
Pagi hari di mana Sisi terbangun, tubuhnya seakan merasakan begitu terasa nyaman. ia melihat di samping kiri tempat tidurnya. Ternyata Arpan sudah tidak ada, ia melirik pada jam dinding, ternyata sudah pukul 7 pagi. Begitu terlelap nya Sisi tidur, hingga Ia bangun terlambat.
" Ya ampun, sudah jam segini Kenapa suamiku tidak membangunkanku ya, tapi rasanya. Badanku terasa jauh enakan dari pada tadi malam dan pikiranku pun merasa lebih tenang."
Notifikasi pemberitahuan dari ponsel Sisi terdengar jelas, saat itu Sisi melihat pada ponselnya. Ternyata satu pesan dari Arpan.
[Kamu tidurnya nyenyak banget, kayaknya Kamu kecapean ya sayang.]
Sisi tersenyum membaca isi pesan dari suaminya, ia langsung membalas. [Kenapa Papah tidak bangunin mama? ] pesan pun terkirim.
[Ya habisnya. Mama tidurnya lelap banget, jadi Papa nggak tega mau bangunin mama.]
Sisi mengirimkan emojik love begitu banyak pada pesan whats aap pada suaminya.
Pagi-pagi disambut dengan rasa bahagia, Sisi pun meraih handuk bergegas untuk mandi. Untuk menyegarkan tubuhnya.
Setelah beres mandi ia pergi ke dapur ternyata di sana sudah ada Bu Ira yang tengah memotong-motong sayuran. Sisi seakan merasa ragu berdekatan dengan Bu Ira.
"Eh sisi Kamu sudah bangun?"
"Oh iya. Bu!
"Sebaiknya kamu istirahat saja biarkan ibu yang bikin masakan sekarang."
Saat itulah Arsyla datang ke dapur ia segera meraih air minum dan meminum nya. Bu Ira langsung memanggil anaknya itu.
"Arsyla sini kamu."
"Apa sih Bu?"
"Iss baru juga bangun sudah dipanggil-panggil."
"Cepat bantuin Ibu."
" Ya ampun, males banget. Aku harus bantuin ibu masak."
"Ayo cepat."
Sisi hanya berdiri mematung melihat Bu Ira yang memarahi anaknya. " Ya sudah nggak papa Bu biarkan saja. Arsyla mungkin malas, ya udah biarkan saja ja bu. Sisi yang bantu ibu," ujar Sisi sedikit berkata formal.
Entah Sejak kapan bahasa bicaranya kepada Bu Ira seperti itu.
__ADS_1
"Ya sudah ayo."
Sesaat membantu Bu Ira, Sisi sedikit menelan ludah melihat Bu Ira yang tengah memotong sayuran mencincang cincang sayuran itu. Hatinya begitu berat nafasnya seakan tak beraturan melihat Bu Ira yang begitu berbeda dari sebelumnya.
"Loh kok dibiarin aja. Itu nanti gosong loh ikannya."
"Ya ampun Bu, maaf."
"Kamu mikirin apa?" Tanya Bu Ira sedikit membuat Sisi ketakutan.
"Anu Nggak, aku nggak mikirin apa-apa!"
"Jangan bohong sama ibu kalau pun ada masalah ceritakan saja sama ibu. Ibu siap dengar cerita kamu kok. Ibu sudah anggap kamu seperti anak ibu sendiri begitupun dengan Arpan."
" Iya pastinya bu, kalau ada masalah. sekarang aku nggak kenapa-napa mungkin karena kecapean jadi aku seperti ini."
"Ya sudah biar Ibu saja yang Potong dagingnya iya."
" Silakan Bu."
Sesaat Nirmala melihat Bu Ira yang memotong daging mencincang, seakan membuat Sisi sedikit merasa linu biasa melihat wanita tua itu memotong secara lembut. sekarang seperti memotong ayam yang tidak berdosa mencincang cincang begitu keras ini dengan amarah yang mengebu.
"Dagingnya sedikit alot jadi ibu harus keras-keras motongnya."
"Berisik ya?"
"Oh enggak bu enggak berisik ko."
"Syukurlah kalau nggak berisik, ya sudah kita terusin lagi bikin opor ayam nya."
" Iya bu ayo, kita terusin lagi ya."
Sisi berusaha untuk bersikap santai walaupun sebenarnya hatinya begitu ketakutan,.karena melihat raut wajah yang tak biasa pada wanita tua yang bernama Bu Ira itu.
