
Ami masih dalam mobil dengan rasa kesalnya, ia mencoba untuk mencari salah satu dokter yang mungkin bisa memberitahu tentang penyakitnya.
Di tengah-tengah kekesalan itu, tiba-tiba pikiran Ami mulai terlintas bayangan dirinya mencium kening Dodi.
Dengan mengendarai mobil kecepatan tinggi, kepala Ami mulai merasakan rasa pusing.
"Kenapa dengan kepalaku, rasanya sakit sekali."
Rudi yang mulai curiga dengan mobil Ami yang tiba-tiba bergerak sendiri, mulai memencet kelakson. Tapi mobil Ami malah tetap saja seperti akan menabrak.
"Sadar Ami, apa yang sudah kamu lakukan."
Dengan kekuatan Doa, Ami kini mulai tersadar dari rasa sakit di kepalanya. Ia memberhentikan mobil secara mendadak.
Membuat Rudi yang mengikuti arah mobil istrinya menarik napas lega.
Dengan sigap, Rudi memberhentikan mobilnya. Melihat ke adaan sang istri.
Saat melihat ke dalam mobil melalui kaca, ternyata Ami tengah memijat-mijat kepalanya sendiri.
Saat itulah, Rudi mengetuk kaca mobil istrinya.
"Sayang, ini aku. Rudi."
Ami yang mulai sadar dengan ketukan seseorang kini mulai membuka perlahan kaca mobilnya.
"Mas Rudi."
Rudi dengan sigap membuka pintu mobil,
Ami langsung memeluk Rudi, dan berkata," kamu ada di sini, mas?"
Rudi mulai mencari alasan, bahwa dirinya segaja lewat ke jalan yang di lalui istrinya. Karna ingin menemui klain.
"Mas segaja lewat sini, ada pertemuan berasama klain. Pas liat mobil kamu berhenti di tengah jalan, mas jadi kuatir."
"Aduh mas, kepalaku pusing sekali. Untung aku cepat sadar. Karna ada seorang pengemudi memencet kelaksonnya beberapa kali."
"Kamu harus hati-hati, kamu kan lagi mengandung. Mas udah bilang diam di rumah."
Ami mulai menundukan wajah, ia seakan menyesali apa yang sudah ia lakukan.
Saat itulah Rudi menelpon sang supir untuk membawa mobil Ami.
Sedangkan Ami di bawa pergi oleh Rudi.
Di dalam perjalanan menuju pulang, Ami mulai bertanya pada lelaki yang menjadi suaminya.
"Mas, kenapa kepalaku suka mendadak sakit begini. Ya."
Rudi mulai mengusap pelan kepala istrinya ia berkata dengan lembut," karena itu bawaan bayi dalam kandungan kamu. Kamu tahu sendiri kan sayang kamu ini sedang hamil, harus hati-hati, jaga kandungan kamu baik-baik."
__ADS_1
"Tapi ini berbeda sekali, mas. Setiap aku sakit merasakan sakit di kepala, selalu ada bayangan anak kecil yang aku cium dan aku peluk, perasaan itu rasanya. Hangat sekali, seperti 1 hati patah dan kembali pulih seperti sedia kala."
"Itu hanya sebuah bayangan. Jadi sekarang kamu harus jaga kesehatanmu. Jangan berpikir apa-apa jangan selalu memaksakan apa yang harus kamu ingat."
"Baiklah, mas."
Saat itulah Ami mulai menghentikan percakapannya dengan sang suami, ia mulai merebahkan tubuhnya di atas kursi. Menyandarkan perlahan punggung dengan menarik nafas pelan, lalu menutup kedua mata, agar terlelap tidur
Berusaha melupakan semua bayangan yang selalu menghantui dirinya, Rudi menatap sekilas pada sang istri, dirinya merasa sangat amat sedih. Bagaimana tidak, hilangnya ingatan Ami membuat dirinya semakin depresi apalagi dengan kehamilan yang tidak boleh terjadi.
********
Di dalam perjalanan menuju pulang, Rudi tak sengaja melihat seorang perempuan berlari dalam keadaan sedang hamil.
"Wanita itu sepertinya aku mengenal dia?"
Tiba-tiba saja Rudi menghentikan mobilnya, hampir saja ia menabrak seorang wanita yang tengah berlari dengan memegang perut yang terlihat buncit. Menandakan wanita itu tengah hamil, Ami yang terngah tidur dengan pulas, langsung membuka kedua matanya,ada rasa sok.
