
Alan mulai menyangka bahwa orang yang memberi minum itu adalah Dodi, tapi ternyata ia adalah lelaki tua yang selamat dari pesawat.
Alan langsung menerima air minum itu, dengan perasaan tak ragu Alan meminum habis air minum yang di berikan lelaki tua itu.
Lelaki tua itu kini mulai duduk di sebelah Alan, ia bercerita tentang kehilangannya Dodi, keponakannya sendiri.
Lelaki tua itu menepuk bahu Alan dan berkata,” Kamu harus sabar, mungkin keponakanmu belum saatnya di temukan.”
Senyuman Lelaki tua itu kini ia layangkan pada Alan, walau sebenarnya hatinya juga merasa sangat kehilangan. Apalagi dia kehilangan sang istri dan dua anaknya.
Alan mulai memperhatikan tubuh lelaki tua itu, yang terlihat olehnya begitu banyak bekas luka.
Namun yang menjadi pusat perhatiannya saat ini, luka pada kakinya yang terbilang sangat parah.
“kaki bapak terluka,” ucap Alan menghawatirkan lelaki tua yang belum ia tahu siapa namanya.
“Tak usah menghawatirkan saya, luka ini tidak seberapa dibanding dengan luka pada hati,” balas lelaki tua itu. Menundukkan pandangan, wajahnya yang berseri kini kembali muram.
“Tapi itu harus di obatin pak, takut jadi infeksi nantinya,” ucap Alan.
Alan melihat lelaki tua itu memegang tas wanita yang penuh dengan debu. Seakan Alan penasaran dengan tas yang di pegang sang lelaki tua itu begitu erat.
“Boleh saya tahu, bapak naik pesawat dengan siapa?”
Pertanyaan Alan membuat lelaki tua itu menatap kearah wajah Alan, ia bercerita dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Hati Alan sempat tak kuasa mendengar cerita dari orang yang berada di hadapannya. Membuat ia meneteskan air mata.
“Saya tak tahu harus bagaimana lagi, istri saya meninggal begitu pun dengan kedua cucuk saya. Dan yang tersisa hanya saya saja,” keluh lelaki tua itu.
“Ternyata bapak masih kuat dengan apa yang sudah terjadi pada diri bapak. Bapak masih bisa tersenyum, sedangkan saya ...,”
Belum perkataan Alan terlontar semuanya, lelaki tua itu berucap dengan penuh harapan dan kata-kata semangat.
“Keponakanmu itu pasti ketemu, bapak yakin. Percayalah pada bapak.”
“Terima kasih pak, telah menyemangati saya.”
Alan mulai, membantu lelaki tua itu. Memberi tahu bahwa yang di racik adalah obat untuk luka bakar dan juga luka goresan besi.
Awalnya lelaki tua itu tak ingin kakinya mendapat pengobatan, tapi dengan tekad yang kuat. Alan berusaha membujuk lelaki tua itu dengan penuh kesabaran, sampai akhirnya lelaki tua itu menuruti perkataan Alan.
“Siapa namamu, Nak?”
Tanya lelaki tua itu pada Alan.
Alan mulai menjawab dengan keramahannya,” nama saya Alan. Pak, kalau bapak!?”
“Perkenalkan nama saya, Pak Tejo.”
Perkenalan mereka kini berujung pada obrolan, keduanya saling memahami satu sama lain. Mereka kini berusaha bertahan hidup di hutan. Dengan yakin akan meneruskan perjalanan untuk bebas dari hutan belantara. Alan mencari berusaha mencari barang berguna di tumpukan pesawat dan para mayat-mayat yang tergeletak di sana.
Rasanya tak kuasa, menahan bau anyir dari korban-korban yang sudah meninggal. Apalagi dengan jumlah mereka yang tak sedikit, Alan bingung pada dirinya sendiri hanya dia dan Pak Tejo yang selamat dan yang lainnya meninggal.
Alan terlihat sedikit tersenyum saat menemukan tumpukan tas, kakinya mulai menghampiri tumpukan tas itu dengan harapan. Ada makanan yang tersisa di tas itu.
“Tolong .... Tolong ....”
Suara lolongan orang minta tolong terdengar, Alan dan Pak Tejo mulai mendekat ke arah suara itu.
“Pak, sepertinya saya mendengar lolongan orang minta tolong,” ucap Alan pada Pak Tejo.
__ADS_1
Lelaki tua itu langsung menjawab,” ya. Bapak juga dengar nak Alan.”
Mereka langsung menghampiri suara teriakan orang itu, suara itu berasal dari tumpukan tas dan juga baju yang berserakan.
Sesaat menggali baju yang menumpuk, sosok pramugari masih hidup.
Alan langsung membantu wanita berparas cantik itu, menolong sebisa mungkin.
Saat menarik tubuh wanita cantik itu, ternyata tangannya terjepit.
“Ah, sakit.”
Mendengar wanita itu kesakitan, Alan tak tega menarik tubuhnya. Ia mulai berusaha menyingkirkan barang yang menjepit tangan wanita cantik itu.
Pak Tejo, berlari mencari barang yang mungkin bisa mengangkat benda berat yang menjepit tangan wanita itu.
Alan terus menenangkan wanita cantik itu, ia menyuruh agar wanita itu tidak tegang dan syok.
