Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 11 Pov Ami


__ADS_3

Aku segera menimang Dodi untuk cepat tidur, rasanya ingin sekali membasahi tengorakan ini dengan air yang mengalir, karna seharian perut ini pun belum terisi apapun, badan bergetar hebat, rasa lapar dan haus yang tidak sanggup lagi  ditahan membuat kepalaku sakit lagi, hingga, gelas yang aku pegang jatuh dan  pecah.


Dodi bangun mendengar gelas yang tidak sengaja aku jatuhkan, untung saja Mas Rudi langsung menidurkan Dodi di pangkuanya.


Terlihat sekali Mas Rudi membulatkan matanya menatap tajam ke arahku, dia sepertinya marah. kesal karna aku yang begitu ceroboh.


Aku hanya terdiam, dan apesnya tanganku ini memegang pecahan beling.


Mas Rudi kembali manatap ke arahku, dan memarahi, layaknya semua kesalahanku.


Hatiku kembali rapuh, tidak bisa berkata apa-apa, hanya bulir bening yang berjatuhan di pelipih mata ini. Sedikit demi sedikit ku hapus air mata yang berjatuhan ini.


Dia bergegas pergi meninggalkan aku, yang di lumuri darah berceceran. Ku atur nafsaku agar rasa sesak di dada ini segera hilang.


Andai saja tubuhku tidak lemah, dan kepala ku tidak sering merasakan pusing, mungkin semua bisa teratasi, tanpa bantuan suami. Apalah daya penyakit yang mengerogoti tubuh ini, membuat aku tak semangat menjalani hidup.


Mas Rudi pernah menawarkan untuk dia carikan pembantu, tapi aku menolak dengan alasan berhemat, padahal, kalau ibu tahu di rumah ini ada pembantu aku bisa di marahi habis-habisan dan dihina.


Aku sudah malas berdebad dengan ibu mertua, malah membuat aku semakin stres.


Saat tengah malam, terasa Mas Rudi tengah mencumbu leherku dengan lembut, dia menyuruh untuk bergegas ke kamar mandi mencuci muka.


Namun, seketika terhenti, aku yang lelah tidak bisa melayani dia, ditambah baju yang sudah berlumur ompol Dodi anakku.


Aku merasa bersalah tehadap suamiku, hingga akhirnya, bergegas, menemui dia.


Tapi setelah menemui Mas Rudi,  ternyata suamiku tengah menonton vidio wanita yang bertelanjang dada tanpa sehelai busana.


Siapa wanita itu?


Yang tadinya akan menggoda sang suami mengganti pakaian tehenti, karna vidio wanita itu.


Apakah Mas Rudi selingkuh?


Aku langsung mengusir pikiran Negatif ini, segera ku rebahka tubuh ini pada dada bidang Mas Rudi.


Sesaat itu Mas Rudi  mengajak untuk pergi ke salon, Aku hanya terdiam, bukan kata-kata itu yang ingin aku dengar.


Apa mungkin itu saja yang di pikirkan Mas Rudi.


Aku berlari menagis menghiraukan teriaka Mas Rudi.


Ketika ku kunci kamar, terlihat wajah lusuh, muka hitam tidak terawat,  banyak sekali kerutan di raut wajahku, aku malas semenjak penyakit yang aku derita ini.


Untuk memoleskan lipstikpun rasanya tidak mungkin, akhir-akhir ini bibirku kering, seakan lipstik susah untuk menempel.


Apalagi dengan rambutku, semakin ku sisir semakin rontok dan berjatuhan, sudah tidak ingin rasanya mengurus rambut ini, rambut yang selalu Mas Rudi belai sekarang berjatuhan hingga membuat tengah kapala sedikit botak.

__ADS_1


Aku harus bergegas tidur, karna besok jam kontrolku ke dokter, pasti Alan akan menjemput.


Tring ... Tring ...


Satu pesan datang kepadaku.


[Hai, apa kabar?] 


Siapa ini? No baru kah.


Segera ku balas.


[Siapa?]


[Masa kamu lupa Am, aku Sisi teman sekolah kamu] 


Sisi, oh yah dia, teman sekolah waktu sma dan juga teman kerjaku dulu di kantor, Om Hendra, apa sekarang dia masih bekerja disana?


