
#Istriku Kumel
Rahasia di balik istriku yang kumel.
"Ups aku lupa, Ami kan gak bisa melihat," bisik wanita berwajah bulat itu pada telinga Rudi.
Ami meraba di setiap dingding menghampiri sang suami. Dan berucap." Vidio apa, Pah?"
Rudi membalikan badan megelus kepala sang istri seraya berkata." Bukan vidi ..."
"Sudah lah Ami, menyerah saja. Dasar wanita miskin." timpal ibu mertua menghentikan perkataan anaknya sendiri.
"Ibu jaga mulut ibu, asal ibu tau. Ami itu tak miskin," Rudi menghampiri sang ibu dengan deraian air mata. Ada rasa sesak di dada, saat Rudi menunjuk-nunjuk sang ibu.
"Maksud kamu apa Rudi."
Seseorang datang dari pintu luar menghentikan obrolan mereka seketika.
"Pak Hendra." wajah Sisi seketika pucat, melihat Pak Hendra ada disana, menghentikan obrolan mereka.
"Ami, apa kabar sayang."
"Om Hendra," pelukan Ami seketika mendengar suara Pak Hendra ialah paman Ami.
"Tumben om ke sini." seyum Ami merekah melihat pamannya yang tiba-tiba datang.
Seorang paman memberikan sebuah berkas yang harus di terima keponakanya.
"Ini apa om?" tanya Ami meraba-raba berkas itu.
"Itu semua milik kamu Am, perusahaan. Dan tanah semua sudah jatuh pada kamu."
"Apa maksud kalian." timpal ibu mertua Ami menghampiri percakapan di antara paman dan keponakan.
"Ibu seharusnya tau, bahwa Ami yang membuat Rudi sukses sampai sekarang. Dan kita tak lebih hanya numpang hidup dari kekayaan Ami," ucap Rudi menghampiri sang ibu dengan tatapan kesal.
"Jadi." tubuh wanita tua itu terkulai jatuh, menagis seakan tak percaya apa yang di katakan Rudi.
Ibu mertua mengesot-ngesot kedua kakinya, menghampiri Ami yang tengah berdiri.
"Maafkan ibu Am." Deraian tagis sang mertua terdengar sayu. Sembari memegang kedua betis menantunya itu.
"Ibu berdiri lah tak harus ibu bersimpul di kaki Ami, yang harusnya bersimpul itu Ami bukan ibu. Dari dulu Ami sudah memaafkan ibu, sebelum ibu minta maaf juga. Bagaimana pun ibu adalah penganti orang tua ku yang sudah tiada."
Ami meraih bahu mertuanya dengan kedua tangan, agar sang mertua berdiri.
Ami langsung memeluk ibu Rudi dengan deraian air mata.
"Terimakasih nak."
Rudi menyaksikan pemandangan yang ia tonton saat itu, membuat air matanya ke luar.
__ADS_1
Berbeda dengan Sisi yang pergi dengan mengendap-ngendap ke luar dari rumah Rudi dan Ami.
Wanita berwajah bulat itu berlari.
Hingga sandal hing heels yang ia kenakan tiba-tiba patah.
Saking paniknya ia berlari dengan keadaan sandal patah sebelah.
Hingga wanita berwajah bulat itu, berhenti dia area taman.
Dimana ia tengah mengobati kakinya yang terluka.
*******
Sampai saatnya.
"Apa perlu bantuan?" Seketika Sisi menatap ke arah sumber suara itu.
Ternyata Pak Hendra yang dari tadi mengikuti setiap langkahnya.
"Sudah puas, kamu sudah membuat aku malu di depan ibu Rudi." Wanita berwajah bulat itu menunjuk dada lelaki tua yang berdiri berhadapan dengannya.
Pak Hendra tertawa seaka dia yang telah memenangkan semua ini.
"Jadi," tangan tua bangka itu mulai meraih setiap rambut Sisi.
"Jangan pernah pegang rambutku. Aku jijik dan muak melihat lelaki tua sepertimu."
Tamparan melayang pada pipi kiri wanita berwajah bulat itu.
Tapi, wanita berwajah bulat itu berhasil ke kabur dari genggamaan tua bangka itu.
Sisi berlari hingga ia tak melihat jalan saking paniknya dan takut.
