Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 184 Putra curiga. Pada Ane.


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju pulang, Ane melamunkan tentang perjanjiannya dengan Deni. Ia ingin sekali bercerita kejujuran. Namun hatinya ketakutan.


Putra yang tak biasa melihat sang istri melamun, seketika menggenggam erat tangan kanannya dan bertanya,” Apa yang tengah kamu pikirkan sekarang bunda?”


Ane menatap ke arah samping melihat pada suaminya yang sudah menemaninya selama 25 tahu.


“Tidak. Ayah.”


Putra sedikit curiga pada Ane, ia tak biasanya melihat sang istri yang akhir-akhir ini sering melamun.


Apa yang sedang kamu pikirkan Ane. Gumam hati Putra.


Ane melihat pada jendela mobil, kini ia merasakan beban yang sangat begitu berat. Membuat dia harus berpikir keras agar besok Deni tidak marah dan memberi tahu tentang Alan.


Aku harus mencari cara agar Deni tidak membeberkan semuanya, Gumam hati Ane.


Setelah sampai di depan rumah. Sebuah teriak terdengar dari dalam rumah, di mana sambutan hangat dari anak-anak untuk Ane.


Ane yang tak menyangka jika anak-anak belum tidur, membuat ia memeluk erat tubuh mungil mereka.


“ kalian belum tidur?” tanya Ane. Dengan kecupan hangat untuk kedua anak-anaknya.


“ Kami ingin tidur bareng, mama!” jawab kedua putri kecil Ane. Bersikap manja pada sang ibu.


Ane menjawab dengan senyum kebahagiaan,” Oke.”


Sebelum tidur, Ane mulai mengecas ponselnya di ruang tengah. Tanpa ia sadari Putra datang, dari arah belakang, Ane mulai menyalahkan ponselnya. Ia mengetik kata sandi yang selalu ia pakai tanpa suaminya tahu.


Putra langsung menghafal ketikan kata sandi dari ponsel istrinya. Ia berpura-pura mengejutkan sang istri, agar Ane tak curiga.


“ Ayo belum tidur.”


Pelukan hangat di layangkan oleh Putra pada Ane. Membuat Ane sedikit syok, ia bergegas mematikan ponselnya kembali. Dengan harapan Putra tak melihat pesan yang ia baca dari Deni.


“ Ayah, kok tiba-tiba sudah ada di belakang sih?”

__ADS_1


Putra tersenyum kecil, seraya menjawab,” habisnya bunda fokus sama hp.”


“sudah ah. Bunda mau ke kamar anak-anak, ayah sekarang tidur sendiri di kamar, ya.”


“ Oke.”


Ane tak menyadari apa yang sudah ia lakukan, teledor dengan menyimpan ponsel di tempat yang tak seharusnya di ambil Putra sang suami.


“ Maafkan aku Ane. Aku sedikit curiga dengan kamu akhir-akhir ini?” gumam Putra.


Lelaki bermata sipit itu, mulai mengambil ponsel Ane tanpa Ane sadari.


Ia membawa masuk ke dalam kamar. Ingin sekedar melihat isi pesan yang akhir-akhir ini selalu membuat istrinya terlihat tak tenang.


Untung saja Putra sudah mengetahui, kata sandi dalam ponsel sang istri. Ia bisa dengan mudah melihat apa saja yang membuat Ane berubah.


Putra langsung membuka berwarna hijau di dalam ponsel Ane, berharap Putra dapat menemukan apa yang sudah membuat istrinya berubah.


Pada saat itulah Putra menemukan sebuah pesan. Dimana pesan itu dituliskan untuk Deni, Putra mulai mengingat-ngingat Siapa orang yang bernama Deni itu.


Pesan yang tak pantas kini Putra baca secara perlahan, pesan dari Deni begitu membuat amarah Putra memuncak.


Putra mulai mengkrisut pesan-pesan yang tidak pantas saat itu juga, Iya menggenggam erat ponsel sang istri, berharap besok bisa bertemu dengan orang yang sudah membuat istrinya berubah.


