Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 276 Berusaha kaburnya Dina dan Riri


__ADS_3

“Sebenarnya Deni adalah keponakan papah, di mana Deni selalu bisa menguasai pikiran papah. Dari pada aku yang hanya seorang anak angkat,” ucap Ane. Putra mengusap pelan bahu Ane menenangkan istrinya.


“Pantas saja, papahmu begitu marah padamu Ane. Aku tak menyangka ternyata Deni adalah keponakan Om Malik, kamu harus tenang. Sebagai suami aku akan membantumu,” balas Putra begitu optimis.


Ane mengusap pelan air mata yang berlinang hingga ke dasar pipi,” percuma saja Putra. Jika aku tak bisa membujuk Alan untuk mengeluarkan Deni dari penjara, semua aset rumah sakit akan jatuh pada anak tiri papah yang tak lain ialah Zira.”


“Jadi papahmu mempunyai anak tiri selain anak angkat,” ucap Putra.


“Iya, Zira adalah anak hasil perselingkuhan papah dengan wanita penghibur. Karna papah selalu menghina mama dan mengatakan bahwa mama adalah wanita mandul,” balas Ane.


“Apa Zira tahu jika kamu membuat kesalahan di rumah sakit, rumah sakit itu akan menjadi milik Zira?” tanya Putra.


“Entahlah, aku juga belum tahu. Aku takut Zira bukan membuat rumah sakit itu nyaman. Malah membuat rumah sakit itu menjadi neraka bagi suster dan juga perawat di sana, karna sifat Zira yang seenaknya,” ucap Ane. Dengan ke kuatirnya.


“Aku mengerti apa yang kamu rasakan, kamu peduli dengan pegawaimu. Tapi kamu juga harus ingat, jika kamu melepaskan Deni dari penjara, bisa saja Deni berbuat semaunya lagi, nanti,” nasehat Putra terlontar.


Kini Ane mulai merenungi diri, ada benarnya Putra berkata seperti itu, karna bisa saja Deni membuat keributan lagi dan membuat Delia dalam bahaya.


Ane benar-benar di beratkan dengan dua pilihan, bagaimana Ane bisa memilih salah satunya. Karna Ane ingin sekali mempertahankan rumah sakit yang sudah ia pertahankan dari dulu.


@@@@


Di tengah-tengah keresahan Ane.


Dina dan juga Riri, kini membuka kedua mata mereka secara perlahan. Suasana begitu gelap gulita, pengap tak ada udara sedikit pun masuk.


Dina mulai mencari-cari keberadaan Riri, ia berusaha membuka tali yang mengikat pada kedua tangannya. Tali itu begitu susah di buka membuat Dina kelelahan.


Dina tak bisa berteriak, karna mulutnya yang di perban. Ia ingat kejadian di mana dirinya dan juga Riri ingin menyelamatkan diri. Malah ketahuan oleh suruhan Sarah yang begitu licik.


“Di mana ini, ke mana Riri?” Gumam hati Dina.


Sedangkan Riri sudah terbangun dari tadi, wajahnya begitu pucat. Ia melihat tengkorak mengantung di atas, membuat ia bergidik geri.


“Tengkorak siapa ini.” Ucap Riri dalam hati.


Riri berusaha mencari keberadaan Dina, entah ke mana Dina, suasana begitu sepi.


Saat itulah Dina mulai berusaha meraih pisau kecil dalam celananya, untung saja dirinya selalu membawa pisau kecil ke mana-mana.


Dengan berusaha yang Dina bisa, akhirnya Dina bisa melepaskan tali yang mengikat erat pada kedua tangannya, ia mulai melepaskan perban yang menempel pada mulutnya. Begitu pun tali yang mengikat pada kaki.

__ADS_1


“Akhirnya aku bebas juga. Tinggal mencari Riri.” Ucap Dina berjalan. Melangkah dengan sangat pelan, saat itu ia berusaha membuka pintu yang ternyata pintu lemari.


“Sial pantas saja pengap, Sarah mengurungku di dalam lemari besar, sial. Jika aku tidak bisa ke luar dari lemari itu. Satu jam kemudian mungkin nyawaku sudah terbang begitu saja.” Gerutu Dina. Berjalan melihat ruangan yang begitu terlihat usang, banyak peti mati dan lemari – lemari menjulang tinggi.


