
Dengan sekuat tenaga, Alan berusaha melepaskan ikat tali yang melingkari tubuhnya.
“Untung saja di gudang ini terdapat pecahan beling.”
Alan tak peduli dengan tangan yang mengeluarkan darah, ia terus menggosok pecahan beling kecil itu pada ikatan tali.
Perih terasa, namun ia tahan.
Pintu yang mengeluarkan cahaya lampu itu kini kembali tertutup, Alan mengira Delia akan menemuinya.
Suara tawa itu kini kembali terdengar, membuat Alan semakin penasaran.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” Teriakan Delia terdengar nyaring pada telinga Alan.
Teriakan itu, dibarengi dengan suara tawa yang menggema. Membuat ruangan seakan bergetar, “Kenapa dengan, Delia.” Ucap Alan, lelaki berbadan kekar itu dengan cepatnya menggosokkan pecahan beling pada tali yang mengikat tubuhnya. Ada rasa takut, terjadi apa-apa dengan Delia.
“Aku harus segera bebas dari ikatan tali ini, aku takut Delia melukai Dodi.”
Hati Alan berdebar jantungnya tak karuan, ia ketakutan.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, sosok seorang wanita berseragam putih datang dengan nafas tergesa-gesa.
Keringat membasahi dahinya, seperti orang yang sudah berlari jauh.
“Siapa kamu?” tanya Alan.
Wanita itu belum menjawab pertanyaan Alan, tiba-tiba tangannya di tarik paksa oleh Delia.
“Mau apa kamu menemui suamiku, dasar wanita tak tahu diri.”
Satu pukulan melayang pada pipi kiri wanita berseragam putih itu.
Delia seakan tak terkontrol, ia seperti orang yang tak sadarkan diri. Melukai orang yang datang untuk menyelamatkannya.
“Delia, ini aku. Ane.”
Suara lembut itu terdengar, pada telinga Alan. Membuat dia baru sadar jika wanita yang memakai seragam putih tadi adalah Dokter Ane.
“Ini gawat, Penyakit Delia kambuh lagi. Sepertinya Dokter Ane kewalahan.” Ucap Alan. Tali yang mengikatnya erat pada tubuhnya akhirnya terlepas.
Alan dengan tangan yang bercucuran darah berjalan menghampiri, mereka berdua.
Benar saja, Delia tengah memegang pisau. Sedangkan Dokter Ane. Tergeletak di atas lantai, dengan wajah ketakutan, Alan yang tak peduli dengan rasa sakit pada tangannya. Mulai meraih badan sang istri memeluk dengan erat.
“Lepaskan aku.” Teriak Delia.
Alan dengan sekuat tenaga menahan Delia, menyuruh Dokter Ane untuk menyuntikan obat penenang.
Dokter Ane yang sudah lemas, karna pukulan Delia berusaha berdiri. Mengambil tas, mencari alat suntik berserta obat.
“Lepaskan aku Alan, kamu kurang ajar. Kamu membela Ami wanita yang tak mengaku anaknya sendiri,” ucap Delia. Pisau masih ia pegang.
“Diam kamu Delia, jangan sampai keegoisan kamu itu merusak akal sehatmu sendiri,” balas Alan. Menggenggam tangan Delia, berusaha menyingkirkan pisau yang istrinya pegang.
Dokter Ane yang berjalan sempoyongan, kini menancapkan satu suntikan pada tangan Delia. Membuat wanita bermata sipit itu melemas dan jatuh ke atas lantai.
__ADS_1
Pisau yang ia pegang erat, kini terlempar ke arah Dodi, dimana anak itu tengah menyaksikan pertengkaran dan perkelahian antara Dokter Ane dan Delia.
Apalagi Dodi melihat tangan Alan berdarah, membuat rasa traumanya timbul begitu saja. Rasa trauma dimana sang ibu yaitu Ami pernah terluka dan mengeluarkan darah di depannya.
Tangan Dodi bergetar hebat, hatinya tak karuan. Ia menangis mengingat sang ibu.
Pisau yang tergeletak di depan mata, kini Dodi raih.
Alan yang panik mulai menyuruh Dodi agar tidak main-main dengan pisau tajam itu.
“Nak, Dodi. Om minta tolong, letakan pisau itu ya nak, itu bahaya.” Ucap pelan Alan.
Alan takut rasa trauma membuat Dodi melakukan hal yang tidak-tidak.
“Om, kenapa dengan Tante Delia. Apa yang sudah Om perbuat?” pertanyaan Dodi kini terucap dari mulut kecilnya.
Alan yang kelelahan hanya bisa menghampiri Dodi perlahan dan berkata,” Tante kamu tidak kenapa-napa. Om hanya menenangkan Tante Delia, karna dia sedang sakit.”
