
Dimana Ami sudah sembuh dan bisa pulang ke rumah sakit, saat itulah pernikahan di rayakan. Dimana hanya ada saudara dan juga orang-orang terdekat Ami.
Rudi sengaja tidak mengundang orang lebih banyak, karena bagi dirinya ini hanyalah acara pernikahan untuk menuruti keinginan Ami.
Sang nenek yang sudah bersiap-siap memakai baju untuk datang ke acara pernikahan menantunya dan juga anaknya. Kini mencari Dodi entah dimana keberadaan anak itu, dari pagi Dodi tidak terlihat oleh Bu Sumyati.
Bu Sumyati terus berteriak mencari keberadaan cucunya, rasa kuatir kini menyelimuti hati nenek tua itu. Bagaimana tidak, ini hari pernikahan ibu dan ayahnya Dodi.
Ami yang tak menginginkan kehadiran Dodi. Membuat sang nenek bersikeras untuk mengajak ke acara pernikahan ibu dan Ayahnya.
Bagi Bu Sumyati Bagaimanapun Dodi adalah anak mi dan juga Rudi, dia harus menyaksikan keinginan ibunya sendiri.
" Dodi, Nak kamu di mana? Ayo siap-siap kita kan mau ke rumah mama Ami."
Tidak ada sahutan sama sekali, Dodi seakan bisu saat sang nenek memanggil namanya, Bu Sumyati mencoba untuk tetap tenang menghadapi segala masalah yang ada pada dirinya. Apalagi masalah ini tertuju pada Dodi, anak kecil yang terkesan polos.
Suara tangisan tiba-tiba terdengar oleh kedua telinga Bu Sumyati, ia mencari sumber suara itu. Entah ada di mana. Langkah kaki Bu Sumyati terus mencari sumber suara tangisan kecil, ia melihat pada ujung kamar Dodi nampak seorang anak tampan yang tengah menundukkan pandangan memeluk kedua lutut kakinya.
"Dodi."
Bu Sumyati mendekat ke arah cucunya l, memegang rambut kepala dengan mengusap perlahan.
Tubuh Bu Sumyati mulai merosot ke atas lantai, berhadapan dengan Sang cucu, terdengar jelas isak tangis itu begitu kencang membuat hati ibu Sumyati teriris sakit.
"Dodi kenapa masih ada di sini?"
Pertanyaan itu perlahan keluar dari mulut wanita tua yang berada di hadapan Dodi, berharap sang cucu membalas ucapannya.
Namun ternyata Dodi tetap terdiam tangisannya semakin kencang, membuat By Sumyati memeluk erat cucunya, "sudah jangan menangis lagi, simpan air matamu itu Dodi. kamu terlalu terluka saat ini."
Mengangkat kepalanya menatap kedua bola mata sang nenek yang sudah terlihat berkaca-kaca. Tangan mungil itu perlahan mengusap air mata yang tiba-tiba terjatuh menuju pipi tua sang nenek, "nenek jangan menangis, biarkan Dodi saja yang menangis saat ini. Lebih baik nenek saja yang datang ke pernikahan mama Ami, Dodi akan menunggu disini. Nenek percaya sama Dodi, di sini Dodi nggak akan nakal kok."
__ADS_1
Senyum karena keterpaksaan seakan ditampilkan Dodi, Bu Sumyati yang tahu apa yang dirasakan Dodi mulai perlahan bangkit, menatap tajam kearah cucunya. Tangan kanan mulai ia sodorkan di hadapan Dodi sang cucu," berdirilah, nak. Mama kamu menunggu disana."
Mendengar ucapan sang nenek, Dodi hanya menggeleng-gelengkan kepala,menundukkan pandangannya lagi." maaf Nek, Dodi tidak bisa datang ke pernikahan sang mama. Dodu jadi takut membuat luka di hati Mama, apalagi ketika mama melihat Dodi selalu menderita."
Tiba-tiba suara klakson mobil, terdengar begitu nyaring di depan rumah Bu Sumyati. Dimana wanita tua itu melangkahkan kaki menuju jendela kamar Dodi, melihat keluar rumah, ternyata Pak Gunandi sudah datang menjemput Bu Sumyati dan juga Dodi.
