
Lelaki tua itu, memberi kode pada Sisi. Untuk segera pergi menemui ke dalam kamarnya. Wanita berwajah bulat itu terus saja melangkah menghampiri Delia dan juga Alan, Pak Hendra seakan kebingungan dengan langkah kaki Sisi yang terus menghampirinya.
"Ada apa pah, ko kaya kebingungan gitu?" tanya Delia. Mengkerutkan jidaknya.
"Engga, gimana kalau kita kesana!" jawab Pak Hendra menyuruh anak-anaknya untuk segera pergi dan menjauh.
Namun, saat langkah kaki mereka menjauh, Sisi memanggil Pak Hendra.
"Mau kemana kalian?" tanya Sisi. Dengan balutan gaun pengantin, terseyum memanggil mereka bertiga.
Alan yang mendengar suara itu, berbalik arah dan menatap pada wajah Sisi.
"Kamu," ucap Alan. Sisi yang menatap Alan tengah syok hanya terseyum manis, menampilkan bibirnya yang tipis.
Sisi menghampiri Pak Hendra dan bertanya?" Siapa mereka."
"Mereka adalah anak-anakku!" jawab Pak Hendra.
Ow, jadi mereka yang selalu ke temui adalah anak Pak Hendra. Sial gara-gara hilang ingatan aku lupa segalanya, gumam hati Sisi.
Melipatkan kedua tangan seraya berkata," kenapa kaget ya, dengan tampilan aku seperti ini?" tanya wanita berwajah bulat itu.
Pak Hendra hanya bisa menundukan pandangan, bibirnya keluh tak bisa berkata apa-apa.
Sang anak seakan kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini, Alan melangkah kan kaki menghampiri Sisi saat itu.
"Kenapa kamu memakai baju pengantin?" tanya Alan. Pertanyaan itu membuat Sisi ingin tertawa, mengelus kepala Alan seraya berkata." Aku ini istri baru ayahmu!" jawaban Sisi membuat Alan semakin emosi.
"Maksud wanita ini apa pah?" tanya Alan. Pak Hendra masih saja diam, ia seakan bingung apa yang akan lelaki tua itu jelaskan pada anaknya.
"Kenapa papah diam, jawab pah?" Alan terus mendesak Pak Hendra untuk segera mengaku.
"Aduh, Alan sudahlah. Semua sudah jelas aku ini ibu baru mu!" jawab Sisi. Menyingkirkan tangan yang melekat pada kepala Alan membuat tawa kecil terpancar pada wajah Sisi
"Tak sudi aku, mempunyai ibu seperti kamu Sisi!" jawab Alan. Menunjuk seraya menghina wanita di sebelahnya. Sisi berbisik berkata." Terima semuanya."
"Alan, sebenarnya?"
Belum terucap sepenuhnya dari mulut Pak Hendra, Ryan sudah pergi dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Berlalu pergi, hingga Delia mengejar dan menghampiri suaminya.
********
"Sisi kenapa kamu keluar dari kamar?" tanya Pak Hendra sedikit bernada tinggi, ia mengusap kasar wajahnya.
"Aku bosan di dalam kamar terus!" jawab Sisi. Sedikit memoyongkan bibir atas bawahnya.
Sisi seakan puas dengan drama siang hari, yang membuat kulitnya panas dan juga hatinya sangat puas. Merangkul pundak lelaki tua itu. Walau dalam hatinya merasakan jijik, demi menyusun rencananya.
"Aku ini istrimu Pak Hendra," rayu Sisi membuat hati tua bangka itu luluh.
Dasar tua bangka tak tahu diri, aku terpaksa melakukan semua ini demi rencanaku, karna aku baru tahu bahwa ternyata Alan dan Delia anakmu. Ah, adai saja aku masih ingat semuanya, gumam hati Sisi.
Pak Hendra langsung mengajak Sisi ke dalam kamar, Sisi sudah pasrah apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Mau tidak mau dia harus menerimanya.
Saat Pak Hendra tengah menyentuh tubuhnya, terbanyang ingatan masa lalu dimana ia tengah bersama Pak Hendra di hotel. Bagaimana kelakuan Pak Hendra saat itu, kepadanya.
Hingga ia mendorong tubuh lelaki tua itu mendekap pada tubuhnya, seraya berkata." kepala ku sakit."
