
Sedangkan di rumah sakit.
Rudi dan Bu Sumyati yang menunggu begitu pun Pak Gunandi, tak sadar jika tangan Ami bergerak-gerak.
Hingga di mana Bu Sumyati menatap ke arah samping kiri tangan Ami.
“Rudi, jari tangan Ami bergerak.”
Rudi yang menahan kepalanya karna mengantuk kini seketika terkejut dengan ucapan sang ibu.
Rudi berdiri, menatap ke arah samping kiri. Benar saja jari tangan Ami bergerak.
Dengan perasaan tak percaya, kini Rudi mulai bergegas menemui sang dokter untuk memberitahu akan sadarnya Ami.
Lelaki berbadan kekar itu berlari, mencari dokter. Padahal Bu Sumyati yang berada di ruangan itu hanya memencet bel untuk memanggil dokter.
“Hem, dasar Rudi. Sudah di sediain yang gampang tinggal pencet, kenapa berlari ke luar mencari dokter. Anaku, anakku.”
Pak Gunandi menghampiri sang istri dan tersenyum,” sakit bahagianya.”
Dokter datang bersama Rudi, segera mungkin memeriksa kondisi Ami.
“Alhamdullilah, ibu Ami sudah melewati masa kritisnya.”
Rudi begitu senang, ia tak menyangka jika sang istri akan sembuh dari masa kritisnya.
“Terima Kasih, dok.”
“Jangan berterima kasih pada saya. Berterima kasihlah pada keajaiban Allah, sesungguhnya dialah yang maha menyembuhkannya.”
“Terima kasih, ya Allah.”
“Bu, Ami sembuh dari kritisnya.” Rudi kini memeluk sang ibu dengan perasaan bahagia.
“Do-d-i ....”
Suara Ami terdengar pelan, membuat Rudi langsung menghampiri sang istri dan berkata,” sayang. Kamu sabar ya, Dodi pasti datang menjenguk kamu.”
Air mata Bu Sumyati tak terasa menetes begitu saja. Membuat hatinya merasa sedih, Ami begitu butuh sosok Dodi yang menemaninya saat ini.
“Kamu harus sabar, Ami. Dodi pasti datang ke sini.” Ucap sang ibu.
Televisi yang terus menyala kini tiba-tiba memberitakan, pesawat kehilangan kendali hingga terjatuh dan tak di temukan.
Rudi mulai menatap pada nomor pesawat jika pesawat yang jatuh dan belum di temukan, pesawat yang di tumpangi Alan dan Dodi.
Kedua mata Rudi membulat, ia menatap dengan serius berita yang terdengar oleh kedua telinganya.
Melihat para korban yang ikut hilang dalam pesawat itu.
Ia melihat daftar nama Alan dan Dodi terpampang nyata pada layar televisi.
“Ada apa, Rudi?” tanya Pak Gunandi, menghampiri Rudi yang terdiam lesu.
“Coba bapak lihat daftar nama di pesawat itu, itu daftar nama Dodi dan Alan ada di sana.”
__ADS_1
Deg ....
Jantung Bu Sumyati tak karuan, ia melihat televisi yang masih menyiarkan tentang berita hilangnya pesawat yang di tumpangi cucunya dan Alan.
“Dodi, nak. Ini tidak mungkin.”
Bu Sumyati berteriak histeris, ia tak terkendali saat melihat nama dalam catatan korban yang hilang.
Pak Gunandi menghampiri sang istri,” kamu harus tenang, mah.”
Baru kebahagiaan datang pada keluarga Rudi, tentang sembuhnya Ami. Kini kabar duka lagi datang dari Dodi.
“Ini tidak mungkin, pasti berita ini salah.” Hardik Rudi. Dirinya hilang kendali, hatinya hancur. Baru saja ia bersyukur atas kesembuhan Ami, kini ia mencaci diri sendiri.
Meremas kepala, Pak Gunandi tak bisa menenangkan keduanya, ia meminta bantuan pada para suster di sana.
“Kalian tenang ya.”
Bu Sumyati tiba-tiba jatuh pingsan. Sedangkan Rudi, masih tak percaya apa yang ia lihat dan dengar. Rudi mulai di bawa ke ruangan agar tetap tenang dan bisa mengontrol diri.
Ami yang mendengar berita itu hanya bisa menangis dalam keadaan mata yang menutup.
@@@@
Sedangkan Ane masih terduduk lemah di atas lantai, pikirannya terasa tak karuan. Ia menangis histeris.
