
Tak terasa Dodi sudah berumur empat tahun, di mana ia sudah pasih dalam berbicara. Semenjak Ami pura-pura buta ia selalu menitipkan Dodi pada Ka Rani.
Ka Rani tetangga yang baik hati, setiap pagi Ka Rani selalu membawa Dodi. Terkadang Dodi sampai menginap, Karna kebetulan di rumah ada Bu Sumyati.
Bu Sumyati mau mengurus Dodi.
Walau hanya sebentar dan di titip kan lagi pada Ka Rani. Ada rasa kasian sama Dodi karna kurangnya kasi sayang dari Ami ibunya. Tapi harus bagaimana lagi.
Ibu mertua Ami tak kunjung pergi dari rumah Ami.
"Mamah, mamah." teriak Rudi membuat semua orang yang ada di dalam berhamburan keluar, mendengar teriakan Rudi.
"Ada apa pah?" tanya Ami.
Rudi langsung mempertanyakan kedatangan Sisi. Wajahnya memerah seakan menahan marah pada Ami.
"Apa yang kalian lakukan pada Sisi?" tanya Rudi dengan sedikit bernada tinggi.
Ibu mertua Ami langsung menagis tersedu-sedu.
"Kenapa ibu menagis?" tanya Rudi saat itu juga.
"Rud, maafpin ibu yang gak bisa menahan Amarah istri kamu!" jawab Bu Nunik dengan tangis tersedu-sedu.
"Maksud ibu apa?" tanya Ami yang membuat wajahnya bingung.
"Benar dugaan papah kan!"
"Aku gak ngerti dengan apa yang di pertanyakan papah saat ini?" timpal Ami sedikit bernada kesal. Melihat mertuanya yang berderama seakan menagis.
"Tadi Sisi ke sini dan meminta maaf pada mamah, malah mamah memarahi dia dan mengerjai dia," hardik Rudi memarahi Ami di depan mata Bu Sumyati.
"Nak Ami tidak tau apa-apa, Den Rudi. Asal den tau wanita itu datang tanpa mengetuk pintu dan permisi. Ami yang buta ini mana tahu kedatangan wanita itu," ucap Bu Sumyati membela Ami.
"Diam kamu Sumyati, mana kamu tau. Kamu hanya orang luar yang masuk ke rumah ini," ucap Ibu Nunik. Memarahi Bu Sumyati.
"Benarkan apa yang saya bilang Bu Nunik. Wanita itu datang dan memberi satu lembar berkas pada ibu, kenapa? Ibu tidak mau mengaku!" ucapan Bu Nunik membuat bibirnya keluh.
"Apa benar itu bu?" tanya Rudi pada ibunya sendiri.
Bu Nunik langsung berkata dengan penuh drama." Benar, Sisi memberi satu berkas untuk di tanda tangani Ami."
"Berkas apa?" tanya Ami.
__ADS_1
"Mana ibu tau, dia sudah pergi dan berkas itu juga di bawa pergi. Karna kamu mengusir dia dan mengerjai Sisi." Ibu Nunik semakin memojokan Ami agar dia bersalah di mata Rudi.
"Apa benar kata ibu, kalian mengerjai Sisi," teriak Rudi membuat air mata Ami berkaca-kaca. Bulir bening itu hampir jatuh membasahi pipinya yang putih dan bersih itu.
"Jawab," teriaka Rudi, lelaki berbadan kekar itu berdengkus kesal. Nafasnya berat melihat Ami menjadi wanita jahat.
Bu Sumyati melangkah maju, sembari berkata.
"Jangan marahi Nak Ami, den Rudi. Semua salah ibu, Ibu yang mengerjai wanita itu. Karna ibu gak suka dengan wanita lancang itu."
"Sebaiknya kalau ada tamu, ada kalanya kalian belajar dewasa. Jangan seperti anak kecil. Sisi juga wanita dia punya perasaan," ucap Rudi menasehati Ami dan Bu sumyati.
Ami yang tak terima dengan perkataan suaminya membuat hatinya sedikit sakit.
Rudi lebih percaya yang hanya dia liat tanpa tahu kebenaran yang ada.
Saat kejadian itu Ami seakan malas berbicara dengan suaminya Rudi.
Satu pesan datang pada Hp-Ami.
[ Mba apa kabar, gimana keadaannya sehat? Alan]
Satu pesan dari lelaki yang baru kemarin menyataka cintanya pada Ami. Kini mengirin pesan.
"Apa aku harus membalas pesan Alan, dan memberitahu tentang apa yang aku rasakan. Rasanya tidak mungkin aku harus menjaga hati ini," ucap Ami membiarkan pesan itu tanpa membalasnya.
"Maafin papah ya, mah." Dagu Rudi menempel pada pudak Ami, Ami yang mendengarnya hanya bisa diam saja.
