
Deni berbalik arah ke hadapan Ane, dan berkata," iya sayang kenapa?"
"Jika aku menyetujui apa yang kamu katakan, apa kamu akan merahasiakan semuanya!" jawab Ane.
Deni tersenyum penuh kemenangan, ia menghampiri Ane." Tentu saja, sayang."
Deni mencuil hidung Ane. Tanpa Ane memberontak, ia mulai berusaha terbiasa walau sebenarnya hatinya sangat terpaksa.
Deni memegang kedua tangan Ane dan berkata," kalau kamu menuruti apa keinginanku, tentu saja aku akan menjaga semua rahasiamu, sayang."
Perasaan Ane saat itu seakan jijik sekali, saat Deni bersikap seperti itu pada dirinya. Namun harus bagaiman lagi demi Delia, Ane sudah berjanji pada dirinya akan menjaga Delia.
"Tapi aku minta kepadamu, Deni." ucap Ane.
"Minta apa, sayang?" tanya Deni penuh dengan kelembutan. Lelaki berkulit putih itu seakan senang dengan sikap Ane yang lembut, tidak seperti biasanya kasar jika betanya pada Deni.
"Tolong bantu aku untuk sembuhkan Delia!" jawab Ane. Membuat Deni tersenyum kecil.
"Itu urusan gampang, asal kamu mau menjadi kekasihku," balas Deni.
Ane hanya bisa menelan ludah, hatinya terpaksa harus menerima Deni.
"Baik, aku akan menuruti perkataanmu Deni, Asal kamu mau menyembuhkan Delia."
"Tentu saja, sayang."
Ane sebenarnya tak sudi meminta bantuan Deni, tapi ia sangat butuh sekali. Karna orang yang memang pintar dalam bidang pisikolog hanya Adly dan juga Deni.
"Aku akan siap membantumu, asal kamu tidak menghianatiku." Ucap Deni.
"Baiklah."
Deni mulai berjalan, keluar ruangan Ane. Dengan perasaan berbunga-bunga. Dirinya benar-benar bahagia saat itu, wanita yang ia cintai akhirnya jatuh ke pelukannya.
"Tak sia-sia. Aku membuat Adly kritis, hingga sekarang Ane jatuh ke pelukanku." Gumam hati Deni.
@@@@
Ane, benar-benar stres saat itu. Ia harus menuruti nafsu bejad Deni lelaki yang menyukainya dari dulu. Lelaki yang selalu ia tolak.
"Kenapa Deni datang lagi di hidupku, sudah cukup aku berusaha mencintai suamiku. Sekarang Deni malah datang dengan akal busuknya."
Ane mengigit jari tangannya, memikirkan apa yang harus ia lakukan.
"Ahk, apa yang harus aku lakukan saat ini."
__ADS_1
Hidup Ane kini benar-benar dibawa tekanan Deni, ia sebisa mungkin harus mencari cara agar Deni tak melakukan hal tak senono padanya.
"Deni, kamu ini tampan dan kaya raya. Tapi kenapa kamu malah menyukai aku yang sudah mempunyai anak dan suami, aku tak habis pikir dengan akal sehat Deni." Gerutu Ane.
Tring .... Tring ...
Suara ponsel berbunyi, di mana Ane langsung mengangkat panggilan telepon pada ponselnya.
Saat itu nomor yang tertera pada ponsel Ane tenyata sang suami.
"Halo, yah." Ane mulai bersikap tenang, saat ia mengangkat panggilan dari sang suami.
"Bunda, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Padil lelaki yang menjadi Suami Ane.
"Kamu ngomong apa sih, yah. Aku enggak kenapa-napa, kok!" jawab Ane berusaha bersikap tenang saat Padil bertanya tentang ke adaanya.
"Tadi bibi bilang, kamu menangis tanpa sebab? Apa kah betul itu?" tanya Ane.
"Oh, itu. Hanya rindu dengan ibu saja!" jawab Ane berbohong.
"Ya sudah, kalau memang Bunda rindu pada ibu. Besok kita ke rumah ibu, ya. Sayang," ucap Padil membuat sang istri bingung.
"Tak usah, tadi bunda sudah teleponan sama ibu, jadi ayah jangan kuatir," balas Ane. Berusaha menutupi kebohongannya sendiri.
