
Kini Sisi mulai menyamar menjadi seorang pemulung, begitupun dengan Rudi. Mereka mulai mengotori diri mereka dengan tanah, merobek sedikit baju dan juga celana. Agar penampilan mereka tak diketahui para pengawas.
Penampilan mereka begitu Kotor dan juga bau, sang sopir taksi hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua penumpangnya. Dirinya tak berani mengomentari penampilan Rudi dan Sisi.
Karena sang sopir sudah diberi uang tutup mulut yang lumayan sangat besar dari Rudi.
Kini Rudi dan Sisi mulai turun dari mobil, berpura-pura membawa kresek bekas untuk berjalan ke arah gedung Besar dan kumuh itu.
“Kamu sudah siap, Si?” tanya Rudi yang berada di samping pintu mobil. Kini Rudi mulai menutup pintu taksi secara perlahan.
Sisi yang dari tadi turun ketika menatap ke arah ke Rudi, ia mulai menjawab ucapan Rudi, tapi tiba-tiba saja ucapan itu menjadi sebuah tawa dari Sisi.
. Di mana Sisi melihat penampilan Rudi yang begitu, kumel, bau dan berantakan. Sisi tak berhenti tertawa terbahak-bahak. Sampai ia melihat pada kaca mobil penampilan dirinya.
“Astaga Rudi, penampilanku,” ucap Sisi memegang kedua pipinya. Menatap pada kaca mobil.
Saat itulah Rudi mulai menarik bahu Sisi, agar berhadapan dengannya. Tapi saat Sisi berhadapan dengan Rudi, Sisi malah tertawa begitu keras membuat Rudi langsung mendorong wajah dan berkata.” Hussst, tahan tawamu atau kamu mau orang-orang yang berjaga di sana mencurigai gerak gerik kita.”
Dengan Sigap Sisi langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, berusaha menahan tawa dan Tetap tenang Walau sebenarnya, ia tak bisa.
Karena wajah Rudi yang begitu lucu.
“Baik Rud, akan aku usahakan.” Balas Sisi dengan menggigit bibir bawahnya.
Sebelum berjalan ke arah gedung kumuh itu, Rudi berkata kepada sopir yang berada di dalam taksi. Agar menunggunya.
Rudi berharap terjadi sesuatu sang supir dengan Sigap menelepon polisi, pada saat itulah supir taksi mulai menganggukan kepala mengerti apa yang dikatakan Rudi.
“Baik pak, hati-hati.”
Rudi berusaha percaya pada Supir itu, walau Sopir itu baru ia kenal. Tapi bagi Rudi Sopir itu dapat dipercaya karena ucapannya yang sangat meyakinkan.
Perlahan mereka mulai melangkah kan kaki mendekat ke arah gedung kumuh itu, melihat para penjaga berotot besar tengah bersantai di depan gedung. Terlihat mereka tengah menikmati kopi hangat di siang hari.
Kopi hangat yang masih memperlihatkan asap yang mengepul.
Di pertengahan perjalanan Sisi mulai berucap pada Rudi dengan nada pelan,” Rudi. Apa sopir itu bisa kita percaya?”
__ADS_1
Tanya Sisi dengan keraguan hati yang tak yakin, karena dengan semudah itu Rudi memberikan sebuah kepercayaan kepada Sopir itu. Padahal Sopir itu bukan siapa-siapa mereka, hanya orang asing yang baru saja mereka kenal.
“Sudah jangan pikirkan sopir itu, aku percaya bahwa dia pasti dapat di percaya,” balas Rudi dengan begitu tenangnya membalas ucapan Sisi.
Walau sebenarnya hati Rudi juga tak yakin dengan supir yang baru ia kenal, tapi harus bagaimana lagi ini jalan satu-satunya agar bisa masuk ke dalam gedung kumuh itu.
Di mana Rudi dan Sisi bisa menyelamatkan Arpan tanpa harus menaruhkan nyawa kepada mereka.
Jika Rudi gegabah sedikit saja, mungkin dirinya bisa saja terperangkap dalam jebakan para penjaga di gedung itu.
Jika ia terjebak dalam gedung kumuh itu bersama Sisi dan juga Arpan. Bagaimana nanti asik Ami yang masih menunggu kedatangan sang anak yang tak lain ialah Dodi.
