
Pak Stpam di ruangan cctv itu langsung mencari-cari keberadaan Dodi, entah dimana keberadaan anak itu. Bu Sumyati sungguh kuatir dengan apa yang menimpa cucunya saat ini, ia berdoa dalam hati mudah-mudahan cucunya bisa ketemu saat ini juga dengan keadaan selamat.
Sebenarnya kamu ada di mana? Nenek sangat mengkhawatirkanmu, gumam hati Bu Sarah.
Para satpam tidak berhenti mencari keberadaan Dodi saat itu, mereka terus berusaha dengan kemampuan mereka.
Kabar baik itu datang tiba-tiba, Dimana terlihat dari rekaman CCTV, Dodi ditemukan di ruangan mayat.
" Alhamdulillah, bu. Kita menemukan cucuk ibu di ruangan ini. Coba lihat," ucap pak satpam menunjuk pada rekaman cctv yang tergambar ada Dodi di dalam ruanganya.
"Iya, benar. Itu cucu saya, Dodi," ucap Bu Sarah.
"Ya sudah, ayo kita ke ruangan mayat," ajak salah satu satpam. Yang bertugas menunggu ruangan cctv.
Semua satpam mengantar Bu Sarah, untuk menemui cucunya yang berada di ruangan mayat. Mereka berjalan tergesa-gesa kuatir dengan Dodi saat ini.
Setelah sampai di tempat tujuan, akhirnya Bu Sarah menemukan Dodi yang tengah berdiri dekat dengan satu mayat, yang entah Bu Sarah tidak tahu itu siapa?
" Dodi." Panggil sang nenek kepada cucunya.
Dodi langsung membalikkan wajahnya kearah sang nenek, berlari memeluk dan menangis.
"Kamu sedang apa disini nak? Ayo kita ke ruangan. Mama kamu, pasti Mama kamu sudah menunggu!?"
Dodi menganggukkan kepalanya pelan ia menunjuk pada salah satu mayat. membuat para satpam bergidik ngeri..
"Ada apa?" tanya sang nenek, yang masih heran melihat perlakuan Dodi yang sedikit terlihat aneh.
"Dodi mau nunjukin pada nenek!" jawab Dodi menatap raut wajah tua sang nenek, yang berada di hadapannya.
Bu Sarah yang semakin heran bertanya?" Nunjukin apa, Sayang?"
Dodi langsung menarik telapak tangan neneknya, untuk melihat mayat yang tengah ditunggu Dodi.
Bu Sumyati yang penasaran, mulai membuka kain putih yang menutup pada wajah mayat itu. Penampilannya sungguh mengenaskan, mayat itu ternyata korban dari tabrak lari.
Bu Sarah tertohok kaget, ia langsung menutup mulut dan hidungnya. Ada rasa bau yang menyengat pada kedua lubang hidungnya, membuat wanita tua itu, mencubit hidung. Rasanya Bu Sarah ingin segera mengeluarkan isi dalam perutnya, ia mulai bertanya pada sang cucuk?
"Dodi untuk apa kamu menunggu di ruangan mayat ini? Dan kenapa kamu mau menunggu mayat ini sendirian, apa kamu tidak takut?" tanya sang nenek. Megibas-ngibaskan bau yang terus menusuk hidungnya.
" Nenek tunggu dulu di sini, nanti orangnya datang ke sini," ucap Dodi. Membuat Sang nenek mengangkat kedua alisnya.
Kali ini Bu Sumyati langsung menuruti perkataan Dodi, Mereka berdua mulai menunggu mayat yang terbaring di atas ranjang, yang baru saja meninggal.
__ADS_1
Sedangkan Pak satpam. Masih berdiri menatap keanehan yang berada di rumah sakit dimana tempat mereka mencarin nafkah.
"Eh Rojak, aneh enggak sih, masa anak itu nungguin mayat. Yang entah tidak tahu itu mayatnya keluarganya yang mana?" bisik Pak Abidin bertanya pada sahabat yang berada di sebelahnya. Mereka tenggah menunggu di luar ruangan mayat.
Karna Pak Rojak tak mendengar perkataan Pak Abidin. Satpam itu langsung menyenggol sikut satpam di sampingnya.
" Jangan mikir aneh-aneh. Lebih baik, kita turutin aja apa kata anak itu. Jaga dulu di sini, mudah-mudahan saja tidak ada hal yang aneh-aneh!" jawab Pak Rojak. Menatap sekilas pada sahabatnya itu.
"Kalau misalkan terjadi apa-apa pada anak itu dan juga si Ibunya gimina?" tanya Pak Abidin.
"Maksud kamu?" tanya balik Pak Rojak, mengerutkan kedua alisnya.
"Ya, maksud aku mereka agak sinting!" jawab Pak Abidin. Sahabat yang berada di sisi kirinya menampar belakang kepala Pak Rojak," somplang kalau ngomong."
"Ya kan kita engga tahu," cetus Pak Abidin.
"Sudahlah, kita jaga aja dulu di sini? Takut nanti ada orang yang berniat jahat kepada ibu dan cucunya."
jawab Pak Rojak kepada sahabatnya itu.
