
Delia menghampiri Ami dan Rudi yang tengah berpelukan.
"Rudi, Ami,"ucap Delia wanita bermata sipit itu terseyum.
"Delia."
Ami langsung menyingkirkan pelukan Rudi saat itu juga.
Langkah kaki wanita bermata sipit itu menghampiri Ami, dia memegang kedua tangan Ami saat itu juga.
Rudi yang menyaksikan semua itu mengusap sedikit air mata, yang telah jatuh bersama Ami.
"Ami kita itu sahabat, susah senang kita selalu berbagi. Apapun itu. Kamu itu orang baik, tak usah kamu membagi suamimu denganku," ucap Delia. Air mata Ami jatuh begitu saja.
"Tapi ... !" jawaban Ami langsung terpotong oleh Delia.
Tangan putih wanita bermata sipit itu, mengusap lembut air mata yang berjatuhan mengenai pipi Ami.
"Jangan menjadi wanita bodoh Am. Kamu harus bangkit yakinlah penyakitmu akan sembuh, jangan menjadikan penyakitmu sebuah alasan untuk bisa menikahi Rudi denganku. Bahagiakan dulu dirimu sebelum kamu membahagiakan orang lain, luka di hatimu masih belum sembuh. Aku tahu, kamu masih terpuruk dengan penyakitmu saat ini."
Nasehat wanita berwajah sipit itu, membuat air mata Ami keluar membasahi pipi putihnya.
"Aku takut Delia, aku takut Rudi tidak bahagia bersamaku. Karna penyakitku ini, Rudi menjadi terbebani saat ini, aku bukan istri sempurna untuk suamiku. Untuk nafkah batin pun aku sudah tidak bisa memberikan pada Rudi seutuhnya," teriak Ami. dengan tangis terisak-isak.
Delia memeluk Ami begitu erat, Rudi mendengarnya menagis menghampiri sang istri seraya berkata." Mamah tak perlu menjadi istri sempurna untuk papah. Bagiku kamu begity sangat sempurna, penyakitmu bukan penghalang untukku. Aku bersyukur memiliki istri sebaik kamu Am. Jadi jangan pernah berkata kamu bukan istri sempurna."
Ami melepaskan pelukan Delia. Matanya begitu merah bekas air mata yang tiada henti mengalir.
Ami menatap wajah sang suami, menunjuk dada bidang Rudi dengan jari tangannya dan berkata."Apa kesetianmu itu akan ada selalu saat aku mati nanti suamiku, Rudi Aldiando saputra."
Hening seketika, Delia wanita berwajah sipit itu berhenti berkata. Mulutnya begitu keluh saat sang sahabat berkata tentang kematian.
Rudi menatap lekat bola mata hitam yang ada pada istrinya itu, Rudi menatap tajam. Meraih tangan Ami. Memukul-mukul kan tangan Ami yang ia pegang pada dada bidang Rudi.
"Mamah, merasakan detak jantung papah? inilah bukti jantung ini masih berdetak saat bersama mamah, karna dalam jantung ini terdapat cinta dari mamah yang takan luput di telan waktu kapanpun."
Wajah Ami menunduk seakan tak kuasa mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Ami.
"Lihat wajah papah mah ..., lihat ... !
Rudi meraih dagu Ami agar tetap menatap wajah Rudi.
"Jika suatu saat mamah pergi dari dunia ini. Yakinlah. Papah akan selalu setia hingga ajal menjemput papah suatu saat nanti.
Hingga sang maha kuasa menyatukan kita di surga nanti."
Air mata Ami seakan kering mendengar tutur kata Rudi, begitu pun dengan Delia.
Wanita bermata sipit itu pergi tanpa Ami dan Rudi tahu.
Menunduk pandangan dari pemandangan yang mulai menyakitkan hati.
Berjalan seakan tubuh menjadi lemas.
__ADS_1
Saat itu, uluran tangan seseorang menghentikan langkah Delia yang menjauh dari Rudi dan Ami.
"Kita tidak bisa memaksakan, cinta yang kita inginkan. Tapi kita bisa menumbuhkan cinta itu pada hati kita." ucap lelaki yang berdiri di hadapan Delia.
Lelaki itu memakai baju berwarna putih, menampilkan seyuman manisnya.
"Alan apa ini kamu?" tanya wanita bermata sipit itu megusap kedua mata dengan tangan putihnya. Pipinya memerah ada rasa malu pada diri Delia.
Saat tangan lelaki itu mengusap lembut air mata yang jatuh dari pipi Delia.