Alan merangkul bahu Dodi, membawanya pergi ke kamar. Sedangkan Dokter Ane dengan sigap membawa Delia untuk di bawa ke rumah sakit.
Dokter Ane mulai memanggil para perawat untuk datang ke tempat Delia.
...
Sedangkan Alan menyuruh Dodi untuk segera berbaring di kasur.
“Kamu tidur dulu, ya. Dodi, besok kita akan berangkat.”
Alan langsung pergi, tanpa mendengar Dodi bertanya.
Ia menutup pintu kamar Dodi, segera mengambil kotak obat.
Saat Alan mencoba mengobati tangannya, Dokter Ane datang. Dengan sigap dokter wanita itu mengobati luka pada tangan Alan.
“Alan, kamu ini ngeyel. Aku sudah bilang dari kemarin. Delia itu butuh di rawat di rumah sakit,” ucap Dokter Ane. Membersihkan darah kering pada tangan Alan.
“Aku tidak tahu jika Delia akan seperti ini, semenjak dia kehilangan anak dalam kandungannya. Karna setiap melihat istriku di rumah kelihatan dia normal-normal saja layaknya orang yang tak sakit dan terkena gangguan jiwa,” balas Alan. Menahan rasa sakit dimana Dokter Ane membersihkan tangannya.
“Istrimu itu hanya terkena Beby blues sydrome, dia tidak gila. Hanya saja dia sedikit depresi pasca terus menerus kehilangan anaknya,” ucap Dokter Ane.
Alan hanya terdiam, ia tahu begitu sulit menjadi Delia. Dimana dirinya tertekan karna terus menerus keguguran.
“Heh, melamun lagi,” ucap Dokter Ane. Membuat Alan tersentak kaget.
“Maaf, aku ke pikiran Delia. Pantas saja dia begitu agresif semenjak Dodi ada di rumah ini. Ternyata dia takut kehilangan Dodi,” balas Alan.
“Makanya itu, Delia harus di bawa ke rumah sakit untuk masa penyembuhan,” ucap Ane.
“Baiklah, jika itu yang terbaik. Aku hanya bisa menuruti apa katamu,” balas Alan. Dengan kepasrahan yang ada pada dirinya.
__ADS_1
Alan begitu percaya pada Dokter Ane, dimana dokter Ane itu adalah sahabatnya di waktu kuliah.
Ane merasa kasihan melihat sahabatnya yang tertekan sekarang ini, tiba-tiba saja pelukan hangat dilayangkan Ane untuk Alan.
Namun, dengan sigap Alan menyingkir dan mulai mencari ponselnya.
Ia berusaha untuk menelepon Rudi.
Ane kini menundukkan wajah, dirinya seakan malu karna tak sadar ingin memeluk sang sahabat.
Hati Ane bergetar, ia menahan gejolak dalam dada. Dimana dirinya dari dulu hannyalah seorang teman dan tak lebih dari itu, jika Ane berkata jujur dia sangat mencintai Alan. Namun ia takut dan tak berani dari dulu karna ia tahu, Alan bukan tipe lelaki yang gampang mencintai wanita.
Apalagi dari dulu Ane selalu mendengarkan cerita Alan dan curhatannya, jika dia mencintai gadis bernama Ami. Ada rasa sakit yang menyelimuti hati Ane ketika mendengar curhatan Alan tentang Ami, tapi bagaimana lagi Ane menyadari dirinya bahwa Alan menganggap Ane hanya sebagai teman biasa saja.
Sebagai seorang wanita, ia tetap menjaga harga dirinya dan persahabatannya dengan Alan sampai sekarang. Karna ia tahu, menjadi sahabat taakan pernah putus.
Apalagi Ane sekarang sudah mempunyai seorang suami yang baik dan menyayanginya. Ditambah lagi dia mempunya tiga gadis kecil yang selalu membuat hidupnya behagia.
“Alan, kamu kenapa?” tanya Ane, melihat wajah Alan tampak gusar.
“Aku mencoba menelepon Rudi. Tapi tak di angkat olehnya. Aku ingin tahu keadaan Ami!” jawab Alan dengan nada cemas dan kaki yang berjalan ke sana ke mari.
“Kamu harus tenang, kita tidak tahu keadaan di sana, sebaiknya kamu temani Dodi sekarang. Aku takut Dodi kenapa-napa. Setelah melihat kejadian tadi,” ucap Ane.
“Kamu benar juga Ane,” balas Alan.
Alan dengan sigap, menemui Dodi lagi.
Saat itu langkah kakinya terhenti, ia membalikkan badan menatap ke arah Ane.
“Ane terima kasih.”
Ucapan Alan membuat Ane tersenyum tipis, ia senang dengan sifat Alan yang rendah hati.
saat Alan mulai menghampiri pintu kamar Dodi. Terdengar suara.
Brakkk .....
Ada apa?
__ADS_1