[Ada apa?] jawabku sedikit penasaran.


[Aku ingin bertemu dengan kamu] 


Bertemu, untuk apa dia ingin bertemu denganku.


[Bisahkah kita bertemu] dia mengirim pesan dengan emojik, memohon dan menagis.


[Oke, tapi jangan sekarang minggu depan saja gimana] balasku


Pagi hari.


Ku lihat Mas Rudi sedang bersantai, memainkan game.


Sial, kenapa dia tidak bekerja, harusnya dia sudah berangkat kerja, dan aku harus siap-siap kontrol ke rumah sakit.


Segera aku berdalil dan memarahi Mas Rudi agar segera bekerja, untung saja Mas Rudi mendengarkan perkataan ku.


Jam sudah menunjukan pukul 08:35 aku keluar rumah dengan memakai sal untuk menutup sebagaian wajah, tak lupa dengan kaca mata hitam, agar tidak ada yang mencurigai kepergianku, Dodi dititipkan pada tetangga, Ka Rani, dia orang yang bisa dipercaya.


Alan memberiku selembar surat, yang berisikan Fositip Tumor Otak setadium akhir, 


Tubuhku seketika tersungkur, lemah, tak berdaya, Alan menyuruhku untuk oprasi, tapi dia juga tidak yakin, karna resikonya akan lebih tinggi antara hidup dan mati.


Alan terus memaksa, agar aku dirawat di rumah sakit.


Tidak ada kata-kata yang ke luar dari mulut ini, hanya ketidak dayaan hati yang belum bisa menerima kenyataan.


Saat kami tengah berjalan beiringan.

__ADS_1


Bruk ....


Aku beradu dengan pengujung yang hendak melongok keluarganya.


"Kalau jalan hati-hati dong." 


Ku lihat raut wajah, wanita yang memarahiku.


"Sisi sedang apa kamu di sini?" Tanyaku ternyata wanita yang menabrak tubuh ini adalah Sisi.


"Ami, ternyata kamu, sedang apa kamu di sini, kemana suamimu?" jawabnya, membuat aku kagum melihat postur tubuhnya yang ideal itu.


"Suamiku sakit keras, jadi sekarang jadwal aku jagain dia," ucapnya memperlihatkan raut wajah sedihnya.


"Oh,"


"Ini siapa?"


"Ini sepupuku, kenalin Alan."


Terlihat Sisi memegang lama tangan Alan sembari terseyum-seyum dan mengedipkan matanya.


Alan langsung mencabut tangannya dari gengaman Sisi.


Aku hanya tertawa kecil, melihat Alan yang ketakutan, dan bergidig ngeri.


"Ya sudah aku ke ruangan Suamiku dulu ya Am, dah sampai jumpa minggu depan," ucap Sisi sembari berlalu pergi.


"Yah, moga sembuh suamimu yah Si." Berasa baru kemarin kita kirim pesan Sisi, akhirnya bisa ketemu juga.


"Mba ko bisa kenal wanita itu." tanya Alan yang sembari melirik jalan Sisi. Aku sedikit tertawa melihat ke luguan Alan saat ini. Ia seakan baru mengenal namanya wanita seperti itu.


"Emang kenapa? kamu suka sama dia?" Tanyaku sembari terseyum kecil. Melihat mata Alan yang membulat. Membuat aku semakin tertawa nyaring.


"Amit-amit deh mba, mending Al, milih mba dari pada dia," ucapnya. sembari tertawa. Heran sama anak ini, meskipun milih mba yah juga kan masih saudara. Dasar Alan. Terkadang orang-orang di sekitar mampu membuat kita semangat menjalani hidup.


"Maksud kamu." ku lirik wajah Alan yang memerah, entah kenapa? Sebenarnya usia Alan lebih dewasa dari diriku.


"Sudah lah mba, lupakan. Anggap saja angin lewat."


Mendengar tutur kata Alan membuat bibir ini tidak henti terseyum dan tertawa.


Namun, saat kaki melangkah, terdengar Sisi menjerit ada apa kah?


"Alan, seperti Sisi."


"Yah mba seperti wanita yang tadi."

__ADS_1


Suster berlarian, begitu pun dengan aku dan Alan kami segera berlari ke arah suara yang tertuju.


Ada apa dengan kamu Si?


__ADS_2