Masih ada luka dalam dirinya, seharusnya Rudi lebih membela Ami dari pada Sisi wanita yang selama ini berbuat semenah-menah pada dirinya.
***********
Di saat itu juga Bu Sumyati menghampiri Bu Nunik.
"Tenyata Nunik yang dulu masih sama seperti sekarang, membuat drama macam sampah," ucap Bu Sumyati.
Tawa Bu Nunik terdengar nyaring, ia berkata." Apa? Aku drama! Mana mungkin Yati."
"Benar dugaanku, tidak ada metua seperti kamu di dunia ini. Jahat dan tak tahu di untung," ucapan Bu Sumyati begitu membuat wanita bernama Bu Nunik itu mengeraskan rahangnya.
"Jelas, aku hebatkan," jawaban. Bu Nunik seakan bangga dengan dirinya.
"Kamu lihat apa ini Nunik," Bu Sumyati meperlihatkan akte kelahiran Rudi pada Bu Nunik.
__ADS_1
"Dari mana kamu dapatkan itu!"
"Ketika aku mengerjai wanita yang bernama Sisi itu, aku menemukan berkas pada laci yang tak sengaja kamu tidak kunci," Bu Sumyati terseyum, dimana ia tahu bahwa selama ini Rudi adalah anaknya sendiri yang telah lama di culik.
"Benarkan dugaanku, awalnya kamu menculik anakku setelah ia lahir. Dan mefitnah aku, bahwa aku mempunyai ganguan jiwa. bersekongkol dengan keluargamu sendiri. Benar-benar jahat kamu Nunik, menghancurkan rumah tangga orang lain hanya karna harta dan kebahagianmu sendiri. Dan sekarang kamu mau menghancurkan rumah tangga Rudi dengan Ami, mendukung wanita pelakor tadi. Jiwa pelakormu tak pernah hilang. Sudah mendarah dengan dagingmu sendiri."
Bu Nunik menghampiri Bu Sumyati mendekat ke arah wajahnya.
"Bodoh, kenapa baru sadar sekarang?"
"Aku akan memberi tahu Rudi selama ini!"
"Silahkan, kalau Rudi akan mepercayaimu."
"Apa benar yang di katakan Bu Sumyati?" tanya Rudi yang tiba-tiba datang.
"Rudi," ucap Bu Nunik menghampiri Rudi.
Mata Rudi mulai berkaca-kaca." Jawab bu?"
Bibir Bu Nunik begitu keluh, tak bisa menjawab pertanyaan Rudi.
"Kenapa ibu diam," teriak Rudi semakin mengema di telinga Bu Nunik.
"Itu bohong Nak, kamu harus percaya sama ibu," ujar Bu Nunik mengelus pipi Rudi yang mulai di basahi air mata.
"Selama ini Rudi percaya dengan ibu, karna ibu tak pernah bebohong. Jawab petanyaan Rudi bu." tekanan dari Rudi membuat Bu Nunik seketika menangis.
kebohongan terungkap, Bu Nunik yang lemah seketika berbisik dalam hati." Gawat bisa-bisa aku hancur sekarang juga, kalau Rudi mengetahui semuanya."
Saat ini Hati Rudi begitu rapuh, mendengar perkataan Bu Sumyati, bahwa Rudi bukan anak Bu Nunik.
Pantas saja Bu Nunik suka menyiksa Rudi diwaktu kecil, dan menekan semua keiginannya. Seorang ayah pun masih membela ibunya dari pada anaknya sendiri.
Untuk memilih sang istripun Bu Nunik selalu melarang, harus sesuai keteria dia sendiri. Yang kaya raya dan keluarga berbobot. Ibu macam apa yang tega menekan anaknya sendiri.
Rudi teringat di waktu kecil, karna nakal, Bu Nunik memarahi Rudi dengan sebutan dasar anak gila.
Rudi hanya menagis sendiri mendengar tutur kata Bu Nunik yang menyakiti relung hatinya.
"Ibu, sekarang Rudi tahu. Kasih sayang ibu hanya sebatas harta. Ayah mati karna ibu juga. Yang menekan Ayah menjadi orang kaya. Dan sekarang juga Ibu begitu menekan aku untuk menjadi orang kaya dari hasil yang tak pantas di banggakan."
"Tolong dengarkan ibu dulu," permohonan maaf terlontar dari mulut wanita tua yang bernama Nunik itu.
__ADS_1
Rudi bersujud pada kaki sang ibu, yaitu Bu sumyati meminta maaf karna tidak mencari tahu. Tentang masa lalu Ayah Tono.
Wah ... wah ... Bu Nunik Rahasiamu terbongkar. Apa Rudi akan memaafkan atau dia mempertahankan.