Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 23 Vidio yang Sisi simpan


__ADS_3

"Ah, aku lupa ini kan apartemen, Bapak Hendra." Sesaat memasuki mobil, seseorang menarik paksa tubuh Rudi. Membuat lelaki bertubuh kekar itu terhentak kaget


"Ternyata Dokter Alan." Rudi menatap raut wajah yang seakan menyesatkan kekesalan.


"Hey, maksud loe apa?" ucap Rudi, rahangnya mengeras. kedua tanganya mengepal.


Alan, memperlihatkan kedua tanganya di depan mata Rudi, agar tangan lelaki bertubuh kekar itu. Tidak memukul dirinya, yang tiba-tiba mengagetkan.


"Tenang, biar gue jelasin dulu?"


"Tak usah pake narik-narik segala," kerah baju Rudi segera ia bereskan, karna tarikan dari tangan Alan.


"Oke, sekarang gue jelasin." Raut wajah Alan seperti mengisaratkan, tentang apa yang selama ini dia ketahui. Tentang Ayahnya Pak Hendra dan Sisi.


Dengan panjang lebar Dokter Alan menjelaskan sedetail mungkin, hingga ini kesempatan Rudi untuk membuktikan semuanya.


Saat itu lah Mereka bergegas memasuki apartemen yang Sisi tempati sekarang.


Ketika sampai di pintu kamar yang di tuju, terdengar suara desahan di balik pintu apatermen yang saat ini Sisi tempati.


Semua telinga mendengar apa yang ada di balik pintu kamar wanita bernama Sisi itu.


Rudi berkata kepada Alan.


"Apa loe yakin?"


"Sepertinya iya, apa kita dobrak saja pintu ini?"


Tanpa aba-aba mereka langsung mendobrak pintu itu.


Wah, kejutan luar biasa, Rudi menepuk-nepuk kedua tangannya, menonton apa yang tengah mereka lihat dengan mata kepala mereka. Pertunjukan yang tidak layak di tonton.


Sungguh di sayangkan membuat mereka berhenti dari aktivitas menjijikan itu.


"Jadi ini kelakuan kalian?" hardik Alan kepada Pak Hendra, yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Alan seakan kecewa dengan apa yang ia lihat selama ini, seorang ayah yang tega menghianti istrinya sendiri tak lain ibu Alan.


"Bisa papah jelaskan, Al?" jawab Om Hendra dengan gugup, seakan maling sedang ketahuan.


"Sudah jelas semuanya, pah, apa papah tidak sadar, papah sudah melukai hati mamah," ucap Alan.  Rahangnya mengeras, mengepal kedua tangan dengan begitu kuat. Menahan semua gejolak di dada antara marah dan benci.


"Aku tak menyangka pria segagah dia bisa mengeluarkan air mata." Hati Rudi berbisik seketika, melihat Alan yang meneteskan satu tetesan air mata. Menatap kekecewaan pada ayahnya sendiri.


"Semua ini bukan kesalahan papah, asal kamu tau ini semua salah wanita sialan itu." teriak Lelaki tua yang tak lain ayah kandung Dokter Alan. itu menunjuk wanita yang hanya berbalutan selimut.


Tanpa busana sehelai pun.


"Kenapa, aku yang disalahkan, bukannya Pak Hendra yang memaksa aku, untuk melakukan semua ini." timpal wanita berwajah bulat itu dengan deraian air mata. Membasuh pipinya. Hingga membuat selimut yang ia pegang seketika basah.


"Sudah cukup, semua sudah terbukti, dari vidio dan sekarang apa yang kalian lakukan sudah terbukti jelas." 


"Vidio, aku yang tak tau apa-apa hanya bisa terdiam menyaksikan mereka bertengkar, sekarang aku tau ini semua sudah di rencanakan oleh Alan, tapi kenapa dia bisa tau." Bisikan hati Rudi terus bertanya-tanya. Tentang apa yang Alan lakukan, sesuai rencana yang sudah ia susun.


