Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 294 perdebatan


__ADS_3

@@@@@


Saat itu Rudi yang melihat sang istri masih cemberut, membuat dia pergi ke ruangan kerjanya. Sedangkan Dodi mulai berjalan ke arah kamar untuk beristirahat, karna ajakan sang papah dari pagi membuat tubuhnya merasa kelelahan.


Rudi, mencoba mendengarkan obrolan Si Mbok yang ia sengaja pasangkan alat pada kerah bajunya.


Setelah mendengarkan obrolan si Mbok. Rudi mendengar suara seorang wanita yang di mana Si Mbok memanggilnya dengan sebutan Non.


“Apakah itu, Sarah?” Gumam hati Rudi.


Ia mulai melacak keberadaan wanita tua itu, besok dirinya akan mengecek keberadaan wanita tua itu. Agar bisa menemukan Sarah dan menjebloskan Sarah kembali ke penjara.


Walau sedikit yang Rudi dapatkan, tapi bagi dirinya sanggatlah puas, karna ia bisa menemukan pembantu Sarah dan menempelkan alat perekam. Tanpa bersusah payah ke sana ke mari mencari keberadaan Sarah.


Namun, saat Rudi tengah fokus mengecek keberadaan pembantu itu. Tiba-tiba pintu di buka dengan begitu keras, membuat Rudi sanggatlah kaget.


Ternyata ialah Ami, yang berdiri dengan wajah merah penuh amarah.


“Ami, ternyata itu kamu. Sayang,” ucap Rudi. Kedua matanya kini fokus menatap kembali layar laptop- nya. Mengabaikan sang istri yang berdiri penuh amarah.


Ami berjalan mendekat ke arah Rudi, kedua tangannya langsung memegang laptop yang tengah Rudi tatap. Tiba-tiba saja Ami langsung melemparkan laptop itu di depan Rudi, membuat laptop itu seketika hancur.


Rudi mulai berdiri dan berkata kepada sang istri,” apa yang sudah kamu lakukan, apa kamu gila? Menghancurkan laptopku tanpa sebab?”


Tanpa sadar Rudi membentak istri nya, membuat air mata keluar dari kedua mata sang istri.


“Ya ampun, Ami maafkan aku.”


Rudi mulai meminta maaf dan memegang kedua tangan sang istri.


Namun, Ami malah menepis tangan Rudi yang memegang tangan yang, membuat Rudi bertanya kembali,” Sebenarnya kamu ini kenapa? Dari pagi kamu diam dan marah-marah tak jelas seperti ini? Apa salahku?”


Ami menundukkan pandangan mengusap perlahan air matanya dengan kedua punggung tangan, air mata itu sudah jatuh mengenai pipi.


Sedangkan Rudi mengusap kasar wajahnya, hatinya sedikit kesal melihat sang istri yang hanya diam dan menangis dihadapannya.


“Ayolah bicara jangan diam saja, aku ingin mendengarkan bibirmu berucap. Apa kesalahanku saat ini, sampai kamu berubah seperti ini?” tanya Rudi berharap sang istri mau menjawab pertanyaannya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Dengan sikapnya seharian ini yang berubah drastis.

__ADS_1


Saat itulah Ami, mulai mengangkat wajahnya menatap kearah sang suami. Jari tangannya mulai menunjuk pada wajah Rudi dan berkata,” apa kamu tidak menyadari kesalahanmu sendiri.”


Ucapan sang istri membuat Rudi semakin bingung, dirinya sendiri pun tak tahu apa kesalahannya saat ini.


“Apa maksud kamu, aku tak mengerti?” tanya Rudi.


“Tak mengerti!” jawab Ami.


Ami langsung memperlihatkan video pada ponsel Rudi yang tengah ia pegang saat ini, di mana video itu dikirim oleh Sarah dengan sengaja.


Rudi langsung mengambil ponselnya dan melihat rekaman video itu, sungguh syok yang ia rasakan saat ini. Kenapa bisa wajahnya terpampang di dalam video yang dikirim Sarah kepada ponselnya.


Rudi benar-benar tak melakukan semua yang ada pada video yang dikirim Sarah, Iya tak tahu kenapa wajah lelaki itu bisa seperti wajahnya. Apa itu sebuah editan? Tapi kenapa begitu detail? Sampai wajahnya sama persis seperti Rudi?


“Ami, aku benar- benar tidak melakukan semua ini,” ucap Rudi memohon kepada sang istri. Dengan menempelkan kedua tangannya.


