
Kedua mata sang penjaga tak lepas memandang sang dokter dan kedua perawat yang tengah berjalan melewati abang pintu rumah sakit. Mereka bersikap santai agar penjaga itu tak mencurigai gerak gerik mencurigakan dari Alan, Ami dan Delia yang memakai seragam. Layaknya seperti dokter dan perawat.
Tangan Ami bergetar hebat, rasa takut ketahuan oleh sang penjaga. Membuat Ami seakan susah untuk menggontrol kecemasannya.
Tenang Ami, bisik hati wanita berwajah tirus itu, menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya mulai basah karna menahan rasa takut, keringat dingin mulai membasahi wajah, membuat wajah Ami seakan tak karuan.
Ami sedikit tersentak kaget, ketika tangan lembut itu menyapa tangan Ami, menyentuh dengan lembut. Pegangan yang mampu menguatkan hati dari kecemasan yang di hadapi.
Tangan dari Alan, yang tersenyum melirik sekilas pada raut wajah Ami. Getaran itu mulai mereda, Ami mulai sedikit berjalan pelan dengan kekuatan sentuhan tangan Alan.
Tangan Alan membuat Ami mengigatkan, dimana waktu itu. Hanya Alan yang menjadi penguat dikala Ami tengah sakit dan terbaring lemah.
Getaran dada kian meresah, membuat hati kian bergemuruh hebat. Menepuk pelan agar hati bisa terbiasa karna Alan adalah saudara.
Di sebelah kiri Delia yang menatap kebawah, melihat pada tangan yang tengah bercengkraman kuat. Membuat hati wanita berwajah sipit itu sedikit cemburu.
Berjalan pelan, berhasil melewati kedua penjaga berbadan kekar itu. Alan masih saja memengan tangan Ami begitu erat.
"Ehem."
Mendengar Delia yang sedikit berdehem, Ami langsung menglepaskan pegangan tangan Alan saat itu.
Pipi yang putih lembut itu kian memerah, merasakan rasa malu.
"Maaf Alan," ucap Ami. Menunduk pandangan. Tak kuas menatap wajah sang saudar yang telah menenangkan kecemasannnya.
"Oh, tak apa-apa ko Am. Kita kan saudara, aku tahu kelemahan kamu!" jawab Alan. Dada Ami semakin berdetak hebat dikala Alan berbicara seperti itu.
Kata-kata lembut dari seorang lelaki yang dulu pernah mengatakan cinta kepandanya.
Delia yang melihat Ami yang salah tingkah, langsung menggandeng tangan Alan.
Melihat tingkah Delia seperti itu, Alan terseyum dan mengelus rambut pendeknya.
Ami yang pergi ke toilet hanya sekedar mengganti baju, ia berbisik dalam hati. Rasanya canggung ketika Alan menyentuh tanganku. Karna dulu dia pernah menyatakan cinta padaku.
Ami segera menepiskan perasaan itu dalam hati dan pikiranya. Karna sekarang adalah hari dimana Rudi suaminya harus bebas.
Tak berapa lama.
Mereka langsung menuju parkiran mobil, yang di dalamnya terdapat Pak Hendra. Yang tak lain adalah papahnya Alan.
"Pah, gimana dengan Rudi?" tanya Alan. Wajahnya di rendungi kecemasan.
"Papah sudah bikin mereka mengulur waktu, dengan mengirim sepuluh orang suruhan papah. Agar mereka segera melenyapkan Luky di tempat," ucap Pak Hendra. Mengendarai mobil.
__ADS_1
"Papah, sudah bergerak cepat. Apa papah sudah tahu semuanya?" tanya Alan. terduduk di depan mobil, memasangkan sabuk pengaman.
"Rudi mengirim pesan pada papah, saat itu. Menyuruh papah datang ke kantornya. Dimana papah pergi ke kantor. Ia menyelipkan satu surat lewat berkas yang harus ditanda tangani papah waktu itu! Isi surat itu dia menyuruh papah untuk mengirim orang suruhan," jawab Pak Hendra.
"Bagus, ternyata Rudi bergerak lebih cepat."
Di satu sisi lain, Ami yang duduk dibelakang sendiri berucap." Apa Rudi akan baik-baik saja?"
Alan yang mendengarnya perkataan Ami, hanya bisa menenangkan Ami saat itu.
"Tenang Am, Rudi pasti baik-baik saja?"
***********
Di saat itu Luky yang membawa Rudi ke kantor polisi, dihadang oleh sepuluh orang bermotor. Mobilnya bergerak cepat.
