
Bu Ira benar-benar bahagia dikala Sisi membelikan barang-barang yang sudah lama diinginkan Bu Ira, dari baju, tas. Sepatu dan juga perhiasan, perasaan Bu ira benar-benar senang. Ia hampir lupa pada anaknya Arsyla di rumah.
"Oh, ya bu. Gimana kalau ibu beliin Arsyla baju atau perhiasan kasian dia bu, enggak ikut sama kita," ucap Sisi pada Bu Ira. Sisi selalu ingat pada anak Bu ira Arsyla.
"Emangnya enggak papa?" tanya Bu Ira sedikit ragu. Karna selama ini Arpan dan Sisi banyak membantu.
"Tidak bu, tidak apa-apa ko!" jawab Arpan dengan senang hati.
"Kalian memang baik, pantaslah kalian berjodoh," ucap Bu Ira dengan rasa bahagia. Bu Ira memilihkan beberapa baju untuk Arsyla dan juga perhiasan.
Bu Ira memilihkan perhiasan yang di ingin kan Arsyla saat masih kecil. Membuat Bu Ira banyak-banyak berterimaksih pada Sisi.
Hati wanita tua itu benar-benar bahagia sekali, karna Sisi dan Arpan begitu baik dalam segala hal.
"Gimana bu, sudah beres?" tanya Sisi.
"Sudah-sudah!" jawab Bu Ira terseyum penuh kebahagiaan.
Karna Sisi tak tega pada Arsyla, wanita bermata bulat itu bergegas pergi membeli Pizza untuk Arsyla.
"Kamu mau kemana Si?" tanya Bu Ira.
"Sisi, mau beli dulu Pizza buat Arsyla. Kasihan dia pasti dia lapar di rumah nunguin kita!" jawab Sisi. Berlalu pergi berjalan membeli makanan.
Sisi kamu memang wanita baik, pantas saja Arpan begitu menyayangimu. Tapi kenapa Arsyla begitu benci dan selalu memfitnahmu Sisi, gumam hati Bu Ira.
Sisi terseyum dengan wajah berseri-seri menenteng keresek berisi pizza besar.
Setelah selesai berbelanja. Waktu tak terasa sudah jam 22:00 dimana mereka bertiga pulang ke rumah
Saat tiba di halaman depan, terlihat Arsyla yang tengah menunggu, melipatkan kedua tangannya. Bibirnya begitu cemberut.
Bu Ira datang langsung menghampiri anaknya yang berdiri di depan pintu. Tak sabar ingin menceritakan semua tentang Sisi dan Arpan yang baik hati.
"Arsyla."
Baru saja Bu Ira memanggil nama anaknya dengan lembut. Arsyla langsung mendorong tubuh wanita tua itu hingga tersungkur jatuh. Semua di buat syok dengan kelakuan sang anak pada ibunya.
__ADS_1
Sisi yang melihat pemandangan itu, seakan kesal dan menghampiri gadis berhidung macung itu. Setelah dekat dengan wajahnya, Sisi ingin sekali mengacak mulut Arsyla saat itu juga.
"Kamu apa-apaan Arsylan?" tanya Sisi, membuat Arsyla terdiam pilu.
Arpan dengan sigap membantu Bu Ira untuk berdiri.
Bu Ira mungkin merasaka penghinaan dari anaknya sendiri.
Arsyla terdiam dengan wajah cueknya, seakan semua tidak terjadi apa-apa. Ia begitu tak memperdulikan di sekita dirinya.
"Kalian yang apa-apaan kenapa kalian meninggalkan aku sendiri di rumah hah, apa kalian mau liat aku mati kelaparan," teriak Arsyla tanpa sadar. Sisi yang mendengarnya nampak heran. Mana mungkin bisa Arsyla kelaparan? Karna di atas meja tersedia makanan.
"Maksud kamu apa?" tanya Sisi. Memancing ucapan Arsyla. Agar gadis itu sadar dan mengaku.
"Ya, kalian biarkan aku memakan apa yang kalian masak. Sedangkan dalam masakan itu ada cikcak yang sengaja ak ...." Arsyal hampir saja, membocorkan kejahiliannya. Pada semua orang yang berada di sana.
