
Kini Rudi datang dengan di sambut hangat sang istri dan juga anak tercinta. Mereka seakan menemukan kebagian yang mereka dambakan.
“Papah pulang.”
Senyum Dodi terukir begitu jelas pada bibirnya, membuat satu pelukan di layangkan Rudi.
Ami tersenyum senang, keadaannya kini pulih kembali. Ia bisa merasakan seperti wanita normal pada umumnya.
Rudi bernapas lega, melihat sang istri yang sudah pulih kembali ia berucap dalam hati,” berharap jika kebahagiaan ini akan berlanjut sampai akhir.”
@@@@@
Sarah yang masih di dalam penjara, hanya bisa terdiam termenung, memikirkan apa yang di katakan adiknya.
Kata-kata yang menusuk hati, menjadi sebuah tamparan untuk hidupnya.
Membuat ia merasakan penyesalan yang bertubi-tubi,” kenapa adikku satu- satunya tak mau membantuku, Ahkk sial. Sial hidupku saat ini, terkurung di dalam penjara.”
Ia mengira dirinya akan menikah dengan Rudi dan hidup bahagia, karna sudah bisa membalaskan dendam dengan menghancurkan Ami. Tapi ternyata semua tidak seperti jalanan mulus yang ia rasakan.
Tiba- tiba saja, rasa mual itu datang menghadapi Sarah. Ia baru saja merasakan mual yang tak kunjung membaik selama seminggu ini di dalam penjara.
“Ahhk, ada apa ini? Kenapa kepalaku pusing sekali?” tanya Sarah pada dirinya sendiri.
Seorang penjaga datang menghampiri Sarah dengan tubuh yang terkulai lemah, “ kamu kenapa?”
Sarah terdiam, bibirnya pucat pasih. Membuat penjaga sedikit panik. Ia langsung mengecek keadaan Sarah pada saat itu.
“Tubuhnya demam.”
Dengan terpaksa Sarah di larikan ke rumah sakit untuk pengecekan, Tama yang melihat Sarah di bopong oleh polisi membuat ia panik.
“Sarah, dia kenapa?” tanya Tama pada hatinya sendiri.
Hingga setengah jam pemeriksaan, kini Sarah yang jatuh pingsan membuka kedua matanya. Memegang kepala yang berdenyut sakit,” di mana aku?”
Sang dokter langsung menghampiri Sarah yang terbangun, tersenyum dan mengatakan,” selamat kamu hamil.”
Betapa kagetnya Sarah saat itu, mengetahui dirinya hamil. Padahal dia belum berhubungan lagi dengan Tama, hanya dengan sebuah boneka yang menyerupai wajah Rudi.
“Ini tidak mungkin, dok.”
“Kenapa tidak mungkin, kamu harus jaga bayimu baik- baik ya.”
Kenapa bisa terjadi, Sarah mulai mengingat- ngingat siapa yang sudah membuatnya hamil, tapi saat ia pikirkan lagi tidak ada?
Hanya sebuah bir dan juga Rudi saat itu,” apa Rudi yang sudah menghamiliku?”
__ADS_1
Sarah di sulitkan dengan kehamilannya, yang mendadak saat dia sudah berada di dalam penjara selama satu bulan ini.
“Jadi jika aku hamil, aku harus membesarkan anak ini di dalam penjara. Tapi mana mungkin,” gumam hati Sarah. Mengelus perut.
Yesi yang masih kesal dengan Sarah, mendekati Sarah yang tengah melamun sembari mengusap- ngusap perutnya.
Saat itu Yesi dengan kesalnya, mulai melayangkan aksinya saat Sarah tengah melamun memikirkan siapa yang sudah menghamilinya. Di mana ia berencana memukul perut Sarah, untuk balas dendam karna tangannya yang patah.
Kakinya mulai memukul perut Sarah, membuat Sarah meringis kesakitan.
“Ahhk sakit.”
Yesi tertawa melihat Sarah memegang erat perutnya, semua orang yang berada di Sana hanya mampu melihat Sarah yang meringis kesakitan. Tak ada uluran tangan yang mau membantu Sarah pada saat itu.
“Tolong .... Tolong ....”
Sakit yang dirasakan Sarah benar-benar sungguh menyakitkan, membuat Sarah Tak Tahan Lagi. Ketika ia menjerit begitu keras, darah keluar dari jalan lahir.