"Si, sekarang sudah terbukti, berarti kamu hamil anak dari Om Hendra, dan aku yakin kamu merencanakan semua ini untuk menjebakku." ucap Rudi menatap raut wajah wanita yang tengah menagis terisak-isak.


"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Rudi," Wanita berbalut selimut itu mengelak, membela diri, bersujud di kaki Rudi, Hati Rudi yang tak kuasa menahan ke kesalan, berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


Seketika langkah kaki Rudi terhenti dengan membelakangi wanita yang terduduk di lantai, sembari menagis tersedu-sedu 


"Ingat kata-kata ku Si, secantik apapun wajahmu, dan seindah apapun bentuk tubuhmu, aku tidak akan tertarik denganmu, sampai kapanpun, yakinlah, cintaku hanya untuk Ami seorang, dialah istriku."


Saat itu juga lelaki bertubuh kekar itu meneruskan langkah kakinya, dengan banganya hati telah lepas dari jeratan wanita semacan Sisi itu.


Rudi sudah tidak mau ber urusan lagi dengan wanita itu.


Mengendarai mobil dengan hati sedikit tenang, melepaskan beban berat dari wanita semacam Sisi.


Ada rasa kasihan. Tapi ada rasa jengkel, bagaimana seorang wanita seperti Sisi bisa sehina itu. Bisikan lelaki kekar itu terus menghantui pikiranya.

__ADS_1


***********


Setelah sampai dari rumah.


Rudi melihat raut wajah Ami yang begitu cantik, di iringi dengan bibir yang manis terseyum lebar pada dirinya. Seyuman hangat dari sang istri membuat Rudi seketika bahagia.


Inikah cinta sesuguhnya.


"Gimana Sisi betah tingal di apartemen bekas mamah dulu," Perkataan Ami membuat Rudi tertohok kaget. Apa yang harus Rudi katakan sebenarnya, tentang kejadian tadi sore yang membuat Sisi terhina dengan perlakuannya sendiri.


Apa Rudi harus menceritakan kejadian tadi siang, yang memegroki, Sisi dengan Om Hendra tak lain adalah paman Ami sendiri?!


Biarlah nanti aku ceritakan semuanya kalau Ami sudah bisa melihat. gumam hati Rudi saat itu.


"Yah dia mau tinggal di sana." 


"Syukurlah."


Pesan dari wathsapp.


Setelah Rudi membuka isi whatsapp, "Kurang ajar, Sisi bukannya kapok, dia malah mengancamku, akan menyebarkan vidio pada Ami, aku lupa masalah itu, dulu dia pernah menjebakku"


"Kanapa pah?"


"Oh enggak ko mah."


Rudi membisikan hatinya agar tetap tenang dengan masalah yang ia hadapi sekarang.


Sedih dan bingung, yang sekarang bergelut dalam pikiran lelaki bertubuh kekar itu, semua bertumpuk menjadi satu.


Setelah semua sudah jelas, Rudi berjanji akan memberitahu semua masalah yang dia hadapi. Tanpa Ami dia bisa menyelesaikan masalahnya.


Yakinlah istriku , karna aku telah berjanji, bahwa kamu adalah hidup dan matiku, tidak ada wanita yang bisa menggantikan kamu di kehidupanku. tutur kata Rudi yang selalu ia ucapkan.


Sebagaimana pun ia selalu menghargai sang istri, karna bagaimana pun ia tak bisa sukses sekarang tanpa Ami.


*********


"Mau apa, emang?" terlihat pipinya yang sedikit memerah menandakan sang istri malu.


"Ayolah." Rudi terus saja menggoda sang pujaan hati yang tengah duduk di kursi roda, walaupun dia tidak bisa melihat sekarang, tapi Rudi yakin dia merasakan kebahagian dalam hatinya


"Ya sudah, awas jangan macam-macam."


Ami menunjukan telunjuk tanganya sembari memperlihatkan seyumnya yang begitu indah, cantik nan bidadari dunia.


