Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 69 Siapa yang datang.


__ADS_3

Alan segera membuka pintu rumahnya melihat siapa orang yang datang tiba-tiba. Membuka perlahan pintu itu, ternyata hanya kurir pengantar makanan saja.


"Maaf pak, ini pesanan makanannya," ucap pengantar makanan itu. Menyodorkan kepada Alan.


"Oh, ya. Terimakasih!"


Sebuah makanan seperti pizza dan juga minuman bersoda membuat Delia seakan bahagia. Karna itu lah makanan yang ditunggu-tunggu oleh Delia.


Sosok Alan sungguh perhatian, dia tidak melarang makanan apapun untuk istrinya yang terpenting tidak berlebihan.


Sisi mengendus-ngedus, harum pizza membuat hidungnya tergoda. Seakan lidah ingin merasakan makanan itu. Mereka duduk berdua untuk segera menikmati pizza yang telah di pesan Alan tadi pagi.


"Oh, ya. Emak Sisi mau pizza?" tanya Delia menawarkan pizza itu pada Sisi.


Ada rasa ragu dalam hati Sisi, karna bisa jadi Sisi akan di kerjai habis-habisan melalui makanan yang di tawarkan Delia.


"Aku tidak mau," tolak Sisi dengan berlalu pergi meninggalkan Alan dan juga Delia.


"Sayang banget Mak Lampir itu gak makan pizza, padahal ini enak banget ya, sayang," ucap Delia. Pada suaminya. Alan terseyum tipis, mengelus kepala Delia.


"Mungkin dia takut kita kerjain, jadi nolak tuh!" jawab Alan. Membuat Delia tertawa terbahak-bahak.


Di saat itu Sisi, merebahkan tubuhnya. Merasakan perut yang semakin keroncongan. Wanita berwajah bulat itu terus menahan perutnya, tapi malah membuat Sisi seakan lemas tak berdaya.


Malam hari dimana Sisi berjalan memakai tongkat yang di belikan oleh Delia saat itu. Dia berusaha pergi ke dapur mencari makanan, meraba-raba. Tapi tak ada apapun.


" Emak Sisi, kamu kenapa?" tanya Delia. Melihat Sisi meraba-raba meja makan.


"Aku lapar, kamu tahu kan. Aku belum makan dari tadi pagi!" jawab Sisi. Cemberut.


"Kamu ini, tadi aja nolak aku ajak makan pizza," ucap Delia. Membuatkan makanan untuk Sisi.


Delia memasak menu nasi goreng, ia membuat makanannya sedikit asin. Agar Sisi tahu gimana rasanya tersiksa.


"Nih, makan. Emak," ucap Sisi menyodrokan nasi goreng buatanya.


Satu suapan Sisi masukan kedalam mulutnya.


Ya tuhan ini makana sampah apa, asin sekali, gumam Sisi.


Delia bertanya pada Sisi," gimana enak?"


Sial, kalau aku jawab tidak enak dan keasinan yang ada dia marah. Otomatis tidak akan membuatkan aku makanan, gerutu hati Sisi.


"Enak sekali!" jawab Sisi. Menujukan jempolnya.


Mata Sisi berkedip-kedip seakan menahan rasa asin dalam nasi goreng yang ia makan.


Ketukan pintu datang lagi. Delia berlari menghampiri pintu depan rumah, pesanan basonya datang.


Rasanya tak sabar menyantap baso pesanannya.


Duduk di hadapan Sisi, wanita berwajah bulat itu mencium wangi baso.


"Itu baso ya?" tanya Sisi.

__ADS_1


"Ya, kamu mau mak!" jawab Delia.


Seyum mengambang pada bibir Sisi, ia mengangguk ingin merasakan baso itu.


"Kebetulan dong aku pesan dua. Suamiku kayanya lagi tidur, ya udah ni buat Emak!"


Delia menuangkan baso pada mangkuk, tak lupa mangkok untuk sambel. Menyodorkan pada Sisi.


Yang pertama di sodorkan pada Sisi yaitu mangkok sambal.


Mencret, mencret deh loe si, gumam hati Delia tertawa kecil.


Sisi seakan senang saat itu, dia mencoba meraih kuah baso di hadapanya. Satu suapan.


"Delia ini pedas sekali," ucap Sisi.


"Masa si, padahal sambelnya dikit!" jawab Delia.


"Pedes banget."


