Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 12 PoV Ami


__ADS_3

Kami segera berlari, menghampiri ruangan dimana Sisi berteriak.


Aku dibuat kaget bukan main, tubuhku bergetar hebat di kala melihat, suami Sisi  yang tengah merengut nyawa dengan mata terbuka, menatap ke arah istrinya.


Ku lihat Sisi menangis, menjerit, meminta pertolongan perawat dan Dokter, untung saja, dengan sigap Alan menangani suami Sisi, Alan sedikit curiga dengan infusan yang mendadak berubah menjadi berwarna keruh ke kuning-kuningan.


Dia segera bergegas menyuruh, perawat untuk mengambil air infusan yang baru, tapi sayang takdir berkehedak lain, Suami Sisi sudah di ambil yang Maha Kuasa.


Aku memeluk wanita yang menagis histeris, menenangkannya agar menerima semua keadaan yang telah ia alami.


Jam sudah menujukan pukul 12:00 waktunya pulang, terlalu lama aku berada di rumah sakit hingga lupa bahwa Dodi anakku membutuhkan ibunya.


"Si, maaf yah aku gak bisa bantu kamu, dan lama-lama di sini." ucapku sembari mengelus pundaknya. Menenagkan semua rasa sedih di hatinya.


"Iya. Am, gak papa," ucap Sisi dengan deraian air mata.


Aku dan Alan segera pergi dari ruangan itu, kebetulan banyak dokter dan perawat yang menangani pasien.


Sesampainya di koplek tak jauh dari rumah, kami sempat menggobrol sebentar.


"Apakah, mba masih bisa bertahan dengan penyakit mba, tanpa harus oprasi." ucapku menunduk mendengar jawaban Alan. Apa yang harus aku perbuat, sedang ka Mas Rudi belum tau penyakitku ini. Apa dia akan kuat menerima semua ini.


"Mba, jalan satu-satunya hanya oprasi, mba, kalau mba gak mau di oprasi, Al, takut tumor itu semakin menjalar," apa yang dikatakan Alan benar, tapi aku masih bingung.


"Ta-pi ..."


"Pikirkan Baik-baik mba, ini demi kebaikan mba dan suami mba."


Aku hanya mengangguk pasrah mendengar perkataan Alan.


"Ya sudah, Al, pamit yah mba."


Rasanya lelah sekali meski harus bulak balik kontrol ke rumah sakit.


Aku terus saja kepikiran dengan suami Sisi apa mungkin, suatu saat nanti aku yang akan mengalami seperti itu.


Ku tatap langit, dan berbicara apakah masih ada harapan untuk bisa bersama Mas Rudi sampai tua nanti.


"Ami ... Ami, wanita bodoh ke luar kamu." teriak ibu menggedor-gedor pintu depan rumah.


Segera ku hampiri pintu depan rumah, setelah terbuka, ternyata sosok seorang wanita tua, ia lah ibu mertuaku.


"Ibu bisa tidak jangan teriak-teriak," ucapku dengan sedikit bernada tinggi.


"Lancang kamu yah," mata ibu membulat menatap seakan penuh kebencian.


"Ada apa lagi ibu datang kesini?" tanyaku menatap sang ibu mertua.


"Bagi duit," ibu mengulur tanganya.


"Apa?"


"Bukanya ibu minggu kemarin ngambil uang Ami, 3 juta."


"Sudah habis."

__ADS_1


"Ami sudah tidak punya uang bu."


"Lancang kamu."


Ibu menaparku dengan keras, kalau bukan karna ibu adalah mertuaku, mungkin aku sudah membunuh wanita tua yang tak punya perasaan itu.


"Cepat."


Segera ku langkahkan kaki mengambil uang sisa belanjaku. 


"Ini bu, Ami hanya punya segini." ucapku meyodorkan uang senilai 200 ribu.


Ibu hanya mencabik bibirnya, mungkin dia kesal aku kasih  200 ribu.


"Ya sudah ibu mau  pergi,"


"Yah."


Tak terasa jam sudah menujukan pukul 05:00 sore, tak sabar menyambut kedatangan Mas Rudi.


Bahagia melihat sosok seorang lelaki yang menjadi pendamping hidupku selama ini.


