
"Ya sudah, karena kan besok Dodi mau memberi kejutan untuk mama. Jadi Dodi harus pulang dulu ke rumah sama Nenek ya, biar Papa nunggu di rumah sakit."
Dodi langsung menganggukkan kepalanya, tersenyum mengerti apa yang dikatakan sang ayah kepada dirinya,
" Ya sudah Dodi pulang dulu sama nenek."
"Iya hati-hati, di jalan ya sayang."
"Iya, Pah."
Dodi langsung merangkul lengan tangan sang nenek, berjalan berdua meninggalkan Rudi.
Baru beberapa langkah Dodi malah berlari menuju ke ruangan Ami. Sang nenek langsung berteriak," loh kamu mau ke Mana, Dodi."
"Tunggu dulu, nek. Dodi belum pamit sama mama." Teriak Dodi dengan berlari penuh kebahagiaan.
Rudi yang melihat Dodi berlarian, membuat hatinya menangis. Lelaki berbadan kekar itu langsung mengikuti langkah kaki Dodi anaknya, masuk ke ruangan Ami.
Terlihat Dodi mengusap pelan pipi Ami, mencium kening sang Ibu. Seraya berkata," mama baik-baik sama papa ya, besok Dodi ke sini lagi."
Rudi menempelkan Jari telunjuk tangannya pada bibir.
"Jangan bilang-bilang ya," bisik Rudi pada telinga anaknya.
Anak kecil itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, berlari lagi menuju sang nenek.
"Udah cium kening mamanya?" Tanya sang nenek, kembali meraih tangan mungil Dodi.
Dodi menarik nafas leganya dan menjawab,"udah dong, kan sekarang udah mau tiga hari, Dodi enggak tidur lagi sama mama. Jadi Dodi harus cium dulu kening Mama, kalau Dodi enggak Cium kening Mama. Rasanya Mama itu, jauh dari Dodi."
Bu Sumyati hanya melirik sekilas cucunya. Sudah beberapa kali air matanya terus saja jatuh ke dasar Pipi, membuat lengan bajunya nampak basah oleh air mata.
Setelah sampai di rumah, nenek langsung membantu Dodi untuk membersihkan tangan dan kaki sebelum tidur.
Kini Dodi di temani tidur oleh sang Nenek.
"Dodi tidurnya sama nenek sekarang, ya," ucap sang nenek. Menutup tubuh cucunya dengan selimut.
"Dodi biasa tidur sendiri juga enggak apa ko, nek." sahut Dodi. Sang nenek langsung terseyum dan berkata," sekarang, Dodi harus temenin nenek bobo, ya."
Dodi menganggukan kepala. Memeluk sang nenek." Dodi sayang nenek."
"Sudah, waktunya untuk tidur, ayo cepat tidur," pinta Nenek.
"Baik, nek."
Dodi langsung tertidur nyeyak di samping kiri sang nenek. Raut wajahnya terlihat tidak ada beban sedikitpun.
__ADS_1
Sang nenek membalikkan badan ke arah samping kiri Dodi berhadapan dengan raut wajah cucunya.
Tangisan tak terbendung lagi, Bu Sumyati menangis terus menerus sepanjang malam, wanita tua itu merasa sedikit bersalah pada cucunya.
Dalam hati, Bu Sumyati hanya bisa berkata," jadilah anak yang baik. Dodi."
Dodi yang terlelap tidur, tiba-tiba terbangun. Ia melihat ke sudut ruangan ada cahaya putih menyilaukan matanya, berlari ke arah cahaya putih itu Dodi dengan beraninya, menerobos masuk dalam kilauwan cahaya.
Dodi melihat wanita yang persis dengan ibunya, tengah duduk di atas lantai putih, dengan memakai baju serba putih.
Anak kecil itu mulai melangkah mendekat ke arah wanita yang tidak tahu dia siapa.
Tangan kecilnya mulai memegang bahu wanita itu dan bertanya," ini tempat apa?"
Wanita yang memakai baju putih itu menatap kearah Dodi membuat Dodi tersenyum dan senang.
"Mama."
Dodi langsung memeluk sang ibu dengan begitu erat, membuat air matanya jatuh ke dasar pipi.
"Mama, ini mamakan."
Wanita berbaju putih itu menganggukan kepala, tak berbicara satu kata patahpun.
