
setelah masuk kedalam rumah, Rudi mulai duduk di sofa. yang di mana Ami mulai menghampiri sang suami yang terlihat begitu kelelahan. Ami menyodorkan air minum yang sudah disediakan di atas meja. membuat Rudi langsung mengambil air minum itu.
" Papa gagal menyelamatkan Sarah," keluh Rudi pada Ami.
"Kenapa kok bisa? Terus Tama ke mana?" tanya amit tak menyangka dengan apa yang dikatakan Rudi.
biasanya suaminya itu selalu berhasil dalam menyelesaikan masalah, apalagi menolong orang. tapi berbeda dengan sekarang.
"Tama sudah dikurung di dalam ruangan bawah tanah, dan sekarang Papa sudah bekerjasama dengan Pak Andre," ucap Rudi. terlihat raut wajah kekesalan pada Rudi.
"Memangnya Pak Andre mengiginkan kerja sama untuk apa?" tanya Ami.
"Pak Andre ingin papah, mau menuruti printahnya. Yang di mana papah menyembuyikan dan merahasiakan bahwa lelaki tua itu sudah menyiksa seorang wanita yang tak lain ialah sykairan, dan lagi Pak Andre berencana untuk mengurung semua gadis untuk di jadikan bahan objek percobaan jual beli!" jawab Rudi menjelaskan semuanya.
Ami sangatlah shock mendengar penjelasan Rudi, sampai begitunya seorang lelaki. Mau membuat wanita teraniaya.
"Sungguh keji sekali lelaki bernama Pak Andre itu," ucap Ami.
Rudi mulai menaruh gelas ke meja, ia mengusap kasar wajahnya dan mulai berdiri." sebenarnya papah bingung antara menyetujui atau tidaknya. karena jika Papa tidak menyetujui kerjasama itu. papa akan dimasukkan ke dalam penjara, dan jika papah di masukan ke dalam penjara. Bagaimana nasib Sarah dan Tama?"
menarik nafas pelan, rasa sesak mulai dirasakan hati Rudi.
"Sekarang apa rencana papah selanjutnya?" tanya Ami.
Rudi merogoh saku celananya dan menjawab!" sebenarnya Papa sudah menyusun rencana baru lagi, yang di mana Papah Tengah mengumpulkan bukti. untuk bisa menjebloskan Pak Andre ke dalam penjara. walau sebenarnya itu sulit, tapi papa akan berusaha sebisa mungkin."
Ami mengusap pelan pundak sang suami dan berkata," papah harus tetap semangatnya, mamah yakin papah pasti bisa."
Dukungan dari sang istri membuat Rudi sedikit tenang, ia tersenyum dan berkata," terima kasih, ya. Mah."
"Iya, sekarang waktunya papah beristirahat."
Ucapan Ami membuat Rudi kini menurut, karna memang seharian ini dirinya belum beristirahat dengan benar. Waktunya Rudi untuk tetap tenang.
@@@@@@
Di tengah kesusahan Rudi.
Usia kandungan Delia yang sudah menginjak sembilan bulan, membuat Alan tak sabar menantikan sang buah hati.
Mengusap pelan perut Delia dan berkata," tak terasa kehamilanmu sudah membesar, tinggal menunggu hari kelahiran anak kita."
Delia tersenyum kecil," iya."
Obrolan itu tiba tiba terhenti, saat Delia merasakan rasa kontraksi.
"Ahhk, sakit."
__ADS_1
Alan panik, karna melihat Delia yang tiba tiba meringis kesakitan.
"Kenapa, Delia?" tanya Alan.
Delia mencambak rambut Alan, ia menahan rasa sakit.
"Sepertinya aku akan melahirkan."
Dengan sigap Alan mulai membopong Delia masuk ke dalam mobil, membawa sang isti ke rumah sakit.
"Sakit."
"Kamu harus tenang, Delia."
Alan baru kali ini melihat Delia meringis kesakitan, walau pun dirinya seorang dokter, tapi ia merasa panik akan Delia yang seperti itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Delia langsung di masukan ke dalam ruangan persalinan. Di mana Alan tetap menemani sang istri tercinta.
"Kamu harus kuat Delia, aku yakin kamu pasti bisa."