"Tapi kan, berasa ngeri lah, takut," ucap Pak Abidin.
"Badan lu aja gede, tapi penakut. Dasar lu Cemen," cecar Pak Rojak.
" Sekarang kamu jangan banyak ngomong, yang penting kita jagain dulu di sini," ucap Pak Rojak. Menujuk lantai atas dengan jari tangannya.
"Y udah, oke," balas Pak Abidin.
Beberapa menit menunggu. Bu Sumyati menarik lengan tangan Dodi.
" Tunggu dulu nek sebentar lagi kok." Raut wajah Dodi menyimpan harapan untuk tetap menunggun di samping mayat, yang entah Bu Sumyati tidak tahu keluarganya ada di mana?
"Nenek sudah lama menunggu di sini, rasanya badan nenek pegal, lebih baik kita keluar ruangan mayat ini." Ajak Bu Sumyati pada cucunya.
"Tapi, Nek." Dodi ingin sekali menolak sang nenek, tapi apa daya. Tidak baik melawan printah orang tua bagi Dodi.
Karna Ami selalu mengajarkan Dodi, agar selalu sopan dan menurut pada orang tua. Tidak boleh membantah.
" Yuk, kita keluar dulu." Ajak sang nenek menarik lengan cucunya.
Dengan terpaksa, Dodi keluar dari ruangan itu. Atas perintah sang nenek, ia masih mempunyai janji dengan orang yang mengajaknya saat itu.
Namun baru beberapa langkah kaki, menuju keluar ruangan mayat. Seseorang berlari tergopoh-gopoh dengan baju warna putih yang begitu terlihat kotor dan usang.
__ADS_1
Satpam tertohok kaget, orang yang berlarian memakai baju putih dengan usang dan kotor. Ternyata adalah dokter Gunadi.
"Dokter, Kenapa pakaian dokter seperti ini?" tanya kedua satpam itu.
Nafas sang dokter tampak ter engah-engah. Ia langsung menjawab pertanyaan kedua satpam yang berada di sampingnya.
"Tadi, saya habis ke ruang laboratorium, lupa meninggalkan anak kecil di ruang mayat terlalu lama!" jawab Pak Gunandi.
Kedua satpam Itu tampak Malu, setelah mendengar penjelasan sang dokter. mereka hampir berburuk sangka kepada Pak Gunandi.
Dokter Gunadi langsung menghampiri Dodi pada saat itu.
"Dodi maafkan bapak, yang lupa meninggalkan kamu di ruang mayat!"
Dodi terseyum dan mejawab," tak apa dok!"
"Jadi orang yang mengajak kamu itu dokter ini?" tanya sang nenek kepada cucunya.
Dodi langsung menganggukan kepala dan berkata," iya Nek.
"Oh ini neneknya Dodi, ya?" tanya dokter tua itu.
" Ya ampun Maaf ya, bu. soalnya saya lagi bertugas di ruangan ini. Kebetulan sehari ini banyak orang yang kecelakaan membuat saya kewalahan. Hingga Di mana saya menemukan Dodi duduk sendiri di taman, sampai saat itulah saya mengajak anak ini ke ruangan mayat. Untuk mengotopsi mayat korban dari tabrak lari." Penjelasan sang dokter pada Bu Sumyati.
"Kalian pasti anehkan, melihat baju saya usang kotor. Karna sudah berapa banyak baju saya terkena darah para korban tabrak lari. Apalagi saya seorang duda yang tidak mempunya istri untuk menguruh baju atau kepeluan saya." Ucap Pak Dokter.
Kedua satpam itu saling menyalahkan satu sama lain, begitupun dengan Bu Sumyati, Iya langsung tersenyum dan meminta maaf.
"Maafkan saya, pak dokter."
Dokter tua itu tersenyum, memaklumi apa yang terjadi. Ia malah menyalahkan dirinya sendiri.
" Ibu tidak usah meminta maaf, kepada saya. Seharusnya saya yang meminta maaf kepada anda,
karena saya salah tidak meminta izin, membawa Dodi."
Bu Sumyati tampak malu ia merapikan rambut pendeknya.
Dodi menghampiri Pak Dokter saat itu,"Pak Dokter Terima kasih, ya. Sudah membuat rasa tenang pada hati Dodi. Ternyata hidup mati itu tidak ada yang tahu semua sudah takdir kita tidak boleh eh melebihi takdir atau menentang takdir itu."
Pak Dokter Gunadi mendudukan kedua lututnya dan memegang kedua bahu Dodi," sudah pahamkan, sekarang Kamu tahu kan apa yang sudah diceritakan bapak, mudahan kamu paham."
Dodi menganggukan kepala terseyum memeluk sang dokter.
__ADS_1
"Sekarang kamu jangan sedih lagi, coba berusaha. Dengan Sekuat apapun. Jadikan kesabaran, sebuah hasil yang manis untuk kamu kedepannya." Nasehat terus terlontar dari Pak Gunandi untuk Dodi."