
Rudi menarik orang yang memakai baju hitam itu. Namun, orang itu memukul perut Rudi. Berlari hingga Aldo mengejar dari belakang.
Satu pukulan menghantam orang itu, hingga terjatuh.
"Siapa kamu?" Aldo menarik kerah baju lelaki itu.
Pria berbaju hitam itu, tertawa melepaskan masker yang menutup mulutnya.
Aldo tertohok kaget, seraya berkata." Kamu, bukanya lelaki bajingan itu."
Rahang Aldo mengeras, Aldo memukul wajah pria itu beberapa kali.
"Pukul saja, sampai kamu puas!"jawab pria berbaju hitam itu.
Aldo menghentika pukulan itu, dia terdiam. Orang-orang saling berbisik dan menatap mereka yang tengah berkelahi.
Hingga satu penjaga rumah sakit datang dan mengamankan mereka.
Pria itu pergi menatap Aldo sembari terseyum kecut.
Rudi menghampiri Aldo, nafasnya terengah-engah.
"Siapa orang itu Aldo?" tanya Rudi.
"Dia orang yang menjadi selingkuhan Sinta!" jawaban Aldo membuat Rudi tertohok kaget.
Hatinya berucap." Ada apa Luky menemui Sisi? Kenapa dia kabur begitu saja?"
Pertanyaan itu semakin tergiang di kepala Rudi. "Apa benar dugaan Ami orang yang membunuh Fairus itu adalah Luky? Tapi kenapa? Luky melakukan semua itu, bukanya Delia tidak ada kaitanya sama sekali!"
Aldo menepuk pundak Rudi dan berpamitan untuk segera pulang, karna besok adalah hari dimana Sinta di makamkan.
Rusi berjalan pelan memikirkan Luky, yang berlari dan malah memukulnya.
Setelah sampai di ruangan Sisi, Ami bertanya pada Rudi," Siapa orang tadi pah?"
"Luky!" jawab Rudi di ambang kebingungan.
"Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Ami.
Rudi hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Di saat obrolan itu jari tangan Sisi bergerak-gerak.
Ami melihatnya langsung menghampiri Sisi.
"Si, kamu sudah sadar?" tanya Ami.
__ADS_1
Wanita berwajah bulat itu, hanya menatap kearah Ami. Matanya tidak berkedip-kedip sama sekali.
"Si, kamu lihat aku?"
"Siapa kamu?" tanya Sisi pada Ami.
Ami langsung memanggil sang dokter, menayakan kepada sang dokter. Kenapa dengan Sisi saat ini?
Dokter menjelaskan ada kelainan pada otak pasien, akibat benturan beberapa kali. Membuat otak pasien cedera. Dan mengakibatkan pasien menjadi hilang ingatan.
Apalagi benturan itu bersamaan dengan rasa trauma si pasien tentang kejadian yang menyakitkan pada dirinya.
Ami mendengar penuturan dokter dan berkata." jadi Pasien Sisi amesia."
"Seperti itu!" jawab sang dokter.
**********
Setelah mengetahui keadaan Sisi, Ami dan Rudi segera pulang ke rumah. Mendengar tutur kata sang dokter.
Ami di liputi seribu kebingungan.
"Kenapa ko mamah ngelamun?" tanya Rudi menatap raut wajah istrinya itu.
"Oh, enggak ko pah!" jawab Ami. Raut wajah yang seakan tidak bersemangat.
"Kasian Sisi!"
Jawaban Ami membuat Rudi mengeleng-gelengkan kepala, mengelus hijab berwarna abu-abu yang Ami kenakan.
Rudi berucap sembari memegang kedua pipi istrinya seraya berkata." jangan terlalu kasian dengan orang lain. Yang belum tentu baik terhadap kita, biarkan dulu Sisi seperti itu.
Kalau kita bantu bagaimana kalau Sisi menghancurkan rumah tangga kita lagi."
Ami memegang kedua tangan suaminya yang masih menempel di pipinya dan berucap." Kalau kita bantu, Sisi. Dia pasti berubah!"
Bibir Rudi terseyum manis di hadapan istrinya. Tutur katanya begitu lembut, seraya berucap,"apa mamah yakin, kalau papah gak yakin. Karna Sisi itu adalah wanita yang sangat licik."
"Ami kamu jadi orang jangan terlalu baik," ujar Ibu Sumyati yang baru saja datang. Menghampiri Ami dan Rudi.