Delia tertawa kecil, karna yang di makan Sisi bukan mangkok isi baso melainkan mangkok isi sambal.


"Pedesnya kaya, level setan," ucap Sisi. Menjulur-julur lidahnya.


Wajahnya Sisi memerah.


"Masa baso di sebut setan, muka mu kali kaya setan," sindir Delia pelan


"Maksud kamu?" tanya Sisi. Raut wajahnya seakan kesal.


"Yang sebelah kiri!" Jawab Sisi.


"Pantas saja yang kamu colek itu sambel bukan baso, makanya liat pake mata. Eh lupa Emak kan buta," sidir


Delia.


Sisi mendengkus kesal, kedua tanganya mengepal. Kesal dengan kejailan Delia. Ia segera mengelus dada menenagkan amarahnya. Bersikap sabar untuk menikmati baso yang di berikan Delia.


"Ya, sudah mana baso ya," ucap Sisi.


Baru saja Delia menyodorkan basonya, Alan tiba-tiba datang.


"Wah, ada baso mantap ni," ucap Alan merai. Mangkok yang akan di berikan pada Sisi, Alan langsung memakan baso itu dengan lahap.


"Sayang, itu punya Emak," ucap Delia.


"Ya, basonya udah aku makan. Nih, tinggal tiga biji!" jawab Alan. Memperlihatkan mangkok basonya.


Sisi berdiri, memukul meja makan dengan kedua tangannya.


"Aku keyang, aku mau tidur. Lidahku sudah tidak nafsu lagi."


Sisi berlalu pergi meninggalkan Alan dan Delia. Yang menahan tawa, benar-benar puas perasan mereka karna telah mengerjai Sisi habis-habisan.


***********

__ADS_1


"Akh, sial mereka benar-benar kurang ajar. Lama-lama aku bisa gila tinggal di rumah ini."


Memukul beberapa bantal, menumpahkan segala kekesalan yang ada.


Sisi mecoba menghubungi Pak Hendra saat itu.


Beberapa kali ia telepon tidak di angkat-angkat.


Pada saatnya, "Hallo, siapa ini?" sambungan telepon tersambung suara wanita mengangkat panggilan telepon Pak Hendra.


Ini kesempatan yang bagus, gumam hati Sisi.


Saat mulutnya mulai mengatakan sesuatu, tiba-tiba panggilan telepon itu terputus.


Ternyata kuota yang di miliki Sisi habis.


"Ahk, sial. Kenapa. Seperti ini," ucap Sisi.


*********


Saat di ruang tengah, Delia berucap pada Alan.


"Sayang, sampai kapan si Sisi itu tinggal di sini. Kenapa papah kamu belum juga datang membawa surat talak untuk si Sisi itu?" tanya Delia dengan seribu pertanyaan di benaknya.


"Entahlah, aku juga heran kenapa papah begitu lama. Balik lagi!" jawab Alan.


"Risih ada Mak Lampir itu," ucap Delia.


Alan hanya terdiam mulutnya bingung, ingin menjawab apa lagi.


Sisi mencoba mencuri uang milik Delia, di dalam kamar ketik Delia tengah pergi bersama Alan.


Dengan meraba-raba. Kamar tidur, pada akhirnya ia mencoba mendobrak lemari milik Delia.


Menemukan uang pecahan seratus ribuan. Berusaha keluar rumah untuk mengisi kuata dalam ponselnya.


Saat di dalam perjalanan. Ia seakan bingung mau pergi kemana, menanyakan ke setiap orang.


Pada saat itu. Sekelompok pereman datang menggoda Sisi.


"Jangan mendekat, atau aku teriak."


Sisi berusaha untuk kabur, tapi sekelompok pereman itulah menghadang Sisi. Mereka mencoba membawa Sisi ke gubuk untuk di perkosa secara bergantian.


"Kamu nikmati saja," ucap orang yang membawa Sisi ke gubuk itu.


Mereka tertawa, melihat gadis buta. Yang berjalan sendirian.


"Aku tidak sudi." Sisi terus menjerit. Meminta tolong kepada orang-orang yang sudi untuk menolongnya.


Menagis meronta-ronta. seakan tubuhnya sudah tak kuasa, menahan orang-orang yang berniat jahat kepadanya.


"Jangan aku mohon," permohonan itu terus terlontar pada mulut Sisi.


Apa Sisi akan selamat?

__ADS_1


__ADS_2