“Darah.”
Pada saat itulah, para penjaga di penjara itu menghampiri Sarah membawa Sarah masuk ke rumah sakit kembali.
Para penjaga tak tahan, saat datangnya Sarah banyak sekali kekacauan di dalam penjara. Dan juga permusuhan, membuat polisi harus memisahkan Sarah dan yang lainnya.
Tama yang mendengar Sarah Bulak balik ke rumah sakit, membuat ia sangatlah kuatir.
“Ada apa dengan, Sarah?”
“Hamil, itu tidak mungkin.”
“Siapa yang menghamili Sarah?” Gumam hati Tama.
Karna selama berhubungan dengan Sarah, sama tak pernah lupa memakai alat pengaman. Karena rasa takutnya jika Sarah hamil.
Menggenggam erat kedua tangannya pada jeruji besi,” Sarah, siapa yang berani menghamilimu.”
Sarah tentulah bingung dengan anak yang ia kandung saat ini , anak siapa yang ia kandung saat ini. Membuat dirinya terus memikirkan nasib anak dalam kandungan nya.
Pada saat itulah Sarah meminjam ponsel rumah sakit di sana, ia mulai berani menelpon Rudi.
Berharap Rudi mau mengangkat panggilan teleponnya, karena hanya satu-satunya orang yang ia ingat saat itu adalah Rudi. Di mana dirinya sudah tak memakai busana di dalam kamar, tentunya sarah berpikir jika Rudi menodainya.
Kalau bukan Rudi siapa lagi, karna orang yang berada di kamarnya saat itu adalah Rudi. Dan tak ada lagi laki-laki lain.
.”Aku yakin anak dalam kandunganku ini, anak Rudi.”
Untung saja Sarah mengingat nomor telepon Rudi di saat itu, dia selalu menyimpan nomor telepon Rudi pada kertas kecil di dalam saku celananya.
__ADS_1
Dreet ....
Panggilan telepon pun terhubung, di mana Ami yang mengangkat panggilan dari Sarah.
“Halo.”
Sarah yang mendengar suara seorang wanita, membuat ia mencari kesempatan.
“Halo, ini siapa?”
“Halo, Ami!”
Ami yang mendengar suara itu mengerutkan dahi dan bertanya,” kamu siapa?”
Sarah tertawa pelan, ini kesempatannya untuk bisa mengatakan bahwa bayi dalam kandungannya adalah bayi Rudi.
“Aku ingin mengatakan bayi yang aku kandung di dalam perutku adalah bayi suamimu.”
Deg ....
“Maksud kamu apa? Kamu siapa?”
Tegas Ami, yang belum tahu siapa orang yang menelpon.
“Aku adalah wanita yang selalu kamu abaikan.”
“Ucapkan saja namamu sekarang, aku tak suka mendengar orang yang bicara basa-basi.”
“ baiklah kalau itu kemauanmu, aku akan memperkenalkan kembali Namaku seperti dulu. Dimana kita menjadi seorang sahabat.”
Ucapan itu membuat Ami mengingat, Siapa orang yang meneleponnya saat ini.
“Kamu, Sarah?”
Sarah tertawa senang saat Ami menyebutkan namanya Pada sambungan telepon.
“Waw, ternyata ingatanmu masih kuat, Ami?”
“ Apa mau kamu Sarah, Bukannya kamu sudah membusuk di dalam penjara. Kenapa kamu harus memfitnah suamiku. Dengan mengatakan bahwa bayi dalam kandungan mu itu adalah hasil hubunganmu dengan suamiku.”
“ kamu harus tenang, Ami. Aku mengatakan apa yang sebenarnya, saat suamimu membawaku ke dalam penjara. Sempat menjebakku dengan minuman, dan saat itulah yang menodai ku dalam kesempatan di mana aku tidak memakai pakaian.”
“ itu tidak mungkin, kamu jangan mengada-ada Sarah. Aku tidak akan percaya dengan omongan mu.”
“ Kalau kamu tidak percaya, datanglah ke rumah sakit di mana aku di rawat.”
Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, di mana Sarah dengan sengaja mematikan ponselnya.
__ADS_1
Tangan Ami seketika bergetar hebat, ia menahan sakit pada hatinya. Antara percaya dan tidak.
"Apa benar Mas Rudi melakukan semua itu pada Sarah?"