Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 78 Kanyataan pahit Dipa meninggal


__ADS_3

"Kenapa? Papah takut?" tanya Bu Sarah. Memegang pisau mengarahkan pada suaminya. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Pak Hendra saat itu.


"Mah, bisa engga. Itu pisau jauhin dari hadapan papa!" jawab Pak Hendra. Perasaannya kacau antara harus menggaku atau tidak. Ia sudah tak sanggup melihat Bu Sarah di rendungi amarah yang menggebu.


Bola mata Bu Sarah membulat, ingin sekali mencabik-cabik bibir suaminya. Yang tidak mau mengaku.


"Ma, ampun. Ia papa ngaku salah, papa enggak bakal ngulangin lagi ko. Dan lagi papa udah ceraikan wanita itu," ucap Pak Hendra. Berharap sang istri mengampuni kesalahannya.


Brug ....


Amarah Bu Sarah semakin menggebu, hilang semua kesabaran dalam hati Bu Sarah saat itu.


Mengepal kedua tangan dan memukul wajah Pak Hendra hingga pingsan.


"Rasakan, tua bangka tak tahu diri. Sudah berumur juga tidak tahu di untung."


*************


Malam itu entah kenapa Dipa, ingin sekali bertemu dengan Dokter Alan, ia meminta pada sang kaka untuk di pertemukan dirinya dengan Dokter Alan.


Hingga pada akhirnya Dipa masuk ke rumah sakit dengan keadaan darurat. Dipa tak sadarkan diri.


Arpan terus mengusap pipi lembut adiknya.


"Bertahan Dipa sayang, ini kaka. Kaka mohon kamu harus kuat."


Air mata kian berjatuhan dari pelipih mata sang kaka. Melihat keadaan Dipa selalu seperti ini, rasanya ia ingin menggantikan posisi adiknya saat ini.


Sisi mengusap lembut punggung Arpan menenangkan dia, untuk tenang menghadapi semuanya.


"Yang sabar ya Arpan. Dipa pasti kuat," ucap Sisi.


Arpan sempat ingat permintaan Dipa saat itu, ia meminta ingin bertemu dengan Dokter Alan saat ini juga. Bergegas menelpon Alan menyuruh dia untuk segera datang ke rumah sakit, walau pun harus menunggu lama.


Arpan berharap Alan mau menuruti kemauan adiknya.


Panggilan pun tersambung.


"Hallo," ucap Alan dalam sambungan telepon.


"Hallo Al, ini aku Arpan!" jawab Arpan.


"Ada apa?" tanya Alan. Alan nampak curiga dengan Arpan yang tiba-tiba menelpon.


"Tolong Dipa," ucap Arpan dengan tangisan terisak-isak.


"Dipa, Dipa kenapa?" Alan nampak panik dalam sambungan telepon.


"Adikku masuk ke rumah sakit. Dia memohon kamu datang ke sini," ucap Arpan. Nafasnya seakan tak beraturan.

__ADS_1


"Oke, aku akan kesana!"


Panggilan pun terputus, Alan bergegas memesan tiket, walau harus lelah. Namun ini demi Dipa, mewujudkan keinginan gadis kecil itu.


"Kenapa ko nampak panik gitu?" tanya Delia yang tiba-tiba datang. Alan mengusap kasar wajahnya seraya menjawab," Dipa masuk rumah sakit dan sekarang dia ingin bertemu dengan ku."


Delia tertohok kaget dengan jawaban Alan. Ia sempat berpikir tentang surat yang di berikan gadis itu kepada Alan.


"Aku ikut," ucap Delia.


Pagi hari Alan dan Delia bergegas pergi bersama-sama mereka sudah mempersiapkan semuanya.


Cemas dan gelisa memikirkan keadaan Dipa saat itu, dia meminta surat izin pada pihak rumah sakit, untuk menangani pasien Dipa di Bali saat ini.


"Apa Dipa akan pergi secepat ini?" ucap pelan Alan. Hatinya seakan sakit, mendengar gadis kecil yang baru beberapa hari bertemu, sekarang harus masuk ke rumah sakit lagi.


Setelah sampai di bandara, Alan dan Delia menaiki taksi.


"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Dipa," ucap Alan pada Delia.


Akhirnya mereka, sampai di rumah sakit. Namun Alan terlambat, ternyata Dipa sudah meninggal. Arpan menagis tak percaya dengan kenyataan pahit yang menimpa adiknya.


