
Saat itu wanita berhidung macung itu segera, membasuh wajah hitamnya, tapi ternyata warna hitamnya tak hilang-hilang. Sudah beberapa kali Arsyla membilas wajah hitamnya dengan air dengan pencuci sabun semua hampir dia gunakan tapi tak kunjung hilang juga. Dengan keadaan kesal, Arsyla hampir saja membuat wajah cantiknya terluka.
"Ya ampun, ini kenapa enggak ilang-ilang sih, sudah berapa kali aku bilas tapi tetap saja. Ahkk kesal."
Rasanya Arsyla ingin membantingkan semua gelas di hadapannya agar perasaan kesalnya hilang.
Mencoba menahan dengan sekuat tenaga, amarah yang menggebu semakin besar membuat otak nya seakan mendidih seketika.
Panas, rasanya. Urat-urat tubuh mulai keluar apalagi dari rahangnya," Ahk. Pasti ini kerjaan si Sisi itu, enggak nyangka ternyata dia lebih cerdik dari pada apa yang aku kira. Aku harus berhati-hati."
"Ini belum selesai karna aku sudah membuat kejahilan yang akan membuat si Sisi itu di marahi oleh Arpan habis-habisan. Tunggu saja saat ini."
"Arsyla, Arsyla." Teriak sang ibu kepada anaknya.
Arsyla yang mendengar teriakan sang ibu bergegas menghampiri Bu Ira.
"Ada apa sih, ibu teriak-teriak?" tanya Arsyla.
"Ayo kamu mau ikut enggak?" tanya sang ibu, yang sudah berdandan rapih. Begitu terlihat cantik dan sempurna, walau pun Bu Ira sudah tua jika ia berdandan wajahnya terlihat seperti muda.
"Mau kemana ibu dandan cantik begini?" tanya Arsyla. Menatap sang ibu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kita mau jalan-jalan Arpan sudah menyiapkan hotel dan makanan untuk kita di sana!" jawab sang ibu.
"Loh, terus makanan yang sudah ibu siapkan di meja makan. Gimana itu sayang kan mubajir kalau enggak di makan?" tanya Arsyla. Menggigit jari jempol tangannya.
Bu Ira, mengkerukan jidatnya. " Sejak kapan kamu perduli pada makanan. Biasanya kamu suka masa bodo mau di buang atau tidak."
"Emh, anu ... Arsyla ...."
Belum menjawab Sisi datang dengan memakai pakaian yang sudah begitu rapih.
"Apa kalian sudah siap, oh ya kita akan menemui tamu di sana. Jadi yang rapih ya," ucap Sisi. Pada Bu Ira.
Sial, berarti rencanaku gagal. Kenapa sih ada acara keluar segala, coba kalau enggak ada mungkin nanti akan seru dan heboh. Aku kan bisa tertawa terbahak-bahak, gumam hati Arsyla.
__ADS_1
"Loh, ko kamu melamun Arsyla ayo." Bu Ira memukul pelan bahu anaknya. Membuat Arsyla terbangun dari lamunannya.
"Ibu bikin kaget aja!"
"Ya, sudah ayo cepat-cepat bersiap-siap."
Saat itu Arsyla bersiap-siap untuk berdandan dan memilih baju untuk pergi.
Ketika Bu Ira sudah berada di luar dan naik ke dalam mobil, Sisi keluar dari rumah.
Bu Ira bingung kemana anaknya kenapa belum ke luar juga. Karna barusan Arsyla berkata pada sang ibu akan ikut bersama.
"Yu pah, kita berangkat," ucap Sisi. Di dalam mobil.
Bu Ira heran karna Arsyla belum ke luar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.
"Arsyla kemana ya?" tanya Bu Ira.
"Loh, bukanya tadi bersama ibu. Apa mungkin Arsyla enggak mau ikut!" jawab Sisi berlaga sok lugu dan pura-pura tak tahu.
Saat itulah Arpan menyalakan mesin mobil dan bergegas untuk berangkat pergi.
*********
Di dalam rumah Arsyla masih memilih-milih baju untuk ia kenakan, dan sudah lama baru ia menemukan baju yang menurut Arsyla cocok di tubuhnya.