Dina yang penasaran kini membuka peti mati itu, terlihat seorang pria gagah di awetkan dalam peti itu. Membuat Dina bergidik ngeri.


“Ih, kenapa bisa ada mayat formalin di peti ini.” Ucap Dina.


Bruk .... Bruk ...


Dina kaget dengan suara itu, membuat ia melangkah maju menghampiri lemari yang terlihat sedikit bergoyang.


Tangan kanan Dina mulai meraih tongkat yang berada tak jauh di hadapannya, ia bersiap-siap jika sesuatu membahayakannya.


Perlahan membuka lemari itu, ternyata Riri.


“Riri kamu.”


Dina dengan sigap melepaskan tali yang mengikat erat tangan dan kaki Riri, hingga Riri terlepas dan terbebas.


Saat perban di buka, nafas Riri terlihat terengah-engah. Membuat Dina memukul – mukul perlahan punggung Riri.


“Kamu kenapa, Ri?” tanya Dina.


“Astaga, sebuah tengkorak mengantung.” Ucap Dina.


“Ayo kita pergi dari sini, Dina. Aku takut dengan tengkorak- tengkorak itu,” ucap Riri. Mengajak Dina untuk segera pergi dari ruangan menyeramkan itu.


Dina sangat penasaran dengan tengkorak yang tersusun rapi, ia mulai berdiri. Mulai memegang tengkorak itu, tapi Riri menepuk tangan Dina.


”Jangan pegang, “


Pada saat itulah Dina mulai mengerutkan kedua dahinya,” kenapa. Aku hanya ingin memastikan keaslian tengkorak ini. Jika tengkorak ini palsu aku berikan pada keponakanku di kampung.”


Dina begitu menyepelekan tengkorak yang berada di hadapannya.


“Kalau mereka asli?” tanya Riri.


“Auto kabur!” jawab Dina. Berlari ke arah pintu besar, yang tertutup rapat.


Riri kesal dengan Dina yang main-main, saat itulah mereka mulai mencari cara untuk kabur dari ruangan itu.

__ADS_1


“Pintunya susah di buka,” ucap Dina.


“Benar,” balas Riri.


“Terus bagaimana?” tanya Dina.


“Entahlah, sepertinya kita harus menunggu ke matian di sini. Seperti tengkorak-tengkorak itu,” ucap Riri seakan pasrah dengan keadaan.


Dina menepuk bahu Riri dan berkata,” jangan ngomong mengaur kamu. Ogah aku jadi pajangan seperti tengkorak itu.”


“Ya terus bagaimana lagi, pintu ini bukan pintu sembarangan pasti ada tombol rahasianya untuk membuka,” ucap Riri.


Dina mulai mencerna perkataan Riri yang berkata ada tombol rahasia.


Pada saat itulah, ia mencari keberadaan tombol rahasia itu.


“Ke mana Din?” tanya Riri.


“Ke hatimu!” jawab Dina sedikit bercanda, agar rasa takut berusaha hilang dari benak mereka.


Riri yang kesal memukul kepala Dina. Plak ....


“Aduh, kamu kenapa sih.” Cetus Dina mengusap kasar rambut kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan Riri.


Riri melipatkan kedua tangannya dan berkata dalam hati,” rasain. Emang enak.”


Kini Dina mulai mencari tombol rahasia, untuk membuka pintu itu. ia meraba ke setiap dinding dan akhirnya menemukan pintu tombol itu.


Riri melihat ke sekitar ruangan begitu menyeramkan, dimana ruangan itu membuat bulu kuduknya merinding.


Hawa bau-bau bangkai terasa membuat ia ingin muntah.


Saat berada di sisi kiri Dina, Riri mulai menjerit karna tikus datang menghampiri mereka berdua.


"Ti .... kus."


Dina dengan sigap menutup mulut Riri rapat- rapat, mengusir tikus itu dengan mengebahkan memakai kaki kirinya.


"Hus .... pergi kamu dasar tikus bereng*ek.*


Akhirnya pintu itu terbuka secara perlahan, membuat kedua mata mereka terkejut melihat pemandangan yang tak biasa.

__ADS_1


.


__ADS_2