Keringat Dingin terlihat bercucuran, Delia menahan setiap rasa sskut yang semakin terasa dan semakin tak terkendali.
Membuat ia menarik kerah baju Alan," sakit mas."
"Kamu harus tenang," ucap Alan.
"Tapi ini sakit," balas Delia.
Hingga beberapa menit kemudian, suara tangis bayi terdengar nyaring. Membuat rasa bahagia pada hati Alan.
"Anak kita lahir." Ucap Alan kedua matanya berkaca- kaca. Mencium kening sang istri. Dan mengusap setiap keringat yang bercucuran.
Suster mulai membersihkan bayi mungil yang baru saja keluar itu, memberikan pada Alan.
"Bayi yang sangat sehat dan tampan." Ucap Alan.
Memperlihatkan pada Delia. Membuat Delia tersenyum, dan ingin mengendong anaknya itu.
"Aku ingin menggendongnya." pinta Delia.
Alan langsung menyodorkan bayi mungil itu ke dalam pangkuan Delia, di mana Delia menangis dan tersenyum bahagia.
"Alan, apa kamu bahagia?" tanya Delia. Membuat Alan mengerutkan kedua dahinya.
Tangan Alan mengusap pelan rambut Delia, dan berkata," kenapa kamu berkata seperti itu sayang?"
"Aku tak mau jika ...."
__ADS_1
Belum ucapan Delia terlontar semuanya, Alan langsung menempelkan jadi tangannya dan bekata," sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab. Aku pasti akan menerima kamu. Delia dan juga anak yang kamu lahirkan ini. jangan bilang seperti itu lagi, ya."
"Terima kasih, Alan."
mendengar kabar bahwa, Delia melahirkan. Ane terburu-buru datang ke rumah sakit untuk melihat Delia.
" Katanya Delia melahirkan di rumah sakit ini."
Saat Ane mulai masuk ke dalam rumah sakit, mencari ruangan Delia ada dimana. saat itulah ia tiba-tiba bertabrakan dengan seorang lelaki. yang di mana lelaki itu membuat dirinya sangat kaget.
Brug ....
Ane tersungkur jatuh hingga duduk di atas lantai.
"Aw."
Ane mulai melihat siapa orang yang ia tabrak tanpa sengaja, saat kedua matanya menatap ke arah lelaki itu. betapa kagetnya Ane.
Di adalah ....
"Kamu. Bukanya ...."
Lelaki itu tersenyum kecut saat Ane menunjuk wajahnya.
" kenapa Ane? kamu kaget melihatku sudah ada di rumah sakit ini?" tanya sosok lelaki yang memakai kursi roda itu.
Ane melipatkan kedua tangannya, kenapa bisa lelaki berengsek itu bisa ke luar dari dalam penjara. Bukanya dia sudah di kurung dan di beri hukuman yang lama, gumam hati Ane.
"Kenapa kamu diam seperti itu, Ane sayang."
Lelaki itu langsung mengambil tangan Ane dan mencium punggung tangannya.
"Harum."
Seketika Ane menghemopaskan tangannya, ia mengusap kasar punggung tangannya yang di cium sengaja.
"Masih sama seperti dulu. Apa kamu tidak kangen padaku, Ane?" tanya Deni.
Deni lelaki yang di benci Ane begitu pun Delia, bebas dari dalam penjara dengan semudah itu.
"Aku ingatkan kamu Deni, jangan bikin ke rusuhan di rumah sakit ini," ucap Ane menujuk wajah Deni.
Deni tertawa terbahak bahak menjawab setiap ucapan Ane." hey, siapa yang mau bikin rusuh di rumah sakit ini, asal kamu tahu aku ingin menemui anakku."
Deg ....
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, Delia tidak akan mau memeperlihatkan anaknya kepadamu," gerutu Ane.
__ADS_1
"Hey, kenapa begitu, aku ini ayah dari anak yang di lahirkan Delia. Kenapa kamu malah berkata seperti itu, seolah olah aku ini tidak berhak," ucap Deni dengan begitu santainya.
Ane mendengkus kesal, saat perkataan yang begitu santainya terlontar dari mulut lelaki ba*gan seperti Deni.