
Pertemuan itu mulai ter Papang di depan mata Pak Gunandi bertemu dengan Rudi dan juga Ami, Rudi menampilkan seyuman ramah untuk pak dokter yang datang.
Sedangkan Ami masih tertidur di ranjang kasur rumah sakit, Dodi menarik lengan tangan Pak Gunandi untuk berhadapan dengan Rudi.
"Pah, kenalin. Ini pak dokter, kake baru Dodi," ucap Dodi. Sontak Bu Sumyati terkejut saat cucunya berkata seperti itu, bocah kecil itu melirik pada sang nenek mengedipkan satu mata sebelah kirinya.
Sang nenek merasa malu karena cucunya bertingkah seperti itu, kedua bola mata Bu Sumyati membulat. membuat Dodi terseyum pelan.
Pak Gunandi menyodorkan tangan kanannya, mulai mengenalkan dirinya kepada Rudi. Saat itulah Rudi mulai berdiri menjabat tangan Pak Gunandi dan berkata," saya Rudi, papahnya Dodi."
Pak Gunandi bertanya kepada Rudi tentang penyakit Ami yang sebenarnya, saat itulah Rudi mulai menceritakan tentang penyakit yang diderita istrinya kepada Pak Gunadi.
Membuat Pak Gunandi dengan beraninya memberi saran oprasi, Rudi yang mendengar perkataan Pak Gunandi sedikit ragu.
"Kamu ragu kan?" tanya Pak Gunandi.
Rudi menganggukan kepala dan beriata," bukan begitu, istri saya sudah lama seperti ini. Saya tak yakin dengam oprasi yang kedua kalinya.
Pak Gunandi mulai memikirkan cara, agar Ami sembuh bukan dengan jalan oprasi.
Tiba-tiba salah satu perawat datang, mencari Pak Gunandi untuk segera menangani satu mayat yang datang karena korban kecelakaan.
Saat itulah Pak Gunandi, berpamit untuk pergi kepada Dodi dan juga Rudi. Begitu juga dengan Bu Sumyati.
Setelah Pak Gunandi keluar dari ruangan Ami, Bu sumyati tampak terseyum-seyum sendiri.
Dodi yang melihat tingkah neneknya langsung merayu sang nenek dengan berkata," cie nenek bahagia ni."
Bu Sumyati tampak malu, ia langsung mencubit pipi cucunya.
Rudi yang menyadari bahwa sang Ibu Tengah jatuh cinta menyindir wanita tua itu," sepertinya ada hati yang tengah berbunga-bunga di ruangan ini."
Sontak Bu Sumyati langsung melirik ke arah Rudi dan berkata," Maksud kamu, Rudi?"
Sang anak laki-lakinya malah berpura-pura batuk, berbeda dengan Dodi yang malah tersenyum kecil dengan telapak tangan yang menutup mulutnya.
__ADS_1
" Sudahlah Ibu mau pulang dulu ke rumah, Oh ya Dodi kamu mau ikut pulang ke rumah sama Nenek tidak?"
Dodi berpikir sejenak, Jari tangannya mulai mengetuk-ngetuk kepala dan berkata," kalau nenek pulang nanti Pak Dokter kesepian dong."
"Dodi."
Semua tertawa terbahak-bahak, mereka seakan puas mengerjai sang nenek yang sudah lama tak merasakan rasa cinta dari seorang lelaki.
" Ya sudah kalau kamu nggak mau ikut nenek pulang sekarang, nanti nenek suruh pak supir datang ke sini jemput kamu ya Dodi."
Dodi hanya mengangguk-anggukan kepala mengiyakan perkataan sang nenek.
Rudi dengan sengaja menarik lengan tangan anaknya, ia membisikkan sesuatu kepada Dodi membuat sang nenek menjadi penasaran.
" Kalian lagi ngomongin nenek ya? Ayo jawab," desak sang nenek.
"Ih, nenek geer. Siapa yang lagi ngomongin nenek!" jawab Dodi.
" Ya sudah, nenek mau pulang dulu, ya. Kamu baik-baik di sini, jangan nakal Dodi."
*********
Bu Sumyati terus berjalan melewati setiap ruangan rumah sakit, tiba-tiba saja sang dokter berlari tergesa-gesa. Tanpa sengaja menabrak Bu Sumyati yang tengah berjalan.