"Ya sudah kalau memang Bunda tak kenapa-napa, ayah mau ngajak anak-anak main dulu ke taman," ucap Padil.
"Iya bunda."
Panggilan telepon pun di matikan sebelah pihak, Ane mulai bernafas lega. Kini masalah bersama suaminya selesai. Ia harus memikirkan cara agar dirinya tak terjebak oleh Deni.
@@@@@
Sementara itu di rumah sakit, Rudi masih tak sadarkan diri. Sedangkan sang ibunda tetap menemani.
"Dodi." Teriak Rudi tersadar dari pingsannya.
"Rudi, nak kamu sudah sadar," ucap Bu Sumyati mengusap rambut sang anak. Bagaimana pun di mata Bu Sumyati Rudi tetap seperti anak kecil.
"Dodi, bu. Dimana dia, apa dia sudah sampai? Apa Alan datang bersama Dodi sekarang?"
Pertanyaan Rudi membuat Bu Sumyati hilang kendali. Bu Sumyati menyadarkan sang anak dengan menampar pipi kirinya.
Palk ....
Satu tamparan di layangkan oleh Bu Sumyati kepada Rudi, membuat Rudi terdiam dan meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kamu harus sadar, Dodi belum kembali! Alan belum mengantarkan Dodi!"
Mendengar jawaban sang ibu, Rudi dengan histeris bertanya," berarti Dodi masih hidupkan, Bu. Ayo jawab, benar kan dugaanku."
Bu Sumyati memegang kedua bahu Rudi, mengoyangkannya dengan keras," sadar Rudi, Sadar nak."
"Bu, Dodi masih hidupkan."
Hanya pertanyaan itu yang terus terucap dari mulut Rudi, beberapa kali. Hatinya benar-benar rapuh. Rudi seakan kehilangan belahan jiwanya.
Bu Sumyati memeluk erat sang suami, menenangkan keresahan yang di rasakan Rudi.
"Tetap beristigfar dan berserah diri pada Allah. Kita tidak tahu keadaan Dodi bagaimana. Yang terpenting selalu berburuk sangka yang baik-baik. Semoga Allah menyelamatkan Dodi."
Kini perasaan Rudi sedikit tenang, hatinya kembali menerima apa yang terjadi pada Dodi. Ia terus menyakinkan dirinya sendiri jika Dodi masih hidup.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya, nak
Biar ibu yang menemani Ami."
Rudi hanya menganggukan kepala saat sang ibu berkata sedemikian. Bu Sumyati mulai membantu Rudi agar beristirahat dengan tenang. Wanita tua itu terus menenangkan hati sang anak dengan doa-doa yang di lantunkan Bu Sumyati.
Rudi kini kembali tertidur, keringat dingin kini mulai tak nampak lagi pada kening anaknya. Bu Sumyati berharap jika Rudi tenang dan tidak terlalu tertekan, tentang berita di televisi.
Bu Sumyati dengan perlahan meninggalkan ruangan Rudi, ia mulai menghampiri sang menantu yang tertidur begitu terlelap.
Setelah memanggil nama Dodi, Ami langsung tertidur pulas. Karna suntikan yang di berikan sang dokter kepada Ami.
Pak Gunandi yang menunggu di luar ruangan, kini mulai bertanya pada sang istri.
"Bagaiman keadaan Rudi?" tanya Pak Gunandi. Wajah lelaki tua itu begitu terlihat kuatir.
"Papah tenang saja, Rudi sekarang sudah tenang, ia tertidur di ruangan sebelahnya!" jawab Bu Sumyati.
Lelaki tua itu kini menujukan sesuatu pada sang istri.
"Apa itu, pah?" tanya Bu Sumyati menatap ke arah keresek yang di bawa oleh pak Gunandi.
"Coba aja lihat!" jawab Pak Gunandi dengan senyum yang di baluti kebahagian.
Bu Sumyati mengambil kantung keresek itu, ia mulai membuka kantung keresek, melihat isinya ternyata sebuah kopi instan. Kesukaan Bu Sumyati.
"Wah, kopi."
Bu Sumyati tersenyum senang.
__ADS_1
"Kopi ini bukan kopi sembarangan, kita harus minum kopi ini, agar bisa menjaga anak-anak kita."
Bu Sumyati menganggukan kepala, bahagia memeliki suami yang pengertian.