Pak Hendra begitu panik, ia menelpon ambulan. Agar segera di bawa ke rumah sakit terdekat.
Sisi terus saja meringis kesakitan, memegang kepanya dengan kedua tanganya. Meremas bagian kepala yang sangat sakit.
"Kamu harus terima Alan. Walau pun sakit, papah mu mungkin merencanakan sesuatu, menikahi Sisi," ucap Delia menghampiri lelaki yang menjadi suaminya.
"Mana mungkin, asal kamu tahu. Papah itu tak beda dengan lelaki bajingan yang selalu berganti wanita!" jawab Alan. Air matanya mengalir, ada rasa sesak di dada teringat dengan sang ibu tercinta di rumah.
Melihat Alan yang menagis pertama kalinya, Delia memeluk tubuh suaminya dengan erat. Membuat detakan jantung pada Alan begitu kencang.
"Aku tahu, kamu pasti sekarang tengah terluka kan. Ini obatnya!" jawab Delia. Walau dalam hatinya tersimpan rasa gensi yang sangat besar, namun wanita bermata sipit itu memberanikan diri untuk memeluk suaminya.
"Jantungmu berdetak lebih cepat," ucap Delia.
Alan yang mendengar ucapan itu memeluk balik sang istri seraya berkata," terimakasih."
"Sudah jangan nagis, kaya bocah saja," sidir Delia. Membuat Alan tertawa kecil.
"Apa sih," jawab Alan. Pipinya memerah merasakan malu mendengar sindiran istrinya.
__ADS_1
"Enak ya, di peluk. Coba lebih sering lagi kaya gini," gombal Alan. Membuat Delia melepaskan pelukanya tiba-tiba.
"Loh ko di lepasin, peluk lagi dong," perktaan Alan. Membuat Delia menjadi salah tingkah. Kedua tangan Alan membuka lebar agar Delia memeluknya lagi.
"Ayo," ucap Alan. Mengedipkan kedua matanya.
"Gak ah, panas!" jawab Delia. Dengan rasa malu-malu.
"Emh, ya sudah turunin lagi tangannya ya," Alan menurunkan tanganya. Saat itu, tiba-tiba Delia menyosor pada tubuhnya.
"Tadi enggak mau!" pelukan itu terjadi lagi.
Delia yang setengah malu menepuk bibir Alan seraya berkata." Diem. Nikmatin ajah kehangatanya."
Pelukan itu menyisakan rasa bahagia pada hati Delia, ini namanya cinta. Perkataan itu terlontar dari mulut Delia.
Alan melepaskan pelukannya, menatap kedua bola mata Delia. Mendekat kearah wajahnya, menatap lekat. Hingga sang bibir mulai bersentuhan.
Saat mereka menikmati rasanya cinta, suara ambulan terdengar. Sontak Alan kaget, berlari menghampiri suara ambulan itu, karna mengarah pada vila sang ayah.
Melihat yang di masukan dalam mobil ambulan, ternyata bukan Pak Hendra melainkan Sisi.
"Sisi pingsan?" tanya Delia. Mereka berlari ke arah ambulan itu, melihat Pak Hendra yang sedikit panik.
"Kenapa dengan Sisi?" tanya Alan pada sang ayah.
"Entahlah papah tidak tahu, dia mendadak mengengam erat kepalanya. Dan juga meringis kesakitan hingga akhirnya dia pingsan tak sadarkan diri!" jawab Pak Hendra.
Saat ambulan memasuki Sisi, Alan mengecek keadaannya dari mata dan juga kepala.
Ada rasa keraguan dalam hatinya hingga Alan harus ikut ke rumah sakit.
Delia dan Alan mulai menyusul dengan mobil mereka.
Saat di dalam mobil." Apa Delia, mempunyai masalah pada otaknya?" tanya Delia pada Alan.
"Sepertinya ia, bukanya dia hilang ingatan. Karna aku melihat ada sedikit keretakan pada kepalanya!" jawab Alan.
"Sepertinya bekas oprasi, karna kemarin dokter pembedahan bilang. Benturan yang di alami Sisi sangat fatal," ucap Delia.
__ADS_1
"Ya, kita harus mencari tahu sekarang. Sepertinya ada masalah lain pada otak Sisi!"
Kenapa kasus ini hampir sama dengan Ami. Apa ini yang dinamakan hukum karma, gumam hati Alan.