"Tuh, dengerin kata ibu!" jawab Rudi memoyongkan bibir atas bawahnya di hadapan Ami.
"Apa sih kamu, pah," ucap Ami tanganya langsung mencubit bibir suaminya itu.
Rudi ingin sekali berteriak, tapi Aku tidak melepaskan jari tangannya yang mencubit bibir suaminya itu.
__ADS_1
"Enak kan pah? Biar bibirnya agak panjang dikit," sindir Ami menarik bibir suaminya.
Bu Sumyati tertawa melihat tingkah Rudi dan Ami, seperti anak kecil yang tengah berantem.
"Sudah-sudah, kalian ini kaya anak kecil saja," ucap Ibu Sumyati. Membuat Ami melepaskan jari tangannya yang mencubit bibir Rudi.
Rudi mengosok-gosok bibirnya, karna ada rasa perih bekas cubitan Ami yang keras.
"Ami dengerin ibu, kita boleh baik sama orang lain. Tapi tak usah berlebihan, sederhana saja. Walau pun dalam hati kita merasa kasian ada baiknya bantu secukupnya saja. Karna kita tidak tahu hati mereka, yang kita bantu."
Nasehat Bu Sumyati membuat Ami tertunduk malu, Rudi hanya menjulur-julur lidahnya. Ami yang melihatnya membulatkan kedua mata.
"Dengerin tuh kata ibu," ucap Rudi mencubit kedua pipinya.
"Sakit, pah."
Tawa kebahagian mulai terpancar dari mereka.
Rudi yang menatap Ami berucap dalam hati." Dari dulu istriku tidak pernah berubah, dia terlalu baik dan mementingkan orang lain. Dari pada dirinya sendiri. Tanpa tahu resiko yang akan menimpa dirinya. Sifat baiknya kadang dimanfaatkan orang lain, ada kala pinter cuman setengahnya ajah. Kesananya bikin geleng-geleng kepala."
"Apa papah liat-liat," ucap Ami terseyum manis pada Rudi.
"Ih ... pede ya!"
****************
Saat itu sosok lelaki berbaju hitam datang lagi menghampiri Sisi yang terkulai lemah tak berdaya.
Sisi terbangun menatap kearah lelaki itu.
"Siapa kamu?" tanya Sisi. Ketakutan.
Lelaki itu langsung menenangkan Sisi membisikan. Sesuatu ketelinganya agar dia menurut tentang apa yang di perintahnya.
"Sisi kasian sekali nasibmu, menjadi orang yang linglung. Tenang saja Sisi kita akan membalas semua yang mereka lakukan terhadap kita, aku sudah benar-benar dibuat kesal oleh mereka," ucap sosok lelaki itu tak lain dia adalah Luky.
Luky membuat rencana untuk menghancurkan Rudi. Dia dendam karna Rudi telah menghancurkan kebahagiannya seketika bersama Aurora.
Semenjak Aurora pergi Luky selalu merasa bersalah, dia selalu berkata." kalau saja Rudi tidak menghancurkan rencanaku mengugurkan kandungan Sinta mungkin tidak akan seperti ini."
Mengepal kedua tangan." Sinta bunuh diri, dia rela bunuh diri karna Aldo yang meninggalkannya. Aku sangat kehilangan Sinta saat itu. Dia mengakhiri hidupnya sendiri dan jabang bayi yang ia kandung, yang tak lain adalah darah dagingku."
Luky terduduk meremas rambutnya dengan kedua tanganya." Aku tidak berniat membunuh Fairus saat itu, karna amarahku yang menggebu, sampai akhirnya aku nekad membunuh lelaki itu. Lelaki yang akan menikah dengan Delia. Ya semua karna wanita yang menjadi detektif murahan itu. Aku tahu semuanya, saat dia berada di penjara mengawasi Rudi dari kejauhan."
Rahang Luky mengeras, air matanya jatuh seketika." Delia aku benci wanita, yang menggagalkan rencanaku bersama Sisi waktu itu. Dia harus ku lenyapkan. Agar aku bisa membalaskan dendam akibat hancurnya rumah tanggaku bersama Aurora."
__ADS_1
"Aku Rindu kamu Aurora, Rindu sekali."
Luky terus saja menangis sembari menumpahkan semua isi hantinya sendiri di ruang di mana Sisi yang tengah di rawat.