Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 180 Pak Tejo Menemui Alan Di pesawat.


__ADS_3

Pak Tejo memberanikan diri masuk ke dalam lorong pesawat, untuk mencari keberadaan Alan. Hatinya sanggatlah ketakutan.


“Mudah-mudahan Alan tidak kenapa-napa.”


Kekawatiran menyelimuti perasaan Pak Tejo saat itu, lorong gelap itu seakan memiliki hawa mistis, bulu punduk seakan berdiri.


Ada rasa trauma pada hati Pak Tejo, karna kejadian barusan. Dimana ia merasakan ada tangan yang berlumuran darah memegang betisnya.


Bayangan halusinasi itu masih teringat di kepala Pak Tejo, membuat langkah kakinya bergetar hebat.


Di pertengahan lorong, Pak Tejo mendengar lirihan isak tangis seorang perempuan. Tangis itu begitu nyaring terdengar membuat Pak Tejo ketakutan.


“Suara seorang wanita, tapi ke mana sosoknya tak ada?”


Pak Tejo merasa langkahnya begitu berat, dan lorong pesawat yang ia tempuh terasa jauh. Padahal dari tadi ia terus berjalan. Mengusap wajahnya beberapa kali dan beristigfar jangan sampai dirinya terjebak dengan halusinasi sesaat.


“Alan, di mana kamu, nak.”


Teriakan Pak Tejo, membuat suara aneh terdengar lagi. Kini teriakan-teriakan minta tolong terdengar begitu jelas.


Pak Tejo mulai menutup mata, pikirannya kini terbayang akan kejadian di mana kecelakaan pesawat terjadi.


Ia mengingat teriakan dan tangisan istrinya dan juga cucu-cucunya, teriakan itu terdengar menyakitkan. Hingga ia meneteskan air mata.


Tak ada pertolongan waktu itu, Pak Tejo tak sadarkan diri. Sedangkan sang istri dan cucu-cucunya berhenti berteriak saat hantaman pesawat mengenai sisi kiri sang istri.


Jeritan kesakitan membuat Pak Tejo tak bisa melakukan apa-apa lagi, ia hanya bisa pasrah dalam keadaan saat itu. Menolong pun tak bisa.


“Pak Tejo.” Panggil Alan dari kejauhan.


Pak Tejo kini membuka kedua matanya, ia begitu senang dengan penampakan Alan. Membawa salah satu anak kecil. Dan ternyata anak kecil itu adalah cucu Pak Tejo.


Pak Tejo mengusap-mengusap kedua matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“ Reyhan. Itukah kamu.”


Senyuman anak kecil itu terlihat begitu berseri, membuat Pak Tejo tak kuasa ingin langsung memeluk sang cucu.


Pak Tejo berlari memeluk sang cucu, sedangkan Alan menangis pelan. Ia mengingat Dodi, tak tahu keberadaan sang keponakan.


Alan tak menyangka jika di lorong ini, masih ada orang yang selamat. Ia tak tahu jika tidak ke dalam mungkin cucu Pak Tejo akan terkurung selamanya hingga mata di pesawat bersama tumpukan mayat.


Pak Tejo langsung menggodong sang cucu untuk segera ke luar dari ruangan pesawat yang menyeramkan itu. Sedangkan Alan masih terdiam mematung, membuat Pak Tejo memberhentikan langkah kakinya dan berkata,” Alan, ayo kita pergi.”


Seketika lamunan Alan membuyar membuat ia langsung melangkahkan kaki dengan perasaan tak kuasa.


Obat-obatan dalam kotak sudah ia temukan, tinggal dirinya mengobati pramugari cantik yang terluka.


Langkahnya kini sudah pada pintu, namun seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


“ Om Alan.”


Deg ....


“Suara itu.”


Alan kini mencari sumber suara itu, ia berusaha mencari pada tumpukan kursi pesawat yang terlihat begitu berantakan.


Dengan kekuatan seadanya, Alan mulai melepaskan satu persatu kursi yang begitu terlihat menumpuk. Membuat rasa lelah ia rasakan.


“Dodi apa itu kamu?”


Badan kecil, dengan luka pada jidat. Terlihat jelas oleh Alan. Sang keponakan tengah di peluk oleh sosok pramugari yang sudah tak bernyawa.


“ Dodi.”


“Om, A-l-an.”


Dodi terlihat begitu kesusahan untuk berbicara. Alan langsung menyingkirkan pramugari itu pada tubuh Dodi.


Pelukan hangat kini terasa oleh Dodi. Alan tak menyangka jika dirinya bisa menemukan Dodi yang masih hidup.


Memegang kedua pipi Dodi, anak itu menangis.