"Nah sudah selesai ayo kita susun rapi di atas meja."
"Oh iya ayo bu."
Sejak kapan bicara Sisi begitu formal membuat Bu Ira sedikit curiga. Seakan Sisi sudah mengetahui jati dirinya.
Biasa Sisi yang selalu bersikap ramah ceria kepada ku, Apa mungkin dia sudah mencurigai ku sehingga dia sedikit menghindar apalagi dengan kata-katanya yang sedikit formal. gumam hati Bu Ira.
__ADS_1
Saat itu di ruang makan mereka mulai bergegas untuk bersiap makan di meja makan, Sisi ingin bertanya kepada Bu Ira. Namun Bu Ira yang begitu serius memakan-makanan nya membuat sisi mengurungkan niatnya.
Setelah selesai makan, berulah Sisi membuatkan Bu Ira sebuah kopi hangat. Mengajak mengobrol dengan santai dan meminum kopi di ruang tengah.
" Bu Sisi mau bertanya sama ibu?"
"Tanya apa?"
" Sisi mau bertanya sebenarnya kejadian pembunuhan suami ibu itu gimana?"
Bu Ira terdiam mulutnya seakan kaku ia menundukkan pandangan matanya begitu Sayu ada kesedihan tersimpan dari hatinya.
" Maaf sebelumnya Bu kalau Sisi salah bertanya."
" Tidak apa-apa kok Si, ibu malah senang. Kalau kamu bertanya seperti ini."
"Kalau memang kita harus mencari tahu kasus tentang pembunuhan suami ibu. Kita juga harus mencari tahu bagaimana motif pembunuhan itu. Dan Kenapa orang tua Mas Arfan itu bisa jadi tersangka?"
Saat itulah Bu Ira menjelaskan secara detail tentang pembunuhan suaminya kepada Sisi, ia menangis sejadi-jadinya mengingat kejadian pembunuhan suaminya.
Belum menjelaskan kejadian pembunuhan suaminya, Ibu Ira sudah menangis tersedu-sedu. Tangannya bergetar hebat begitu pun dengan mulutnya, Bu ira seakan menyimpan sebuah rahasia besar.
"Ibu sedih karena melihat suami ibu yang begitu sadis dibunuh."
"Apa Arsyla melihat pembunuhan itu?"
"Arsyla melihat setelah ayahnya sudah jadi mayat."
" Ya ampun pantas saja Asyla menjadi tertekan dan terus menyalahkan kedua orang tua Arpan."
"Kejadian itu berawal dari kedua orang tua Arfan datang berkunjung, saat itu suami Ibu Tengah mengalami depresi karena kebangkrutan perusahaannya. Kedua orangtua Arpan datang untuk membantu suami ibu. Tapi suami Ibu menolak dan tidak menerima bantuan dari kedua orangtua Arpan, entah Ibu juga heran kenapa dengan suami ibu. Padahal ekonomi kita begitu sedang sulit, suami Ibu seakan tidak menerima dan kesal dengan kedua orangtua Arpan yang selalu baik. Entah apa yang dipikirkan suami Ibu dulu?"
"Saat itulah suami Ibu memarahi kedua orangtua Arpan, bahwa dirinya seakan merasa terhina karena menerima bantuan dari kedua orang tua Arpan. Padahal tidak ada sama sekali kedua orangtua Arpan menghina suami Ibu."
"Suami Ibu terlalu egois menerima bantuan orang lain apalagi bantuan dari kedua orang tua. suami ibu Bu bu ntar lalu mengandalkan emosi dan juga rasa gengsi."
"Kenapa seperti itu Ibu juga bingung harus menjelaskannya dari mana dan bagaimana"
Penjelasan Bu Ira membuat Sisi sedikit bingung, sepertinya Bu Ira menyembunyikan sesuatu, seperti rahasia besar itulah yang terpikirkan di benak Sisi saat mengobrol dengan Bu Ira.
Sisi berusaha bijak untuk menjawab semua cerita Bu Ira.
__ADS_1
"Sepertinya suami ibu itu memiliki dendam pribadi di masa mudanya kepada ayah Arpan?"
" Dendam? Entahlah, Ibu tidak tahu karena setiap Ibu mengungkit kebaikan ayahnya Arpan. Suami ibu selalu marah-marah dan menampar Ibu, menjambak rambut Ibu, memukul Ibu mana mungkin Ibu kuat? Dari sana ibu selalu diam jika suami Ibu menghina mencaci ibu selalu bilang iya saja."