
"Ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan ko sayang, kamu tenang saja, ya," ucap Rudi. Begitu lembut.
"Seperti apa yang aku bayangkan bagaimana, mas. Sudah jelas. Kamu membohongiku," balas Ami.
"Sudah, ya. Jangan bahas lagi," ucap Rudi. Mengepal kedua tangannya, menahan amarah yang semakin menggebu.
Rudi lelaki yang keras kepala dan gampang emosi, dirinya tak pernah berubah, ia selalu tak sabar menghadapi segala hal sekecil apapun itu.
Saat itu Bu Sumyati, mulai mendekati. Mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Rudi. Ami, sebenarnya ibu tadi salah bicara. Mungkin kamu salah paham Ami," ucap Bu Sumyati. Memotong pembicaraan mereka.
Ami membalikkan wajahnya. Seraya berkata,"salah dengar apalagi? Obrolan ibu dan Mas Rudi itu sudah jelas. Terdengar pada kupingku sendiri," hardik Ami. Tampak kesal.
"Sebaiknya kamu tenang dulu. Sayang, kata ibu benar," timpal Rudi.
Belum perkataan Rudi sepenuhnya terlontar, Ami langsung beranjak berdiri," aku bingung, sekarang ayo kita pergi. Mas.aku pusing dalam hidupku saat ini begitu banyak kebohongan yang terasa pada hati dan pikiranku."
Rudi mulai berdiri, ia ingin sekali membentak sang istri, namun Bu Sumyati mendekat kearah anaknya dan berbisik," kamu harus tenang Rudi, jaga emosimu jangan sampai kamu melukai hati istrimu."
Ami berjalan melewati tubuh Rudi dan Bu Sumyati hatinya benar-benar kesal, Ami ingin sekali tahu apa semua yang sudah di tutupi Rudi dan Bu Sumyati, kenapa bisa Amu mengalami rasa sakit pada kepalanya.
"Aku tak tahan lagi, aku harus mencari tahu tentang semua hal yang mencurigakan di rumah ini."
Rudi mulai tenang. Ia berlari menghampiri Ami, "Sayang, tunggu dulu. Kamu mau pergi kemana?"
Ami terus berjalan melewati mobil Rudi, ia menunggu taksi yang lewat," Ami Tolong dengarkan aku dulu."
" Sudah Cukup, aku mendengarkan perkataanmu. Mas. Aku ingin pulang sendiri."
"Ami, please. Cepat masuk ke dalam mobilku."
"Tidak akan, mas."
Setelah taksi berhenti, Ami langsung membuka pintu taksi, menaiki mobil dan menyuruh sang supir menjalankan mesin mobilnya.
Rudi menggedor-gedor kaca mobil, berharap sang istri mendengarkan teriakannya. " Ami."
Ami seakan acuh, hatinya sudah di selimuti rasa kesal. Karna Rudi yang tak mau mengatakan kebenaran.
__ADS_1
Bu Sumayati mendekat ke arah Rudi," sudah nak. Kamu harus tenang. Sekarang kejar istrimu dengan mobilmu ini."
"Baik, bu. Aku akan mengejar Ami."
Bu Sumyati merasa bersalah, sampai ia menangis dan berkata," harusnya aku menjaga ucapannku."
Wanita tua itu membalikan badan, untuk berjalan menuju pintu rumah. Baru beberapa langkah, suara kalakson mobil terdengar, membuat wanita tua itu membalikan wajah menatap ke arah orang yang melaksoni dirinya.
"Pak Gunandi?"
Lelaki tua itu terseyum, ia memakai jas berwarna silver dengan rambut yang tersusun rapi.
"Apa kabar, Bu Sumyati," ucap Pak Gunandi.
Wanita tua itu menutup mulut, masih terdiam. Ia kaget dengan tampilan Pak Gunandi yang begitu rapih. Membuat dirinya tak henti menatap ke tampanan lelaki tua itu.
"Kenapa? Ibu terpesona?" tanya Pak Gunandi.
Bu Sumyati tersipu malu, saat itulah Pak Gunandi bertanya," kemana Dodi?"
Pertanyaan Pak Gunandi membuat Bu Sumyati kembali termenung, ia menundukan kepala.
"Oh, tentu."
Bu Sumyati mengajak Pak Gunandi masuk ke dalam rumah untuk mengobrolkan hal penting.