“ Om tak menyangka akhirnya kamu masih hidup, Dodi.”


“ Alan, ayo cepat kita ke luar,” teriak Pak Tejo.


Alan mencoba mengendong Dodi karna ternyata pesawat hampir saja runtuh. Puing-puing atas pesawat hampir roboh.


Setelah mengeluarkan Dodi. Anak lelaki itu berucap pada sang om.


“Selamatkan tante itu, om. Dia masih hidup.”


Mana mungkin Dodi bisa berkata seperti itu, jika wanita yang Alan anggap sudah mati. Masih di sebut hidup oleh Dodi.


“ Wanita itu sudah tidak ...,”


Belum perkataan Alan terlontar, Dodi merengek meminta agar sang om bisa menyelamatkan wanita itu.


Dengan rasa terpaksa pada akhirnya Alan menuruti perkataan Dodi. Dia mulai menyelamatkan wanita itu, menyelamatkan di tengah-tengah atap pesawat yang akan runtuh.


Dengan keahlian seadanya Alan dengan sigap menyelamatkan wanita itu, membawa ke luar. Dodi terlihat senang melihat wanita itu bisa di selamatkan.


“ Tante bangun.”


Dodi menggoyang-goyangkan wajah wanita itu dengan tangannya, hingga di mana wanita itu terbangun dan batuk.


Alan tak menyangka jika wanita yang ia kira sudah mati ternyata masih hidup.

__ADS_1


Dengan sigap Alan memberi wanita itu ari minum. Membuat wanita itu sedikit terlihat sesak napas. Untung saja ada kotak obat membuat Alan langsung memberikan obat itu.


“ Tante tidak apa-apa kan?’


Tanya Dodi wanita itu mengusap pelan kepala Dodi.” Terima kasih.”


Pak Tejo merasa jika di pesawat masih banyak orang yang masih hidup. Karna dia mendengar di lorong ujung ada wanita yang menangis.


Kini mereka berkumpul tak jauh dari pesawat, membuat suatu tempat untuk berteduh dengan seadanya.


Masih banyak kain yang terpakai, mereka memanfaatkan kain itu agar menjadi tenda.


Malam semakin terasa menusuk, suara lolongan hewan terdengar jelas. Ada rasa takut pada kedua wanita itu. Namun Alan dengan sigap menenangkan mereka.


Menyuruh mereka untuk beristirahat, karna besok mungkin akan menjadi perjalanan panjang untuk ke luar dari hutan.


Pada api unggun yang hangat, membuat rasa tenang menyelimuti hati Alan karna Alan bisa menemukan Dodi, tinggal dirinya berusaha untuk bisa keluar dari hutan bersama orang-orang yang berada dengannya saat ini.


Pak Tejo saat itu mendekat ke arah Alan, berusaha untuk mengajak berbicara dengannya.


“ Alan, bapak kok berasa curiga dengan dalaman pesawat ini?” tanya Pak Tejo mengawali obrolan.


Alan sedikit berpikir sama seperti Pak Tejo.


“ Alan juga berpikir seperti itu, sepertinya masih ada orang yang masih hidup di dalam pesawat!” jawab Alan.


“ Bagaimana kalau besok kita cari ke dalam pesawat, siapa tahu masih ada orang yang bisa kita selamatkan,” ucap Pak Tejo kepada Alan. Membuat lelaki berbadan kekar itu berpikir sejenak.


“ Benar juga pak,” balas Alan.


Mereka sepakat akan menolong orang -orang yang mungkin masih bisa di selamatkan besok. Walau sebenarnya resikonya sangat tinggi.


Karna dalam hati Alan ada rasa kasihan, dirinya seorang dokter mana bisa membiarkan orang yang kesakitan menderita.


“ Kamu kan ahli dalam menyembuhkan orang, siapa tahu dengan ini kamu bisa menyelamatkan beberapa orang yang terluka parah atau ringan yang kita temukan besok.”


Ucapan Pak Tejo membuat Alan langsung menganggukkah kepala arti setuju dengan ucapan Pak Tejo.


“ Alan, kamu ini dokter ya. Soalnya bapak lihat cara mengobati orang seperti sudah terbiasa, dan terkesan sudah terlihat profesional.”


Ucapan Pak Tejo membuat Alan tersenyum kecil. Alan masih tak mau mengakui dirinya adalah seorang dokter.


“ Alah, perasaan bapak kali. Saya hanya tahu sedikit tentang ilmu kedokteran.”


“Begitu ya.”


Sampai obrolan Pak Tejo dan Alan terhenti karna suara gedoran pintu pesawat tiba-tiba terdengar keras di banting.


Suara apakah itu?

__ADS_1


__ADS_2