"Pipimu merah Del, apa kamu malu saat aku menyentuh pipi chubby mu."
Delia menghempaskan tangan lelaki itu.
"Apa sih kamu Alan."
Alan tertawa terbahak-bahak. Melihat tingkah wanita bermata sipit itu. Marah seperti halnya anak kecil yang sedang merebut makanan.
"Tamu undangan menunggu kita di sana, ada baiknya kita lanjutkan pernikahan ini," ucap Alan, menyodorkan tangannya. Terseyum menatap Delia yang tertohok kaget.
Dengan perkataan Alan saat itu.
Delia mematung tanpa bergerak sedikit pun. Tanpa menunggu lama Alan langsung menarik tangan Delia, membawa dia ketempat dimana wanita bermata sipit itu menjadi pengantin.
Berjalan bersama menghampiri penghulu yang dari tadi menunggu langsung berkata pada Alan." Apa calon mempelai laki-laki sudah siap?"
Alan mengangguk menandakan sudah siap, saat itu juga.
Delia melirik wajah Alan seketika berbisik dalam hati." terimakasih tuhan, jadikan aku dan Alan pasangan yang berbahagia."
Ami dan Rudi saling pandang.
"Ijab kobul dimulai, bukankah calon mempelai lelakinya tidak datang," ucap Ami pada Rudi.
Rudi mengangkat kedua pundaknya.
Mereka langsung menghampiri acara dimana ijab kobul dilaksanakan.
Dan terlihat sosok seorang lelaki yaitu Alan. Seorang lelaki yang pernah menyatakan cinta kepadanya. Kini berada dalam balutan kemeja putih dalam sebuah pernikahan.
Alan menolong Delia dari keterpurukan pernikahanya, dengan menjadi mempelai lelaki.
Rasa bahagia terpancar pada raut wajah Ami.
Mungkin ini yang terbaik Delia dan Alan menjadi pasangan.
Sah ... sah ...!
Itu lah yang terdengar dari mulut para orang-orang yang menjadi tamu undangan.
Delia dan Alan sudah sah menjadi suami istri.
Kecupan Alan mendarat pada kening Delia.
__ADS_1
Tamu undangan mengucap kata selamat pada mereka berdua.
Ami langsung menghampiri Pak Hendra saat itu juga.
"Om, kenapa om bisa tahu Delia menikah?"tanya Ami.
"Entah lah saat minggu kemarin Alan tahu-tahu sudah pulang tanpa memberi kabar pada om dan juga tante!" jawab Pak Hendra. Sembari memperlihatkan kebahagianya melihat anaknya yang sudah menikah.
Alan terseyum pada Ami menatap lekat dan melambaikan tangan. "Terimakasih Alan kamu telah membuat Delia bahagia."
**************
Alan menatap Delia penuh dengan kebahagiaan, ia sengaja berbisik pada telinga Delia."Tak sabar menunggu malam pertama."
Tawa Delia terdengar oleh tamu undangan semua saling menatap satu sama lain.
"Hus berisik tahu," bisik Alan. Membuat Delia mencubit pinggang Alan saat itu juga.
Alan begitu kesakitan saat Delia mencubit pinggangnya.
************
Berbeda dengan Sisi saat itu ....
Sisi begitu merasakan siksaan di dalam penjara oleh teman-temannya.
"Ah, sakit," teriak Sisi saat tendangan mengenai perutnya
"Rasakan, ini wanita sombong!"
Banyak sekali yang ia terima atas pelakuan di penjara itu dari teman-teman yang berada dalam penjara. Pukulan, dan tendanga.
Mereka kesal karna Sisi yang selalu berisik.
*********
Note:
Sahabat itu bukan saling menjatuhkan dan saling menyakiti. Sahabat itu ia lah yang mengerti tentang keadaan kita.
Sosok Delia di sini membuat kita seakan berpikir dia akan menjadi sahabat yang berkhianat karna di beri kesempatan oleh Ami. Padahal, kenyataanya dia orang yang peduli sekali bagaimana keadaan Ami dia tetap mendukung.
Bagaimana Alan bisa mengetahui tentang keadaan Delia, kemanakah calon suami Delia?
Masih banyak cerita dan ispirasi yang akan saya sampaikan.
**********
Jangan lupa like dan komen ?
Gimana cerita saya penuh kejutankan!!
Maafkan penulis ini yang kadang-kadang bikin pembaca salah sangka dan juga emosi!
__ADS_1
Karna sebentar lagi puasa. saya meminta maaaf yang sebesar-besarnya.
Cerita akan selalu up ya.