Namun, dengan sepontan, suamiku menayakan ibu datang ke sini atau tidak, kenapa suamiku selalu menayakan semua itu apa di sudah curiga.


Aku masih belum bisa mejawab jujur, aku takut Mas Rudi tak mempercayai perkataanku.


Di tambah lagi takut ibu mengancam dan menjauhkan kami berdua.


Pria bertubuh kurus sedikit berotot itu terus mengoceh, aku pusing mendengarnya, di tambah lagi kenapa dia menfitnah aku selingkuh.


Aku terpaksa memakai hijab menutupi kebotakanku, karna lambat laun rambutku mulai berjatuhan.


Dosa sungguh dosa telah membohongi sang suami hingga suamiku mabuk-mabukan, aku yang mendengar perkataan Mas Rudi merasa bersalah.


Karna dengan diam tak menjadikan semua lebih baik, yang ada malah menjadi masalah lebih ruyam.


Namun, akhirnya penyakitku terungkap oleh Mas Rudi, dia memeluk erat tubuhku, menagis, ketika hijab yang aku pakai ia buka perlahan ketika aku sedang terlelap tidur.


Hanya kata maaf yang terlontar dari mulut suamiku, tanpa henti.


Tok ... Tok ...


Suara pintu di ketuk, siapakah itu.


Aku dan Mas Rudi membuka pintu depan rumah.


Terlihat wanita muda menenteng koper, memakai baju dres berwarna merah, membelakangi pintu.


"Siapa yah?" Tanyaku.


Wanita itu berbalik arah dan langsung memeluk tubuhku.


"Sisi, kenapa kamu malam-malam begini, ke sini, ada apa?" Tanyaku. Heran.


Wanita yang memeluk tubuhku menagis.

__ADS_1


"Kenapa menagis coba jelaskan?" Tanyaku lagi sembari melepaskan pelukanya, dan menatap lekat tubuhnya.


"Iyah sih kenapa kamu ke sini, ganggu orang saja." timpal Mas Rudi kesal.


Aku menatap raut wajah Mas Rudi yang enggan dengan kedatangan Sisi.


"Aku takut, apa boleh aku menginap di sini, Am," lirih Sisi membuat aku tak tega melihatnya.


Mulut Mas Rudi mengagah.


"Punya suami juga, mau nginap di tempat orang," ucap Mas Rudi seakan mengusir Sisi.


"Iss, papah nih, Sisi ini sedang berduka, suaminya meninggal." jawabku melirik raut wajah lelaki di sebelahku.


"Kenapa suamimu mati? Pasti kamu racunkan." 


Mas Rudi terus saja berbicara ketus.


Sisi menangis kencang.


"Udah Si, jangan nagis, kamu boleh nginep di sini beberapa hari ini, untuk menenagkan pikiran."


"Baik Am."


"Iyah."


"Tunggu, papah gak setuju mah, wanita ondel-ondel ini tak boleh tinggal di sini, titik." timpal suamiku berlalu pergi meninggalkan kami berdua.


"Udah, jangan dengarkan kata Mas Rudi, ayo, masuk sini."


"Bener Am."


"Iyah."


"Makasih, memang kamu sahabat terbaikku."


Ku tunjuki kamar yang akan di tempati Sisi sahabatku.


Saat malam sudah mulai larut, Sisi meminta kepadaku, untuk menemaninya tidur bersama karna ia merasakan kesedihan pasca kehilangan suaminya.


Ku turuti permintaannya.


Aku meminta ijin kepada Mas Rudi untuk tidur bersama Sisi.


Namun, raut wajah suamiku tak senang bahwa Sisi ada di rumah ini. Memang rasanya risih membiarkan wanita yang tidak mempunyai suami tinggal di sini. Terkadang ada rasa takut menghantui pikiranku.


Namun, segera ku tepis perlahan agar semua tidak menjadikan beban pikiran. Aku yakin Sisi orang yang baik tak mungkin dia jahat.


Malam hari, ku lihat Sisi sudah tidak ada di sampingku. kemana dia malam-malam begini?


Aku segera mencari Sisi ke dapur, mungkin dia sedang minum.


Kebetulan juga aku ingin ke kamar kecil.


Sesaat melewati dapur aku melihat Sisi??

__ADS_1


__ADS_2