“ Kamu tenang, aku pasti bantu kamu.”
Beberapa menit kemudian, Pak Tejo datang membawa besi.
“Alan, coba pakai ini.”
Pak Tejo memberikan besi itu pada Alan. Saat itulah Alan mulai berusaha menyongkel benda berat yang menjepit tangan pramugari itu.
“ kamu tenang, ya.”
Pramugari itu hanya menggangukan kepala saat Alan menyuruhnya untuk tenang, menahan rasa sakit yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan.
“ satu, dua. Tiga.”
Dengan sekuat tenaga yang Alan punya, akhirnya tangan wanita itu mampu terselamatkan. Walau tangannya terlihat membiru karna jepitan yang mungkin kuat.
“Ayo sini. Pelan-pelan.”
Wanita itu menangis, tak menyangka ternyata dirinya masih selamat.
Saat itulah Alan, dengan sigap membantu wanita itu. Mengobati tangannya.
“ Di pesawat ini, kamu masih ingat di mana tempat penyimpanan obat-obatan?”
Tanya Alan pada wanita itu, pada akhirnya wanita itu menujukan di mana tempat penyimpanan obat.
Pada Saat itulah Pak Tejo mulai mengambil obat yang di suruh Alan.
Saat menyusuri ruangan gelap, yang tergeletak di ruangan yang sedikit jauh dari luar.
Sosok tangan mencekam tangan Pak Tejo.
Membuat Pak Tejo kaget. Bukan kepalang keringat dingin bercucuran. Pak Tejo berusaha menatap ke arah sisi kiri, di mana kakinya tertahan oleh tangan.
Saat menatap ke sisi kiri, AHKKKKK
Alan dan pramugari itu mendengar teriakan Pak Tejo membuat mereka berlari ke arah teriakan itu.
Saat menatap Pak Tejo, Alan mulai menyadarkan lelaki tua itu.
“PAK ... sadar pak.”
Pak Tejo masih tetap berteriak, seakan kesadarannya tak terkendali.
__ADS_1
“Pak, sadar, pak Eling.”
Pak Tejo langsung menghentikan teriakannya sendiri, ia melihat ke arah sisi kiri yang ia rasa kakinya di pegang sesuatu.
“ Pak Tejo kenapa?”
Tanya Alan, menatap ke arah wajah Pak Tejo yang terlihat syok.
Saat itu Alan tak bertanya lagi, ia langsung membawa lelaki tua itu keluar dari dalam pesawat yang terlihat begitu gelap.
Alan masih menatap Pak Tejo yang melamun, entah apa yang sedang di pikirkan lelaki tua itu.
“ Pak, bapak tidak kenapa-napa kan?”
Tidak ada jawaban dari lelaki tua itu, Alan benar-benar di buat bingung olehnya.
Saat itulah Alan bergegas untuk pergi mengambil obat, dengan perasaan yang sangat kacau Alan mulai menghampiri lorong pesawat yang gelap tak ada lampu itu.
“ Dimana obat itu, ya.”
Dengan senter yang ia temukan seadanya pada akhirnya Alan menemukan obat yang ia cari.
Ada hal yang mengajak pada hati Alan, ia ingin sekali menyusuri Sampai ujung lorong gelap itu. Saat ia lihat ternyata ada juga mayat pramugari di sana yang tergelatak tak bernyawa. Ditambah lagi, ada orang yang mulai sekarat.
Dengan sebisa mungkin Alan, membantu proses kematian orang itu, hingga dimana ia mendengar banyak sekali lolongan orang minta tolong. Namun saat di lihat tak ada siapa-siapa.
Alan mulai berjalan, ia berpikir bahwa itu hanya halusinasinya saja.
Tapi lolongan orang minta tolong itu begitu terdengar jelas, hingga dimana satu tangan memegang kakinya.
Tangan yang penuh luka dan darah, ia mencoba melepaskan tangan itu, tapi begitu susah dan berat.
Entah dimana jasadnya kenapa hanya ada tangan saja.
Salah satu anak kecil berlari tersenyum pada Alan, ia menyapa Alan dengan senyuman kebahagiaan.
Pak Tejo, yang gemetar, kini mengusap wajahnya beberapa kali. Ia tak melihat tanda -tanda Alan keluar dari dalam pesawat.
“ Alan,”
Pramugari itu hanya menundukkan wajah, ia menahan sakit yang teramat sakit pada tangannya.
“ Kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku akan menemui Alan,”
Pramugari itu hanya menganggukkan kepala, dan berkata” hati-hati pak.’
Kenapa setelah kecelakaan, banyak sekali yang hal mistis yang membuatnya sedikit ketakutan.
Apa yang terjadi dengan Alan. Saat Pak Tejo menghampirinya?
@@@@@
Kaki Pak Tejo, mulai terlihat membaik. Alan tak menyangka dengan obat yang ia racik sendiri. Bisa menyembuhkan luka Pak Tejo.
“Lukanya sudah terlihat membaik, pak.”
“Syukur alhamdullilah berkat Nak Alan.”
.
Menelusuri lorong pesawat, sembari mengingat ucapan Alan yang sudah menyembuhkan luka Pak Tejo.
__ADS_1
Ada rasa takut terus menyelimuti hati lelaki tua itu.