpan jika tante tinggal di sini?" tanya sang tante. Dengan raut wajah keraguan, selama ini Bu Ira merasa banyak sekali bersalah pada Arpan keponakannya. Tapi Arpan begitu baik hati, lelaki berkulit sawo matang itu tak pernah menyimpan dendam kepada orang yang telah menyakiti hatinya, bagaimana tidak. Perlakuan suami Bu Ira sungguh keterlaluan, dari menghina hingga mengusir secara mentah-mentah.


"Arpan apa kamu tidak mau membalas perbuatan paman kamu pada tante Nak?" tanya Bu Ira menundukan pandangan tak kuasa melihat keponakannya yang selalu teranianya oleh suaminya. Rasa sesal masih menghantui pikiran Bu Ira.

__ADS_1


"Tante biarkan yang lalu menjadi masa lalu, Arpan sudah melupakan semuanya. Kenapa harus membalas, Arpan buka orang yang seperti itu. Tante juga selalu membela Arpan dari dulu, dan Arpan mengerti situasi tante dulu seperti apa," ucap Arpan. Membuat relung hati Bu Ira sedikit tenang.


Bu Ira tahu, Arpan di didik begitu baik oleh orang tuanya walau pun dulu dia adalah seorang pereman. Namun kebaikanya selalu membuat orang kagum.


"Jadi sekarang kami mau berangkat pulang ke jakarta, oh ya Bu Ira, baik-baik di sini ya. Aku bersyukur kalau sekarang Bu Ira bersama Arpan yang tak lain saudara Ibu sendiri," ucap Ami. Terseyum menatap wanita tua itu.


Bu Ira memegang tangan Ami seraya berkata," terimakasih atas semuanya, kamu wanita baik Ami."


"Sama-sama Bu."


"Ya, gak ikut dong ke rumah Dodi," ucap Dodi wajahnya begitu murung, melihat kearah Bu Ira.


"Dodi, nanti kapan-kapan kita main lagi ke rumah tante Sisi sama Om Arpan. Nanti Dodi bisa ketemu sama Bu Ira," jawab Ami kepada anaknya.


Bu Ira menganggukan kepala, terseyum memeluk Dodi.


"Anak pinter, nanti kita ketemu lagi oke."


Sisi yang masih terdiam, kurang senang dengan hadirnya wanita tua yang bernama Bu Ira itu. Risih rasanya, ia berpikir kalau wanita tua itu berada di rumahnya pasti anaknya akan menyusul dan mengacaukan rumah tangganya yang indah ini.


"Ko kamu cemberut gitu?" tanya Arpan mencui dagu istrinya dengan lembut.


"Enggak kenapa-napa ko mas!" jawab Sisi, raut wajahnya tanpak murung sekali.


"Jangan bohong, keliatan sekali kalau kamu enggak suka dengan kedatangan tante ku di rumah ini?" tanya Arpan memeluk sang istri.


"Entahlah rasanya, aku enggak suka aja. Apalagi tante kamu punya anak wanita. Gimana nanti kalau anak itu datang dan membuat aku kesal," cetus Sisi. Melipatkan kedua tangannya.


"Kamu ini gimana si sayang, ko harus kesal gitu. Kalau Arsyla datang tinggal kamu kerjain ajah, ini kan rumah kita, yang bebas di sini kan kita bukan dia. Oh ya Tante Ira baik ko. Percaya sama aku," ucap Arpan.


Sisi tergelitik ingin tertawa benar saja, apalagi Sisi terkenal sebagai wanita jail.

__ADS_1


"Jadi kalau anaknya tiba-tiba datang boleh aku kerjain dia," ucap Sisi dengan nada bersemangat.


"Kalau urusan gitu kamu semangat sayang. Giliran minta ronde ke dua lemes," sindir Arpan membuat kedua pipi Sisi memerah.


"Apaan sih enggak lucu," ucap Sisi mengelitik tubuh Arpan saat itu.


Bu Ira seakan senang Arpan mau menerima dirinya di rumah ini, wanita tua itu sedikit tenang dia tidak harus menjadi gelandangan di jalanan. Dirinya bersyukur sekali karna wanita berwajah tirus dan anak kecil yang bernama Dodi itu memiliki hati yang mulia membantu Bu Ira yang kelaparan saat itu.


"Nasib masih berpihak padaku, beruntung keponakan ku Arpan itu anak baik. Aku tidak boleh membuat dia terluka," ucap Bu Ira. Terseyum lebar menatap jendela.


***************


Saat itu Arsyla sungguh kesusahan, dia tidur di lantai beralas karpet. Yang biasanya tidur dengan kasur yang empuk dan ace, sekarang dirinya benar-benar menderita.


"Ahk, aku harus menemui ibu besok agar aku tidak kesusahan seperti ini. Semua benar- benar membuat ku menderita," hardik Arsyla terbaring di lantai. Ia tidur dengan nyamuk-nyamuk yang mengerogoti tubuhnya.


Tring ... tring ...


pesan datang dari Bu Ira.


[ Nak, apa kamu baik-baik saja sayang. Alhamdulilah ibu di beri tempat tidur dari Arpan yang nyaman sekali, Arpan benar- benar anak baik Arsyla]


Arsyla rasanya benar-benar bosan saat mendengar Arpan anak baik. Dia tidak suka dengan perkataan itu, mendengkus kesal, ingin membantingkan ponselnya saat itu.


Arsyla membalas dengan senyum liciknya.


[ Baguslah kalau begitu, besok Arsyla akan menemui ibu kesana]


Betapa senang nya hati Bu Ira saat itu, Arsyla membalas pesan Bu Ira.


Bu Ira berpikir kalau Arsyla tahu sifat Arpan yang benar-benar baik dia tidak akan dendam lagi pada Arpan. Karna kesalah pahaman.

__ADS_1


__ADS_2