Hingga di mana pembantu di rumah pulang dari pasar dan melihat keadaan sang nona, tengah terduduk lesu di atas lantai.
Ane tetap saja menangis, ia tak menjawab pertanyaan si mbok.
“Ayo nona, kita duduk di kursi. Biar keadaan nona tenang.”
Si mbok Yati mulai membantu Ane untuk berdiri.
“Ayo nona, mbok bantu ke kursi.”
Si Mbok Yati menuntun Ane. Menuju kursi depan televisi, wanita paruh baya itu mematikan televisi yang menyalah.
Ia dengan terburu-buru mengambil air minum untuk sang majikan.
Dengan perasaan panik Mbok Yati memberikan air minum yang baru saja ia ambil pada sang nona.
“Ayo minum, nona.”
Ane langsung meraih gelas yang di sodorkan Simbok, ia langsung meminumnya sedikit.
“Nona tenang dulu, ya.”
Ane hanya menganggukkan kepala, menuruti perkataan pembantunya.
Hatinya masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ane sempat berpikir jika ia bermimpi tadi malam itu adalah sebuah isyarat dan pertanda.
“Ah, tidak mungkin.”
“Tidak mungkin kenapa nona?”
“Enggak mbok, saya hanya sedikit pusing saja.”
__ADS_1
Dengan memijit kepala pelan, Ane kini berusaha untuk bangkit dari tempat duduknya. Ia mulai berangkat untuk bekerja.
“Nona, mau ke mana?” tanya Mbok Yati.
“Aku mau berangkat kerja, Mbok!” jawab Ane.
“Tapi, keadaan nona,” ucap Mbok Yati.
“Mbok, tak usah kuatir. Aku enggak kenapa-napa kok Mbok.”
Ane langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, pikirannya masih tak tenang. Ia memaksakan diri berusaha bangkit setelah mendengar berita tentang Alan dan Dodi.
Ane, masih yakin dengan dirinya sendiri, jika Alan dan Dodi pasti masih hidup.
Ane tetap berpikir positif ia terus berusaha tenang, menaiki mobil untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ane terus saja meneteskan air mata.
"Dodi, Alan. kenapa semua terjadi pada kalian berdua. Jika kemarin aku mencegah kalian pergi, mungkin tidak akan ada berita semenyakitkan ini."
Mengusap air mata terus menerus, hingga lengan Ane basah bekas Air mata.
setelah sampai di rumah sakit, Ane langsung menghampiri Delia. Melijat keadaan Delia saat itu juga.
Delia tengah tertidur pulas, membuat Ane ingin memberi tahu Delia apa yang sudah terjadi pada Dodi dan juga Alan.
Namun, apa daya mulutnya keluh. Ane takut jika Delia mendengar berita ini pasti dia akan menangis dan depresinya akan bertambah parah.
Ane mulai berjalan, mendekat ke arah Delia.
"Ke mana Alan dan Dodi?"
Ternyata Delia terbangun dari tidurnya saat Ane mendekat ke arahnya.
"Ternyata kamu bangun!"
"Sudah jangan basa basi. Lepaskan aku, aku ingin bertemu dengan suami dan anakku."
Ane terdiam saat Delia terus bertanya tentang suaminya dan Dodi yang ia aku anaknya.
"Kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Delia pada Ane.
Kedua mata Ane yang berkaca-kaca, dengan sigap ia usap perlahan.
"Aku tidak sedang bersedih!" jawab Ane berbohong.
ia tak ingin mengatakan kejujuran pada Delia tentang Dodi dan juga Alan.
"Kamu harus tenang Delia, setelah kamu sembuh, aku akan bebaskan kamu dari rumah sakit ini. Makanya jangan marah-marah melulu," ucap Ane.
Membuat kedua mata Delia memutar.
"Aku ini enggak sakit, Ane. Cepat lepaskan aku," balas Delia berteriak.
Ane mulai melangkah menjauh dari Delia, hatinya tak kuat jika harus menceritakan kebernaran, tentang apa yang sudah terjadi pada Alan dan Dodi.
"Woy, Ane. kenapa kamu pergi, lepaskan aku. Aku igin bertemu suamiku dan anakku. kamu ini dengar enggak." Teriak Delia.
Ane tetap berjalan mengbaikan teriakan Delia.
"Jika kamu mendengar kenyataan yang terjadi dengan Dodi dan Alan. Apa kamu akan siap menerimanya, Delia." Ucap Ane dalam hati.
__ADS_1