Saat itulah lelaki tua itu langsung duduk di atas sofa, sedangkan Bu Sumyati beranjak pergi ke dapur. Namun ternyata Pak Gunandi menahan tangan Bu Sumyati agar tidak pergi," cepat ceritakan. Kenapa Dodi tidak terlihat akhir-akhir ini."
Bu Sumyati langsung menurut, ia duduk di pinggir sofa dekat Pak Gunandi, menceritakan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
Pak Gunandi yang mendengar kesedihan Bu Sumyati, langsung menarik nafasnya pelan. Ia mulai menyimpan kembali cincin yang sudah ia beli, dengan alasan untuk melamar sang kekasih hati yang berada di sampingnya.
Pak Gunandi bergumam dalam hati," jika ia melamar wanita yang ia cintai, ketika bersedih dan kehilangan seseorang, pastinya dia akan menolak. Walau apapun itu, dengan alasan hatinya belum siap."
Mengendus kan nafas. Seraya berkata," Kamu harus sabar, ya, apapun itu semua akan baik-baik saja."
" Terima kasih, Pak, sudah menyemangat saya."
" ya sudah, saya tidak butuh waktu lama, saatnya saya pergi."
__ADS_1
Baru beberapa langkah Pak Gunandi pergi, menuju abang pintu luar, telepon berbunyi pada ponsel Bu Sumyati. Di mana wanita tua tersenyum senang, ternyata Dodi menelepon Ibu Sumyati dengan video call dirinya Tengah tersenyum bahagia."
" Dodi, kamu Nak."
"Hallo nenek."
Pak Gunandi yang penasaran langsung menghampiri Bu Sumyati, melihat wajah Dodi yang berada pada ponsel vidio call.
" Kenapa kamu pergi, tanpa izin?" tanya Pak Dokter. Menapilkan wajah sedihnya pada Dodi.
"Bapak dokter. Halo. Ternyata bapak ada di sana!" jawab Dodi. Wajahnya tampak gembira sekali, setelah melihat kesedihan terpancar pada lelaki tua itu..
"Bapak di sini rindu, ingin bertemu sama kamu. Tapi kamu sudah pergi tanpa izin dari bapak," ucap Pak dokter.
"Hehe. Maafkan Dodi, ya. Pak dokter, Dodi terburu-buru lupa memberi tahu pak dokter mau pergi," balas Dodi dengan wajah polosnya.
Bu Sumyati sangat senang, melihat ke akraban cucunya dengan Pak Gunandi. Tawa terdengar membuat rasa sakit hilang perlahan. Bu Sumyati melihat Dodi seakan bahagi bersama Alan dan Delia.
"Pak dokter apa kabar, Dodi rindu sama bapak," ucap Dodi.
Kedua mata lelaki tua itu tampak berkaca-kaca, ia rindu dengan senyuman Dodi yang selalu membuat hatinya tenang.
"Kabar bapak baik, bapak dokter di sini juga rindu sama kamu Dodi, cepat pulang," pinta Pak Dokter.
"Pak Dokter, maafin Dodi selama ini, kalau Dodi suka nakal dan lagi maafin Dodi, Dodi tidak bisa pulang dulu ke sana. Soalnya Dodi sudah senang di sini bersama tante Delia dan juga om Alan, jadi nenek dan kakek. Jangan sedih, Oh ya Gimana Pak Dokter sudah melamar nenekku," ucap Dodi tampak merayu pada video call, membuat kedua Insan itu menampilkan pipimu merah merona mereka.
" Cie cie sepertinya bentar lagi ada yang nikah," Goda Dodi.
Bu Sumyati langsung mebantah omongan Dodi," kamu ngomong apa sih, Nak. nikah nikah nenek ini disini kangen sama kamu. Boro-boro mikirin nikah, nenek rindu sangat, pengen ketemu sama kamu."
"Nenek tak usah kuatir, di sini Dodi bahagia. Jangan rindu ya. Nek. Sebentar lagi kan nenek ada temennya."
Bu Sumyati membulatkan kedua matanya," maksud kamu, nak."
"Kan ada pak dokter nanti, nemenin nenek di rumah. Jadi nenek tak perlu di temani Dodi lagi."
"Dodi kamu ini."
"Ahk, nenek malu-malu. Cie .... cie ...."
__ADS_1