Namun, sepuluh orang itu mengejar lebih cepat lagi. Hingga akhinya Luky harus berhenti.
"Keluar kamu pengecut," ucap seorang pria berotot. Membanting mobil Luky hingga peyok.
"Sial, mereka lebih banyak. Mana mungkin aku bisa melawan mereka," gerutu Luky saat itu.
Luky mencari di setiap sela mobi, sebuah pistol untuk mengancam kalau mereka mendekat ke arah mobilnya. Rudi akan Luky tembak.
"Sudah Luky menyerah saja. Untuk apa kamu melakukan semua ini, tak berguna untuk dirimu sama sekali," ucapan Rudi membuat rahang Luky mengeras. Menyodorkan pistol kekepal.
Satu pistol di tempelkan pada kepala Rudi.
lelaki bertubuh kekar itu hanya bisa diam tanpa melawan. Karna tangan yang terikat.
Pukulan orang-orang yang memukul mobil Luky, membuat Luky sedikit kesal.
"Ayolah, kita keluar. Masa takut dengan orang-orang yang menunggu kita," ucap Luky. Membuat lelaki tubuh gendut itu meremas kepalanya.
Rudi sedikit terseyum melihat tingkah Luky seperti orang ketakutan.
"Kamu bisa diam tidak," teriak Luky.
Orang-orang di luar sana, sudah menunggu Luky dari tadi. Tapi Luky tetap tidak mau keluar dari mobil.
Dia memikirkan cara agar bisa membawa Rudi ke kantor polisi.
Sepuluh orang itu berhasil membuat ban mobil Luky menjadi kempes.
"Kamu takut, ayo keluar."
__ADS_1
Teriakan itu mengema pada telinga pria bertubuh gendut itu.
Luky mengering Rudi ke luar. Dengan keadaan tubuh Rudi di ikat, ia mengancam ke sepuluh orang itu agar jangan mendekat ke arahnya atau Rudi mati di tangan Luky sekarang juga.
"Jangan bergerak, atau lelaki yang berada di tanganku mati sia-sia," acam Luky.
"Kamu mau main-main dengan kita ya," pria berotot itu mepermainkan Luky menakut-nakutinya.
"Jangan bergerak atau kalian tahu akibatnya," keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Luky. Ia nampak cemas dan ketakutan di kala sang pria berotot itu begitu beringas.
Pinstol yang di pegang Luky menempel terus di kepala Rudi. Jika jari nya mekan pistol itu. Peluru kecil dalam pistol akan masuk pada otak Luky.
Brug ...
Satu pukulan mengenai punggung pria bertubuh gendut itu. Luky terjatuh begitu pun dengan Rudi.
Segerombolan pria berotot itu langsung menghadang Luky yang terjatuh.
Pistol berhasil di ambil. Luky tergeletak tak berdaya.
Pukulan demi pukulan mengenai tubuh Luky yang berbadan gendut itu.
Rudi hanya bisa menatap setelah ikatan tali di lepaskan oleh satu suruhananya.
"Apa tuan tidak apa-apa," ucap satu pria berotot. Menanyakan keadaan tuannya.
"Aku baik-baik saja!" jawab Rudi menghampiri Luky.
Luky yang tergeletak tak berdaya, karna pukulan dari pria berotot itu. Membuat ia berusaha berdiri. Namun, apa daya tubuhnya lemah, banyak darah berceceran.
"Luky, awalnya gue percaya dengan loe. Yang datang berkerja ke perusahaan, tapi loe malah mengamcam akan membunuh Ami."
Luky hanya bisa menatap bola mata Rudi yang hitam penuh kebencian.
"Sial, loe pencundang mengirim orang untuk menghajar gue!"
Tubuh Rudi membungkuk, mendekat ke arah Luky seraya berkata." pecundang itu loe bukan gue."
Luky tertawa terbahak-bahak, seraya berkata," jangan harap loe bisa bebas setelah ini Rudi. Masih ada orang yang akan menghancurkan loe."
Rudi menampar Luky. Ia menyuruh pada suruhannya agar membawa Luky kepenjara, dan di hukum seberat-beratnya.
"Kamu tidak akan bisa mejebloskan ku kepenjara tanpa bukti Rudi," ucap Luky lelaki bertubuh gendut itu.
Memengan kedua tangan Rudi ingin meninju wajahnya.
__ADS_1
Ketika tangan Rudi mulai di layangkan pada Luky.
Stop ...