"Cikcak? Mana mungkin bisa ada cikcak di dalam makanan itu. Padahal ibu sudah menutup rapat-rapat semua makanan yang berada di atas meja!" timpal Bu Ira membenarkan semuanya.
Arsyla nampak bingung dengan perkataan apa yang harus terlontar dari mulutnya.
Sial, aku hampir saja terpancing emosi dan mengatakan sebenarnya. Bisa-bisa aku mati di telan mentah-mentah oleh Si Mak Lampir Sisi ini, gerutu hati Arsyla.
Ya, aku memang bersalah telah memasukan cikcak pada masakan Sisi dan ibuku sendiri, karna aku iri dengan kebahagian kalian, ucapku dalam hati. Mana mungkin aku bisa berkata seperti itu, rasanya nyaliku menciut.
"Kenapa kamu diam Arsyla ayo jawab?" tekan Sisi.
Mereka menyerangku tiba-tiba seperti ini apa yang harus aku lakukan, tunggu-tunggu aku melihat Sisi memegang sebuah makanan aku harus berpura-pura agar mereka tidak menekan ku lagi, gumam hati Arsyla.
Gadis itu tiba-tiba meremas perutnya dengan kedua tangan, seraya berkata." Sakit ... perutku sakit."
Ibu nampak panik dengan Arsyla yang seperti itu, tapi Arpan mencekram tangan Bu Ira agar tidak menghampiri anaknnya saat itu.
Bu Ira menatap pada wajah Arpan. Saat itulah lelaki berkulit sawo matang itu memberikan satu kode agar diam berdiri di tempat jangan menghampiri Arsyla.
Sisi yang hanya bisa diam, ia segera menghampiri Arsyla. Melihat aktingnya begitu sempurna, saat itulah Sisi mengelitik pinggang Arsyla. Hingga gadis itu tertawa terbahak-bahak, menahan rasa geli karna tangan Sisi yang mengelitik tubuhnya.
"Ah geli hentikan," teriak Arsyla.
__ADS_1
Sisi berbisik pada telinga Arsyla berharap gadis itu mengerti apa yang Sisi katakan ketika ia merasakan geli pada tubuhnya.
"Jangan berpura-pura lagi atau kamu akan tahu akibatnya."
"Gimana udah mendingan?" tanya Sisi. Yang masih mengelitik tubuh Arsyla.
"Sudah ka, sudah mendingan!" jawab Arsyla membuta Bu Ira sedikit lega.
Saat itulah wanita bermata bulat Sisi. Menyodorkan satu kotak pizza berukuran besar. Membuat Arsyla senang bukan kepalang.
Akhinya perut yang sudah meraskan keroncongan terisi dengan makanan yang menggoda dan berselera.
"Cepat makan." Ucap Sisi. Wanita bermata bulat itu pergi melewati badan Arsyla. Begitu pun dengan Arpan menghampiri sang istri yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.
Begitu pun dengan Bu Ira. Arsyla meraih tangan sang ibu yang pergi tanpa pamit padanya.
Bu ira benar-benar marah hingga Arsyla yang bertanya padannya di abaiakan oleh Bu Ira.
Semua orang di rumah ini, benar-benar kesal padaku. Ahk, masa bodo yang terpenting aku sudah mendapatkan makanana geratis
Arsyla memakan pizza yang telah diberikan oleh Sisi.
*************
"Mah, kenapa sih kamu harus membiarkan si Arsyla itu tinggal di sini?" tanya Arpan dalam seribu kebingungan.
"Biarkan saja pah, biar dia tahu rasannya. Tinggal di rumah orang!" jawab Sisi.
Arpan selalu menuruti apa kemauan istrinya, sesulit apapun bagi Arpan. Semua hal yang mudah.
"Ya sudah kalau begitu!"
Arapan merebahkan tubuhnya rasannya penata sekali seharia berkerja, rasanya bahagia sekali bagi Arpan.
Tok ... tok ...
Baru merebahkan tubuh Arpan di kejutkan dengan Bu Ira yang datang mendadak. Entah apa yang ingin ia bicarakan di dalam kamar. Sisi.
__ADS_1
Ternyata Bu ira sudah tahu kelakuan anaknya, Sisi meminta pada Arpan agar bisa merubah sifatnya.