“Akan kutemui orang yang bernama Deni itu besok.”


Sebelum menemui orang bernama Deni itu, Alan ingin mendengar langsung dari sang istri. Apa benar sekarang dia tengah terancam oleh orang bernama Deni.


Putra tak menyangka jika sang istri tidak mau mengatakan kejujuran kepadanya, biasa akan gagal menjadi seorang suami yang tak bisa membuat istrinya nyaman bercerita dengannya.


“ Ane, kenapa kamu dari dulu tidak pernah bercerita kepadaku. Padahal aku ini suamimu.” Gerutu Putra.


Kedua mataku terasa akan susah untuk dipejamkan, Iya terus mengingat pesan yang sangat menjijikkan pada ponsel istrinya.


Dimana pesan itu, Deni ingin di temani satu malam dengan Ane.

__ADS_1


Mengusap kasar wajahnya sendiri, Putra berharap besok dia tidak emosi terhadap Ane.


Kini Putra mulai mematikan ponsel sang istri menaruhnya di ruang tengah.


Hatinya masih tak percaya dengan apa yang menimpa istrinya Iya terus bolak-balik kesana kemari, memikirkan untuk besok harus memulai pembicaraan dari mana dulu kepada sang istri.


Karena selama menikah dengan sang istri, Putra tak pernah mendengar curhatan ataupun kalah keluh Ane pada dirinya.


Pernikahan selama 25 tahun ini, Putra jalani sedikit hambar, karena sikap sang istri yang sedikit dingin.


Walaupun begitu Putra tetap menerima sifat dan sikap sang istri, Putra juga menyadari bahwa dirinya tahu bahwa Ane terpaksa menikah. Karena tuntutan orang tua.


@@@@


Namun Putra tetap sabar menjalani pernikahan bersama sang istri.


Putra mulai berjalan melangkah ke arah kamar kedua putrinya, iya melihat sang istri tengah tertidur pulas memeluk kedua putrinya. rasa kecewa kini Putra rasakan tapi ia berusaha tahan. Mana mungkin Putra harus menyalahkan Ane, tanpa Ane menjelaskan semuanya.


sebagai seorang suami iya harus bisa lebih dewasa lagi memahami karakter sang istri, yang jarang sekali bercerita dengan dirinya. apalagi berkata jujur padanya.


Putra tak tahu apa di hati Ane ada dirinya, karena selama 25 tahun menikah dengan wanita berparas cantik berbadan langsing itu, jarang sekali Ane memanjakan Putra. Ane lebih sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit.


Tak terasa tetesan air mata menetes secara perlahan mengenai pipi Putra, Iya baru pertama kali menangis merasakan rasa kecewa.


setelah melihat Ane dan kedua anak-anaknya tidur begitu lelap, ini Putra mulai menutup pintu kamar anak-anaknya dengan perlahan. Putra langsung duduk di tengah rumah memikirkan apa yang harus ia lakukan besok.


hingga tak terasa Jam sudah menunjukkan 12 malam, Putra masih saja memikirkan tentang sang istri.


hatinya resah, Putra ketakutan akan besok bertanya kepada sang istri.


Rasa takutnya bukan karena takut akan amarah Ane. Tapi rasa takutnya akan Ane yang tak mau berkata jujur karna terus menutupi masalahnya.


Apa yang akan terjadi besok jika aku bertanya pada istriku tentang masalahnya? Putra terus memikirkan perkataan itu.


pikirannya seakan dipenuhi dengan kebimbangan dan rasa tekanan, ia menarik nafas secara perlahan.

__ADS_1


" Aku seorang suami. Aku harus berani, bagaimana pun resikonya, semua tak bisa di biarkan begitu saja. Harus aku selesaikan secara baik-baik, aku tak ingin istriku sendiri menjadi bahan permainan oleh lelaki bernama Deni itu."


keyakinan yang di miliki Putra sangatlah besar. Tapi apakah keyakinan itu akan membuahkan hasil.


__ADS_2