Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 141 Semua tampak sewot.


__ADS_3

Keresahan mulai di rasakan keluarga Bu Ira, di mana Arsyla anaknya masih tidak mau menikah dengan Rafa. Rencana sudah mau dimulai, di mana Bu Ira dengan Sisi sudah merencanakan sesuatu satu bulan lagi pernikahan Arsyla.


"Gimana dengan jawaban Arsyla yang sekarang ini, bu. Apa dia sudah menerima Rafa sepenuhnya?" tanya Sisi yang duduk berhadapan dengan Bu Ira.


"Justru itu sampai sekarang, Arsyla belum respon juga. ibu melihat Arsyla seakan kebingung!" jawab Bu Ira. Menarik nafas pelan, menyandarkan punggung pada kursi.


"Rencana yang diberikan Rafa, udah ibu lakukan?" tanya Sisi. Menatap raut wajah wanita tua itu.


Bu Ira malah menggelengkan kepala, Sisi hanya terdiam pilu telapak tangannya menahan dagu Seraya berpikir. Apa yang harus dilakukan saat mereka dalam masalah.


Dreet .... Dreet .... Suara ponsel Sisi tiba-tiba bergetar dimana, satu panggilan dari Rudi.


Sisi mulai mengeser tombol berwarna hijau pada layar ponselnya," Rudi nelpon."


Ucap Sisi di hadapan Bu Ira.


"Sudah kamu angkat,Si!"


Sisi menganggukan kepala pelan, ia mulai berucap pada sambungan telepon yang terhubung pada Rudi.


"Halo rud, ada apa?"


Tanpa basa basi Rudi langsung berkata," besok kalian bisa datang ke pernikahanku?"


Mendengar kata pernikahan, amarah Sisi kian mengebu. Ucapan Rudi yang asal berucap membuat Sisi seketika mengoceh," Kamu mau nikah lagi. Kamu gila ya, Rud, sudah tahu Ami lagi sakit. Kamu masih mau menikah. Kamu benar-benar gila ternyata, cowok munafik."


Belum Rudi menjelaskan semua perkataannya, sisi sudah marah-marah tak jelas, membuat Rudi mengusap kasar wajahnya.


Rudi yang kesal, karna mendengar Sisi yang terus mengoceh. Membuat dirinya berteriak keras dalam sambungan telepon," yang menikah itu aku dengan Ami istriku sendiri."


Sisi terdiam kaget, mulutnya seketika mengangah membuat Bu Ira nampak bingung dengan raut wajah Sisi yang tiba-tiba berubah.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Sisi yang gugup.


"Panjang kalau diceritakan di dalam telepon, lebih baik kalian datang ke Indonesia untuk menyaksikan pernikahanku dengan Ami!" jawab Rudi tergesa-gesa. Lelaki berbadan kekar itu tampak kelelahan.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu, dua hari lagi kami akan datang ke sana. Kebetulan sekali pernikahan Arsyla ditunda lagi sebulan lagi," ucap Sisi.


"Kenapa ditunda begitu. Bukannya minggu kemarin Arsyla harusnya sudah menikah?" tanya Rudi dalam kebingbangan.


"Entahlah anak itu susah sekali kita bujuk, padahal kita sudah berusaha, dan mengikuti rencana Rafa, tapi dia tetap kekeuh tidak mau menikah dengan Rafa!" jawab Sisi.


"Ya sudah, sebaiknya kalian bantu saja aku dulu," pinta Rudi. Meminta pertolongan Sisi dan semua keluarga.


"Baiklah kalau begitu," balas Sisi. Rudi akhirnya bisa sedikit bernafas lega.


"Terima kasih. Si," ucap Rudi.


Sisi terseyum seraya membalas," sama-sama kawan."


Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak. Sisi sempat bingung dengan apa yang dibicarakan Rudi pada nya, bagaimana tidak suami istri akan menikah lagi, membuat rasa bingung pada hati Sisi bertambah.


Bu Ira Yang penasaran langsung bertanya?" Sebenarnya ada apa? Kok kamu tiba-tiba melamun begitu."


Sisi tersentak kaget, seketika lamunannya membuyar. Ia menatap ke arah Bu Ira." Entahlah Bu, Rudi menelepon bahwa dirinya akan menikah lagi dengan Ami."


"Kok bisa? Memang kenapa? Apa ada yang terjadi dengan Ami?"