“Jika kamu tidak melakukan semua dalam video ini, itu tidak mungkin sekali. Karna jelas-jelas wajah kamu ada di dalam video ini,” tegas Ami.


Rudi bingung harus menjelaskan apalagi kepada istrinya, karena ia benar-benar tak melakukan apa yang ada di dalam video itu.


“Sumpah, Demi tuhan. Aku tak melakukan semua itu,” ucap Rudi.


Rudi bingung harus menjelaskan apalagi kepada istrinya, yang benar-benar tak mempercayai setiap perkataan yang terlontar dari mulutnya.


Ini Rudi duduk di kursi, memegang kepalanya dengan kedua tangan. Sesak yang di rasakan, lelah letih. Dalam rumah tangganya selalu saja ada masalah.


“Kenapa kamu, diam?” Tanya Ami yang tak bisa mengontrol emosinya.


“Aku harus mengatakan apa lagi, aku sudah jujur dengan apa yang aku katakan padamu. Sayang!” jawab Rudi bernada sayu. Menahan semua rasa emosi dalam jiwa, ia tak mau sifat pemarahnya kembali lagi muncul seperti dulu.


Hatinya sudah lelah terus menjadi orang pemarah, ia ingin bisa mengontrol diri agar tidak kehilangan wanita yang sangat ia sayangi dari dulu.


“Jawab.” Teriak Ami. Air matanya terus saja mengalir deras mengenai pipi.


Jika Ami marah dia tak segan-segan membentak Rudi, biasanya Ami selalu bersikap sabar dan mengalah. Tapi sekarang berbeda sekali.


Rudi berdiri, ia mulai menitikkan air mata. Walau air mata itu belum sepenuhnya membasahi pipi, tangannya mulai meraih tangan Ami. Rudi tak segan memeluk erat istrinya.

__ADS_1


“Aku sangat menyayangimu, mana mungkin aku berbuat hal semacam itu. Apa lagi sampai melukai hatimu, sayang.”


Ami benar- benar melepaskan pelukan itu, ia seakan jijik dengan apa yang di lakukan suaminya kepada dirinya. Apalagi mengingat Video yang di kirim Sarah lewat ponselnya.


“Sudah cukup, jika kamu tidak mau berkata jujur. Sebaiknya kamu ceraikan aku saja.”


Deg ....


Kata-kata Ami benar-benar membuat relung hati Rudi sanggatlah sakit, apa semudah itu kata-kata keinginan cerai terlontar dari mulut wanita yang selama ini Rudi sayang.


Apa belum cukup pengorbanan Rudi selama ini?


“Aku tidak mau Ami,” ucap Rudi bernada sayu. Tubuhnya lemas, ia berdiri menatap tajam sang istri.


“Kalau tidak mau kenapa kamu tidak berkata jujur,” balas Ami. Kedua matanya seakan enggan menatap sang suami yang terlihat lesu akan ucapannya yang meminta cerai.


“Aku sudah berkata jujur, aku tidak melakukannya,” ucap Rudi.


“Terus ini apa?” tanya Ami menunjuk wajah Rudi dalam video dari ponsel Rudi.


Pintu terbuka, Ami dan Rudi saling menatap ke arah pintu itu dan ternyata ialah Dodi yang berdiri.


“Dodi.” Ucap Rudi. Menghampiri Dodi.


“Papah, kenapa Dodi mendengar teriakan mamah. Kalian bertengkar lagi?” tanya Dodi yang menyadari akan kedua orang tuanya yang berdebat tiada henti.


Ami memalingkan wajah, tak menatap Dodi. Telapak tangannya mengusap pelan air mata yang berjatuhan. Sedangkan Rudi, tersenyum tanpa menampilkan rasa kesedihannya.


“Mamah dan papah sedang belajar vokal, jadi nadanya berteriak-teriak. Kamu ke ganggu ya, nak,” ucap Rudi bernada lembut.


Dodi langsung menganggukkan kepala mengusap matanya dengan punggung tangan.” Dodi kira kalian bertengkar. Dodi sedih kalau liat papah mamah berantem.”


Perkataan Dodi membuat Ami langsung mendekat ke arah anaknya dan berkata,” kita lanjut tidur lagi yuk, nak.”


“Iya mamah.”


Ami langsung membawa Dodi pergi dari ruangan kerja Rudi, ia sekilas menatap sang suami penuh dengan kebencian.

__ADS_1


Rudi hanya bisa menghela napas dan mengusap kasar wajahnya, kini ia kembali menatap laptop yang hancur karna ulah sang istri.


__ADS_2