Bu Sumyati berlari menuju pintu depan rumah, menghampiri lelaki tua yang sudah menunggu di depan rumah. Ada rasa senang menyelimuti hati wanita tua itu dan juga ada rasa sedih ketika Dodi masih menangis di ujung kamar tempat tidurnya. Pak Gunandi sedikit heran, karena yang keluar dari dalam rumah hanyalah Bu Sumyati. lelaki tua itu mulai bertanya?
"Loh, kemana Dodi?"
Pertanyaan yang membuat Bu Sumyati menundukkan pandangan, ia sempat ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada cucunya saat ini.
"Bu, Bu Sumyati, loh. Kok melamun."
Telapak tangan Pak Gunandi melambai-lambai di depan wajah Bu Sumyati, membuat Lamunan wanita tua itu seketika membuyar.
"Eh, a-nu kenapa pak?"
" Kemana Dodi, Bu?"
Bu Sumyati langsung menceritakan keberadaan Dodi,
wanita tua itu mengajak Pak Gunandi untuk masuk ke dalam rumah, melihat keadaan cucunya yang kini menyedihkan kan.
Bu Sumi
yati menunjuk di mana Dodi tengah duduk di ujung kamar dengan posisi yang memeluk kedua lututnya, dengan keberaniannya Pak Gunandi, lelaki tua itu, mulai mendekat kearah Dodi.
"Dodi."
Dodi yang mendengar suara pak Gunandi langsung berdiri tegak, menatap dengan senyuman. memeluk erat tubuh lelaki tua itu.
__ADS_1
Isak tangisnya pecah, ia .eraung menangis sejadi-jadinya, seakan beban yang menumpuk dalam hatinya kini terpecahkan oleh tangisan yang begitu terdengar nyaring.
Pak Gunandi mengusap pelan punggung anak tampan itu, ia berkata." Dodi Kenapa menangis lagi? Bukannya Dodi sudah berjanji pada Pak Gunandi. Akan menjadi lelaki kuat dan sabar, melewati semua ini."
Pelukan Dodi seketika terlepas, ia mengusap kasar air mata yang jatuh pada kedua pipi mungilnya dengan telapak tangan.
Isak tangis yang terus terdengar tersedu-sedu, membuat Dodi menjawab,"Dodi sudah berusaha kuat Pak Dokter Tapi kenyataan tidak sama seperti ucapan, rasanya sakit Pak Dokter. Dodi nggak kuat, Dodi menyerah untuk sabar."
Bu Sumyati yang melihat keadaan Dodi semakin menyedihkan, membuat hatinya benar-benar sakit. Wanita tua itu mulai mendekat kearah Pak Gunandi dan juga Dodi. Menyemangati sebisa mungkin, agar Dosi bisa tersenyum lagi dan melupakan beban berat yang ia hadapi.
Pak Gunandi mendudukkan kedua lututnya, memegang kedua bahu Dodi, ia mulai mengeluarkan kata-kata yang mungkin bisa membuat Dodi tersenyum lagi. Tanpa beban yang dihadapi saat ini.
"Hey, jangan mengeluh tetap semangat. Demi mendapatkan kasih sayang mama Ami. Kalau Dodi menyerah, Dodi bisa kehilangan semuanya."
Deg ....
"Maksud Pak Dokter."
Dodi tercengang kaget, membuat Pak Gunandi terseyum kecil.
"Kalau Dodi terus seperti ini, menangisi dan belum mencoba. Dodi akan kecewa dan menjadi orang yang menyesal."
Dodi mulai menebak perkataan PaK Gunandi.
" Jadi menurut Pak dokter, Dodi harus mencoba berusaha lebih keras lagi. Agar Dodi tidak kecewa dan menyesal dengan kesedihan yang dirasakan Dodi."
Menganggukkan kepala pelan," Nah itu Doni mengerti, jadi ayo kita datang ke pernikahan Mama Ami.
" Tapi, Dodi takut Pak dokter."
" Kan ada Pak Dokter, jadi. Dodi enggak usah takut Dodi harus kuat, bagaimanapun itu, pasti Dodi bisa melalui semuanya."
__ADS_1
Dengan perkataan Pak dokter yang mampu menyejukkan hati Dodi, pada saat itulah anak tampan bernama Dodi, mulai meraih telapak tangan Pak Gunandi untuk menaiki mobil yang sudah menunggu di depan rumah.