"Kenapa mama diam?"
Tiba-tiba cahaya putih bersinar terang, sorot cahaya putih, membuat kedua mata Dodi merasa kan sakit dan perih. Dodi berusaha untuk tetap berasama sang mama, walau dirinya harus menutup kedua mata dengan lengan tangannya.
Wanita cantik bebaju putih itu bangun dari atas lantai, berjalan melangkah, mengikuti cahaya putih yang hampir membuat kedua mata Dodi rambun.
Dengan sigap Dodi meraih lengan tangan Wanita berbaju putih itu, dan berkata," mama jangan pergi."
Wanita berbaju putih itu hanya terseyum, dan mencium kening Dodi.
Dan kembali lagi berjalan mengikuti cahaya putih yang terus bersinar.
"Mama jangan pergi." Rengek Dodi, air matanya mengalir deras.
Dengan sekuat tenaga, Dodi menarik lengan tangan ibunya dengan kedua tangan dan berkata," mama, plieas jangan pergi. Dodi janji enggak bakal nakal lagi, Dodi janji bakal jadi anak yang baik."
"Mama jangan pergi."
Namun, cahaya putih semakin bersinar menyorot pada kedua mata Dodi, membuat anak kecil itu tak bisa menahan lagi cahaya yang seakan merusak kedua matanya. Membuat Dodi terpental ke atas lantai putih.
"Mama."
Dodi berlari terus menerus, mencari keberadaan sang mama, tapi yang ia temukan hanya ruangan putih tanpa jeda. Tidak ada jalan ke luar.
__ADS_1
"Mama ... mama."
Sang nenek terbangun, setelah mendengar cucunya meronta-ronta dan berteriak memanggil Ami ibunya.
Ternyata anak itu bermimpi.
"Dodi sayang, nak. Bangun, kamu kenapa?" tanya sang nenek, mengoyang-goyangkan tubuh anak kecil itu, dengan kedua tangan Bu Sumyati.
Kedua mata Dodi masih menutup, hingga sang nenek memeluk tubuh Dodi.
Dan," mama." Teriak Dodi langsung terbangun.
Duduk terdiam sejenak. Bu Sumyati bertanya?" kamu kenapa, nak?"
Dodi menatap ke arah sang nenek dan memeluk tubuh wanita tua itu dengan erat.
Belayan tangan sang nenek mampu membuat Dodi sedikit tenang. Saat itu Dodi menceritakan apa yang telah ia mimpikan di dalam mimpi itu.
"Kamu kenapa ayo, cerita sama nenek," ucap Bu Sumyati.
Tangan Dodi bergetar begitu pun dengan bibir atas bawahnya.
"Dodi bermimpi mama hilang di telan cahaya."
Dodi ternyata bermimpi Ami, membuat hati dan pikiran Bu Sumyati, sedih.
"Itu hanya mimpi. Jangan kamu pikirkan, sayang," ucap sang nenek, terus berusaha membujuk cucunya agar tetap tenang.
"Tapi, kenapa mimpi itu seperti nyata nek, Dodi takut," sahut Dodi.
"Sudah, lupakan. Sebaiknya kamu tidur lagi aja."
Bu Sumyati, menangis terisak-isak saat cucunya bermimpi sang ibu.
"Dodi takut, bu."
"Dodi jangan takut, itu hanya mimpi."
Raut wajah Dodi sudah basah dengan air mata, bekas tangannya yang mengelap kemana-mana. Dengan tangis sesenggukan Dodi bertanya pada sang nenek," Nek, mama tidak akan meninggalkan Dodi kan."
"Kamu ngomong apa, sayang. Jelas mama akan selalu di samping Dodi."
Pelukan sang nenek tak lepas dari tubuh Dodi, Bu Sumyati merasa bingbang, dengan semua ini.
Apa yang harus di katakan besok, jika keadaan Dodi seperti ini, gumam hati sang nenek.
Malam semakin larut, sampai tangisan Dodi berhenti seketika. Anak tampan itu tertidur pada pangkuan sang nenek. Air mata yang belinang sudah tak keluar lagi dari mata Dodi.
__ADS_1
Note : Rasa sakit seorang anak ketika, orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Di waktu kecil, dimana masa kecil itu , seorang anak masih membutuhkan belaian kasih sayang seorang ibu.