Tangan Rudi langsung memegang kursi roda yang Ami gunakan, membawa sang istri ke tempat dimana Ami sukai.


"Dimana ini? katanya mau ke kamar."


tanyanya sambil meraba cermin dan alat make-up, yang sengaja Rudi beli dan sudah Rudi tata rapi di dekat cermin, yang biasa sang istri bersolek.


"Apa coba." Rudi menatap wajahnya yang terseyum-seyum dan memegang sebagian lipstik yang baru Ami rai.


"Ini lipstik dan alat make-up lainnya, ko bisa"


"Bisa dong, papah janji, kalau mamah udah bisa melihat, papah akan belikan apa yang mamah inginkan, dan termasuk ini juga."


"Bener pah, makasih, ta-pi, ibu."


Tatapan mata Ami kembali menunduk seakan ada yang Ami sembunyikan.


"Tenang, semuanya sudah papah tau, bahwa kekejaman ibu kepada kamu."


"Iyah pah."


"Maafin papah, yang dulu gak percaya sama mamah, yang hanya menuruti ego."

__ADS_1


Tangan Ami meraih pipi Rudi meski dengan meraba, tapi begitu kelihatan sempurna, dia menghampus bulir bening air mata yang jatuh di pelipih mata sang suami.


"Papah nagis."


"Enggak ko, papah kelilipan."


"Jangan bohong."


"Beneran."


Sepontan Rudi cium tanga sang istri, Memluk sany istri dengan dekapan kehangatan.


Jangan pisahkan kami Tuhan, percayalah padaku akan ku jaga bidadari duniamu ini. Bisikan Hati lelaki bertubuh kekar itu menghayutkan isi dunia, begitu setianya Rudi.


"Mamah, harus sehat, biar kita sama-sama sampai tua nanti."


"Papah,"


"Mending mamah sekarang istirahat jangan mikir, yang macam-macam."


****************


Tok ... Tok ...


Siapa sih siang-siang begini.


"Ibu, Sisi, ada apa kalian datang kesini?"


Tanya Rudi, kepada mereka yang tiba-tiba nyolonong masuk, tanpa permisi.


"Ibu mau, kamu menikah dengan Sisi."


ucap wanita tua itu tak lain adalah mertua Ami. membuat Rudi terdiam tanpa seribu kata.


Rudi menatap wanita yang berdiri di samping ibu terseyum penuh kelicikan.


"Untuk apa aku menikahi wanita yang tak tau diri ini." cecar Rudi dengan emosi yang sudah meluap.


"Jaga mulutmu," tamparan wanita tua itu melayang pada pipi Rudi, tak lain anaknya sendiri.


"Sudah lah, terima semuanya Mas Rudi." wanita itu meraba dada bidang Rudi, bersandar, Rudi yang risih dibuatnya menghindar seketika, raut wajahnya napak menjadi-jadi.


"Ada apa ini?" ucap Ami yang baru saja datang tiba-tiba.


Sisi langsung menghampiri Ami dan bersujud di kakinya seraya berkata." Am, maafkan aku."


"Ada apa Si?" Ami meraih tangan wanita berwajah bulat itu.


"Semua salahku, Mas Rudi." dengan tangisan yang meraung-raung dia berlaga seakan tersakiti.


"Mas Rudi, maksud kamu, Si?" Ami terus saja mempertanyakan apa yang di katakan wanita bernama Sisi itu.


"Mas Rudi telah menghamiliku," 


Kurang ajar sekali wanita itu, berakting dengan begitu mudahnya. gumam hati Rudi.


"Apah." Rudi melihat Ami yang syok mendengar perkaat Sisi.


"Semua bohong, aku tidak pernah mengamili wanita ini." timpal Rudi tanpa sadar.


"Lantas kamu punya bukti, Sisi."


Tatapan mata Rudi tertuju pada layar Hp wanita itu.


"Ada, vidio." Sisi menujuk vidio yang ia punya.


"Vidio apah."

__ADS_1


__ADS_2