Setelah selesai berdandan Arsyla keluar kamar, mencari sang ibu dan berteriak.
"Ibu, ibu. Loh ibu kemana ya ko enggak ada?"
Arsyla terus mencari keberadaan Bu Ira tapi tak kunjung ketemu pada akhirnya dia melihat ke luar ternyata mobil Arpan sudah tidak ada Arsyla kesal. Gadis berhidung mancung itu membuka pintu luar.
"Ternyata mereka meninggalkan aku di rumah sendirian, gila aku sudah di kerjain beberapa kali."
Mengusap kasar wajahnya, Arsyla seperti orang gila yang luntang lantung ke sana kemari karna di tinggal pergi, badannya terasa lemas. Dari sore dia belum makan. Saat itu Arsyla mencari makanan di kulkas, ternyata tidak ada apa-apa. Hanya air minum saja.
__ADS_1
"Kemana semua makanan di kulkas, biasanya banyak sekali di kulkas ini. Tapi sekarang ko enggak ada?"
Rasanya Arsyla ingin mati, karna semua makanan di rumah Sisi tidak ada. Arsyla menghampiri meja makan, ia baru ingat ibu dan Sisi masak makanan banyak ia bisa menikmati semuanya.
Saat mencolek beberapa sup, satu cikcak ia berhasil tersiuk. Ia lupa bahwa semua makanan sudah ia kasih cikcak untuk mengerjai Arpan, saat cikcak ketemu oleh Arpan pasti bakal ada keributan dalam rumah ini.
"Ahk, apes sekali hidupmu Arsyla. Bagaimana ini, perutku sudah kerocongan lagi, mana aku tidak memegang uang seperserpun." Gerutu Arsyla.
Hatinya benar-benar kesal saat itu, semua berbalik arah pada dirinya, ingin mengerjai Sisi dan Arpan. Malah dirinya sendiri yang terkena dampaknya.
"Ibu aku kelaparan." Teriak Arsyla menggenggam perutnya yang keroncongan.
*******
Berbeda dengan Sisi dan Arpan. Mereka begitu bahagia bisa makan bersama menikmati masakan Restoran ternama.
"Makasihnya sudah ajak ibu kesini," ucap Bu Ira.
"Kenapa harus berterimakasih bu. Harusnya Sisi yang berterimakasih sama ibu karna ibu yang selalu bantu Sisi di rumah saat Sisi sedang sibuk. Jadi ini balasan Sisi buat ibu, biar ibu merasakan makanan luar," jawab Sisi mengelus bahu Bu Ira.
Begitu bahagia acara makan-makan yang di gelar oleh Arpan saat itu, Sisi merasa puas. Ia sudah tahu rencana Arsyla saat itu. Karna Sisi dan Arpan yang melihat Sisi yang sudah memasukan sesuatu ke dalam masakan Sisi dan Bu Ira.
Biarkan Arsyla mendapatkan pelajaran, dia pantas agar dia sadar dari kesalahannya. Gumam hati Sisi.
"Gimana, kalau setelah ini kita shoping," ajak Arpan pada sang istri dan juga Bu Ira.
"Wah, seru dong pah. Ya mau lah!" jawab Sisi terseyum bahagia. Rasa senangnya bertambah lagi, begitu pun dengan Bu Ira sudah lama wanita tua itu belum merasakan yang namanya shoping dan berbelaja apa yang ia mau.
"Kenapa ibu melamun, ayo makannya. Setelah ini Arpan akan ngajak kita shoping bu," ucap Sisi merangkul tangan Bu Ira.
"Arpan, apa kamu tidak keberatan ibu hanya numpang di rumah kamu?" tanya Bu Ira, Arpan terseyum seraya menjawab," Bu Ira. Jangan bicara begitu lagi, Arpan tidak akan keberatan ko. Kita ini kan saudara, mana mungkin Arpan harus keberatan."
Bu Ira mulai mengeluarkan air mata, saat itulah Sisi mengusap pelan dengan tisu. "kenapa Bu Ira menagis. Kami senang ibu berada di sisi kami."
"Terimaksih Arpan, Sisi."
__ADS_1