Dan Brug ...
"Sisi, ngapain loe lari-lari," ucap lelaki yang tak sengaja menabrak badan wanita berwajah bulat itu, sesaat ia menegok lelaki itu dan ternyata.
"Luky, luky plis loe bantu gue sekarang." Tangan Sisi menarik paksa Luky agar dia mau membantu Sisi lari dari Pak Hendra.
Nafas terengah-engah, membuat wanita berwajah bulat, itu menampilkan belahan dadanya yang berkucuran keringat.
Mata Luky, melirik, melihat apa yang dia lihat, Seakan membuat hasratnya naik.
Ini kesempatan gue buat bawa dia ke Hotel. gumam Luky dalam hati.
"Aduh, luky. Loe malah ngelamun bisa bantu gue gak. Sudah tau genting, ayo."
"Asal ada imbalannya dong," Pria bertubuh gendut itu mengusap-ngusap dagunya dengan mata yang masih memandang lekat pada belahan dada wanita berwajah bulat itu.
"Apa pun yang loe minta gue kasih!" dengan nafas terengah-engah, mereka pun masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Ketika di dalam mobil.
"Elo kenapa sih, lari-lari gitu. Kaya di kejar maling ajah," tawa lelaki bertubuh gendut itu begitu nyaring. Membuat Sisi mencubit gumpalan lemak yang ada di tubuhnya.
"Aw, sakit Si. Sensi bener loe."
"Makanya jangan iseng jadi orang." Sisi membulatkan matanya, membuat Lelaki bertubuh gendut itu sedikit menjulur kan lidahnya, seakan ingin menikmati seksinya tubuh Sisi.
"Kemana kita sekarang, ke hotel. Atau ... ?"
"Kalau loe sampe macem-macem sama gue, Burung loe gue potong. Mau?"
Luky seketika mengusap mulutnya, menahan air liur dengan rasa takut.
Hasratnya buyar seketika, Sisi tak bisa memberika tubuhnya kesembarang orang, kalau bukan karna terpaksa
Luky langsung mengantarkan Sisi ke rumahnya, agar dia menginap sementara di sana.
Melihat Rumah Luky yang terbilang besar, tak membuat wanita berwajah bulat itu tertarik.
Yang dia inginkan adalah Rudi, Suami dari Ami. Berdada bidang, berkulit putih dan juga tampan.
Karna kesempatan untuk mendapatkan Ami lebih mudah, karna Ami bisa saja mati tiba-tiba.
"Mah, kenalkan ini Sisi teman kantor papah." Luky meperkenalkan wanita berwajah bulat itu pada istrinya.
Melihat pemandangan itu, membuat Sisi sedikit berkata." Luky, dia lelaki bertubuh gendut dan tak juga tampan. Mempunyai keluarga. Tapi tetap saja berselingkuh di belakang istrinya, Benar-benar lelaki buaya." perktaannya hanya terlontar di hati saja.
"Jangan bilang-bilang gue suka ngegoda cewek di kantor yah." Bisik Luky pada telinga wanita berwajah bulat itu.
"Dasar buaya Loe."
*********
Berbeda dengan Pak Hendra yang terus mencari keberadaan Sisi.
"Kemana kamu Sisi, bagaimana pun kamu harus aku dapatkan."
Seyum Pak Hendra menyeringai, ia begitu terobsesi pada wanita berwajah bulat itu. Tak lain adalah Sisi.
"Aku tak mau kamu menghancurkan, rumah tangga keponkanku. Biar aku hancurkan saja dirimu Sisi."
Kedua tangan Pak Hendra mengepal. Kesal, karna tak menemukan dimana keberadaan wanita berwajah bulat itu.
Hingga ia benar-benar bisa kabur begitu saja.
"Papah sedang apa, Papah di sini," ucap lelaki yang tiba-tiba menghampiri Pak Hendra tak lain ia adalah anaknya Alan.
Wajah Pak Hendra seketika pucat, takut Alan mengetahui, bahwa Pak Hendra sedang mengejar Sisi.
"Tadi papah, ketemu orang. Yang papah kenal tapi dia pergi begitu saja."
__ADS_1
"Aneh."
Raut wajah Alan sedikit curiga dengan gerak gerik papahnya sendiri.