" Ada apa mas? kenapa tiba-tiba berhenti?"
"Maafkan aku!"
Rudi langsung membuka pintu mobilnya ia melihat keadaan wanita itu, Rudi tak menyangka jika wanita itu adalah Arsyla.
"Kamu kenapa, mas?" tanya Ami yang ikut turun dari mobil."
'Dia adalah Arsyla!" jawab Rudi.
"Aku harus membawa wanita ini ke rumah sakit," ucap Rudi. Membopong Arsyla, membawa dia ke dalam mobil, Rudi tak menyangka jika Arsyla wanita yang ia tabrak tanpa sengaja."
Ami yang masih bingung, masih terdiam tak berani bertanya. Dalam hati Ami hanya bergumam," siapa wanita itu, kenapa Mas Rudi begitu perhatian."
Hati Ami semakin tak karuan, kesal karna melihat kekewatiran suaminya.
Setelah sampai di rumah sakit, Ami mulai bertanya pada suaminya.
"Sebenarnya Arsyla itu siapa kamu, mas?" tanya Ami. Dalam kecurigaan dalam hatinya.
"Dia adalah adik Arpan!" jawab Rudi, dengan rasa paniknya.
Lelaki berbadan kekar itu mulai, menelpon Sisi. Berharap mereka tahu apa yang terjadi dengan Arsyla.
Ami semakin kesal karna jawaban Rudi tak bisa memuaskan, rasa penasarannya.
Rudi terlalu sibuk dengan ponselnya karna menelpon ke sana ke mari.
"Sayang, kamu tunggu dulu di sini, ya."
Ami hanya bisa menuruti apa perkataan suaminya.
Rudi berjalan, ke arah luar. Karna tiba-tiba saja, ponselnya tak ada siyal sedikit pun.
__ADS_1
Ami menunggu dengan hati yang ragu, sesekali kedua matanya menatap ke arah jendela dalam rumah sakit. Dimana Arsyla tengah ditangani oleh suster dan dokter.
Pada akhirnya Rudi berhasil menelpon Sisi.
Panggilan pun terhubung," Halo ada apa? Rud?" tanya sisi pada sambungan telepon.
"Kamu ada di mana?" tanya Rudi. Dengan wajah gusarnya.
" Aku masih di Bali! Emangnya kenapa?"
Jawaban Sisi, membuat Rudi tampak heran.
Kenapa keluarga Arsyla berada di Bali? Sedangkan dirinya berada di Jakarta.
Rudi terus bergumam dalam hati, sedangkan Sisi terus memanggil namanya dalam sambungan telepon.
" Halo, Rud. kenapa?" tanya Sisi.
Lamunan Rudi seketika membuyar, ia berucap dengan gugup.
" Ini tentang Arsyla. Barusan aku tak sengaja melihat dia berlarian, hingga menabrak pada mobilku."
Jawaban Rudi membuat Sisi, sedikit sok.
"Apa adikku tak kenapa-kenapa?" tanya Sisi.
"Untung saja Arsyla, tak kenapa-napa. Hanya luka lecet saja!" jawab Rudi.
"Sebenarnya anak itu kabur, sudah tiga hari. Setelah acara pernikahan di gelar. Kami sudah cari keberadaan Arsyla, tapi tidak ada yang menemukannya," jelas Sisi.
"Ya sudah, kamu cepat datang ke sini. Aku akan menahan Arsyla di sini," ucap Rudi.
"Terima kasih, Rudi. Aku akan memberitahu Bu Ira dan Arpan." balas Sisi.
"Iya."
Panggilan teleponpun terputus sebelah pihak, saat itulah Rudi menghampiri istrinya. Saat menghampiri Ami ternyata Ami tidak ada di tempat.
"Kemana Ami?" gumam hati Rudi..
Baru beberapa langkah, akhirnya Rudi melihat Ami ke luar dari ruangan Arsyla. Dengan wajah kesal.
"Sayang, kamu sudah menemui Arsyla?" tanya Rudi.
Ami malah menatap tajam ke arah suaminya tanpa menjawab, ia menghempaskan tangan Rudi berlalu pergi.
"Ami, sayang. Kamu mau kemana?"
Ami mengabaikan Rudi ia terus berjalan, tanpa menoleh ke arahnya.
Ada apa dengan Ami?"
__ADS_1