Sisi terus menenangkan Arpan saat itu.


Semua nampak suram, di mata Arpan separuh cinta pada hatinya kini telah meninggalkan dia sendirian di bumi ini.


Alan langsung menyodorkan isi surat yang Dipa berikan pada Alan waktu itu kepada Arpan


Perlahan ia membuka isi surat itu, Membaca setiap baris kata, hatinya semakin rapuh, tak menyangka sang adik akan menyerahkan matanya untuk Sisi.


"Apa kamu sudah ikhlas Arpan?" tanya Alan.


"Mungkin ini yang terbaik di hati Dipa. Aku akan Ikhlas!"


Sisi yang tidak tahu menahu tentang Dipa yang akan mendonorkan matanya, sontak membuat Sisi seakan bingung.


"Si, apa kamu siap?" tanya Arpan saat itu.


"Maksud kamu?" Sisi bertanya balik dia belum paham dengan perkataan Arpan saat itu.


"Dipa, mendonorkan kedua matanya untuk kamu," ucap Arpan. Membuat Sisi kaget.


"Aku harap kamu menerima permintaan terakhir adikku," ucap Arpan. Sisi mengangguk menerima keinginan Dipa saat itu


"Baik lah, kalau memang. Itu kemauan Dipa."


Oprasi pun dimulai, ada rasa tegang menyelimuti Arpan saat itu, dia tak menyangka sang adik begitu peduli padanya.


"Dipa semoga kamu tenang di sana sayang. Kaka akan selalu mendoakan kamu, terimaksih kamu adik kaka yang terbaik," ucap pelan Arpan.

__ADS_1


Delia menepuk bahu Arpan, " Kamu harus semangat."


"Terimakasih Delia."


Menunggu oprasi berjam-jam, membuat Arpan sedikit khuatir ia terus berdoa agar oprasinya berjalan lancar.


Saat itu, Alan keluar dari ruangan oprasi. Ia bernafas lega. Berkata pada Arpan dan Delia. Oprasi berjalan lancar.


Akhirnya. Namun dalam masa pemulihan selama tiga hari baru Sisi bisa melihat.


Menunggu pasien di pindahkan ke ruangan, Arpan tak sabar ingin melihat Sisi bisa melihat. Walau sebenarnya dalam hati masih sakit atas kepergian adiknya.


Menunggu Sisi sadarkan diri dengan mata yang masih di perban, Arpan begitu sabar.


Sampai saat nya Sisi sadarkan diri.


Arpan begitu senang, ia senang bisa merawat Sisi saat itu, rasa cinta terus tumbuh di hati Arpan pada Sisi saat itu. Apalagi setelah melihat Sisi yang sebentar lagi bisa melihat, Alan langsung membuka perlahan perban yang menempel pada mata Sisi.


Secara perlahan, hati Sisi tak sabar ingin melihat indahnya dunia. Perban telah di buka. Matanya mulai membuka secara perlahan, pelan- pelan. Sisi terseyum penuh kenahagian dia bisa melihat lagi.


Arpan melihat bola mata pada Sisi seakan teringat pada Dipa sang adik.


"Arpan," ucap Sisi. Terseyum padanya, apakah kamu Arpan.


Arpan balik terseyum dan mengangguk mengiyakan jawaban Sisi.


"Terimakasih."


Sisi tiba-tiba memeluk Arpan begitu saja. Membuat Arpan tertohol kaget, begitu pun dengan Delia dan juga Alan.


"Ehem ... cie- cie belum mukrim," sindir Delia.


Sisi langsung melepaskan pelukannya pada Arpan.


Meminta maaf. Pipinya memerah, ia menahan rasa malu.


"Si, apa kamu mau menikah denganku," ucap melamar Sisi saat itu.


"Cie dilamar," ucap Delia dan Alan.


Sisi menunduk pandangannya, apa yang akan dia jawab.


Ada rasa ragu pada hatinya, karna dia masih trauma dengan pernikahan-pernikahannya.


"Si, yakin padaku. Aku akan bahagiakan kamu," ucap Arpan. Memegang kedua tangan Sisi saat itu.


"Jawab Si?"


"Ya, jawab?"

__ADS_1


"Aku mencintai kamu Si," ucap Arpan dengan berani menatap raut wajah Sisi saat itu.


"Apa kamu mau menikah denganku?"


__ADS_2