Untung saja tubuh Bu Sumyati tertahan oleh sang dokter, kedua mata Bu Sumyati yang kaget tertutup sampai pada akhirnya dokter itu bertanya," apa ibu tidak kenapa-napa."
Kedua mata Bu Sumyati mulai terbuka, wanita tua itu menatap. Siapa orang yang sudah menolongnya.
ternyata dia adalah Pak Gunandi, senyuman Pak dokter itu membuat kedua pipi Bu Sumyati mamerah. Iya sangatlah malu.
Semua orang mulai menatap mereka berdua, saling membisikan satu sama lain, sampai saatnya Bu Sumyati sadar dan melepaskan pelukan sang dokter dari tubuhnya.
"Oh, maaf dokter. Saya ....,"
Teriakan para perawat membuat Pak Gunandi tersenyum kecil sembari menundukkan wajah. Lelaki tua itu seakan malu karena para perawat bersorak seakan senang melihat Pak Gunandi yang tersenyum begitu bahagia.
__ADS_1
"Hem, cie. Kayanya ada yang berakhir ni, masa jomblonya."
Sindiran para perawat membuat Bu Sumyati benar-benar malu. Wanita tua itu, mulai berpamitan untuk segera pulang kepada Pak Gunandi," saya permisi dulu ya Pak, mau pulang."
Saat itulah Pak Gunandi, mulai menarik pelan lengan tangan Bu Sumyati, yang membuat para perawat semakin senang dengan apa yang mereka lihat, dengan tingkah Pak Gunandi yang seperti itu.
" Maaf Bu Sumyati. Bolehkah saya minta nomor ponsel, ibu."
Hati Ibu Sumyati seakan tak karuan, baru pertama kali ada seorang lelaki yang meminta nomornya ponselnya. Karena sudah lama sekali ia tak pernah merasakan rasanya dekat dengan lelaki, apalagi lelaki itu langsung meminta nomor ponselnya.
"Kasih aja Bu."
"Iya kasih aja kasihan, biar jomblo Pak Gunandi berakhir."
Teriakan para perawat membuat Bu Sumyati semakin malu.
"Gimana bu? Boleh saya meminta nomor ponsel, Ibu?"
Tanya Pak Gunandi, terseyum ramah.
Semua perawat benar-benar menyukai Pak Gunandi dan Bu Sumyati bersatu. Mereka senang karena Pak dokter yang terlihat jutek, dingin dan jarang ngobrol. Sekarang bisa tersenyum. Tertawa dan bercanda, setelah bertemu dengan Bu Sumyati.
Dengan hati yang berdebar dan tangan yang terus bergetar, Bu Sumyati menganggukan kepala berkata dengan lebut." Tentu saja boleh Pak!"
Semua perawat bersorak senang, mereka seakan menemukan sesuatu yang membuat mereka bahagia. Begitupun dengan Pak Gunandi, keinginannya untuk memiliki seorang kekasih, terwujud sudah. Walau belum tentu Bu Sumyati mau menerima cintanya, yang baru saja tumbuh dari hati lelaki tua itu.
Saat itu Bu Sumyati memberikan nomor ponselnya, menunjukkan kepada Pak Gunandi.
" Ini Pak nomor ponsel saya." Dengan sigap Lelaki tua itu, merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan langsung mengetik nomor telepon Bu Sumyati.
Senang bukan kepalang, yang dirasakan Pak Gunandi saat itu. Apakah ini akhir dari kesepiannya atau apakah ini akhir dari kesedihannya. Pak Gunandi seakan merasakan rasa kenyamanan pada keluarga Dodi, anak kecil yang baru saja bertemu dengan dirinya seharian ini. Bagaimana tidak, anak itu terus mengeluh kepada Pak Gunandi, yang memang Pak Gunandi juga merasakan rasa kesepian dan rasa sakit hati, ketika salah satu keluarga meninggal apalagi dengan Dodi yang mengeluh akan ibunya yang tak mengenal dirinya.
Jika mengingat diri Dodi sang ibu malah kesakitan, meronta-ronta seakan semua menjadi penderitaan bagi sang ibu yang tak lain adalah Ami.
Dari sana Pak Gunandi tahu, bahwa bukan dirinya saja yang mengalami rasa sedih, kekecewaan. Tapi orang lain pun sama.
__ADS_1