"Rudi tidak menceritakan dengan jelas, dia malah menyuruh kita untuk datang ke Indonesia. Menyaksikan pernikahan mereka berdua."


" Sepertinya ada yang terjadi dengan Ami, karena tidak mungkin Rudi melakukan semua itu. Tanpa sebab apapun."


"Hah, aku pusing mikirinnya bu. Masalah Arsyla sampe sekarang juga belum selesai. Sekarang ditambah lagi masalah Rudi dan Ami. hidup tanpa masalah itu rasanya sulit ya,Bu."


Bu Ira mengusap pelan bahu Sisi seraya berkata," itulah hidup, semua tidak berjalan dengan mulus. Setiap orang mempunyai masalah masing-masing. Bagaimana kita bisa menghadapi masalah itu dengan baik dan bijak. Bukan malah lari dari semua masalah yang berada di hadapan kita."


Arsyla tiba-tiba menguping pembicaraan ibunya dan juga Sisi, ia meneteskan air mata. Ada rasa sesal atas kesalahan dirinya Arysla bergumam dalam hati." Apakah wajar aku menolak orang yang memang tidak aku cintai sampai saat ini, walau aku paksakan rasanya itu tidak bisa. Malah membuat hatiku sakit."


******


Setelah memberitahu Sisi dan juga Bu Ira, Rudi mulai menelpon Alan dan Delia, di mana. Sudah lama Rudi tak pernah mendengar kabar Alan dan Delia.

__ADS_1


Panggilan telepon pun langsung terhubung, dimana Alan mengangkat telepon Rudi saat itu.


"Halo, Al, apa kabar. Sudah lama kita tidak pernah mengobrol seperti ini."


"Rudi, lo ke mana aja. Sorry sebelumnya Rud gue begitu sibuk dengan Delia, baru kemarin Delia melahirkan dan anak kami sudah meninggal dunia."


" Innalillahi wa Innalillahi roji'un." Mendengar berita itu, Dodi tampak sedih. Ternyata bukan dirinya yang punya masalah, tapi orang yang di dekatnya juga sama seperti Rudi mempunyai banyak masalah dalam kesedihan.


" Gue turut berduka cita atas kematian anakmu, Alan."


" Terima kasih, ngomong-ngomong tumben lu nelepon, ada apa?"


" gue hanya ingin memberitahu soal pernikahanku dengan."


Alan nampak sok saat Rudi mengatakan soal pernikahan, membuat gemuruh dadanya meronta kesal.


" Maksud lo apa? lo mau menikah lagi, lo gila Rud. Gimana dengan Ami?"


Rudi tanpak stres semua orang seakan salah paham kepada dirinya, baru mengatakan soal pernikahan. Mereka sudah pada sewot terhadap Rudi, "bisa nggak lo itu tidak seperti Sisi ngoceh terus, bikin kepalaku serasa ingin meledak."


" Ya habisnya lo, mancing emosi gue."


"Sudah tahu Ami itu lagi sakit, ya makanya lo dengerin dulu. Apa perkataan gue."


"Ya orang gue sok. Saat lu mengatakan soal pernikahan. Jadi pikiran gue negatip lah."


"Makanya dengerin dulubfue ngomong.


Rudi langsung menceritakan masalah yang telah dilalui dirinya, dimana Ami mengalami amnesia [ hilang ingatan ] Dan parahnya lagi Ami hanya mengingatkan tentang kebahagiaan yang dirasakan dirinya saat berpacaran bersama Rudi.


Alan yang mendengar berita itu, masih ragu. karna dirinya yang belum melihat keadaan Ami sampai saat ini, di mana Ami pernah jadi pasiennya dari dulu.


Isak tangis mulai terdengar dari nada suara Rudi, Rudi sangat tertekan karena Ami yang amnesia seperti sekarang, membuat anaknya menderita yang tak lain ialah Dodi, dimana anak kecil yang tak mempunyai dosa dan belum tahu tentang masalah ataupun kesalahan. kini menanggung semuanya.


Alan berusaha menyemangati Rudi berharap Rudi tak larut dalam kesedihannya, Alan mengerti bahwa memang berat menghadapi seorang istri yang tiba-tiba lupa akan segala hal. Apalagi hal itu begitu banyak.

__ADS_1


Setelah menceritakan semua keadaan Rudi pada Alan saat itulah Rudi mulai menyuruh Alan untuk datang ke pernikahannya.


__ADS_2