Setelah sampai di depan gedung kumuh itu, Rudi dan Sisi berpura-pura memulung botol bekas yang tak jauh dari hadapan mereka.
Terlihat wajah wajah menyeramkan mereka dan otot-otot besar yang mereka punya, membuat visi bergidik ngeri. Bagaimana kalau tangan mereka memukul pipi Sisi, mungkin Sisi sudah babak belur saat itu juga.
Saat mereka asyik pemulung botol bekas, tidak ada rasa curiga pada hati para pengawas yang tengah berjaga di depan gedung sembari menikmati kopi. Mereka bersikap Acuh ketika melihat Rudi dan Sisi fokus memulung botol bekas yang mereka lemparkan.
Sampai dimana salah satu penjaga menatap ke arah wajah Sisi, Iya mengusap-ngusap kasar dagunya melihat body Sisi yang terlihat sedikit menggoda.
Tapi Rudi mulai menenangkannya dengan berbisik,” kamu harus tenang.”
“Baik Rud.”
Dan benar saja baru beberapa menit Sisi memulung di depan para pengawas berotot itu, salah satu dari mereka memanggil Sisi,” He, kamu mau botol bekas yang banyak?” tanya lelaki berotot dengan wajah garang, menawarkan botol bekas pada sisi.
Siti hanya bisa menganggukan kepala berpura-pura menjadi seorang yang polos.
Lelaki berotot itu berdiri Melambaikan tangan agar Sisi mau mengikuti dirinya masuk ke dalam gedung kumuh itu.
Salah satu teman lelaki itu langsung memanggil sahabatnya dengan memegang botol yang terlihat botol itu adalah alkohol.
“ Eh, lu mau ke mana. Kenapa mengajak cewek kumel itu.”
“Berisik lu, suka-suka gue.”
Sisi yang mulai ketakutan kini memegang lengan Rudi menarik baju Rudi Seraya berbisik,” Rud. Aku takut.”
__ADS_1
“Tenang kamu tak usah takut, kamu ambil ini saja.”
Rudi memberikan pecahan beling kepada Sisi, agar sewaktu-waktu jika lelaki berotot itu macam-macam kepada. Sisi bisa memberontak dengan menggunakan pecahan beling yang begitu tajam pada wajah atau perutnya.
“Kamu pintar akting. Gunakan aktingmu yang dulu, anggap saja Sisi yang sekarang hilang di ganti dengan Sisi yang dulu berani.”
Perkataan Rudi membuat Sisi yakin, pada saat itulah Sisi mulai mengikuti lelaki berotot itu ke dalam gedung.
Lelaki berotot itu mengajak masuk Sisi ke dalam gedung yang sangat gelap, membuat Sisi bersiap-siap memegang pecahan beling agar sewaktu-waktu. Jika lelaki berotot itu macam-macam Sisi bisa menusuknya.
Kini gedung yang gelap, menjadi terang saat lelaki berotot itu menyalakan lampu.
“Ayo cantik, cepat mandi nanti kita bersenang-senang,” ucap lelaki berotot itu menujukan kamar mandi, yang begitu rapi.
Ternyata gedung kumuh itu hanya terlihat kumuh di depannya saja, tapi di dalam begitu terlihat mewah. Membuat Sisi melongo.
“Ayo cantik.”
Sisi mulai menurut untuk masuk ke dalam kamar mandi, pecahan beling masih ia pegang. Dengan erat. Lelaki itu memberikan satu helai handuk kepada Sisi.
Namun Sisi berusaha bertanya dengan bertele-tele,” di mana botol bekasnya?”
“Kamu tak usah kuatir, botol bekasnya nanti aku siapkan setelah kamu mandi!”
Tawa kecil terlihat dari wajah sanggar lelaki berotot itu, terlihat niat busuknya oleh Sisi.
Sisi kini berpura-pura menyalahkan air agar lelaki berotot itu percaya bahwa dirinya tengah mandi.
Saat itu lelaki itu berteriak,” jangan lama- lama mandinya cantik. Aku sudah tak kuat.”
Sisi mencabik bibir kesal, ia mulai mengelabui lelaki berotot itu.
“Belum tahu siapa aku ini.”
Ketukan pintu terdengar beberapa kali, membuat Sisi yang mendengar langsung berteriak.
“Aku baru buka baju, tunggu sebentar.”
__ADS_1